link: Mananging Consultant

Cari Blog Ini

Selasa, 05 April 2011

Zurich

Davos

 
 
Rate This
Kopi Gratis dari Sabrina byJ Osdar executive summary By Darmansjah
Davos
Pagi, di akhir Januari di Movenpick, hotel di bandar udara internasional Zurich, Swiss, suasana masih remang-remang. Di sejumlah tempat masih banyak timbunan salju.
movenpick-hotel
Saat itulah beberapa wartawan dari Indonesia dengan sebuah bus besar berangkat ke arah timur menuju Davos, kota kecil berpenduduk 13.000 di tepiSungai Landwasser di wilayah Pegunungan Alpen.

path landwasser river
Davos, kota di tempat paling tinggi di Swiss dan Eropa, terkenal di dunia karena menjadi tempat pertemuan tahunan Forum Ekonomi Dunia (World Economic Forum) sejak awal 1990-an.
Perjalanan dari Zurich ke Davos sekitar tiga jam. Melintasi jalan mulus berkelok-kelok, naik-turun menukik dan terowongan panjang yang menembus bagian-bagian Pegunungan Alpen. Pohon-pohon pinus dan cemara berdiri tegak, bagaikan ribuan pohon Natal berselimut salju.

davos_snow
Satu jam sebelum masuk ke Davos, rombongan berhenti di rumah makan Marche. Masuk ke toilet atau WC di rumah makan ini tiap orang harus memasukkan koin sebesar 25 sen franc Swiss (CHF) atau sekitar Rp 25.000.

marche-restaurant
Kopi

Pagi itu tempat duduk di rumah makan ”Marche” sudah dipenuhi tamu. Kami bersama pegawai istana kepresidenan Indonesia memesan empat gelas kopi ukuran sedang kepada pramusaji. Namanya Sabrina, cantik dan usianya sekitar 19 tahun. Sambil memberikan empat gelas berisi kopi, Sabrina memberi senyum dan bertanya, dengan bahasa Inggris aksen Swiss (Jerman), ”Anda dari mana?
Sabrina berkernyit mendengar kata Indonesia. Ketika disebut Bali, ia tersenyum yang mengeluarkan lesung pipit di pipi kirinya. ”Suatu hari saya akan ke Bali,” ujarnya. Ia berdiam sejenak ketika disodori 100 CHF untuk bayar empat gelas kopi. Lalu ia mengembalikan uang itu dan membebaskan orang-orang Indonesia dari pembayaran, ”Tidak ada kembalian atau ia terharu atau berbelas kasih kepada kita,” komentar pegawai istana.
Masuk Davos sekitar pukul 10.00. Lalu lintas tengah kota macet. Karena banyak wisatawan dan peserta KTT WEF datang ke kota ini. Sekitar 25 hotel besar, menengah, dan kecil di kota itu penuh. Dua puluh tujuh rumah makan besar, kecil, dan menengah (termasuk warung kopi) banyak dipesan untuk makan siang hari dan malam hari.
Para wartawan peliput KTT WEF diberi tempat di Hollands House, bekas sanatorium. Tidak jauh dari tempat ini, menurut Duta Besar Indonesia untuk Swiss Djoko Susilo, ada kelompok masyarakat Italia kuno yang eksklusif. Mereka masih menggunakan bahasa Latin atau Romawi. ”Mereka masih mempertahankan adat istiadat Romawi kuno,” ujar Djoko.
Di antara para wartawan dari sejumlah negara yang kongko-kongko di Hollands House, ada Enerel Enkstsag, wartawan dari Daily News Mongolia. Ia banyak mendengar Indonesia karena keinginannya pergi ke Bali. ”Saya juga dengar tentang tsunami di Sumatera, kasus Luna Maya dan Cut Tari,” ujar wanita berkulit kuning dan gempal itu.
Kereta api
Jumat sekitar pukul 12.00 siang waktu setempat, saya dan rekan dari Jurnal Nasional meninggalkan Davos dengan kereta api ke Zurich. Berangkat dari stasiun utama kereta api Davos (Davos Platz) dengan tiket per orang 56 CHF atau sekitar Rp 450.000 (kelas ekonomi). Kami memilih kereta jalur Davos Platz-Zurich Flughafen (bandar udara) lewat Lanquart. Kelas utama untuk kereta jalur ini per orang 175 CHF (Rp 1,3 juta) dan kelas dua 110 CHF (sekitar Rp 1 juta).
davos platz
Perjalanan dengan kereta api tidak kalah menarik. Bukan hanya bisa memandang sejumlah perkampungan rumah kayu dan gereja-gereja kuno, tetapi juga Danau Davos yang luas dan panjang. Juga melintasi jembatan buatan seperti jalan kereta api Jakarta-Bandung di masa lalu

Memandang danau ingat tentang ikan. ”Namun, orang Swiss sangat suka lele dari Indonesia. Akan tetapi, untuk impor lele dari Indonesia harus lewat birokrasi Indonesia yang sangat rumit dan tidak masuk akal. Selain itu, para pengusaha Swiss yang datang ke Indonesia sering merasa tidak diwongke,” ujar Duta Besar Indonesia untuk Swiss Djoko Susilo dalam pertemuan dengan wartawan Indonesia di Zurich, akhir Januari lalu.
Berhenti di stasiun Landquart, kami ganti kereta api. Butuh waktu lima menit dengan jalan cepat untuk mendapatkan kereta api ke Zurich. Gerbong kelas ekonomi ke Zurich yang kami tumpangi kosong. Di depan kami duduk seorang wanita tua yang menolak diajak bicara dalam bahasa Inggris. Di stasiun utama Zurich (Zurich’s Hauptbahnhof) ganti kereta api lain. Di sini tempatnya lebih luas dan banyak jalur kereta api. Dibutuhkan waktu 15 menit dengan jalan cepat sambil bertanya-tanya pada orang untuk bisa menemukan kereta api ke Zurich Flughafen.   (bandar udara).

Layover-Zurich Flughafen
Stasiun kereta api di sini menjadi satu dengan bandar udara. Sebelum meninggalkan stasiun kereta api dan bandara, kami masuk ke mal-mal di sini. Banyak barang dari negara-negara di Asia Tenggara, seperti aksesori, mutu manikam (batu permata, berlian, mutiara, dan lainnya), pakaian, kerajinan tangan. ”Untuk bisa menjual barang ke sini, Indonesia berada di bawah Vietnam, Thailand dan Filipina,” ujar Djoko.

1 komentar:

AMISHA mengatakan...

Saya telah berpikir bahwa semua perusahaan pinjaman online curang sampai saya bertemu dengan perusahaan pinjaman Suzan yang meminjamkan uang tanpa membayar lebih dulu.

Nama saya Amisha, saya ingin menggunakan media ini untuk memperingatkan orang-orang yang mencari pinjaman internet di Asia dan di seluruh dunia untuk berhati-hati, karena mereka menipu dan meminjamkan pinjaman palsu di internet.

Saya ingin membagikan kesaksian saya tentang bagaimana seorang teman membawa saya ke pemberi pinjaman asli, setelah itu saya scammed oleh beberapa kreditor di internet. Saya hampir kehilangan harapan sampai saya bertemu kreditur terpercaya ini bernama perusahaan Suzan investment. Perusahaan suzan meminjamkan pinjaman tanpa jaminan sebesar 600 juta rupiah (Rp600.000.000) dalam waktu kurang dari 48 jam tanpa tekanan.

Saya sangat terkejut dan senang menerima pinjaman saya. Saya berjanji bahwa saya akan berbagi kabar baik sehingga orang bisa mendapatkan pinjaman mudah tanpa stres. Jadi jika Anda memerlukan pinjaman, hubungi mereka melalui email: (Suzaninvestment@gmail.com) Anda tidak akan kecewa mendapatkan pinjaman jika memenuhi persyaratan.

Anda juga bisa menghubungi saya: (Ammisha1213@gmail.com) jika Anda memerlukan bantuan atau informasi lebih lanjut