link: Mananging Consultant

Cari Blog Ini

Minggu, 01 Agustus 2010

Mendidik Anda cukup "keras"

ingatlah:
Kesulitan-kesulitanmasalah, kegagalan, beban kehidupan, konflik, dan berbagai
hal negatif lainnya justru akan dapat memperkuat orang-orang yang memiliki
semangat juang tinggi, dengan tujuan hidup yang pasti, serta keteguhan hati yang
kuat.
salam,
Dwika
VIDE Incorporated.

====================================
Seni Hidup Susah
*mujahidsamurai.multiply.com

"Mendidik seorang anak yang setelah dewasa siap menjadi orang miskin jauh
lebih sulit daripada mendidik anak yang setelah dewasa siap menjadi orang kaya."

Begitulah kalimat yang pernah diucapkan ayah saya. Sampai sekarang, rasanya
masih terngiang-ngiang sekali dalam benak saya kalimat tersebut saat pertama
kali keluar dari mulut ayah. Waktu itu adalah ketika saya kelas 6 SD. Saat itu
mungkin saya belum cukup dewasa, tapi saya cukup bisa mencerna perkataan ayah
saya. Sesaat setelah mendengarkan kalimat itu keluar dari lisan ayah, seolah
saya telah mendapatkan jawaban atas apa yang sering saya alami di masa yang
sudah lalu. Ya... saya kira itulah sebabnya kenapa selama ini ayah mendidik saya

cukup "keras".

Mulai dari kecil saya tidak pernah dibiasakan mendapatkan segala sesuatu yang
saya inginkan dengan cara mudah, walaupun saya tau ayah pasti dapat
memberikannya dengan mudah kalau beliau mau. Terkadang saya pun sering mengeluh
dan bercerita pada ibu saya, kok kenapa kalau ingin ini ingin itu rasanya sulit
sekali memintanya. Apalagi kalau keinginan itu yang bersifat hiburan atau
kesenangan semata. Tapi lain halnya kalau soal pendidikan, ayah pasti tanpa
pikir panjang akan langsung mengeluarkan isi dompetnya begitu saya memintanya.
Sebagai anak-anak, waktu itu, tentu saya tidak pernah terfikir bahwa itu adalah
pola pendidikan yang ayah terapkan pada saya dan adik-adik saya. Sering kali
perasaan yang saya rasakan saat itu hanya sebuah kekecewaan semata tanpa ada
nilai pendidikan yang bisa saya ambil. Tapi seiring berjalannya waktu, semakin
bertambah dewasanya usia saya, maka saya pun semakin bisa berfikir dan merenungi

setiap kejadian yang saya alami di masa lalu itu. Sampai akhirnya saya sadar
betul bahwa sebenarnya itu semua hanya cara ayah saya dalam mendidik
anak-anaknya, persis seperti ungkapan kalimat yang saya tulis di awal paragraf
di atas.

Sebagai contoh saja, ketika saya SD, saya tidak pernah diantar-antar dengan
orangtua sebagaimana layaknya anak-anak, kecuali 6 bulan pertama saat saya
pertama kali masuk SD, saya sering diantar jemput oleh ibu. Dari rumah saya
harus jalan kaki sampai depan komplek rumah yang jaraknya sekitar 800 meter.
Lalu dilanjutkan naik angkot yang jaraknya sampai sekolah kira-kira 8 KM.
Padahal saat itu mungkin bisa saja ayah saya mengantar saya sebelum berangkat ke

kantor dengan mobilnya. Saya diberi uang saku secukupnya bahkan waktu itu
terbilang kecil jika dibandingkan dengan uang saku teman-teman saya yang lain.
Bayangkan! Saya hanya diberi Rp. 500,-. Untuk naik angkot pulang pergi Rp.
200,-. Uang segitu saat itu memang bernilai cukup besar, dan sisa uang Rp. 300,-

masih bisa untuk jajan makanan kecil. Itulah sebabnya sejak kecil saya jadi suka

cari akal bagaimana caranya bisa dapat uang jajan lebih tanpa harus minta
orangtua. Ya waktu itu yang terfikir adalah dengan cara jualan dan mengajari
teman pelajaran sekolah dengan imbalan traktir jajan dari mereka.

Pengalaman-pengalaman seperti itu terus saya alami sampai saya SMA, bahkan saat
kuliah. Saya tidak pernah merasa bahwa apa yang saya peroleh itu didapat dengan
cara yang mudah. Semuanya serba harus dengan perjuangan di tengah fasilitas yang

terbatas. Tapi efek dari pendidikan ayah saya tersebut, dapat saya rasakan
manfaatnya dari waktu ke waktu. Hingga akhirnya saya menjadi sangat bersahabat
dengan yang namanya kesulitan dan kegagalan. Bahkan saat ini terkadang saya
malah suka menyengaja diri saya agar terlibat dalam kesulitan, walaupun
sebenarnya saya tau cara yang mudahnya. Misalnya, ketika SMA saya mulai
diberikan ayah sebuah motor untuk transportasi pulang pergi dari sekolah, tempat

les, dan rumah. Tapi walaupun begitu, saya malah lebih sering memarkir motor
saya di garasi rumah, dan berangkat ke sekolah atau tempat les dengan berjalan
kaki dan naik angkot. Beberapa teman saya menganggap saya aneh dengan tingkah
yang seperti itu. Tapi itulah cara saya dalam mendidik diri saya sendiri.
Menurut kamu, apakah sebenarnya yang ada di benak para pecinta alam yang sering
naik turun gunung, menyusuri sungai, bahkan tidur hanya beralaskan rumput dan
beratapkan langit saja. Mengapa mereka mau mempersulit diri mereka sendiri
dengan tidur di hutan belantara yang serba gelap, udaranya dingin, bahkan tidak
lepas dari ancaman binatang buas. Sementara mereka sebenarnya bisa saja tidur di

atas kasur yang empuk, atau nonton TV sambil mengemil makanan ringan. Mengapa
mereka malah memilih yang sulit daripada segala kemudahan? Pemikiran seperti
itulah yang sering saya gunakan. Justru dari kesulitan yang dihadapilah manusia
akan belajar. Dia tidak akan pernah belajar sesuatu yang berharga jika dia
terbiasa dengan segala sesuatu yang enak dan mudah dia dapatkan.


Coba kita perhatikan sebuah pohon. Terpaan angin kencang dengan mudah akan dapat

menumbangkan pohon-pohon yang rapuh dan berakar dangkal. Tetapi sebaliknya,
terpaan angin kencang yang sama justru akan memperkuat pohon-pohon yang kokoh
dan berakar dalam. Dalam kehidupan sehari-hari, 'terpaan angin kencang' berupa
masalah, kegagalan, beban kehidupan, konflik, dan berbagai hal negatif lainnya
dapat dengan mudah menghancurkan orang-orang rapuh yang tidak memiliki semangat
juang dan menjalani hidup tanpa tujuan. Sebaliknya, kesulitan-kesulitan yang
sama justru akan dapat memperkuat orang-orang yang memiliki semangat juang
tinggi, dengan tujuan hidup yang pasti, serta keteguhan hati yang kuat.

Setiap orang pastilah pernah mengalami kesulitan dalam hidupnya, kondisi–kondisi

genting atau bahkan saat–saat kritis dalam hidupnya. Kebanyakan orang sangat
tidak menyukai atau bahkan membenci hal tesebut. Namun sering tanpa kita sadari
bersama, bahwa justru hanya dalam keadaan kritis seperti itulah diri kita baru
dapat mengeluarkan kemampuan yang sesungguhnya dan tumbuh menjadi individu yang
jauh lebih baik dari sebelumnya.

Setiap orang pastilah pernah mengalami hal tersulit dalam hidupnya, tetapi yang
membedakan antara orang gagal dan berhasil adalah respon atas tindakan dari hal
yang mereka alami. Jika kita dapat mengambil manfaat atas hal buruk atau kritis
yang menimpa kita, maka niscaya kita kelak akan menjadi sukses di kemudian hari.

Saya memang belum merasa telah ada pada suatu titik yang disebut kesuksesan.
Sebab pada hakikatnya yang layak menilai seseorang sukses atau tidak tentulah
harus orang lain, bukan diri sendiri. Tapi setidaknya, lewat apa yang sudah ayah

saya ajarkan kepada saya. Kemudian serangkaian usaha yang saya lalukan sesuai
dengan pandangan hidup saya tentang hidup itu sendiri, telah menjadikan saya
seorang Dimas yang sekarang ini

Tidak ada komentar: