link: Mananging Consultant

Cari Blog Ini

Kamis, 31 Maret 2011

Bandara Hongkong


Minggu Sore di Bandara Hongkong

REP | 12 October 2010 | 15:58404  1 dari 1 Kompasianer menilai Aktual

Membaca judul tulisan ini saya rasa pembaca semuanya tidak asing lagi dengan kata Hongkong yaitu kota megah dengan gedung-gedung pencakar langit dan juga hiruk pikuk manusia berlalu lalang. Itulah ciri khas kota Hongkong yang never sleep. Di tulisan ini saya tidak akan membicarakan kemegahan dan juga bagaimana modernnya kota itu. Saya menulis tulisan ini terinspirasi tulisan yang membahas tentang film Minggu Pagi di Victoria Park (MPDVP) yang telah diputar di bioskop-bioskop Indonesia yang menceritakan liku-liku kehidupan para Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di Hongkong. Saya sendiri terus terang belum menyaksikan film yang banyak dikatakan orang bagus dan sukses pemutarannya itu. Membaca ulasan tentang film itu mengingatkan saya sewaktu di hari Minggu berada di bandara Hongkong melihat, bertemu dan berbincang dengan beberapa Tenaga Kerja Indonesia pada bulan Mei 2010 yang lalu. Maka dari itu ulasan film yang telah saya baca itu menginspirasikan saya untuk memberi judul tulisan ini dengan judul yang mirip dengan judul film itu. Berikut adalah cerita “Minggu Sore Di Bandara Hongkong” (MSDBH) saya.
Setelah tiga hari memuaskan diri berwisata di Hongkong bulan Mei yang lalu, tiba saatnya saya meninggalkan Negara itu untuk kembali ke Jepang, tempat saya berdomisili. Ada saja masalah diakhir detik-detik saya berada di Hongkong, tepatnya saat saya menuju bandara itu dari ‘Town Gate”, sebuah pusat perbelanjaan yang terkenal menjual barang bermerek dengan harga miring yang berada di distrik Tung Chung. Walau jarak antara Town Gate dan Bandara hanya sekitar 7 menit dengan taksi, saya terlambat juga naik pesawat Cathay Pacific waktu itu oleh sebab keliru tepat antre taksi yang sebelumnya harus membiarkan dua anak saya minta makan siang di “Food Rebublik” yang ada di Mall itu dan setelah selesai makan harus juga mengantar dan menunggui mereka ke toilet. Akhirnya terlambat naik pesawat dan hanya bisa berkata apa boleh buat!
Karena terlambat dan negosiasi saya dengan petugas Check In di bandara itu tidak membuahkan hasil apapun. Dengan begitu terpaksa saya bersama keluarga harus rela menunggu selama 4 jam untuk bisa bernegosiasi lagi supaya bisa naik pesawat berikutnya kembali ke Jepang. Terpaksa saya duduk di antara banyak kursi yang ada di lantai dua bandara itu dengan tanpa kepastian bisa naik pesawat berikutnya atau tidak. Sedih sekali saat itu tapi….
Kesedihan itu ternyata bisa agak terlupakan karena di bandara yang sangat luas itu, mata saya selalu saja bisa memandang tampang-tampang orang perempuan yang sudah bisa saya pastikan mereka adalah orang-orang Indonesia yang bekerja sebagai Tenaga Kerja Indonesia di Hongkong dari cara bicara dan bahasanya. Pertama kali saya bisa menghitung berapa banyak mereka saat bertemu di depan toilet bandara itu, di toko dan di tempat lain. Lama kelamaan saya tidak sanggup lagi menghitung mereka karena terlalu banyak jumlah mereka yang ada di bandara Hongkong di hari Minggu sore waktu itu.
Kami sebenarnya sejak awal duduk hanya bersama keluarga tapi lama kelamaan terasa saya duduk dikelilingi rombongan perempuan Tenaga Kerja Indonesia yang datang ke bandara dengan bermacam-macam penampilan dan kepentingan sendiri-sendiri. Mereka duduk-duduk ada yang sekedar menunggu temannya, menjemput temannya yang datang dari Indonesia, mengantar temannya yang ingin pulang ke Indonesia, baru saja datang dari Indonesia dan ada juga yang ingin terbang pulang ke kampung halamannya.
Selama beberapa menit saya mendengarkan mereka berbicara berbagai hal dengan teman-temannya dengan seratus persen Bahasa Jawa yang medok. Sesekali mereka ada yang menerima telepon dan menjawabnya dengan Bahasa Inggris, karena orang Hongkong berbahasa Inggris juga. Saya hanya mendengarkan dan berpikir, oh seperti inikah gaya TKI di Hongkong. Mereka kerap kali bercanda dengan berteriak dengan temannya dan yang membuat saya terheran-heran banyak di antara mereka yang berpenampilan layaknya bintang film Hongkong. Ada yang memakai sepatu hak tinggi, sepatu boot dan rok yang super pendek.
