link: Mananging Consultant

Cari Blog Ini

Selasa, 15 Juli 2014

Usia

Onny_Indrianto
To Me
Today at 8:05 AM
 
Tks Dwika..

From: Dwika Sudrajat [mailto:dwikasudrajat@yahoo.com]
Sent: 14 Juli 2014 19:43
To: itxarco@yahoogroups.com
Subject: Usia

Menjadi tua adalah adalah sebuah kepastian.
Tapi menjadi dewasa adalah sebuah pilihan.
Usia dan kedewasaan adalah 2 hal yang berbeda.
Usia adalah anugerah Tuhan.
Tapi kedewasaan ada unsur upaya manusia.
Banyak orang sudah tua tapi belum dewasa, sebaliknya banyak orang masih muda tapi sudah dewasa.
I deliver happiness,
Dwika


Smart Happiness: Usia



Ada 2 hal yang perlu diingat tentang Usia
1. Bersyukur karena telah diberi Tuhan waktu sedemikian banyak untuk menikmati hidup ini.
2. Moment untuk bersiap-siap. Kita harus menyadari bahwa makin banyak waktu yang diberikan, makin sedikit waktu yang tersisa. Kita tidak pernah tahu kapan ujung perjalanan usia kita.

Usia adalah sesuatu yang unik. Satu sisi makin bertambah, satu sisi makin berkurang. Hidup seperti lingkaran. Makin kita menjauhi titik asal, maka kita makin mendekati titik asal. Makin jauh kita dari 0 kilometer, maka makin kita mendekati 0 kilometer.

Menjadi tua adalah adalah sebuah kepastian. Tapi menjadi dewasa adalah sebuah pilihan. Usia dan kedewasaan adalah 2 hal yang berbeda. Usia adalah anugerah Tuhan. Tapi kedewasaan ada unsur upaya manusia. Banyak orang sudah tua tapi belum dewasa, sebaliknya banyak orang masih muda tapi sudah dewasa.

Bedakan antara Growing old dengan Growing up. Menjadi tua (growing old) identik dengan fisik yang lemah, lambat, pelupa dan lain-lain. Sedangkan matang (growing up) kita menjadi tumbuh secara spiritual.

Salah satu cara yang ampuh agar kita sadar tentang Usia adalah dengan mengingat bahwa "jangan-jangan hari ini adalah hari kita yang terakhir hidup di dunia ini". Keterbatasan usia tidak ada kaitannya dengan tua, muda, sehat, atau sakit. Semua orang akan habis usianya. Dan kita tidak pernah tahu kapan itu akan terjadi. Untuk itu pastikan kita siap jika sewaktu-waktu saat itu datang.

Kita harus menyiasati agar kebaikan kita melebih batas usia kita, yaitu dengan meninggalkan warisan kebaikan. Ada 3 hal yang bisa menjadi warisan kebaikan:
1. Anak-anak yang baik
2. Amal yang terus bermanfaat
3. Ilmu yang bermanfaat

Orang yang paling baik/beruntung di dunia adalah orang yang umurnya panjang dan mengisinya dengan kebaikan. Sedangkan orang yang paling buruk di dunia adalah orang yang umurnya panjang dan mengisinya dengan keburukan (perbuatan tidak baik).

Jiwa Baru

Onny_Indrianto
To Me
Today at 8:07 AM
 
Tks Dwika Semangat Pagi


From: Dwika Sudrajat [mailto:dwikasudrajat@yahoo.com]
Sent: 14 Juli 2014 19:36
To: Elektro85
Subject: Jiwa Baru

Kita sudah meningkat secara usia.
Waktu tidak bisa dihentikan.
Kita hanya bisa mengimbanginya dengan menjadi lebih dewasa. Growing up.
Sesuatu yang tua identik dengan hal-hal negatif, seperti melambat, melemah dan sebagainya.
I deliver happiness,
Dwika

Smart Happiness: Tahun Baru, Jiwa Baru

By smartfm 

Banyak orang yang memasuki tahun baru dengan jiwa yang lama, dan membawa kebiasaan-kebiasaan lama. Jika itu yang terjadi maka, hidupnya hanya merupakan pengulangan-pengulangan, dan sesuatu yang diulang-ulang biasanya akan membosankan.

Untuk itu, mumpung saat ini kita masih ada di awal tahun 2011, mari kita perbaiki dan perbaharui jiwa kita. Kita harus menemukan sesuatu yang baru, sehingga hidup akan lebih menarik.

Tapi sering orang hanya mencari sesuatu yang baru dari 'luar', tidak dari 'dalam'. Padahal yang paling penting adalah yang dari dalam, yaitu jiwa. Baju baru, mobil baru, pekerjaan baru, dan tahun baru, tidak akan ada perubahan yang positif jika jiwa kita tidak baru.
Dengan bergantinya tahun, maka kita sudah meningkat secara usia. Sesuatu yang tua identik dengan hal-hal negatif, seperti melambat, melemah dan sebagainya. Waktu tidak bisa dihentikan. Kita hanya bisa mengimbanginya dengan menjadi lebih dewasa. Growing up, jangan Growing old.

Jika usia kita bertambah, tapi tidak diikuti dengan bertambahnya baiknya jiwa kita, maka itu artinya kita dengan stuck.   Inti dari kehidupan adalah berubah. Kita harus berubah menjadi lebih baik. Hari ini harus lebih baik dari kemarin. Dan hari esok harus lebih baik dari hari ini.

Ciri-ciri orang yang berjiwa baru adalah: selalu mencari/menghadapi masalah baru. Banyak orang yang di tahun baru masih membawa masalah-masalah lama. Misalnya tahun baru masih membawa masalah utang kartu kredit,seperti tahun sebelumnya. Atau tahun baru, tapi masih melakukan kebiasaan lama yang tidak baik seperti bangun kesiangan.

Orang yang seperti ini adalah orang yang tidak meningkatkan kemampuannya, tidak growing up, dan tidak melakukan pembaharuan dalam dirinya.

Hidup ini indah. Tapi jangan melihat indahnya hidup dengan kacamata lama. Karena anda tidak akan menemukan keindahan-keindahan baru dalam hidup.

Senin, 07 Juli 2014

Gelombang radio

Onny_Indrianto
To Me
Today at 9:24 AM
 
Tks Dwika…

From: Dwika Sudrajat [mailto:dwikasudrajat@yahoo.com]
Sent: 05 Juli 2014 17:29
To: Elektro85; Aenurofik; Onny_Indrianto; E85; Yudi E85
Subject: Gelombang radio

Sering-sering mengatur otak kita masuk ke dalam gelombang otak alfa-theta lewat meditasi, doa malam, tahajud, terapi menulis, dll. Semuanya itu melatih kita untuk terbiasa berkomunikasi dengan pikiran bawah sadar kita yang menjadi gerbang komunikasi kita dengan kesadaran kolektif, kecerdasan tak terbatas.
I deliver happiness,
Dwika

Otak sebagai penerima pancaran gelombang radio berisi ide dari Kecerdasan Tak Terbatas


Kepikiran sesuatu yang udah sejak lama kuamati polanya. Seringkali kalau aku punya ide yang sepertinya cemerlang, eh tak berapa lama kemudian aku menemukan bahwa ide itu sudah dilakukan oleh seseorang. Pola ini menimbulkan pertanyaan bagiku, apakah memang ada semacam neuro transmitter yang memancarkan gelombang radio ke otak seluruh manusia yang memungkinkan sebuah ide yang sama bisa muncul di benak orang-orang yang berbeda yang berada terpisah jarak yang sangat jauh? Apakah memang ada ide-ide yang dipancarkan untuk kemudian bisa diterima dan diterjemahkan menjadi wujud fisiknya oleh orang-orang yang peka dan siap dengan kemampuan teknisnya? 

Kalau itu benar, apa yang bisa kita lakukan?
1. Bersiap diri dengan meningkatkan kemampuan teknis kita.

2. Berlatih peka terhadap ide-ide yang muncul di benak kita. Kreativitas muncul ketika kita terkoneksi dengan pikiran bawah sadar kita. Napoleon Hill menyebutnya kecerdasan tak terbatas. Teori psikoanalisa menyebutnya kesadaran kolektif. Cara mengaksesnya adalah dengan sering-sering mengatur otak kita masuk ke dalam gelombang otak alfa-theta lewat meditasi, doa malam, tahajud, terapi menulis, dll. Semuanya itu melatih kita untuk terbiasa berkomunikasi dengan pikiran bawah sadar kita yang menjadi gerbang komunikasi kita dengan kesadaran kolektif, kecerdasan tak terbatas.

3. Segera menindaklanjuti ide yang muncul di benak kita. Ide yang sama dipancarkan ke seluruh dunia. Hanya orang-orang yang mengambil kesempatan pertama begitu ide itu muncul yang akan memetik buahnya. Ada kalanya sebuah ide muncul kemudian muncul lagi untuk disempurnakan, tapi tidak selalu begitu. Maka perlu untuk segera menindaklanjutinya pada kesempatan pertama segera setelah pikiran kita menerima pancaran gelombang radio yang berisi ide-ide itu.

kesadaran-kolektif

Wujudkan Mimpi

Onny_Indrianto
To Me
Today at 9:25 AM
 
Tks Dwika …article yg bagus…
 -------------------------------------------------------------

Me
To Elektro85, Onny_Indrianto, Aenurofik and 2 More...
 
Jul 5 at 5:50 PM
Semakin jelas tujuan kita semakin besar pula daya bakarnya.
Daya bakar apa? Daya bakar pada semangat dalam diri maupun orang-orang di sekitar kita. Inilah yang dilakukan Martin Luther King, saat dengan jelasnya, ia menggambarkan bagaimana harapannya akan persamaan kulit hitam dan kulit putih dengan pidatonya, “I have a Dream.” Ini pula yang kemudian ditiru oleh Nelson Mandela hingga usai dipenjara 22 tahun,
Sebagaimana dikatakan oleh Nelson Mandela, “Bagi saya sangatlah jelas bahwa saya perlu melakukan ini demi generasi-generasi kami di masa yang akan datang.” Kenyataan menunjukkan, kejelasan akan tujuan serta arah inilah yang memberikan api yang menyalakan semangat mereka untuk bergerak.
I deliver happinesss,
Dwika

Rahasia Mewujudkan Mimpi Anda 

By Anthony Dio Martin

Pembaca, kali ini kita akan belajar langsung tentang cara menggapai sukses dari motivator kelas dunia, Anthony Robbins. Dalam prinsipnya, Anthony Robbins memperkenalkan istilah “Ultimate Success Formula”. Melalui buku-buku dan seminarnya, inilah tips yang diberikan Anthony Robbins untuk menginspirasi pendengarnya agar semakin mendekati gerbang kesuksesan mereka. Bahkan, prinsip Ultimate Success Formula inilah yang juga menjadi salah satu langkah fundamental dalam ilmu Neuro Associative Conditioning (NAC) yang diperkenalkan oleh Anthony Robbins.

Singkatnya, dalam Ultimate Success Formula ini, diperkenalkan empat langkah yang jika diaplikasikan dengan sungguh-sungguh akan mengantar kita semakin dekat dengan tujuan kita, yakni: (1) Perjelas tujuan yang hendak Anda capai (CLEAR DIRECTION); (2) Ambil keputusan untuk melakukan sesuatu yang membuat Anda mendekati tujuan itu (MAKE DECISION); (3) Milikilah kepekaan apakah Anda semakin dekat dengan tujuan Anda (AWARE RESULT); (4) Terus perbaiki dan ubah pendekatan sampai Anda mencapai tujuan (FLEXIBLE APPROACH). Sekarang, mari kita bahas satu demi satu pendekatan Anthony Robbins ini.



CLEAR DIRECTION.

Pada prinsipnya, selalu ditekankan bahwa ‘Clarity is Power’ (kejelasan adalah kekuatan). Pernahkah Anda perhatikan saat kaca pembesar (suryakanta) yang disoroti sinar matahari lalu diarahkan ke kertas? Ketika titip api atau fokusnya menjadi jelas, semakin besar kemampuan titik api tersebut untuk membakar kertasnya. Demikian pula, prinsip pertama dalam Ultimate Success Formula ini mengajarkan, semakin jelas tujuan kita semakin besar pula daya bakarnya. Daya bakar apa? Daya bakar pada semangat dalam diri maupun orang-orang di sekitar kita. Inilah yang dilakukan Martin Luther King, saat dengan jelasnya, ia menggambarkan bagaimana harapannya akan persamaan kulit hitam dan kulit putih dengan pidatonya, “I have a Dream.” Ini pula yang kemudian ditiru oleh Nelson Mandela hingga usai dipenjara 22 tahun, ia dijanjikan akan bebas dengan bersyarat. Namun, dalam suratnya kepada Presiden P.W. Botha, ia menolak mengubah mimpinya dan menerima lima tahun penjara lagi, sebelum dibebaskan. Mimpinya sendiri begitu jelas. Nelson Mandela tahu, untuk apa ia harus berkorban. Sebagaimana dikatakan oleh Nelson Mandela, “Bagi saya sangatlah jelas bahwa saya perlu melakukan ini demi generasi-generasi kami di masa yang akan datang.” Kenyataan menunjukkan, kejelasan akan tujuan serta arah inilah yang memberikan api yang menyalakan semangat mereka untuk bergerak.

Sekarang, jadi sangat jelas bagi kita. Kalau kita ingin memiliki semangat serta daya juang yang tinggi, tujuan serta cita-cita kita harus diperjelas. Cita-cita serta arah ini pun akan menjadi daya tarik yang kuat bagi kita. Tatkala kita mengalami jatuh dan bangun, kejelasan akan cita-cita kita ke depan kitalah yang akan membuat kita tetap tegar berdiri.



MAKE DECISION.

Banyak orang yang mempunyai cita-cita, tetapi sedikit sekali yang berhasil mencapainya. Mengapa? Alasannya sederhana. Tidak banyak orang yang benar-benar mengambil tindakan. Banyak orang ragu dan tidak yakin pada kemampuan diri sendiri dalam mewujudkan mimpi-mimpinya itu. Mereka berpikir dan mengharapkan kesempatan yang ‘pas’ akan tiba. Mereka mengharapkan ‘waktu yang tepat’ akan datang suatu ketika. Yang jelas, waktu ‘suatu ketika’ tidak akan pernah tiba. Jadi, yang disebut ‘suatu ketika’ itu adalah saat ini dan sekarang! Untuk itulah, Ultimate Success Formula mendorong kita untuk membuat keputusan mengambil suatu langkah, entah seberapa kecil, asalkan semakin membawa kita kepada tujuan kita.

Perlu kita ketahui pula, konon kata DECISION atau ‘keputusan’ mempunyai akar kata yang berarti ‘memotong’. Apanya yang kita potong? Yang jelas, yang kita potong adalah kebingungan arah dan alternatif. Kita membulatkan tekad untuk mengambil suatu langkah. Dan setelah langkah tersebut dibuat, tidak ada lagi kata untuk surut atau pun kembali atau bersikap setengah-setengah. Itulah kunci yang membawa kita semakin dekat dengan kemenangan pribadi kita.



AWARE RESULT.

Langkah-langkah yang kita ambil, punya dua kemungkinan. Semakin mendekati atau justru semakin jauh dari cita-cita kita. Karena itu, pentinglah bagi kita untuk membangun suatu radar yang membuat kita terus-menerus sadar, apakah langkah kita semakin membawa kita pada tujuan ataukah tidak.



FLEXIBLE APPROACH.

Inilah langkah terakhir kita, yakni keinginan untuk terus-menerus memperbaiki proses maupun metode kita hingga akhirnya membawa kita pada tujuan. Tahap ini membutuhkan kemampuan fleksibilitas yang tinggi untuk menyesuaikan dan mengubah cara yang dipakai saat ini. Khususnya, kalau cara tersebut membawa pada kegagalan. Inilah yang seringkali dikatakan oleh Thomas Alva Edison saat ia mengomentari beberapa penemu. Menurut Edison, “Permasalahan dengan para penemu ialah mereka mencoba beberapa hal, dan tatkala percobaan mereka gagal, mereka pun merasionalisasikan hal itu lalu menyerah!” Itulah yang ia komentari saat ia diejek seorang professor terkenal pada masanya, Silvanus P. Thompson yang mengatakan percobaannya telah gagal dan tidak akan pernah berhasil. Tetapi, Thomas Alva Edison adalah manusia dengan fleksibilitas dan kegigihan luar biasa untuk terus-menerus mengubah metode dan caranya hingga cita-citanya berhasil.

Hal ini segera mengingatkan kita untuk senantiasa mau mengubah dan fleksibel saat cara kita belum berhasil. Janganlah kita terburu-buru untuk mengubur mimpi dan cita-cita saat segalanya belum berjalan sesuai rencana. Mungkin, kita harus mencoba beberapa langkah lagi dan mengubah metode maupun pendekatan kita. Seperti pada diri Thomas Alva Edison, fleksibilitas serta kegigihannya itu berbuah pada kesuksesan luar biasa.

Pembaca, semoga prinsip–prinsip dalam Ultimate Formula Successs ini segera menginspirasi Anda untuk mengambil langkah-langkah penting dalam hidup Anda. Buatlah keputusan dan segeralah bertindak. Kita sendiri tida tahu berapa lama kita dikaruniai kehidupan. Karena itu bertindaklah sekarang juga dengan bekal formula sukses ini!

Rabu, 02 Juli 2014

Sikapi Kegagalan

Onny_Indrianto
To Me                                                                                                                         Today at 9:35 AM
 
Keep happiness..tks Dwika


From: Dwika Sudrajat [mailto:dwikasudrajat@yahoo.com]
Sent: 01 Juli 2014 20:24
To: John Sihar
Subject: Sikapi Kegagalan

Happy / happiness / bahagia merupakan sumber energi untuk bangkit kembali dari kegagalan, untuk mencoba kembali meraih kesuksesan .
Dan yang paling bijak adalah tidak menganggapnya sebagai kegagalan, melainkan belum berhasil.
I deliver happiness,
Dwika

Menyikapi Kegagalan (Lanjutan)


Kegagalan adalah fenomena kehidupan. Semua orang pasti pernah mengalami kegagalan. Namun yang paling bijak adalah tidak menganggapnya sebagai kegagalan, melainkan belum berhasil.
 Ada 2 jenis orang dalam menyikapi kegagalan:
1. Orang yang gagal dan tidak happy. Orang ini menganggap karena gagal, semua sudah selesai, tidak ada kesempatan lagi, tidak ada semangat untuk bangkit lagi.
2. Orang yang gagal tapi happy. Orang ini masih punya harapan, semangat, dan yakin suatu saat akan berhasil.

Happy / happiness / bahagia merupakan sumber energi untuk bangkit kembali dari kegagalan, untuk mencoba kembali meraih kesuksesan .

Perumpamaan orang dalam menyikapi kegagalan, adalah seperti 3 benda yang dijatuhkan dari ketinggian.
1. Telur. Jika dijatuhkan dari ketinggian akan pecah berantakan berkeping-keping.
2. Jeruk. Jika dijatuhkan dari ketinggian akan pecah, tapi tetap berada ditempatnya.
3. Bola bekel. Jika dijatuhkan dari ketinggian akan mantul/membal.

Ketiga perumpaan itu menggambarkan orang dalam menyikapi kegagalan. Telur adalah orang yang langsung down ketika menghadapi kegagalan, dan tidak punya daya tahan terhadap kegagalan. Jeruk adalah orang yang tidak punya semangat untuk mencoba bangkit dari kegagalan. Sedangkan bola bekel adalah orang punya semangat untuk bangkit dari kegagalan.

Perumpaan itu menunjukkan bahwa yang membedakan orang dalam menyikapi kegagalan adalah struktur mentalnya.
- Orang yang optimis menganggap kegagalan bersifat temporer
- Orang yang pesimis menganggap kegagalan bersifat permanen

Makin banyak kita mencoba maka makin banyak kita mengalamai kegagalan. Tapi itu lebih baik daripada orang yang tidak pernah mencoba, dan tidak pernah mengalami kegagalan sama sekali. Karena orang yang tidak pernah mencoba, tidak akan pernah “kemana-mana”. Sedangkan orang yang sering mencoba, akan lebih berpeluang meraih kesuksesan. Kegagalan akan menimbulkan pelajaran. (am)

Senin, 30 Juni 2014

Kepuasan karyawan

From: Harry Yantho
To: Me

Jun 27 at 9:15 AM
 
siiiiip....makasih pak Dwika.
Kapan main k dfi?

--------------------------------- 

From: Onny_Indrianto
To: Me

Today at 7:51 AM
 
Tks Dwika


From: Dwika Sudrajat [mailto:dwikasudrajat@yahoo.com]
Sent: 24 Juni 2014 20:25
To: alumni_bppn@yahoogroups.com
Subject: Kepuasan karyawan

Jika perusahaan mengutamakan budaya perusahaan dan nilai-nilai inti secara baik, maka segalanya termasuk pelayanan pelanggan akan beres.
Tawarkan pelayanan yang terbaik di dalam industrinya.
Mendeliver (mengantar) kepada konsumen, bukan sekedar mengantar, tapi mendeliver happiness.
I deliver happiness,
Dwika

Delivering Happiness

Tema ini terinpirasi dari buku Delivering Happiness yang ditulis oleh Tony Hsieh, CEO Zappos, perusahaan penjual sepatu dan pakaian online terbesar yang berdiri sejak tahun 1999. Perusahaan ini sukses karena sangat memperhatikan kepuasan karyawan dan pelanggan.

Zappos pernah mendapatkan predikat memiliki tempat kerja yang paling membahagiakan dari majalah Fortune US. Zappos menjadi legenda karena budaya perusahaan dan pelayanan kepada pelanggannya yang luar biasa. Tujuan perusahaan dalam menciptakan budaya yang berfokus pada kepuasan karyawan membuat Zappos menjadi tempat bekerja idaman. Kiat manajemennya adalah menetapkan nilai-nilai yang memotivasi secara internal untuk meningkatkan kepuasan karyawan melebihi sekedar urusan gaji semata.


Tony menyimpulkan bahwa pekerjaan kita di dunia adalah membawa kebahagiaan bagi diri sendiri dan orang lain. Jika perusahaan mengutamakan budaya perusahaan dan nilai-nilai inti secara baik, maka segalanya termasuk pelayanan pelanggan akan beres. Sasaran Zappos adalah untuk menawarkan pelayanan yang terbaik di dalam industrinya. Bagi Zappos, Mendeliver (mengantar) sepatu kepada konsumen, bukan sekedar mengantar sepatu, tapi mendeliver happiness.

Pertumbuhan penjualan tahunan Zappos sangatlah pesat. Tidak sampai 10 tahun, penjualan Zappos naik tajam dari 1,6 juta US$ di tahun-tahun awal, menjadi 1 miliar US$ di 2009. Kultur servis yang sangat fokus kepada pelanggan yang menjadikan Zappos disukai. Seperti one night delivery, jaminan pengembalian barang secara gratis, dan lain-lain. Zappos mempunyai 3 prioritas dalam customer service yakni culture, employee training dan development. Setelah belasan tahun berbisnis, Tony menyimpulkan bahwa ketika kita membuat diri sendiri, karyawan dan pelanggan berbahagia, maka kesuksesan akan datang sendiri. Kultur perusahaan dan kultur pelayanannya yang kuat adalah daya tarik utama karyawan dan juga pelanggan Zappos untuk terus loyal.
Inilah model bisnis yang berdasarkan  pada siklus kepuasan karyawan dan pelanggan. Dengan berkonsentrasi membahagiakan pada mereka yang ada di sekeliling bisnis kita, maka kebahagiaan kita pada akhirnya juga meningkat drastis. Kebahagiaan yang tidak sebatas materi semata, namun kebahgiaan karena puas telah menjadi bagian dan penyebab dari kebahagiaan orang lain, itu yang paling penting.

Kita kehilangan

From:Onny_Indrianto
To: Me
Today at 7:51 AM
 
Waktu sangat cepat yaa…Tks Dwika

From: Dwika Sudrajat [mailto:dwikasudrajat@yahoo.com]
Sent: 26 Juni 2014 4:49
To: itxarco@yahoogroups.com
Subject: Kita kehilangan

Mengingat mati akan membuat kita menghargai/mensyukuri/memaknai hidup kita, keluarga kita, harta kita, dan pekerjaan kita. Kita harus yakin sesudah kematian ada hari pembalasan yang akan "membayar" semua tindakan baik dan semua pengorbanan kita di dunia.
I deliver happiness,
Dwika


Mengingat Mati, Perlukah..?

Mengingat mati adalah sikap menerima kenyataan bahwa segala sesuatu itu di dunia ini bersifat sementara. Kalau kita tidak menerima sifat kefanaan hidup ini, maka akan sulit jika kita kehilangan yang merasa kita miliki.
Mengingat mati akan membuat kita menghargai/mensyukuri/memaknai hidup kita, keluarga kita, harta kita, dan pekerjaan kita. Kita harus yakin sesudah kematian ada hari pembalasan yang akan "membayar" semua tindakan baik dan semua pengorbanan kita di dunia. Alangkah tidak adilnya Tuhan jika tidak ada hari pembalasan. Sikap yakin bahwa akan ada hari pembalasan kelak setelah kita mati, akan membawa optimisme dalam menjalani hidup.


Orang yang berani mati belum tentu dia berani hidup, kalau hal tersebut dilandasi oleh sikap putus asa dan kepasrahan yang salah. Dengan membayangkan hari ini  adalah hari terakhir kita hidup, kita justru akan lebih total dalam menghargai dan menjalani hidup. Ini akan sangat efektif sekali. Namun yang terbaik adalah kita bisa mencarinya lewat Kitab Suci. Renungi dan resapilah! Semoga jiwa kita siap menerima kematian, kapanpun itu tiba.

Keajaiban

From: Onny_Indrianto
To: Me
Today at 7:57 AM
 
Tks Dwika


From: Dwika Sudrajat [mailto:dwikasudrajat@yahoo.com]
Sent: 26 Juni 2014 20:23
To: John Sihar
Subject: Keajaiban

Kalau mau menjemput keajaiban derma 20%.
Kalau mau mendapatkan ‘jodoh’, sedekahkan barang yang paling kita sayangi seperti mobil, deposito, atau tanah warisa.
I Deliver Happiness,
Dwika


Berkah dan Berlimpah ala Ippho Santosa

“Sabtu, 31 Desember 2011 adalah yang paling bermakna sepanjang hidup saya. Bertemu dan mengalami sesuatu berharga di luar kelas. Mengindahkan semua teori konflik Marx sampai konsep materialisme dialektis ajaran Hegel. Ya, saya berada di tengah para praktisi yang hebat!”

Hari ini saya, Ka Juangga (Kompartemen Konstruksi dan Infrastruktur HIPMI UI –Kimia 2008), Ka Fahmi (Ketua 3 Bidang Bisnis Akselerasi Sektoral HIPMI UI –Geografi 2008), dan Ka Merlin (Pemenang UIYSEP 2010 dan Litbang BEM UI –Keperawatan 2008) pergi ke seminar ‘7 Keajaiban Rezeki’ punya Mas Ippho di Masjid As-Syarif, Al-Azhar BSD Tangerang. Dijemput dadakan jam 7.30 pagi dan hanya sarapan waffer.

Sambil menulis cerpen di netbook, saya mendengarkan percakapan mereka mengenai bisnis, investor, prospek usaha dan lain-lain yang berhubungan dengan entrepreneur. Saya harus banyak belajar. Terima kasih ya Allah, telah mempertemukan saya dengan mereka.

Kami pun sampai di Masjid tersebut. Wah, ternyata cukup ramai ya! Namun saya belum tahu siapa pembicara yang mampu membuat massa sebanyak itu. Apa aksinya.
Ternyata dia penulis buku best seller 7 Keajaiban Rezeki, kawan! Buku motivasi yang pernah saya lihat terpampang di rak buku dengan penjualan terbanyak di Gramedia. Tapi saya tidak melihat penulisnya waktu itu.

Infocus pun dinyalakan. Testimoni ditampilkan. Masya Allah, dia ternyata motivator, soc-entrepreneur, creative marketer terbaik di Indonesia! Bahkan ia menampilkan videonya ketika di Australia dengan helikopter untuk menghilangkan rasa takutnya akan ketinggian (bukti ia orang kaya) dan get dinner dengan Donald Trump lalu bertukar buku :’) Fyi, buku terbaru Trump yang belum dijual di seluruh dunia yang dikasihnya.

Kalimat pertama yang saya catat adalah “sukses adalah milik minoritas”. Agak menohok, tapi tertantang juga.  Beliau memaparkan bahwa Muhammad dan para sahabat adalah orang-orang kaya. Bukan orang miskin, namun mereka amat sederhana. Bahkan Umar bin Khattab mampu membeli pasar-pasar yang dulu beridiri di Timur Tengah demi syiar islam.  Disini ada distorsi nilai yang kita camkan selama ini, yaitu jangan sedekah terang-terangan nanti bisa riya’. Hal ini tidak beralasan. Alasan beliau yang paling logis yang saya dengar adalah,
Sedekah diam-diam memang lebih baik dari terang-terangan, tapi diam-diam tetapi tidak sedekah itu lebih jelek. Terang-terangan pun harus diniatkan untuk syiar, bukan pamer. Dan buruk juga kalau kita berniat sedekah namun tidak jadi karena takut dikira riya’ itulah yang sebenarnya riya’.

Itu mitos pertama yang ia bantah. Mitos kedua yaitu, jangan bermimpi terlalu tinggi, nanti sakit kalau jatuh. Tidakkah kutipan ini membatasi mimpi kita yang gratis dan memotivasi diri? Yang benar,
Jangan membatasi impian. Impian boleh dan harus besar! Tapi ikhlas dan tawakal juga harus demikian. Impian yang besar itu iman jika kita menggantungkannya kepada Allah…

Sungguh banyak quotes lain yang bagus dari Mas Ippho, namun butuh banyak kata untuk memaparkannya.  Dan ada lagi,
Takut tetap melangkah= berani, berani tidak melangkah= takut

Satu topik terakhir yang dijelaskan Mas Ippho, yaitu ‘perisai langit’. Dhuha= Doa khusus pengusaha. Salah satu bentuk sedekah yang paling murah dan barakah. Selain itu, ada ungkapan yang kita ketahui bersama kalau sedekah itu wajib 2,5% namun idealnya, sebagai manusia yang jauh lebih beruntung dari orang lain it should be 10%. Kalau mau menjemput keajaiban 20%. Kalau mau mendapatkan ‘jodoh’, sedekahkan barang yang paling kita sayangi seperti mobil, deposito, atau tanah warisan (yang ini mungkin berat, tapi ingat matematika Allah itu luar biasa).

Hebatnya lagi setelah seminar selesai, Mas Ippho benar ‘menantang’ para penonton dengan ungkapan “Siapa yang berani mensedekahkan uangnya di depan saya juga?”. “Saat ini juga!”. Semua jamaah maju ke depan dan melemparkan uang-uang mereka dan didominasi oleh warna biru dan merah karena sebelumnya Mas Ippho bercerita jika uang dengan gambar pria membawa golok sama dengan nominal pembayaran kita ke toilet. Masa orang bawa golok masuk masjid, ya aturan orang pake peci dong yang masuk masjid. Kan berdua juga tuh orangnya, udah siap mau jamaah. Dan sepertinya BI juga sudah memberikan filosofis di setiap gambar pada mata uang ya! Haha. Kelakar Mas Ippho. Jamaah pun ikut tertawa.

Sungguh saya beruntung berada di situ. Saya yakin ini jalannya. Alhamdulillah, Allah telah menggerakkan hati saya untuk menerima tawaran dadakan Ka Jua. Relasi dan pengalaman adalah harta yang tidak ternilai. Saat kau terjun ke masyarakat, mereka sepertinya kurang suka teori positivis Comte tetapi bagaimana we make a deal with them by probing
:)
Interviewer: Why are you so rich? Describe into two words!
D. Trump: Family and quality.
“See ya’ at the top, fellas :D”
Oleh: Jhane Pebyana Wilis, Depok

Senin, 23 Juni 2014

Menggoda Diskon Harga

From: Onny_Indrianto

To: Me

on: Jun 16
 
Tks Dwika…inginnya murah dan kwalitas bagus, mewah… 

From: Dwika Sudrajat [mailto:dwikasudrajat@yahoo.com]
Sent: 14 Juni 2014 18:29
To: Yudi E85; Onny_Indrianto
Subject: Fw: Menggoda Diskon Harga
On Friday, June 13, 2014 7:35 PM, Dwika Sudrajat <dwikasudrajat@yahoo.com> wrote:
Diskon sebenarnya bisa menarik bagi siapa saja, lelaki dan perempuan. Diskon merangsang siapa pun dia, untuk menimbang-nimbang apakah barang ini bisa dibeli atau tidak (bukan dibutuhkan atau tidak). Di saat-saat seperti itu, pesan para ahli perencanaan keuangan agar kita tidak membeli sesuatu berdasarkan keinginan tapi kebutuhan, seolah bagai angin lalu.
I Deliver Happiness,
Dwika

Rayuan Menggoda Diskon Harga

Berapa pun besarnya, potongan harga umumnya mampu membuat calon pembeli tertarik. Membeli adalah keputusan emosional. Karena itulah penjual harus pandai-pandai bermain siasat.

Ada sebuah lelucon berbentuk teka-teki: apa bedanya Bulan dengan Matahari? Jawaban resminya tentu Anda sudah tahu. Tapi jawaban ngawur dari teka-teki ini adalah: kalau Bulan bisa ngomong, kalau di Matahari (nama toko) ada diskon! He-he-he, memang lelucon basi. Kalau dalam istilah anak muda, garing!
Description: Image removed by sender.
Lelucon itu paling tidak menunjukkan bahwa toko eceran (ritel) nyaris identik dengan program potongan harga atau diskon. Pada "musim diskon", toko-toko itu memajang tulisan besar-besar berupa persentasi potongan harga sebesar 20%, 30%, 50%, atau 70%. Pengelola toko berharap, orang yang lewat akan menengok. Syukur-syukur kalau akhirnya mereka tertarik dan akhirnya membeli barang.

Apakah strategi ini selalu berhasil? Sayangnya, kebanyakan iya. Tengok saja pusat-pusat perbelanjaan saat mereka menggelar acara diskon besar-besaran. Pembeli ramai berdatangan dan berebut membeli barang yang diberi harga khusus. Penjualan diberitakan meningkat. Begitu paling tidak keterangan resmi dari bagian humas toko itu kepada para wartawan.

Cerita paling heboh di Jakarta adalah ketika produsen alas kaki plastik "Crocs" menggelar diskon besar-besaran sampai 70%, Mei 2009, di pusat perbelanjaan Senayan City. Calon pembeli mengular sampai berpuluh meter. Berjam-jam mereka rela antre hanya untuk sekadar bisa masuk ke dalam ruang penjualan. Ketika selesai bertransaksi, umumnya pembeli menenteng belanjaan sampai beberapa tas sekaligus.

Rupanya fenomena itu ternyata bukan semata masalah harga. Ceritanya tak jauh berbeda ketika sebuah toko permata, di mal yang sama, menggelar diskon untuk produk yang harganya tidak bisa dibilang murah. Jutaan rupiah! Pembeli tetap mengular. Mereka juga masih rela menunggu berjam-jam, sampai kaki terasa kesemutan.

Membeli karena emosi
Ada pendapat bahwa diskon, sale, potongan harga, apa pun namanya, konon paling diminati kaum wanita. Dugaan itu masuk akal. Penelitian menyebutkan, kaum perempuan memang lebih banyak dan lebih tahan menghabiskan waktunya di pusat perbelanjaan dibanding lelaki, meski mereka tidak selalu membeli sesuatu. Penelitian mutakhir malah menyatakan, belanja bisa membuat perempuan lebih sehat, karena selama menjalaninya emosi mereka cenderung positif.

Padahal diskon sebenarnya bisa menarik bagi siapa saja, lelaki dan perempuan. Diskon merangsang siapa pun dia, untuk menimbang-nimbang apakah barang ini bisa dibeli atau tidak (bukan dibutuhkan atau tidak). Di saat-saat seperti itu, pesan para ahli perencanaan keuangan agar kita tidak membeli sesuatu berdasarkan keinginan tapi kebutuhan, seolah bagai angin lalu.

Keputusan seseorang dalam membeli suatu barang sesungguhnya emosional, seperti ditulis Brian Tracy, pakar pemasaran Amerika Serikat (AS) dalam bukunya "The Psychology of Selling" (diterbitkan Bhuana Ilmu Populer 2007). Karena itu kepada para penjual, Tracy berpesan: jangan pernah berpikir tentang cara-cara menjual secara rasional, melainkan emosional.

Penjelasan Tracy, pada dasarnya emosi manusia (dalam hal ini calon pembeli) amat beragam. Dalam memutuskan atau bertindak, emosi terkuatlah yang akan menentukan. Jadi ada semacam pertarungan emosi dalam diri manusia. Para penjual harus sadar hal itu, sehingga mereka harus bisa meningkatkan emosi "positif" pembeli.

Sebenarnya pembeli mulai berpikir tentang manfaat ketika ia pertama kali tertarik kepada suatu barang. Tapi di sisi lain, ia punya ketakutan untuk berbuat kesalahan jika membelinya. Entah perasaan takut kemahalan, tidak berguna, tidak awet, dsb. Nah, di saat itulah penjual harus pandai-pandai menghilangkan rasa takut dari pembeli. Misalnya, penjual bisa bertindak dengan cara memberi potongan harga.

Dari sisi psikologis pembeli, tulisan besar "diskon 50%" saja sudah dapat merangsangnya untuk menghampiri sebuah barang. Apabila sudah tertarik, maka ia mulai memperhatikan corak dan bentuknya. Menghitung besarnya diskon dari harga aslinya. Dan tanpa perlu berpikir panjang lagi, langsung bergegas menuju kasir. Kalau tidak bawa uang kontan, ya gesek kartu kredit saja. Beres.

Jadi umpan
Jika jurus awal penjual masih belum cukup merayu pembeli, maka bisa disiapkan jurus kedua untuk mencolek emosi yaitu dengan memberi batas waktu. Penjual harus meyakinkan bahwa jangka waktu pembelian sangat terbatas. Harga naik besok pagi! Itu misalnya.
Tracy berteori, pembeli yang tadinya ragu-ragu pasti akan membeli jika dihadapkan dengan kemungkinan bahwa ia tidak akan dapat membeli dengan harga serendah itu. Atau malah akan kehilangan kesempatan itu sama sekali.

Dari ilustrasi tadi, bisa tergambarkan, dalam sekejap saja kondisi lapar mata pembeli yang semula niatnya cuma mau cari angin saja, begitu mudah terpuaskan. "Belinya pas lagi diskon kok, jadi murah," katanya kepada para kolega, ketika ditanya masalah harga. Menurut Tracy, di sini pembeli mulai mencoba merasionalkan tindakan yang sebenarnya dilandasi emosinya.
Kesan "harga murah" jelas tidak tercipta begitu saja. Kesan itu adalah tujuan dari strategi promosi berupa diskon. Strategi lain, menurut teori pemasaran, bisa berupa iklan, brosur atau pemasaran langsung.

Strategi semacam ini bisa kita lihat dijalankan saban akhir pekan oleh sejumlah hipermarket. Jumat pagi, para pengelola hipermarket sudah memasang iklan besar-besaran di surat kabar dan memajang produk-produk yang mendapat pemotongan harga. Mulai dari sembako, barang keperluan rumah tangga sehari-hari, sampai barang-barang elektronik.

Pada praktiknya, tidak usah menunggu Sabtu, apalagi Minggu. Jumat siang itu saja, barang-barang yang diberi diskon sudah menghilang dari rak karena diserbu pembeli.

Kafi Kurnia, praktisi pemasaran, menyatakan sejauh ini strategi ini terbukti cukup ampuh memancing konsumen untuk datang ke hipermarket di akhir pekan. Padahal harapan pengelola toko lebih dari itu, yakni bukan hanya barang diskon yang diserbu pembeli, tetapi barang-barang lain yang harganya normal. Kesimpulannya, barang yang didiskon juga bisa menjadi umpan.

Untuk menggelar acara diskon, pengelola toko tentu tidak bermain solo. Pihak produsen atau pemegang merek ikut dilibatkan, karena pada dasarnya hampir semua produk di hipermarket atau pusat perbelanjaan dijual dengan sistem titip jual atau istilahnya konsinyasi. Strategi promosi antara toko dan produsen harus sejalan. Walau kabarnya ada juga hipermarket tertentu yang berani memotong margin keuntungannya, bahkan merugi untuk barang tertentu, hanya untuk menggelar acara diskon.

Cuma untuk barang lama
Ada kalanya program diskon terkait dengan musim penjualan dan stok barang. Misalnya produk ritail pakaian yang umumnya didiskon dua kali setahun, yaitu pertengahan tahun dan akhir tahun. Di luar itu kadang digelar dengan tema tertentu seperti Idul Fitri, tahun ajaran baru, Imlek, atau Valentine. "Bentuknya tidak selalu dengan potongan harga. Bisa lucky dip (hadiah kejutan) atau hadiah voucher pada jumlah pembelian tertentu," kata Joseph Landri, Group Head of Investor Relations PT Mitra Adiperkasa Tbk, perusahaan pemegang 85 merek internasional di Indonesia. Beberapa merek di antaranya: Marks & Spencer, Zara, Next, Massimo Dutti, dsb.

Pemotongan harga, jelas Joseph, didasari banyak pertimbangan. Seperti margin keuntungan dari barang, ketersediaan stok di pasaran, usia barang, adanya produk baru, atau tema promosi pada saat tertentu. Produsen juga harus berhitung cermat tentang besaran angka potongan harga yang diberikan, apakah 20%, 30%, atau mungkin 50%. Tergantung kepada situasi bisnis pada saat itu serta mempertimbangkan kondisi produk yang akan diberi potongan harga.

Sebuah produk yang promosinya sudah berjalan tapi ingin dipacu lagi penjualannya, bisa diberi potongan harga atau bonus tertentu. Sementara produk yang sudah memasuki akhir masa penjualan, sudah ketinggalan mode, serta ukuran dan modelnya sudah tidak lengkap, bisa dijual dengan diskon yang besar. Apalagi kalau sudah akan masuk produk penggantinya, stok harus segera dihabiskan.

Karena itu pembeli harap maklum. Diskon umumnya hanya diberikan untuk barang-barang lama, yang mungkin sudah ketinggalan mode. Untuk produk-produk baru, sering diistilahkan "new arrival", jangan bermimpi untuk mendapatkan harga miring. "Hal ini penting untuk menjaga positioning brand, sebagaimana yang telah ditentukan pemilik merek," jelas Joseph.

Sebuah produk bisa saja tidak akan dikenai diskon, jika ternyata respons konsumen (dibaca: penjualan) dianggap bagus. Karena produsen tidak harus mengejar target penjualan tertentu. Dari jangka waktu penjualan, mereka yakin akan mampu menghabiskan stok dan mendapatkan margin penjualan tertentu. Dalam pengertian Kafi Kurnia, strategi pemotongan harga sangat fleksibel dan terkait dengan strategi penjualan yang lebih luas.

Pada industri yang lebih besar, seperti misalnya automotif, menurut Kafi diskon hanyalah menjadi satu alat disamping berbagai strategi dan aspek bisnis lainnya. Jika ada produk mobil tertentu yang tidak laku, pihak marketing akan segera mengarahkan penjualannya untuk pasar dan wilayah tertentu. Soal harganya turun atau tetap, bisa sangat fleksibel. Yang terpenting, target penjualan tercapai.

Loyal pada harga
Tidak selamanya pemotongan harga terdengar merdu di telinga konsumen. September 2007, perusahaan komputer Apple pernah menurunkan harga jual produk ponsel iPhone sebanyak AS $ 200, menjadi AS $ 400. Dengan pemotongan mereka berharap mencapai target penjualan 2,5 juta unit iPhone pada tahun itu.

Namun akibatnya Steve Jobs, Chief Executive Officer Apple kebanjiran e-mail protes dari para pembeli iPhone yang terlanjur membeli sebelum harga turun. Jobs kemudian memberi kompensasi kepada mereka yang membeli dua minggu sebelum harga turun, untuk berbelanja produk Apple sebesar AS $ 200. Kabarnya setelah pemotongan harga, penjualan ponsel saingan Blackberry itu naik luar biasa dari 9.000 unit per hari menjadi 27.000 unit per hari.

Beruntung, strategi Apple tidak berdampak negatif terhadap citra perusahaan. Karena Michael Goodman, ahli pemasaran AS, dalam bukunya "Reduction Price can Backfire" mewanti-wanti agar berhati-hati karena potongan harga bisa berdampak kepada loyalitas konsumen. Jika ada dua produk yang saling bersaing, adalah wajar jika konsumen memilih produk yang memberi potongan harga. Akhirnya konsumen bisa lebih loyal kepada harga daripada terhadap merek.

Manakala situasi itu terjadi, produk itu nantinya sangat rentan terhadap perubahan harga karena persaingan. Produsen lalu terdorong untuk mengurangi harga (dan keuntungan!) untuk menjaga posisi mereka di pasar. "Faktor loyalitas sangat penting dan tidak untuk dikompromikan dengan harga atau promosi harga yang berlebihan," jelas Goodman.

Masih banyak cara yang bisa dilakukan untuk mendapat loyalitas konsumen sekaligus meningkatkan penjualan. Misalnya pemberian bonus yang dapat langsung dirasakan manfaatnya oleh konsumen, pemberian voucher, atau servis gratis selama jangka waktu tertentu. Dalam jangka panjang, pemotongan harga malah bisa mengundang risiko.
Jadi kesimpulannya, bukan cuma pembeli yang harus teliti. Penjual juga harus berhati-hati.

Lebih Tertarik Manfaat Langsung
Survei Nielsen ShopperTrends 2009 oleh lembaga survei AGB Nielsen, menyimpulkan bahwa konsumen di Indonesia lebih tertarik dengan promosi yang memberikan keuntungan secara langsung, seperti diskon. Namun bukan berarti konsumen abai terhadap kualitas produk. Kenaikan penjualan produk berkualitas tetap lebih baik dari produk biasa saja

Diskon (77), Beli sejumlah barang dengan bonus 1 gratis (49), Diskon dengan menunjukkan bukti pembelian (22), Voucher (21), Hadiah langsung (21), Mendapat poin (15), Pembelian dengan pembelian (8), Hadiah undian (5), Uang kembali/cashback (4), Cicilan bunga 0% (3)
Sumber: AGB Nielsen


Pilih Angka Nominal atau Persen?
Diskon atau potongan harga bisa ditawarkan dalam bentuk nominal harga (Rp...) atau dalam persentase (...%). Masalahnya, manakah yang lebih menarik di mata konsumen?

Berdasarkan penelitian Devon DelVecchio, profesor pemasaran dari Miami University, pada 2007, konsumen lebih mudah mengingat angka dalam persentase dibanding dalam nominal. Selain itu, jika potongan harga tergolong tinggi, akan lebih efektif jika disampaikan menggunakan persentasi. Pengaruhnya ada pada ekspektasi harga di benak konsumen. Mereka membayangkan sejumlah angka yang pasti jauh lebih murah.

Sedangkan jika potongan harga rendah, sebaiknya digunakan dalam bentuk angka nominal. Cara ini membuat konsumen bisa lebih cepat mengkalkulasi harga dan bisa cepat dalam mengambil keputusan.

Dimuat di: Majalah INTISARI, September 2009

Change


Onny_Indrianto
To Me
Jun 9
Thanks Dwika…change now.

From: Dwika Sudrajat [mailto:dwikasudrajat@yahoo.com]
Sent: 07 Juni 2014 21:10
To: IME
Subject: Change

Perubahan itu harus dimulai dari dalam diri kita.
Pertama yang harus dilakukan perubahan adalah ‘diri kita sendiri’ lebih dulu.
Berusahalah melakukan perjalanan ke dalam diri Anda, untuk mengetahui lebih detail tentang potensi, kekuatan dan kelemahan diri Anda lebih dahulu, kemudian melakukan perubahan menjadi lebih baik.
Tanpa perubahan dari dalam hati dan pikiran dalam diri kita, Anda meskipun melakukan banyak perubahan diluar seperti pekerjaan, atau perusahaan, tidak akan memberikan banyak arti.
I Deliver Happiness,
Dwika





It’s Time To Change

Posted by : Ryan - Doddy

Seorang member milis Motivasi Nurani Indonesia mengirimkan email kesaya. Sebut saja namanya Anton, bukan nama sebenarnya, karena dia tidak ingin disebutkan namanya di milis. Berikut ini emailnya:

” Selamat pagi Pak Eko Jalu, saya anggota milis Motivasi Nurani Indonesia, sejak ada artikel mengenai Menjadi Orang Paling Baik, sampai sekarang saya selalu menyimpan dan membaca artikel-artikel Pak Eko Jalu. Saya senang sekali dengan artikel-artikel tsb, saya juga sudah membaca bukunya Pak Eko Jalu, The Art of Life Revolution, yang benar-benar menginspirasi saya.

Saya sangat terinspirasi dari buku dan artikel-artikel bapak dan saya juga senang memikirkan orang lain, bersama-sama teman-teman di lingkungan perumahan saya. Saya juga selalu berusaha bersyukur bahwa saya sudah punya rumah sendiri, punya istri dan anak yang lucu sekali, punya lingkungan kerja dan dan lingkungan rumah yang bisa menerima saya dan keluarga saya.

Namun ada hal yang sangat mengganjal, saya merasa tidak ‘sukses’ dan telah ‘gagal’ selama ini. Pekerjaan saya statis selama 10 tahun, tidak ada perkembangan yang berarti dan masih berada di posisi yang sama. Saya lulusan D3 Akuntansi, namun saya bekerja sebagai administrasi di suatu department engineering. Saya sudah berusaha optimal membantu dan berkarya di tempat kerja saya. Saya bekerja keras, meluangkan banyak waktu, bahkan kadang mengorbankan waktu keluarga dengan harapan dapat meningkatkan kehidupan saya, tetapi kenyataannya tidak ada perubahan yang berarti. Nampaknya system karir & system kompensasi di perusahaan saya tidak mendukung. Sehingga kondisi ekonomi saya selalu ‘pas-pasan’ dan cenderung kurang. Hingga kini saya belum bisa membantu orang tua, selain hanya menghubungi lewat telpon.

Saya benar-benar ingin sekali mengubah keadaan saya, tapi saya tidak tahu harus mulai dari mana dan melakukan apa. Saya tidak mempunyai keahlian khusus, pengendalian emosi saya kurang baik, umur saya sudah 31 tahun, bilamana mencari pekerjaan baru harus bersaing dengan anak-anak muda yang lebih creative & pintar. Saya mohon bantuan di sela-sela kesibukan Pak Eko Jalu untuk sekiranya dapat memberikan saran dan pencerahan. ”

Mungkin masalah diatas tidak asing dan mudah ditemukan di lingkungan sekitar kita. Bahkan mungkin ada diantara Anda yang saat ini terjebak dalam situasi kehidupan yang hamper sama seperti diatas. Kita seolah-olah sudah berusaha bekerja keras, mengorbankan waktu dengan harapan akan mampu mengangkat karier, penghasilan dan kehidupan kita ke taraf yang lebih baik. Tetapi nampaknya tidak ada perubahan berarti. Semakin kita bekerja lebih keras, semakin kita tidak mempunyai waktu untuk diri kita sendiri maupun keluarga, tetapi perubahan hidup tidak tercapai juga. Kalau sudah demikian, maka pada satu titik tertentu, mungkin kita akan merasa frustasi, putus asa, stress karena semua kerja keras yang kita lakukan, seolah-olah tidak bisa memberikan harapan seperti yang kita inginkan.

Sedangkan ketika kita menengok kehidupan orang lain, teman-teman kuliah dulu, teman bermain, si Hendra teman kuliah dulu yang nggak pintar-pintar amat, kini sudah menduduki posisi Asisten Marketing Direktur, si Yanti yang dulunya lugu, kini sudah punya usaha boutik pakain yang berkembang pesat, si Anto malahan sudah memiliki 2 buah rumah real estate dengan mobil mewah keluaran terbaru, dll. Bahkan terkadang anak buah kita dulu, kini sudah melampaui posisi kita saat ini, entah dalam kehidupan karier maupun dalam kehidupan ekonomi. Kalau sudah demikian, kemudian kita menjadi frustasi, stress, depresi dan merasa menjadi orang yang tidak sukses atau gagal.

Kalau kita berada dalam situasi yang demikian, maka inilah waktunya untuk melakukan sebuah perubahan “It’s Time To Change”. Ini saatnya untuk melakukan “Life Revolution”. Pertanyaannya adalah apanya yang harus diubah ? Bagaimana melakukan perubahan ?

Banyak orang berpendapat, bahwa melakukan perubahan itu berarti berganti pekerjaan, berpindah perusahaan. It’s ok. Mungkin itu benar bagi beberapa orang, karena hal ini bisa memberikan harapan menjadi lebih baik. Tapi mungkin bagi sebagian orang yang lain, ternyata berpindah pekerjaan atau pindah perusahaan hanya memberikan harapan semu sementara saja. Karena ternyata di perusahaan yang baru tersebut, setelah beberapa saat mereka menemukan hal-hal baru yang `menjebak’ mereka seperti kisah teman diatas lagi. Lalu mereka mulai stress, tertekan dan kembali terjebak dalam kehidupan rutin yang semula.

Kalau demikian apanya yang harus diubah?. Sahabat, perlu diperhatikan adalah bahwa perubahan itu harus dimulai dari dalam diri kita. Artinya pertama yang harus dilakukan perubahan adalah ‘diri kita sendiri’ lebih dulu. Maksudnya, berusahalah melakukan perjalanan ke dalam diri Anda, untuk mengetahui lebih detail tentang potensi, kekuatan dan kelemahan diri Anda lebih dahulu, kemudian melakukan perubahan menjadi lebih baik. Karena tanpa perubahan dari dalam hati dan pikiran dalam diri kita, Anda meskipun melakukan banyak perubahan diluar seperti pekerjaan, atau perusahaan, tidak akan memberikan banyak arti.

Cobalah renungkan beberapa pertanyaan dibawah ini, mungkin Anda akan menemukan sesuatu yang harus diubah dari dalam diri Anda :

- Bagaimana dengan cara kerja anda saat ini, sudahkah anda bekerja secara kreatif, efektif, produktif dan efisien ?

- Bagaimana dengan cara pandang anda terhadap pekerjaan ? Apakah anda berpikir bahwa pekerjaan yang anda lakukan adalah beban, ataukah sebuah kesenangan, atau memiliki makna sebagai bagian dari ibadah ?

- Apakah anda merasa sudah mentok dan tidak ada kesempatan untuk meningkatkan karier, Ataukah anda bsudah erusaha menciptakan kesempatan itu melalui peluang baru, kreativitas, prestasi kerja tertentu, misalnya ?

- Apakah anda lebih suka menggosipkan bagaimana `pelit’nya perusahaan terhadap anda ataukah anda lebih suka memikirkan, bagaimana perusahaan anda bisa tumbuh dan berkembang seperti sekarang ?

- Apakah anda lebih suka menggosipkan bagaimana rekan anda yang `pandai menjilat’ sehingga prestasinya melesat, Ataukah anda belajar, prestasi apakah yang telah dia ciptakan sehingga cepat maju ?

- Apakah Anda sudah berusaha meningkatkan diri dalam kecerdasan emosionald dan spiritual, melalui berbagai kesempatan belajar dan training, misalnya ?

- Dll.

Hanya diri kita masing-masing yang bisa menjawab hal ini dengan jujur. Kalau kemudian Anda sudah menemukan berbagai jawaban itu dengan jujur, mulailah melakukan perubahan dari dalam diri Anda, sebelum mengharapkan adanya perubahan dari luar. Karena sesungguhnya kesuksesan dan kebahagiaan itu dimulai dari dalam hati dan pikiran kita sendiri.

Saran Dan Aplikasi Untuk Mengubah Diri menjadi sukses dalam melakukan perubahan kehidupan adalah:


1. Tanamkan keyakinan bahwa sukses itu dimulai dari dalam hati dan pikiran Anda sendiri.

2. Imajinasikan dengan gambar yang jelas, sejernih kristal keinginan keberhasilan yang akan Anda raih dalam waktu 2-5 tahun yang akan datang. Jadikanlah impian ini menjadi sebuah tujuan utama kesuksesan Anda.

3. Tetapkan alasan yang kuat, mengapa anda menginginkan tujuan kesuksesan itu ?. Mengapa impian itu sangat penting bagi Anda. Memiliki alasan yang kuat, dapat menciptakan “Strong Desire”, motivasi yang tinggi untuk mencapainya.

4. Sincere Belief. Meyakini bahwa Anda pasti bisa mencapai tujuan atau impian kesuksesan Anda tersebut, dalam 2-5 tahun mendatang.

5. Enthusiastic Action. Lakukanlah kegiatan dengan bersemangat dan kerja keras. Salurkan seluruh energi dari dalam diri Anda untuk selalu fokus pada kegiatan yang ada hubungannya dengan pencapaian impian Anda tersebut.

6. Tawakal Kepada Allah. Imbangi setiap usaha lahiriah, semangat tinggi, kerja keras dengan usaha batiniah, senantiasa bertawakal dan memohon kepada Allah. Karena Allah adalah pemilik kesuksesan.


Oleh Eko Jalu Santoso