link: Mananging Consultant

Cari Blog Ini

Minggu, 03 April 2011

Budapest 2

The Last Sunday in Budapest Part 2
Arita - CH

Ini kisah perjalanan ke Budapest Bagian Kedua. Baca kisah sebelumnya di The Last Sunday in Budapest Part 1
Sunday is gloomy, My hours are slumberless...
Menyeberangi sungai Danube menuju kota Pest, kembali kubaca perlahan kisah jembatan permanen pertama yang menyatukan kota Óbuda, kota Buda dengan kota Pest.
Dulu, selama berabad-abad kota-kota yang terpisahkan oleh sungai Danube dihubungkan dengan jembatan gantung (pontoon) belaka. Hingga pada bulan Desember 1820, Count István Széchenyi (1791-1860) politikus Hungaria saat itu, menerima kabar kematian ayahnya yang berada di Wina.
Musim dingin yang ganas membekukan jembatan gantung, berbahaya untuk diseberangi. Terdampar di sisi Pest tanpa bisa menatap wajah ayahnya untuk terakhir kali, Count István Széchenyi bersumpah untuk membiayai pembangunan jembatan permanen dari kocek pribadinya sendiri, berapapun harganya!
Dibutuhkan waktu selama hampir 50 tahun untuk membuat jembatan tersebut. Sayangnya, Count István Széchenyi meninggal di tahun 1848 sebelum ia sempat melihat impiannya berdiri megah pada tahun 1873.
Count István Széchenyi terkenal sebagai seorang politikus yang tidak segan-segan "mengorbankan" kocek pribadi demi kepentingan negara. Saat negara dalam masa Era Reformasi, Count István Széchenyi rela menyumbangkan seluruh penghasilannya selama 1 tahun untuk membangun Magyar Tudományos Akadémia, MTA (The Hungarian Academy of Sciences). Kepandaian Count István Széchenyi dalam berdiplomasi serta "keberaniannya" mengocek kantong pribadi untuk negara (bukan sebaliknya) membuat ia didaulat sebagai "The Greatest Hungarian".
Jembatan yang kini menyandang nama Count István Széchenyi dikenal dengan nama Széchenyi - Lánczhíd (Jembatan Rantai Széchenyi). Dirancang oleh insinyur Inggris William Clark pada tahun 1836 dan selesai pada 1873. Sempat hancur dibom pada tahun 1945 saat Jerman menduduki Hungaria, jembatan tersebut dibangun kembali pada tahun 1947 hingga 1949, dengan bentuk sama seperti sebelum kehancurannya.


Rupanya, jerih payah Count István Széchenyi dalam mencetuskan jembatan permanen pertama menumbuhkan lahirnya jembatan-jembatan lainnya satu persatu. Salah satu jembatan yang cukup penting menghubungkan kota-kota di bagian selatan adalah Szabadság híd (Liberty Bridge). Jembatan ini dibangun pada tahun 1894-1896 dengan struktur material yang sangat berbeda dengan jembatan Széchenyi - Lánczhíd, namun secara garis besar model jembatan meniru model jembatan perintis.


Setelah kota-kota Óbuda, Buda, dan Pest dipersatukan dengan jembatan-jembatan permanen, kota Pest tumbuh dan berkembang dengan pesat. Hungaria memasuki masa keemasan pada tahun 1873-1914. Untuk merayakan ulang tahun milenium bermukimnya bangsa Magyars di Hungaria, maka dibangunlah bangunan-bangunan megah pada tahun 1896, yang diantaranya adalah:
  • Országház Gedung Parlemen Hungaria, "House of a Motherland".
  • Monumen Millennium di H?sök tere (Heroes' Square).

Országház Gedung Parlemen Hungaria, "House of a Motherland"
Gedung Parlemen bergaya neo-gothic dibangun pada masa Kekaisaran Habsburg tahun 1884 dan dibuka pada tahun 1902. Dengan panjang 268 meter dan lebar 123 meter, menempati lahan sebesar 18.000 m2 menjadikan gedung ini sebagai gedung parlemen nomer tiga terbesar di dunia!


Monumen Millennium di H?sök tere (Heroes' Square)
Memasuki "alun-alun" pahlawan, kedua mataku menengadah, menghormat ke arah patung malaikat Gabriel yang berdiri tegak, menjulang ditengah-tengah lapangan H?sök tere, menatap lurus bentangan tanah Hungaria. Tangan kanannya memegang mahkota raja pertama Hungaria Raja István dan di tangan kiri ia menggenggam salib dua garis (two barred apostolic cross) yang diberikan oleh Paus Paulus kepada Raja István.


Dibangun sekitar tahun 1896 dan selesai pada tahun 1900, di tengah alun-alun pahlawan ini diisi oleh tujuh patung pemimpin suku Magyars yang membangun Hungaria di abad ke 9.

           The seven chieftains of the Magyars
Sedangkan pada bagian belakang, terdapat dua bangunan bertopangkan pilar-pilar. Masing-masing terisi dengan tujuh patung tokoh-tokoh utama yang terlibat dalam sejarah pembentukkan Hungaria.

            The 7 great figures of Hungarian history
Diatas pilar bangunan sebelah kiri luar, patung seorang laki membawa arit/sabit dan patung seorang perempuan sedang menebar benih melambangkan Labor & Wealth. Patung ini menggambarkan bagaimana para pria dan wanita Hungaria bahu-membahu bekerja keras untuk menghasilkan kesejahteraan bersama.

Sedangkan pada bangunan kedua sebelah kanan, di atas pilar sebelah kanan luar, patung seorang pria yang memegang patung kecil seperti suatu piala dan patung seorang wanita dengan daun palem melambangkan pengetahuan dan kemenangan (Knowledge & Glory).

Kembali pada bangunan sebelah, di sisi sebelah kiri dalam terukir patung seorang lelaki yang dengan gagah berdiri di atas kereta kuda dengan memegang ular sebagai cambuk, simbol dari lambang peperangan (War).

Berhadapan dengan kegagahan patung lelaki yang melambangkan peperangan, di atas pilar sebelah kanan dalam bangunan sebelah kanan sesosok wanita terukir indah berdiri dengan elegan diatas kereta kuda sambil membawa sehelai daun palem besar yang mewakili lambang kedamaian (Peace).

“Labor and Wealth”, “Knowledge and Glory”, “War and Peace”, sudah terpampang terukir indah di lapangan alun-alun H?sök tere. Tapi, bagaimana dengan "Food and The Gank"?
Lagu keroncong "keroncongan" mengalun buas non-stop sejak satu jam, menagih janji "sehidup semati" meneriakkan syair "berikan aku makanan, kuberikan kau kehidupan". Dengan tergesa-gesa, kupaksa privat guide di sampingku mencari rumah makan khas Hungaria yang dikonsumsi oleh kebanyakan orang lokal dan sedikit turis.
Mau makan makanan khas Hungaria? Ya kudu baca menu dalam bahasa Hungaria karena memang menu yang tertulis hanya ditujukan untuk orang lokal. Jadi, judulnya, alamaakkk...!

Makan apa ya??? Jangan khawatir... Karena ternyata orang Hungaria mempunyai persamaan dengan orang Indonesia. Kedua bangsa ini sama-sama mengkonsumsi NASI! Et voila... Nasi putih lengkap dengan lauk ikan goreng (Pontyfillé rántva rizzsel) yang rasanya rada-rada mirip dengan rasa ikan gurame goreng menghampiri dengan penuh kasih sayang, menenangkan kebuasan lagu keroncong berjudul "Keroncongan".


Atau mungkin, mau mencoba ikan goreng disambangi dengan karbohidrat ala western? Pasta saus jamur (Pontyfillé magyarosan) juga bisa menenangkan goyangan keroncong perut.

           Pontyfillé magyarosan

Selain lauk ikan, lauk ayam, hati ayam, kacang polong, dan bawang bombay terkait bersama dalam bentuk kroket (Sertésszüz Budapest mòdra) juga dapat memberikan pencerahan bagi perut yang bermuram durja.


           Sertésszüz Budapest mòdra
Masih kelaparan juga? Atau mungkin dalam beberapa jam mendatang, kembali perut menyanyikan lagu "colak-colek" minta cemilan? Ahaa... ini dia musuh berat program diet.
Gorengan tepung terigu berminyak bercampur dengan potongan bawang putih dan berlimpah dengan tawuran parutan keju serta cream kecut, siap menyerahkan diri sepenuhnya bulat-bulat. Bagaimana cara makan gorengan yang bernama Langos ini? Tidak ada sendok, pisau dan garpu di kedai cemilan "LANGOS". Ya siap-siap saja melumurkan tangan, mulut dan baju, dengan minyak dan keju hehehehe...

            Langos

Kini, otak sudah sarat dengan pengetahuan. Perut sudah penuh dengan ikan goreng, ayam, dan gorengan raksasa Langos. Saatnya menenangkan diri menyambut malam dengan jalan-jalan malam di kawasan "Opera" yang lumayan romantis diguyur lampu kuning redup.




Malampun semakin dalam. Rasanya tidak rela menghabiskan hari minggu terakhir di Budapest. Kulangkahkan kaki menuju satu area pejalan kaki dekat Szent Istvàn-bazilika (St. Stephen's Basilica), memesan minuman terakhir di hari minggu terakhir, "Cocktail Virgin Mojito" (cocktail mochito non alcohol), di sebuah Café yang bernama ala Italiano "Non Lo So", yang artinya: "Saya Tidak Tahu"...
Touché...!

...
Under the blossoming trees it will be my last journey
My eyes will be open, so that I could see you for a last time
Don't be afraid of my eyes, I'm blessing you even in my death...

The last Sunday...
"Szomorú Vasárnap", by László Jávor



Arita-CH

Roma

Roma: Antara Colosseum, Kastanye Panggang, dan Copet
Syu - Netherland

Kalau takut dengan ombak, jangan berumah di tepi pantai. Pepatah yang tepat untuk kisahku kali ini. Makna kasarnya, kalau takut akan situasi yang tidak aman, lebih baik tidak usah jalan-jalan. Resiko naas ada dimana-mana, termasuk di Roma yang notabene merupakan kota wisata terkenal di Eropa. Seperti pengalaman kami ini.
Sebulan setelah kepindahanku ke Belanda, aku dan suami berkunjung ke Roma. Saat itu bulan Desember, suhu udara sangat dingin, hampir menuju titik nol. Dari lapangan terbang, kami naik kereta api ke Roma. Dengan penuh rasa ingin tahu, kupandangi apartemen-apartemen yang kami lewati. Seprei dan pakaian melambai-lambai di tali-tali jemuran yang merentang di antara dua jendela kamar. Ah, tampaknya kehidupan mereka hampir sama dengan kita. Minimal dalam hal menjemur pakaian hahaha.
Hotel kami terletak di tengah-tengah pusat kota. Sambil menggeret-geret koper, kubiarkan ‘ciri khas’ kota tua ini merasuk, menyelusup panca indera. Butik-butik mungil, toko-toko, dan resto-resto yang terkadang letaknya lebih rendah dari jalanan. Skuter-skuter yang mendominasi lalu lintas dan mobil-mobil berkecepatan tinggi di jalan-jalan kecil. Sebagai pejalan kaki, kami harus waspada.
Suamiku hampir saja bersenggolan dengan mobil pengangkut barang karena supirnya memundurkan kendaraan secara sembarangan. Belakangan kami perhatikan sebagian besar badan-badan mobil di sini, dipenuhi goresan-goresan yang tampaknya hasil ‘gesekan’ dengan benda keras. Hmmm…It tells us something about how they ride!
Tanpa bisa diduga, suamiku sakit di hari pertama. Sebenarnya, dia selalu membawa obat-obatan standar setiap kali ke luar negeri. Sayang, kali ini sakitnya tidak “standard”. Rencana jalan-jalan pun batal. Yang ada, pagi-pagi aku sudah menerobos gang-gang kota Roma mencari apotek.
Bermodalkan Bahasa Inggris, kujelaskan gejala-gejalanya. Logat Inggris orang Itali ternyata lebih sulit kutangkap daripada yang semula kusangka. Sementara informasi yang tertera di kemasan obat didominasi oleh Bahasa Itali yang sama sekali tidak kumengerti. Entah bagaimana caranya, akhirnya kami bisa saling berkomunikasi dan memilih obat yang sesuai. Untunglah.
Tidak sulit untuk memperoleh informasi mengenai tempat-tempat yang patut dikunjungi di Roma. Buku panduan kecil dari Belanda dan info dari hotel sudah cukup buat kami untuk memutuskan arah perjalanan. Prioritas utama, tentu saja Colosseum - salah satu keajaiban dunia. Teater megah peninggalan zaman Romawi, yang merupakan arena pertarungan antartawanan atau antara tawanan dengan hewan-hewan buas. Inilah bentuk hukuman masa itu, sekaligus hiburan bagi rakyat dan anggota kerajaan.
Meskipun tidak utuh lagi, bangunan yang tersisa masih dilengkapi dengan jejak-jejak ruang tawanan, kandang hewan buas, panggung arena, dan tempat duduk para anggota kerajaan serta rakyat biasa. Imajinasiku melayang membayangkan ekspresi tegang para gladiator, auman singa-singa kelaparan yang melesat memasuki panggung, ditengahi sorak-sorai penonton serta tatapan puas dan angkuh para anggota kerajaan. Puji syukur kepada Tuhan yang telah melahirkanku tidak pada jaman itu.
Luasnya Colosseum membutuhkan hasrat yang kuat dan kondisi fisik yang prima. Sebelum masuk, mesti disiapkan barang-barang primer seperti botol minuman, obat, dan tidak lupa ke toilet dulu. Tidak jauh dari Colosseum, terdapat bangunan-bangunan lain yang juga berasal dari zaman Romawi, dengan fungsinya yang berbeda-beda. Kunjungan kami yang mencakup Colosseum dan kelompoknya menghabiskan waktu sehari penuh, yang diselingi istirahat di tempat tertentu pada tengah hari.
Kekayaan bangsa Romawi pada masa itu tidak bisa dipungkiri. Koleksi masa lalu yang tak terhingga jumlahnya tersebar di berbagai penjuru, berupa komplek perumahan lengkap dengan fasilitas-fasilitas umumnya, komplek pemandian umum zaman Romawi dan dekorasi-dekorasi berseni tinggi semacam mozaik-mozaik, patung-patung, tegel-tegel, hiasan lantai, dan sebagainya. Oleh karena itu, tidak ada ruginya untuk mengunjungi museum-musem dan tempat-tempat bersejarah lainnya. Jangan lupa, dari sini kita bisa berjalan kaki ke negara lain, yakni Vatikan.
Cukup puas dengan ‘wangi sejarah’, kami berjalan-jalan menelusuri kehidupan sehari-hari masyarakat setempat. Pagi hari, pasar ramai dengan para penjual sayur mayur. Ada juga penjual baju-baju dingin, syal, dan topi-topi. Toko-toko pakaian memberikan harga potongan akhir tahun. Tempat-tempat tertentu menggelar pasar buku murah dan barang-barang second hand.
Yang lebih asyik lagi, ketika siang menjelang menyebarlah para pedagang kastanye panggang. Barangkali memang saat itu musim buah kastanye. Kaki yang penat dan jemari yang kedinginan menemukan penawarnya begitu menggenggam hangatnya sebungkus kastanye panggang. Apalagi kalau kastanye yang hangat merekah sudah sampai di lidah, hmmm… Mak nyesss!
Komplek perumahan di gang-gang kecil beserta toko-toko makanan maupun suvenir yang ukurannya mungil-mungil, juga merupakan salah satu favorit kami. Senang rasanya berjalan di lorong-lorong perumahan dan sesekali memasuki toko kue atau sejenisnya yang imut-imut. Musim dingin membuat hari lekas gelap, namun sinar lampu-lampu toko menambah indah suasana. Rasanya bagaikan bernostalgia akan sesuatu yang sebenarnya tidak pernah ada, hehehe…
Kembali ke hotel, kami lewati jalan-jalan umum yang penuh gelandangan dan pengemis. Beberapa dari mereka sudah menyiapkan tempat tidurnya untuk melewati malam yang dingin menggigit. Ah, tak berumah di negara dengan empat musim seperti ini. Dengan sedih, kuteringat si gadis kecil penjual korek api - tokoh karangan H. C. Andersen - yang wafat pada suatu malam bersalju tebal.
Sebelum sampai di hotel, kami mencoba resto asli Itali. Aku memesan pizza vegetaris yang ukurannya ternyata cukup untuk empat orang. Bayangan tentang orang-orang yang mesti tidur di luar, membuatku kurang bersemangat menikmati hidangan dan tidak memperhatikan situasi sekitar. Detik-detik terakhir baru kusadari bahwa penampilan karyawan-karyawan resto yang melayani kami mengalahkan bintang film dunia. Mungkin lebih tepatnya, serasa dikelilingi kesebelasan Itali.
La Fontana di Trevi (air mancur dengan dekorasi aduhai) dan Spaanse trappen (tangga-tangga Spanyol) juga layak dikunjungi. Butik-butik mungil bermerk dunia menghiasi jalan-jalan di bawah tangga. Sampai di tangga teratas, kami memasuki wilayah seniman-seniman jalanan dengan lukisan-lukisannya yang kaya warna. Sempat pula kami singgahi sungai Tiber yang membelah kota Roma. Sayang, musim dingin membuat aktivitas di sekitarnya seolah-olah mati.
Musim dingin ini pula yang mendorong kelancaran metabolisme kami. Sialnya, fasilitas toilet amat jarang serta susah ditemui. Akibatnya, setiap kali melakukan perjalanan jauh, aku mengurangi minum dan makan buah berair, sementara suamiku bersikukuh menjamak makan siang di malam hari.
Mengenali suasana kota memang selayaknya dilakukan dengan berjalan kaki. Tanpa kami sadari, seringkali kaki ini telah jauh melangkah dan tidak kuat menempuh arah balik. Lebih parah lagi bila lupa akan jalan menuju penginapan.
Inilah yang terjadi, hari menjelang sore, dingin, dan rintik-rintik hujan membuat kami memutuskan untuk menggunakan bis umum. Bis yang penuh dengan penumpang berhenti pada halte tertentu. Seorang pemuda berparas rapi menerobos masuk. Suamiku terdorong ke sudut lain menjauhiku disebabkan gerakan penumpang yang baru naik itu. Kaya akan pengalaman di bis-bis jurusan Grogol, segera kuperingati suamiku untuk mendekap dompetnya.
Belum sempat situasi tersebut dipahaminya, tiba-tiba bis berhenti dan pemuda tersebut bergegas turun. Secepat itu pula, bis kembali berjalan. Kami turun di halte berikutnya dan segera menguras isi jaket musim dingin milik suamiku yang cukup tebal yang tentu saja tidak mudah dirogoh. Terlambat, betul saja, dompet beserta isinya melayang. Suamiku panik karena tidak menyangka kalau kejadian seperti ini bisa menimpa dirinya yang notabene sangat berhati-hati dalam menjaga barang-barang berharga dalam perjalanan.
Malam itu acara utama kami adalah ke kantor polisi untuk meminta surat kehilangan agar bisa diklaim ke asuransi perjalanan dan memblokir rekening bank via telepon. Sedikit uang di dompetku cukup untuk makan malam dan mengembalikan energi. Belakangan, beberapa kenalan bercerita mengenai pengalaman senada. Lebih parah lagi, paspor mereka ikut terambil. Rupanya kami masih beruntung, karena kartu identitas diri tersimpan rapi di hotel.
Hari terakhir, kami menggunakan taksi bukan kereta api agar tidak terlambat tiba di bandara. Mungkin itu bukan pilihan yang tepat, sebab risiko kecelakaan malah jauh lebih tinggi. Supir kami menggunakan jalan raya sebagai sirkuit balapan. Semangat mengobrolnya tinggi dan hasratnya mengkritik pengguna jalan raya lain tidak bisa diredam. Kuingat papan peringatan di kendaraan umum "Dilarang berbicara dengan supir". Mestinya di taksi ini dipajang informasi sebaliknya "Dilarang berbicara dengan penumpang", sebab konsentrasi supir kami amat sangat diragukan.
Kami baru bisa bernafas lega saat taksi tiba dan berhenti di lapangan terbang dengan selamat. Sopir tersebut menyalami kami dengan hangat, khas Itali, sambil menyerahkan kartu namanya dengan harapan kami menggunakannya lagi pada kesempatan lain. Dalam hati aku membatin sambil mengutip dendangan lagu dangdut yang tersohor itu: "Cukup sekali, aku merasa a a a, ketakutan ini…OOO, ya nasib, ya nasib..."

Bersua Dengan Little Mermaid

Bersua Dengan Little Mermaid dan None Becak di Kopenhagen
Syu - Netherland

Ketika saya dan suami memutuskan untuk berlibur ke Kopenhagen, Denmark, pada suatu musim panas, satu-satunya yang terpikir adalah Little Mermaid dari pendongeng kelas dunia Hans Christian Andersen. Itulah sebabnya, saya mengepak koper dengan penuh semangat, bahkan tidak begitu peduli akan lokasi hotel yang kami inapi. Yang penting ada tempat bermalam.

Pertama kali menelusuri pusat kota Kopenhagen, saya dikagetkan oleh keberadaan alat transportasi yang akrab di mata: becak! Plus abang dan none becaknya. Artinya, pengemudinya bukan saja kaum Adam. Pernah melintas di depan kami, becak yang melaju mulus di bawah kendali seorang perempuan muda bergaun terusan merah muda. Sangat feminin.

Meskipun telah berbekal buku kecil mengenai seluk beluk Kopenhagen, kebiasaan kami mengunjungi tourist information sebelum ‘berkelana’ tetap dilaksanakan. Peta kota dan tempat-tempat menarik di sekitar sini dengan mudah bisa diperoleh dari pusat informasi tersebut.
Tujuan pertama kami tentu saja Vesterbrogade 3, lokasi taman rekreasi Tivoli, karena tidak jauh dari tempat kami menginap. Antrian pengunjung berjubel. Suami Saya sangat antusias untuk mencoba carrousel yang konon termasuk terbesar dan tertinggi di dunia.

Pengunjung mesti membayar karcis di pintu masuk, selanjutnya membayar lagi di loket tiap-tiap atraksi. Yang hobi naik roller coaster, dapat memilih yang modern atau yang kuno – yakni yang menggunakan rem tangan manual. Secara sepintas jadi mirip kereta/ gerobak penambang. Sementara menunggu, saya berjalan-jalan menikmati akuarium, taman, dan kolam sambil menikmati gula kapas merah jambu ukuran jumbo!
Yang berminat pada seni dan sejarah, disarankan mengunjungi museum Ny Carlsberg Glyptotek (Catatan: Ny bukan singkatan dari nyonya). Pada hari tertentu, museum ini terbuka gratis untuk umum. Sesuai dengan namanya museum ini memang berkaitan erat dengan Carlsberg, pengusaha bir terkenal asal Denmark.

Melihat kemegahan, kemewahan, dan koleksi museum, bisa ditebak omzet perusahaan bir ini sangat 'ruar biasa'. Di tengah gedung terdapat kolam dengan air mancur mungil berhiaskan patung perempuan indah dengan anak-anak kecil di sekelilingnya. Suasana sejuk makin terbangun dengan adanya tanaman-tanaman hijau nan elok. Diperlukan energi tinggi untuk mengelilingi seluruh ruangan dengan koleksi seni hampir 'tak terhingga'.
Jadi sebelum berangkat, siapkan dulu kondisi fisik dengan tidur malam yang cukup dan sarapan yang bergizi. Apalagi jika ingin melanjutkan perjalanan ke pabrik bir tersebut, yang sebagian digunakan untuk keperluan museum bir. Pengunjung bisa mengamati sejarah pembuatan bir dari jaman lampau hingga kini, termasuk menelusuri perkembangan perusahaan Carlsberg dari awal.
Siapa yang tak kenal dengan Hans Christian Andersen, pendogeng asal Denmark yang terkenal dengan cerita anak-anak. Dunia keajaiban dongeng Andersen menjadi tujuan kami berikutnya, Hans Christian Andersen’s Wonderful World.
Nama Andersen diabadikan menjadi nama jalan dan patungnya menghiasi Kopenhagen. Hasrat menelaah sejarah hidup serta karya-karya asli penulis cerita anak-anak legendaris ini terpuaskan setelah kami menjejaki ruang-ruang yang menyajikan teater boneka atau patung-patung yang dilengkapi suara narator. Andersen yang bukan berasal dari keluarga berada, ternyata sangat kreatif dan bijaksana. Karya-karya aslinya memperlihatkan cara berpikir yang arif dan tidak umum. Istilah jaman sekarangnya mungkin thinking out of the box!
Tidak jauh dari tempat ini, terdapat Museum Ripley’s Believe It or Not. Di sini perasaan saya ‘melompat-lompat’. Koleksi-koleksinya teramat mengagumkan. Ada yang tak terkira mengerikannya, ada yang terlalu aneh untuk diterima akal sehat, ada yang minta ampun lucunya. Pendek kata, semua ada. Salah satu yang menarik adalah lukisan dua perempuan berkimono yang dibuat dari kumpulan perangko. Sepintas tidak ada yang menyangka bahwa itu hanyalah sekumpulan perangko. Cantik nian!

Ajang ‘jjs’ kami lainnya Gedung Walikota beserta pelatarannya. Kebetulan gedung tersebut bisa kami capai dengan berjalan kaki. Toko-toko suvenir dan warung-warung makanan kecil tersebar di jalan-jalan sekitarnya. Pelataran Gedung Walikota ramai oleh berbagai aktivitas. Demonstrasi politik, atraksi seniman jalanan, kumpulan anak-anak muda dengan kostum-kostum mencolok mata, mewarnai keriuhan tempat ini.


Sebagaimana biasa, musim panas menghadirkan suasana yang lebih hidup di segala sudut. Setiap orang menikmati siang yang panjang dengan caranya masing-masing. Para seniman berunjuk kebolehan. Festival jazz di taman Rosenborg, pameran foto berukuran raksasa “Spirit of the Wild” di ruang terbuka Nytorv, pameran foto di perpustakaan kerajaan, pameran seni modern di Staatsmuseum, merupakan beberapa peristiwa yang sempat kami saksikan.
Bagi yang ingin lebih serius untuk mengetahui koleksi-koleksi bersejarah berkaitan dengan kerajaan, Rosenborg Slot tempat yang tepat. Di katakombe kastil Christiansborg, kita bisa melihat sisa-sisa bangunan masa lalu beserta sejarahnya. Untuk peminat seni dunia, kunjungan ke National Museum akan sangat menarik. Koleksi mereka tidak hanya mencakup Eropa, namun juga sampai ke daerah kutub yang dihuni oleh masyarakat Eskimo. Saya sempat tercengang ketika melihat gamelan, wayang, dan kalender Batak yang juga terpajang di sana.

Kebun binatang Zoologisk Have di Frederiksberg dan akuarium di Charlottenlund sangat cocok sebagai tempat rekreasi untuk keluarga bersama anak-anak kecil. Selebihnya, kita tetap bisa menikmati taman-taman umum, karya-karya seni yang tersebar luas di udara terbuka, dan keunikan lainnya tanpa mengeluarkan uang banyak. Satu-satunya yang tidak akan bisa kita temui adalah pantai berpasir. Jadi, bagi yang ingin bersantai seperti di pantai Kuta, satu pesan saya, kuburkan impian Anda!
Dari Kopenhagen, kita bisa mengunjungi Malmo, bagian dari negara Swedia, dengan kereta api. Di sini kami sempat mengunjungi gedung walikota, museum Malmo, museum teknis dan maritim Malmo, serta gereja St. Petri. Gereja ini konon salah satu gedung tertua bercorak Gothic Baltic yang ditemukan pada awal abad ke-14.
Libur kerja tidak berarti libur makan. Untungnya, hal itu tidak perlu dikhawatirkan. Restoran dari berbagai negara tersebar dimana-mana. Kita tinggal memilih yang sesuai selera. Memang harga makanan di restoran cukup mahal, sesuai dengan daya beli masyarakat setempat.
Pilihan lainnya antara lain fast food atau hidangan Asia take away. Atas saran suami, mungkin memahami homesick saya di negara orang lain, kami sempat makan malam di restoran Bali, yang letaknya di Kongens Nytorv 19, Kopenhagen. Gaya interior dan musik yang dilantunkan membawa saya kembali ke kampung halaman. Apalagi setelah menyantap hidangannya!
“Experience beautiful Copenhagen from waterfront". Demikian bunyi iklan canal tours pada sebuah mini card. Dengan antusias, kami berangkat ke Nyhavn. Di samping sebagai tempat merapat perahu-perahu bermotor, Nyhavn merupakan arena jalan-jalan yang populer.


Restoran-restoran kecil, toko-toko suvenir, warung-warung es krim, dan sebagainya berjajar di sepanjang jalan dalam bangunan warna warni. Antrian karcis tour ini cukup panjang. Tampaknya kita bisa memilih berbagai jenis tour, namun kami tidak mengerti perbedaannya. Tour manapun tidak masalah, asalkan bisa berhenti di tepian dekat patung Little Mermaid.
Setelah cukup lama menunggu, perahu motor berangkat juga. Menyaksikan gedung opera, kastil Trekroner dan pemandangan Kopenhagen lainnya dari atas air memang mengasyikkan. Tapi hati-hati dengan hembusan angin yang bisa menerbangkan topi atau barang tidak berharga lainnya (yang disayangi, hehehe…).
Sesuai rencana, kami turun di tempat yang berdekatan dengan lokasi Little Mermaid. Perlu sedikit berjalan untuk mencapainya. Ternyata di situ sudah berkumpul serombongan turis Jepang. Di bawah terik mentari dan tiupan angin kencang, kami mesti sabar menunggu selesainya sesi berfoto mereka satu per satu. Setelah hampir suntuk menunggu, tiba juga giliran kami. Dengan hati-hati, bergantian kami menapaki batu-batuan pantai untuk mencapai sang patung. Klik. Klik. Klik. Klik. Klik. Dari lima foto, pasti ada satu atau dua yang bagus.
Hari itu hari terakhir kami di Kopenhagen. Saya masih tetap memikirkan Little Mermaid yang memandang lautan dengan tatapan menyedihkan. Di ujung jalan tampak penjual cemilan sehat, ercis mentah. Beberapa menit kemudian, seplastik ercis sudah berada di pelukan saya. Butiran ercis-ercis segar menampakkan diri begitu kulit luarnya dibuka. Suami saya menatap dengan pandangan aneh, sebab di Belanda tak ada yang doyan ercis mentah.

Sambil mengupas dan mengunyah, saya bertanya-tanya sendiri. Mengapa Andersen mesti menulis cerita setragis Little Mermaid? Hanya suara kunyahan ercis mentah yang menari-nari di telinga saya. Kruis,kruis,kruis… Ah, dalam situasi santai melankolis seperti ini, ingin rasanya saya menikmati hembusan angin ditengahi suara kayuhan kendaraan sederhana roda tiga favorit kami. Sayang, siang itu belum ada none becak yang lewat.
  0Share20Share2
ILUSTRASI FOTO-FOTO DOK REDAKSI 
MODERATOR - Penggagas KoKi : ZEVERINA
Pembaca "KOLOM KITA" (KoKi) entah di Bontang, Inggris, Bali, Belanda, New Jersey, Kuwait, Australia, atau di Kediri, silakan berbagi peristiwa seputar kehidupan sehari-hari. Kirimkan artikel dan foto melalui form "Kirim Artikel", jika mengalami kesulitan kirimkan melalui email: temennyazev@gmail.com ; kokizeverina@gmail.com

Phuket di Thailand

Phuket, Love It or Loathe It
Margharita - Phuket

Phuket salah satu tujuan wisata paling besar di Thailand. Setiap tahun, jutaan turis mancanegara datang membanjiri Phuket.
Wisatawan mancanegera yang masuk langsung melalui airport Phuket konon mencapai 3 juta orang setiap tahun. Jumlah tersebut belum termasuk mereka yang datang lewat Bangkok. Apakah itu angka sebenarnya atau fiktif, wallahualam, deh. Yang jelas, pada musim-musim tertentu, kami melihat sendiri pengunjung mal bertambah ramai, begitu pula lalu lintas jalan raya.

High season di Phuket pada musim kemarau, antara bulan Desember-April. Dus, tarif hotel pada bulan-bulan ini pun akan lebih mahal dari biasanya.
Sebelum memutuskan untuk berkunjung ke sini, pertimbangkan terlebih dahulu cocok tidaknya Phuket sebagai tujuan wisata Anda dan keluarga. Umumnya, orang hanya jump on the wagon (ikut-ikutan) karena mendengar teman-temannya sudah berkunjung ke suatu tempat. Apalagi dengan biaya pesawat yang semakin terjangkau dan peraturan bebas fiskal (yay, yay, yay), godaaan untuk melancong ke luar negeri semakin susah diabaikan.
Nah, sodara-sodara, bagi yang belum familiar dengan Phuket, fyi, Phuket adalah daerah resort. So, the main attraction is sea, sand, and sun. And unless you’re a sun worshipper and loving the sea, you’ll hate it.
Untuk Anda yang demen shopping, Bangkok tempatnya. Jika ingin melihat kebudayaan dan Thailand yang sebenarnya, ya, jangan ke Phuket. Berkunjunglah ke Thailand bagian utara, ke Chiang Mai atau Chiang Rai. Bagi yang ingin melihat sejarah, lebih baik berkunjung ke Ayuthaya.
Well, KoKier, berikut ini sedikit informasi tentang Phuket. Mudah-mudahan bisa bermanfaat untuk Anda.
Where to Stay
Pilihan tempat menginap sangat tergantung selera, tujuan, dan siapa yang ikut melancong. Bagi pasangan muda dan jomblo, Pathong tempat yang ideal. Di sana, semuanya ada mulai dari pantai, night life yang lengkap dengan wanita cantik, shopping sampai dengan pertunjukan yang aneh-aneh. Semuanya ada di Pathong.
Sedangkan untuk mereka yang datang dengan keluarga, orangtua dan anak-anak, sebaiknya mencari tempat yang lebih laid back, lebih tenang seperti Kamala, Surin, Bangtao, Kata, Karon. Hotel-hotel di Phuket Town juga relatif lebih murah dan transportasi umum relatif lebih mudah jika dibandingkan dengan daerah resort.
Where to Eat
Seperti kebanyakan tempat di daerah selatan Thailand, Phuket merupakan daerah muslim. Jadi, bagi yang beragama Islam tidak perlu kuatir mencari tempat makan karena di sini banyak sekali rumah makan muslim. Anda pun bisa memberitahu waiter kalau Anda tidak makan pork (Mai gin mu). Jika Anda menyampaikannya dalam Bahasa Inggris, mereka pasti mengerti, kok.
Makan di food court pun murmer dan enaaaak. Food court di sini memakai sistem membeli kupon yang berwujud seperti kartu atm. Aku biasanya membeli kupon senilai 100 Baht (Rp.28.500). Makan siang berupa nasi beserta lauknya (vegetarian) seharga 30 Baht plus air mineral satu botol 10 Baht. Lalu, sisa uangnya bisa diambil setelah makan di counter tempat penjualan kupon juga. Murah, kan?
Jadi, untuk orang seperti aku (yang nggak gembul) kupon 100 Baht sudah lebih dari cukup. Food court di Central Festival (Phuket Town) ada di lantai 3, sedangkan Junk Ceylon (Pathong) berlokasi di basement (That’s Siam).
Di Pathong juga ada, tuh, satu restoran yang terkenal murah, enak, dan service-nya bagus. Namanya Number 9 di jalan Rat-U-Tit. Restorannya kecil dan sederhana tapi bersih dan selalu ramai pengunjung.
Jika Anda termasuk adventurous dalam soal kuliner, silakan mencoba makanan I-saan yang puedes dan asem. Nah, kalau yang ini bener-bener makanan jalanan, hahahaha....
Warung kesukaanku ada di pojokan Aronson square, di depan 7eleven, yang memakai gerobak dan rada jorse gitu, hihihi… Maka, kalau perut Anda bukan perut cowboy jangan nyoba, yaaa.. Nanti malah jadi sakit perut, aku pula yang kena sue, hahahaha…
Menurut pendapat pribadi, sih, kalau ingin mencoba makanan lokal yang benar-benar autentik, makanlah di mana orang lokal pergi makan. Biasanya, makanan asli yang disajikan di restoran-restoran mahal sudah disesuaikan dengan lidah orang asing yang menurutku kurang enak. Not the real thing. Nggak nendang gitu.
Bagi yang gembul, silakan mencoba Oishi all you can eat buffet lunch. Dengan membayar sekitar 390 Baht (Rp 109.200) per orang, Anda bisa makan sepuasnya dari buffet. Di Oishi tersedia pilihan makanan Chinese, Korea dan Jepang. Lokasinya berada di lantai dasar Index Living Mall, Phuket Town, sebelum Big C dan Central. Untuk menuju ke sana, bisa menggunakan bus dari Pathong dan jalan sedikit ke arah By Pass road.

What to See
Simon Cabaret Show. Lokasi: Pathong Beach.
Pertunjukan ini berupa tari-tarian dan nyanyian (lip sync) yang dilakukan oleh para katoey (waria). Simon Cabaret Show sangat populer di kalangan turis karena faktor penasaran saja. Banyak yang ngga percaya kalau cewek-cewek cantik yang berpartisipasi dalam pertunjukkan tersebut sebenarnya (dulu) cowok.
Phuket Fantasea. Lokasi: Kamala.
The award winning in tourist attraction in Thailand. It is worth to see. Pertunjukan ini menyuguhkan sendratari asal muasal Kamala. Lumayan spektakular, dilengkapi dengan atraksi dari gajah-gajah dan pertunjukan akrobatik. Tiketnya lumayan mahal, sekitar 1.900 Baht ( Rp 532.000) per orang, sedangkan untuk anak-anak 1.700 Bath (Rp 476.000), tetapi sudah termasuk makan malam. Kalau hanya ingin menonton tanpa makan malam, tiketnya sekitar 1.500 Baht untuk dewasa dan anak-anak. Nggak jauh beda, ya.
Soi Bangla, the red light district. Lokasi : Pathong.
Soi Bangla merupakan pusat segala aktifitas malam. Bar, pub, dan diskotek ada di sepanjang jalur ini sampai ke arah Beach road. Untuk turis Indonesia yang kurang menyukai suasana bar, ini bisa jadi bukan tempat yang menarik. Tapi bagus juga dikunjungi, sekedar memuaskan rasa penasaran saja. You’ll be amazed what you’re going to see there. It’s wild, crazy, and sleazy, hahahaha…
Biasanya, sih, turis Asia lebih suka nongkrong di Queen of Andaman sambil menonton katoey yang menari-menari di atas meja. Katoey bisa diajak foto dengan imbalan uang. Kalau ngga salah 100 Baht. Tapi, lebih baik bertanya dulu sebelum mengajak foto agar tidak terkena kompas, wkwkwkwk…
Phuket Town. Lokasi: Amphur Muang.
Bagi yang senang menikmati bangunan tua bisa menyempatkan diri untuk melihat bangunan Sino Portugis peninggalan Baba dan Yaya Phuket. Bangunannya sangat mirip dengan bangunan-bangunan Sino Portugis di Malaka. Anda bisa melihat bangunan tua di Thalang road, Dibuk road, dan Krabi road.

Di Jalan Thalang ada sebuah restoran bernama China Inn yang sangat chic. Suasananya sangat tenang. Di sini, Anda bisa menikmati koleksi barang antik yang dipajang, sedikit untuk bernostalgia dengan kehidupan Baba dan Yaya pada masa lalu.
Jika menginap di Pathong, Anda bisa naik bus jurusan Phuket Town dan turun di pasar down town. Kemudian, dari pasar, Anda bisa berjalan kaki ke jalan-jalan tersebut. Bagi kami yang senang dengan bangunan bersejarah, tempat ini yang paling menarik di seluruh Phuket. Oh iyaa.. kalau kebetulan Anda jalan ke daerah ini, pasti akan melihat Hotel On On di Pang Nha road. Hotel ini pernah dipakai untuk lokasi syuting film The Beach-nya Leonardo Di Caprio.
Boat Trip
Wajib bagi wisatawan Phuket untuk melakukan boat trip karena memang wisata lautlah yang menjadi atraksi utama dari tempat ini. Semua agen perjalanan bisa mengatur perjalanan Anda untuk mengunjungi pulau-pulau menarik di sekitar Phuket.
Phuket Aquarium. Lokasi: Ao Makam, Phuket Town.
Wat Chalong. Lokasi: Chalong.
Wat Chalong merupakan vihara terbesar dan terpenting di Phuket. Setiap tahun, di tempat ini diselenggarakan Chalong Fair, sebuah fair yang sangat populer di kalangan turis dan warga lokal.
Ming Mongkol (Big Buddha). Lokasi: Chalong.
Lokasi wisata ini tergolong baru, jadi tidak bisa dipastikan apakah ada tour ke sini. In fact, Ming Mongkol belum selesai dibangun karena masih banyak finishing touch yang belum selesai. Namun, tempat ini sudah ramai dikunjungi oleh turis.
Where to Shop
Belanja tergantung dengan selera dan kebutuhan. Central, Junk Ceylon, Robinson, dan Premium Outlet adalah mal-mal yang ramai dikunjungi oleh turis dan orang lokal. Week End night market dan Jatujak di Phuket town juga sangat populer di kalangan turis.
Jika ingin membeli suvenir, Anda sebaiknya membelinya di mal karena harganya tidak jauh beda dengan yang toko suvenir di pinggiran jalan. Malah, banyak yang terkecoh karena kurang pandai menawar.
Public Transport
Ini salah satu kelemahan Phuket dimana transportasi umum sangat kurang memadai. Bagi turis yang mempunyai budget lebih memang tidak bermasalah karena bisa menyewa mobil. Sepeda motor juga banyak disewakan dan relatif murah. Tetapi, aku ngga merekomendasikan karena terlalu banyak kecelakaan di jalan yang berakibat fatal.
Orang Phuket kerap sembarangan ketika mengemudi mobil, ngga lihat-lihat asal main selonong saja. Taxi meter juga tidak ada karena tidak diperbolehkan beroperasi oleh mafia. Jadi, transportasi umum yang biasa dipakai oleh turis adalah tuk tuk dan song teow (bus). Suamiku lebih suka menyebutnya chicken bus karena busnya terbuka, wkwkwk..
Personal Safety
Secara umum, Phuket termasuk aman. Tapi, yang namanya kriminal tetap saja ada di manapun juga. Jadi, common sense kita harus tetap jalan. Misalnya, tidak berjalan kaki lewat jalan-jalan yang sepi di malam hari. Khusus untuk Ariana, I don’t recommend you to travel on your own, dear. Ajak satu atau dua orang teman, yaa...
Simpanlah uang dan barang berharga di safety box yang tersedia. Jangan sampai Anda terlibat argumentasi dengan orang lokal, terutama dengan supir tuk tuk. Kalau Anda tidak setuju dengan harganya, katakan saja kalau harganya terlalu mahal. Ngga usah otot-ototan kecuali kalau Anda ingin menginap beberapa hari di rumah sakit. Silakan saja.
Ok, deh.... Bagi KoKier yang merencanakan perjalanan ke Phuket, happy holiday. Kalau masih ada pertanyaan lainnya, silakan tanya saja di kolom komentar. I’d be very happy to help.

Ciao Ciao!
Margharita

Naik Kereta Api Keliling Dunia

Naik Kereta Api Seluruh Dunia, Mau Turut?
WES - Australia


Dear Zeverina, Asmod & KoKiers

Email address ini hanya untuk Zeverina & Asmod.


Semenjak kecil aku "demen" (cinta) banget naik kereta api, baik itu kereta api uap, diesel maupun listrik. Barangkali itu karena aku terkadang diajak ayahku yang sering bepergian naik kereta api dan barang dagangannya pun diangkut gerbong kereta api pula. Saat itu aku begitu terpesona akan bentuk kereta api, bangunan stasiunnya dan petugasnya yang berseragam.
Suara peluit, sempritan petugas peron, desisan dan lengkingan mesinnya serta suara monoton roda melindas relnya sungguh merupakan paduan suara yang "magis". Stasiun yang paling berkesan bagiku adalah stasiun "Beos" dibilangan Jakarta Kota.




Pemandangan yang disuguhkan sepanjang perjalanan pun berbeda dengan naik mobil atau bus.Kereta api memiliki jalan tersendiri menembus sawah, hutan dan gua, melewati jembatan besi diatas sungai dan mengelilingi lereng pegunungan. Suatu panorama yang luar biasa.

Ada satu hal yang aku selalu nantikan bila naik kereta api, yaitu ketika jam makan tiba adalah makan di restorannya (terkadang minta diantar ketempat duduk). Hanya ada beberapa menu saja, namun bagiku semuanya lezat : nasi rawon, nasi goreng dan nasi bistik. Bistiknya lebih mirip semur tetapi aku sangat menyukainya. Kereta api dijaman itu bersih, aman dan nyaman.

Yang juga mengesankan adalah ayahku selalu dapat karcis dan tempat duduk, lagipula ayah bisa memberhentikan kereta api di stasiun kecil yang tidak semestinya berhenti. Ayah kenal hampir semua petugas stasiun dijalur-jalur tertentu, karena seringnya pakai jasa kereta api. Secara berseloroh ayahku berkata : "Ratu Belanda saja tidak bisa menghentikan kereta api".




Ketika sudah dewasa aku lebih suka naik kereta api ketimbang transportasi lainnya maka hampir seantero jurusan kereta api di Pulau Jawa aku jelajahi dari Kereta Api jurusan Jakarta-Surabaya, Jakarta-Cirebon, Jakarta-Bandung, Bandung-Cirebon dan Semarang-Purwokerto. Sebagian nama-nama kereta apinya aku masih ingat yaitu Senja, Parahyangan, Gunung Jati Ekspres dan Argo Pantes..... yang lainnya aku lupa. Hanya saja kereta api mewah waktu itu yaitu Bima aku belum pernah coba, sebab terlalu mahal harga tiketnya bagiku. Sayang sekali aku juga belum pernah coba yang di Sumatra.

Setelah keadaan keuanganku sudah memungkinkan untuk melanglang buana, maka aku selalu coba naik kereta api dinegara yang aku kunjungi.

Pertama kali naik kereta api diluar negeri adalah bersama ayahku (sudah tua) dan seorang anakku (masih kecil) yaitu "Kereta Tanah Melayu" yang bernama Kereta Api "Express Rakyat" dengan route Singapura - Kuala Lumpur (KL). Ketika itu aku masih muda belia namun sudah punya beberapa anak, maklum telah menikah dimuda usia. Ha-ha-ha............

Kami memulai perjalanan dari Johor Bahru (JB) pada tanggal 1 Juni 1979 jam 8.30 pagi melalui kota-kota Kulai, Kluang, Labis, Segamat, Gemas, Tampin, Seremban, Kajang dan tiba di Kuala Lumpur jam 14.30 siang. Stasiun di KL adalah bangunan kuno yang dilestarikan, kecantikan dan bentuknya seperti kubah-kubah dengan anak-anak panah raksasa. Jarak JB - KL adalah 383 km ditempuh dalam waktu 6 jam. Harga tiket 24 Ringgit per orang untuk Kelas Utama yang ber-AC, kereta api nya bersih-aman-nyaman, makanannya pun lumayan enak.

Di Eropa ada Orient Express antar kota-kota Paris, Venice, Vienna, Praha, Bukarest dan Budapest.
Di Swiss, Closswork Express train yang kecil dan berwarna biru dengan kaca besar bergerak dari Montreux mendaki hutan menjajikan pemandangan park alamiah yang tertutup salju, Lake Geneva, Mont Blanc dan the Eiger.

Untuk mencoba pengalaman Switzerland's longest train trip bisa menggunakan Swiss Pass untuk perjalanan dari timur menuju St Moritz dan bergabung dengan Glacier Express dimana antara St Moritz dan Zermatt yang memakan waktu total 7 jam. Train mendaki Oberalp Pass setinggi 2033m, menembus 91 terowongan dan melintasi ratusan jembatan, menyaksikan desa-desa tua, padang bersalju, hutan dan lereng pegunungan. Harga tiket sudah termasuk makanan/minuman yang mewah.







Kemudian Inggeris dan Perancis mulai merencanakan bikin tunnel dibawah laut pada tahun 1974 tetapi jadi terkatung-katung sekian lama karena ditimpa masa sulit ekonomi sehingga baru mulai dibangun secara fisik ditahun 1988 dan butuh 5 tahun untuk menyelesaikannya ditahun 1993, diresmikan pada Mei 1994. Channel Tunnel antara daratan Inggeris dan Perancis ini merupakan terowongan bawah laut terpanjang dan terdalam di dunia. Maka pada tanggal 14 Nopember 1994 kereta api Eurostar mulai beroperasi antara Waterloo International station (London), Gare du Nord (Paris) dan Brussels-South railway station (Brussels).

Di tahun 1995 kecepatan rata-rata Eurostar antara London - Paris adalah 171.5 km per jam.
Bandingkan dengan kecepatan Eurostar ditahun ini (2009) yaitu Class 373 train yang lebih dari 300 km/jam, hanya butuh waktu 2 jam saja.

Aku dan isteri naik Eurostar dari London ke Paris pada Sabtu tanggal 24 Desember 1995 (menjelang hari Natal). Itu berarti Eurostar baru setahun diresmikan.

Di Canada Anda bisa memulai perjalanan kereta api dari Vancouver-Kamloops-Jasper dengan Rocky Mountaineer yang berjendela kaca besar menyaksikan pemandangan spektakular. Selanjutnya bisa disambung perjalanan dari Jasper ke Toronto dengan Rail Canadian train (Silver & Blue Class).

Di USA aku belum sempat naik kereta api, tetapi aku selalu setidaknya mengunjungi stasiunnya di kota-kota besar tertentu. Grand Central Station di New York dan Washington antik, cantik dan besar.

Pada kunjunganku ke China dibulan Pebruari-Maret 2006 baru ada kereta api cepat yang dinamai Maglev antara Shanghai dan Pudong International Airport yang hanya berjarak 30 km dan baru diresmikan pada Maret 2004. Pada awalnya memang ada terjadi beberapa insiden (terbakar), tetapi semuanya bisa segera diatasi. Namun China terus memperluas jaringan kereta api cepat ini dengan proyek ambisius senilai $ 300 milyar ditahun 2020 dimana bila itu terlaksana bakal merupakan jaringan terpanjang didunia yaitu 16,000 mil. Dengan mengerahkan ratusan ribu buruh dan entah berapa ribu tenaga ahli termasuk tenaga dan perusahaan multinasional asing dari IBM, Canada dan lain-lain.

Juli 2009 ini saja konon mereka sudah mengeluarkan dana $ 50 milyar dan panjang jaringannya 1,207 mil. Bandingkan dengan dana yang cuma $ 8 milyar yang dikucurkan oleh Administrasi pemerintahan Obama dan pada waktu yang sama baru menyelesaikan jaringan 457 mil sedangkan ke tahun-tahun ke depannya belum jelas kelanjutannya.

Walaupun sepintas nampaknya dana yang telah dipakai China 6 kali lipat USA sedangkan hasil yang telah diselesaikan China baru 3 kali lipat USA, namun dalam kenyataannya China jauh lebih effisien kerjanya karena sebetulnya sudah sekian panjang China membuat jaringannya se-akan-akan sudah menabung pekerjaan (meski belum selesai). Mungkin itu merupakan contoh keberhasilan paket stimulus China yang tepat sasaran, yaitu mengembangkan dan memperbaiki infrastruktur..................membuka lapangan kerja secara massal dan menyediakan prasarana untuk menunjang pembangunan ekonomi kelak. Bukan dengan cara mengobral duit kesemua orang tanpa memperbaiki apa-apa bahkan mendidik rakyat jadi malas dan bermental pengemis.







Seperti telah aku ceritakan dalam artikelku "Murah Meriah Ke Jepang" yang dimuat beberapa waktu y.l. di Forum KoKi ini, di Jepang aku dan isteri dibulan September 2009 ybl jor-jor-an naik kereta api, nyaris tiada hari tanpa kereta api baik itu Shinkansen (Bullet Train), Rapid Train maupun Local Train. Hal yang mengesankan dan menyentuh hati dari Shinkansen adalah pramusaji yang menjajakan makanan/minuman begitu rapih-bersih dan santun membungkukkan tubuhnya setiap saat melangkah masuk atau keluar dari gerbong kami.

Ada 3 macam Shinkansen train services yaitu Nozomi, Hikari dan Kodama. Oleh karena kami membeli JR Pass, jadi tidak berlaku untuk Nozomi. Semuanya berkecepatan 300 km per jam tetapi katanya Nozomi memiliki kelebihan yaitu jalannya lembut sehingga Anda bisa menegakkan coin (mata uang logam) dimejanya tanpa terjatuh. Ah, bagi kami Hikari dan Kodama saja sudah okay banget, lagipula Jepang itu wilayahnya kecil sehingga tidak perlu menginap diatas kereta api, maka kamipun cukup membeli yang Ordinary saja bertarif 28,300 yen untuk 7 hari. Yang Green 37,800 yen dan Nozomi lebih mahal lagi.

Sampai saat ini rekor dunia jaringan kereta api cepat terpanjang masih dipegang Jepang yaitu 12,400 miles. Keunggulan lainnya adalah covering the nation, frequent (26,000 keberangkatan sehari), punctual (tepat waktu dan terpercaya), advanced, fast and safe .............dan lebih dari itu petugasnya rapih- bersih-mengerti betul tugasnya......dan penumpangnya tertib-rapih-bersih-tahu diri (tidak berisik). Barangkali faktor keunggulan non-teknologi seperti itu sukar menandingi bangsa Jepang.

Sejujurnya masih ada sesuatu pengalaman/petualangan menggetarkan hati yang aku dambakan yaitu naik kereta api "THE TRANS-SIBERIAN EXPRESS" yang berjarak 8,000 km dan makan waktu perjalanan 7 hari, dimulai dari Moscow menembus pegunungan Ural, melintas Siberia, ke Selatan masuk ke Mongolia dan ketimur melewati Great Wall menuju Beijing. Suhu udara diluar dingin luar biasa bisa minus 30 sampai 40 jerajat Celsius. Perjalanan ini cukup berat jadi harus kondisi tubuh jasmani dan rohani ada dalam fit betul. Meski kami sehat-sehat saja, namun usia kami juga sudah tidak muda lagi. Tentu aku tak mungkin ambil cattle class sleeping, mau tak mau terpaksa ambil yang luxury private trains yang mahal.

Entahlah, mungkin bisa hop-on & hop-of dengan berhenti beberapa kali, katanya bisa di Yekaterinburg, Irkutsk, Ulan Bator (Mongolia) melewati Gurun Gobi. Terus terang semua tempat yang dilalui kereta api ini asing semua bagi kami terkecuali Beijing. Tripnya jadinya perlu waktu antara 3 minggu sehingga perlu cari waktu luang dan dana. Ha-ha-ha-ha-ha......... Travel writer Eric Newby berkata : "The Trans-Siberian is THE big train ride. All the rest are peanuts."










Yang lainnya adalah naik kereta api mewah Australia "THE GHAN" dengan route Adelaide ke Darwin melalui Alice Springs yang berjarak 2,979 km dan memakan waktu 3 hari. The Ghan tahun ini mencapai usia 80 tahun. Ada 3 kelas yaitu Red, Gold dan Platinum, masing-masing bertarip $ 1,312 - $ 1,973 one way (for travel 01/04/2009 to 31/03/2010).  Bisa turun dulu dan menginap di Hotel di Alice Springs.

Satunya lagi adalah "INDIAN PACIFIC" dengan route Sydney ke Perth melalui Adelaide berjarak 4,352 km dan butuh waktu 4 hari yang beroperasi sejak tahun 1970. Biayanya antara $ 716 - 2008 one way (for travel 01/04/2009 to 31/03/2010). Kereta api ini menghubungkan 2 lautan, Blue Mountain, mengikuti jalan lurus terpanjang didunia (478 km) dipadang pasir tak berpohon yaitu Nullarbor dimana hampir sepanjang perjalanan suhu terik diatas 45 jerajat Celsius.........bisa untuk goreng telur.

Benua Australia itu yang hijau dan banyak kota-kotanya adalah dipinggiran pantainya, yang ditengah itu "kosong", kering kerontang dan gurun pasir..................tetapi dasar lucky country, itu banyak mineral dan resourcesnya (dari bijih besi, minyak bumi sampai uranium semua ada). Ini adalah jenis bertamasya "see nothing" and "do nothing". Aku bersama keluarga sudah pernah kok melakukan perjalanan route ini (Perth-Melbourne) dengan berkendaraan mobil sedan beberapa tahun y.l. Kisahnya juga pernah dimuat di Forum KoKi.

The Ghan dan Indian Pacific merupakan kereta api mewahnya Australia dimana yang "dijual" adalah relax dan makan/minum sepuasnya (5 star dining) sedangkan pemandangannya ya nyaris cuma tanah gersang dan padang pasir doang. Yang ditawarkan adalah "Experience the romance and style of rail travel on this epic adventure" ........ ya termasuk piknik "see nothing" dan "do nothing". Kok trip model beginian laris dan ada saja yang mau ikut ? Tentu saja, selama didunia ini masih ada orang-orang seperti aku...............yang suka adventure.







JADI BERLIBUR GAYA BEGINI MIRIP "BOAT CRUISE" DIMANA PEMANDANGAN YANG DILIHAT CUMA AIR LAUT DOANG MAKA ADA YANG MENJULUKI TAMASYA NAIK TRAIN INI SEBAGAI "TRAIN CRUISE" !!!

Tentang "Boat Cruise" yang sekarang mulai jadi trend baru, lifestyle baru buat orang Asia akan aku buat artikelnya kelak. Indonesia pun kini baru terserang demam "Boat Cruise", tetapi banyak yang belum paham dan tahu tentang "Train Cruise". Banyak yang belum tahu kiat menikmati Boat Cruise dan Train Cruise, masih berkutat di acara shopping tour model Orchard Road saja. Ah, ketinggalan sepur, eh jaman !
 


Regards

WES, Australia



PS :  
  • *)  Angka-angka yang disajikan diatas adalah benar berdasarkan keadaan pada saat itu, tahun itu. Jelas sekarang sudah banyak berubah. Silahkan meng-update-nya. Mungkin buat sebagian dari KoKiers muda usia yang ketika aku mulai melanglang buana belum lahir atau masih kecil terasa aneh melihat angka-angka tersebut.   
  • *)  Pada waktu ini saat aku sudah retired, salah satu hobby-ku adalah "bermain" miniature train yang digerakkan listrik. Dasar sudah keranjingan kereta api...................!   
  • *)  Di Australia sebenarnya ada banyak kereta api jarak pendek yang menghubungkan kota besar dengan kota-kota kecil disekitarnya. Sudah tentu setiap aku berkunjung kekota besar lain, aku selalu gunakan kesempatan berkereta api ria ........apalagi tiketnya murah sekali. Ngapain saja ? Ah, hanya sekedar kekota kecil itu, jalan-jalan dan makan-minum di restoran setempat lalu pulang kembali. Ya seperti ketika masih di Jakarta, jauh-jauh ke Puncak hanya untuk makan sate atau ke Bogor untuk makan lumpia.............orang Jakarta sekarang menambahkan ke Bandung.   
*)  Sekedar sejarah singkat perkereta-apian : Konon George Stephenson adalah "rail pioneer" dimana dia membangun jaringan rel kereta api North Yorkshire Moors Railway dari Whitby ke Pickering yang diresmikan pada tahun 1836.