Saya merasa mereka semua adalah sebangsa dengan saya dan berasal dari Negara bahkan pulau yang sama. Dengan mendengarkan Bahasa Jawa mereka saya malah berpikir mereka adalah suku yang sama dengan saya. Saya hanya berbicara dengan anak-anak saya dan karena agak terganggu saya pun sesekali keluar dari kerumunan para TKI itu untuk sekedar berjalan-jalan keliling bandara Hongkong. Karena tempat duduk saya yang bersebelahan dengan para TKI itu sangat enak dan strategis dan juga barang bawaan saya berada di tempat itu, maka akhirnya saya kembali lagi duduk-duduk bersama mereka. Karena terbawa budaya Jawa yang masih melekat pada diri saya, saya pun mencoba menyapa salah seorang di antara mereka. Saya lupa nama perempuan muda itu tetapi saya tetap masih ingat kalau dia berasal dari Jawa Timur, tepatnya dari Kota Tulung Agung.
Pembicaraan kami mulai akrab dengan perempuan muda pembantu itu dan dia dengan baiknya mengenalkan beberapa temannya. Diantara teman-temanya yang ada di tempat yang sama ada yang sudah sekitar 10 tahun kerja di Hongkong sebagai TKI. Saya mendengar hal itu sempat berpikir kenapa dan pasti sudah punya banyak pengalaman dia, maksud saya terutama pengalaman sebagai pembantu rumah tangga. Karena saya penasaran dengan masalah itu, saya bertanya kepada dia, kalau begitu dia meresa enak dan senang hidup di Hongkong sebagai TKI. Jawaban dia ternyata, merasa enak kalau dicintai majikan dan tidak ada masalah atau sedikit masalah tapi kalau sempat terbawa pengaruh persahabatan yang keliru maka keadaanya bisa semakin parah karena ada keluarga juga di Indonesia. Saya semakin tertarik bertanya kepada dia setelah mendengar jawaban dengan kata persahabatan yang keliru. Sesuai dengan penjelasan dia, keadaan banyak diantara TKI di Hongkong sudah menyimpang tidak lagi menjalin hubungan dengan lawan jenis tetapi sudah banyak yang melakukan hubungan dengan sesama jenis kelamin perempuan atau lesbi.
Keterangan tersebut mengingatkan dan membuat saya semakin yakin dengan penjelasan seorang teman saya yang bekerja di salah satu kantor agen Tenaga Kerja Indonesia di Hongkong sewaktu hari kedua saya berada di Hongkong. Dia berkata, “pekerjaan saya mengurusi para “mbak-mbak” TKI itu, terutama dalam menghadapi masalah hidupnya di Hongkong” setelah setiap kali dia mengangkat telepon dari TKI yang diurusinya. Teman saya itu juga berkata kalau para TKI malah sudah banyak yang menjadi lesbi, setelah saya bertanya pada dia kalau orang Hongkong pacaran dan bermesraan banyak yang melakukan ciuman di tempat umum. Apakah itu penyebabnya? Dia jawab kurang tahu tapi memang di Hongkong membiarkan hal-hal seperti itu dilakukan di tempat umum. Memang saya sendiri awalnya kaget karena sepasang anak muda yang antre giliran di tempat arena permainan tepat berdiri di depan saya berciuman beberapa kali dan beerapa lama. Saya hanya bisa menarik nafas dan merasa terganggu dengan pemandangan itu, beruntung anak-anak saya, saya berikan mainan dan tak sempat kaget seperti saya karena asik dengan mainanya. Mungkin sangat banyak sebabnya dan bermacam-macam alasan sehingga diantara TKI di Hongkong menjadi kaum lesbi. Cerita film “Minggu Pagi di Victoria Park” memang ada benarnya.
Lebih yakin dengan kebenaran itu pada saat saya tak sengaja ternyata melihat sendiri beberapa pasang perempuan lesbi yang ada di antara kumpulan TKI yang ada di tempat yang sama dengan saya. Saat itu anak sayaberkata, “kok ada perempuan yang mirip laki-laki dan ada juga laki2 yang mirip dengan perempuan”. Ternyata mereka adalah pasangan-pasangan lesbi yang berpenampilan layaknya sepasang suami-istri. Ternyata film Minggu Pagi di Victoria Park benar-benar menggambarkan hal yang sebenarnya bagaimana hubungan sesama jenis (lesbian) menjadi hal yang sangat biasa. Bahkan mereka tidak sungkan berciuman di depan umum dan juga tinggal serumah bareng. Memang benar kalau mereka berciuman di tempat itu, di depan saya. Sekali lagi hal itu membuat saya menarik nafas lagi.
Itulah fenomena kehidupan sebagian TKI di Hongkong. Berharap semakin banyak lembaga yang memperhatikan permasalahan-permasalahan TKI di sana.
Kisah Minggu Sore di Bandara Hongkong (MSDBH) saya berakhir saat tiba saatnya saya harus bernegosiasi lagi dengan petugas Check-in perusahaan penerbangan Cathay Pacific untuk bisa mendapatkan tiket pulang kembali ke Jepang.
Selamat tinggal Hongkong. Sayonaraaaa…..

Tidak ada komentar: