by:
Toton K. http://tambah.info

Cloud Computing
Bagi
penggemar dunia teknologi informasi (TI), kata "cloud computing"
menjadi suatu tantangan kedepan dari pelayanan atau jasa untuk memenuhi
kebutuhan teknologi informasi kedepan. Tambah.info menampilkan latar
belakang perkembangan teknologi ini.
Definisi Cloud Computing
Banyak pihak memberikan definisi cloud computing dengan bermacam-macam pengertian.
Definisi di Wikipedia :
Cloud
computing mengacu pada penyediaan sumber daya komputasi on demand
melalui jaringan komputer. Karena awan/cloud adalah mekanisme pengiriman
yang mendasari, awan dan layanan berbasis aplikasi dapat mendukung
semua jenis aplikasi perangkat lunak atau layanan yang digunakan saat
ini. Ungkapan "cloud computing" berasal dari simbol awan yang biasanya
digunakan oleh diagram alir dan diagram untuk melambangkan internet.
Prinsip di balik awan adalah bahwa setiap komputer yang terhubung ke
internet tersambung ke suatu sumber daya komputasi yang sama, aplikasi,
dan file. Pengguna dapat menyimpan dan mengakses file pribadi seperti
musik, gambar, video, dan bookmark atau bermain game atau penggunaan
aplikasi produktivitas di server yang jauh secara fisik membawa sekitar
media penyimpanan seperti DVD atau thumb drive. Hampir semua pengguna
internet mungkin menggunakan bentuk komputasi awan meski hanya sedikit
menyadarinya. Mereka yang menggunakan email berbasis web seperti Gmail,
Hotmail, Yahoo, email Perusahaan yang dimiliki, atau bahkan sebuah
program klien e-mail seperti Outlook, Evolution, Mozilla Thunderbird
atau Entourage adalah memanfaatkan server email awan. Oleh karena itu,
aplikasi desktop yang terhubung ke awan email akan dianggap aplikasi
awan.
Cloud computing memanfaatkan jaringan sebagai sarana untuk
menghubungkan perangkat pengguna akhir (end point) untuk sumber daya
yang terpusat di pusat data. Pusat data dapat diakses melalui internet
atau jaringan perusahaan, atau keduanya. Dalam banyak kasus layanan awan
memungkinkan akses dari berbagai titik seperti telepon genggam, PC atau
tablet. Layanan Awan mungkin dirancang untuk menjadi vendor agnostik,
bekerja sama baik dengan Linux, Mac dan platform Windows. Mereka juga
dapat memungkinkan akses dari lokasi terkoneksi internet, memungkinkan
pekerja mobile untuk mengakses sistem bisnis jarak jauh seperti di
Telecommuting, dan memperluas jangkauan layanan bisnis yang disediakan
oleh Outsourcing.
Definisi NIST:
Lembaga Nasional Standar dan Teknologi atau
The National Institute of Standards and Technology (NIST) memberikan definisi singkat dan spesifik:
Cloud
computing adalah suatu model untuk kenyamanan, tuntutan akses jaringan
ke suatu sumber daya komputasi bersama yang terkonfigurasi (misalnya,
jaringan, server, penyimpanan, aplikasi, dan jasa) yang dapat dengan
cepat ditetapkan dan dirilis dengan upaya manajemen minimal atau
penyedia layanan interaksi.
Definisi Gartner :
“sebuah
cara komputasi ketika layanan berbasis TI yang mudah dikembangkan dan
lentur disediakan sebagai sebuah layanan untuk pelanggan menggunakan
teknologi Internet.”
Definisi Forrester:
“standar
kemampuan TI, seperti perangkat lunak, platform aplikasi, atau
infrastruktur, yang disediakan menggunakan teknologi Internet dengan
cara swalayan dan bayar-per-pemakaian.”
Mencoba Menjelaskan Cloud Computing Secara Sederhana
Secara
sederhana, Cloud Computing dapat kita bayangkan seperti sebuah
jaringan listrik. Apabila kita membutuhkan listrik, apakah kita harus
punya pembangkit listrik sendiri? Tentu tidak. Kita tinggal menghubungi
penyedia layanan (dalam hal ini, PLN), menyambungkan rumah kita dengan
jaringan listrik, dan kita tinggal menikmati layanan tersebut.
Pembayaran kita lakukan bulanan sesuai pemakaian.
Kalau listrik
bisa seperti itu, mengapa layanan komputasi tidak bisa? Misalnya,
apabila sebuah perusahaan membutuhkan aplikasi CRM (Customer
Relationship Management). Kenapa perusahaan tersebut harus membeli
aplikasi CRM, membeli hardware server, dan kemudian harus memiliki tim
TI khusus untuk menjaga server dan aplikasi tersebut?
Di sinilah
cloud computing berperan. Penyedia jasa
cloud computing
seperti Microsoft, telah menyediakan aplikasi CRM yang dapat digunakan
langsung oleh perusahaan tadi. Mereka tinggal menghubungi penyedia
layanan (dalam hal ini, Microsoft), “menyambungkan” perusahaannya
dengan layanan tersebut (dalam hal ini, melalui Internet), dan tinggal
menggunakannya. Pembayaran? Cukup dibayar per bulan (atau per tahun,
tergantung kontrak) sesuai pemakaian. Tidak ada lagi investasi di awal
yang harus dilakukan.
Contoh lain adalah apabila sebuah
perusahaan membutuhkan system email yang terintegrasi dengan domain
perusahaan, fasilitas kalender dan perangkat printer misalnya yang ada
di perusahaan, tidak perlu harus menyediakan prasarana email seperti
server, aplikasi email server dan ruang server/data centernya melainkan
tinggal menghubungi penyedia layanan seperti Microsoft, Google atau
penyedia jasa lainnya.
Agar lebih mudah membayangkannya, silahkan lihat ilustrasi pada Gambar 1.
Karakteristik Cloud Computing
Dengan semakin maraknya pembicaraan seputar
cloud computing, semakin banyak perusahaan yang mengumumkan bahwa mereka menyediakan layanan
cloud computing. Akan sangat membingungkan bagi kita para pengguna untuk memastikan bahwa layanan yang akan kita dapatkan adalah
cloud computing atau bukan. Untuk mudahnya, dari semua definisi yang ada, dapat diintisarikan bahwa
cloud computing ideal adalah layanan yang memiliki 5 karakteristik berikut ini.
1. On-Demand Self-Services
Sebuah layanan
cloud computing
harus dapat dimanfaatkan oleh pengguna melalui mekanisme swalayan dan
langsung tersedia pada saat dibutuhkan. Campur tangan penyedia layanan
adalah sangat minim. Jadi, apabila kita saat ini membutuhkan layanan
aplikasi CRM (sesuai contoh di awal), maka kita harus dapat mendaftar
secara swalayan dan layanan tersebut langsung tersedia saat itu juga.
2. Broad Network Access
Sebuah layanan
cloud computing
harus dapat diakses dari mana saja, kapan saja, dengan alat apa pun,
asalkan kita terhubung ke jaringan layanan. Dalam contoh layanan
aplikasi CRM di atas, selama kita terhubung ke jaringan Internet, saya
harus dapat mengakses layanan tersebut, baik itu melalui laptop,
desktop, warnet, handphone, tablet, dan perangkat lain.
3. Resource Pooling
Sebuah layanan
cloud computing harus tersedia secara terpusat dan dapat membagi sumber daya secara efisien. Karena
cloud computing
digunakan bersama-sama oleh berbagai pelanggan, penyedia layanan harus
dapat membagi beban secara efisien, sehingga sistem dapat dimanfaatkan
secara maksimal.
4. Rapid Elasticity
Sebuah layanan
cloud computing
harus dapat menaikkan (atau menurunkan) kapasitas sesuai kebutuhan.
Misalnya, apabila pegawai di kantor bertambah, maka kita harus dapat
menambah
user untuk aplikasi CRM tersebut dengan mudah. Begitu juga jika pegawai berkurang. Atau, apabila kita menempatkan sebuah
website berita dalam jaringan
cloud computing, maka apabila terjadi peningkatkan
traffic karena ada berita penting, maka kapasitas harus dapat dinaikkan dengan cepat.
5. Measured Service
Sebuah layanan
cloud computing harus disediakan secara terukur, karena nantinya akan digunakan dalam proses pembayaran. Harap diingat bahwa layanan
cloud computing dibayar sesuai penggunaan, sehingga harus terukur dengan baik.
Kelebihan Cloud Computing
Dari
semua penjelasan di atas, apa sebenarnya kelebihan dari Cloud
Computing, terutama bagi dunia bisnis? Berikut beberapa di antaranya:
Tanpa Investasi Awal
Dengan
cloud computing,
kita dapat menggunakan sebuah layanan tanpa investasi yang signifikan
di awal seperti server, aplikasi server dan ruangan untuk penyimpan
server/data center. Ini sangat penting bagi bisnis, terutama bisnis
pemula (
startup). Mungkin di awal bisnis, kita hanya perlu layanan CRM untuk 2 pengguna. Kemudian meningkat menjadi 10 pengguna. Tanpa model
cloud computing, maka sejak awal kita sudah harus membeli
hardware yang cukup untuk sekian tahun ke depan. Dengan
cloud computing, kita cukup membayar sesuai yang kita butuhkan.
Mengubah CAPEX menjadi OPEX
Sama seperti kelebihan yang pertama, kelebihan yang kedua masih seputar keuangan.
Tanpa
cloud computing, investasi
hardware dan
software harus dilakukan di awal, sehingga kita harus melakukan pengeluaran modal (Capital Expenditure, atau CAPEX). Sedangkan dengan
cloud computing,
kita dapat melakukan pengeluaran operasional (Operational Expenditure,
atau OPEX). Jadi, sama persis dengan biaya utilitas lainnya seperti
listrik atau telepon ketika kita cukup membayar bulanan sesuai
pemakaian. Hal ini akan sangat membantu perusahaan secara keuangan.
Lentur dan Mudah Dikembangkan
Dengan
memanfaatkan Cloud Computing, bisnis kita dapat memanfaatkan TI sesuai
kebutuhan. Perhatikan Gambar 2 di bawah untuk melihat beberapa
skenario kebutuhan bisnis. Penggunaan TI secara bisnis biasanya tidak
datar-datar saja. Dalam skenario “Predictable Bursting”, ada periode di
mana penggunaan TI meningkat tajam. Contoh mudah adalah aplikasi Human
Resource (HR) yang pada akhir bulan selalu meningkat penggunaannya
karena mengelola gaji karyawan. Untuk skenario “Growing Fast”, bisnis
meningkat dengan pesat sehingga kapasitas TI juga harus mengikuti.
Contoh skenario “Unpredictable Bursting” adalah ketika sebuah
website
berita mendapat pengunjung yang melonjak karena ada berita menarik.
Skenario “On and Off” adalah penggunaan TI yang tidak berkelanjutan.
Misalnya, sebuah layanan pelaporan pajak, yang hanya digunakan di
waktu-waktu tertentu setiap tahun.
Tanpa layanan
cloud computing,
ke empat skenario ini akan membutuhkan perencanaan TI yang sangat
tidak efisien, karena investasi TI harus dilakukan sesuai kapasitas
tertinggi, walaupun mungkin hanya terjadi di saat-saat tertentu. Hal
ini dilakukan untuk mencegah terjadi kegagalan layanan pada saat
“peak time” tersebut.
Dengan
cloud computing, karena sifatnya yang lentur dan mudah dikembangkan (
elastic and scalable), maka kapasitas dapat ditingkatkan pada saat dibutuhkan, dengan biaya penggunaan sesuai pemakaian.
Fokus pada Bisnis, bukan TI
Dengan
menggunakan Cloud Computing, kita dapat fokus pada bisnis utama
perusahaan, dan bukan berkecimpung di dalam pengelolaan TI. Hal ini
dapat dilakukan karena pengelolaan TI dilakukan oleh penyedia layanan,
dan bukan oleh kita sendiri. Misalnya, melakukan
patching,
security update,
upgrade hardware,
upgrade software,
maintenance,
dan lain-lain. Apabila kita memiliki tim TI, maka tim tersebut dapat
fokus pada layanan TI yang spesifik untuk bisnis kita, sedangkan hal-hal
umum sudah ditangani oleh penyedia layanan.
Cloud computing sudah hadir saat ini, termasuk di Indonesia. Jadi,
cloud computing
bukanlah sebuah angan-angan, melainkan sudah menjadi kenyataan dalam
dunia TI. Bukan berarti kita semua langsung harus berpindah saat ini
juga : pada kenyataannya
cloud computing bukanlah untuk semua orang. Masih tetap terdapat jenis-jenis layanan yang memang harus dilakukan secara
on-premise, walaupun terdapat juga layanan yang menjadi sangat efisien bila dilakukan dengan
cloud computing. Beberapa jenis layanan bahkan dapat dilakukan secara bersamaan
(hybrid) dengan menggabungkan kedua jenis implementasi tersebut.
Oleh
karena itu, carilah penyedia layanan yang dapat memberikan saran yang
tepat dan terbaik bagi kebutuhan anda. Kesuksesan penggunaan
cloud computing akan sangat ditentukan oleh kemampuan penyedia layanan dalam memberikan layanan yang tepat dan terbaik bagi pelanggan.
Cloud Computing jika dilihat dari jenis layanan apa saja yang ada,
kita akan dapat memutuskan jenis yang mana yang mungkin di adopsi di
organisasi ataupun bisnis yang kita jalani.
Layanan-layanan
komputasi ini tersedia untuk diakses dari internet karena kata cloud
sendiri bermetafora dari kata internet, maka lokasi fisik dari
server-server sumber daya komputasi ini bisa di mana saja, tidak harus
on-premise atau di
data center kita sendiri. Saat ini ada beberapa vendor yang memberikan berbagai jenis layanan
cloud computing, dan secara fisik sumber daya komputasi berada di
data center mereka. Kita sebagai
customer
cukup mengkonsumsi sumber daya komputasi tersebut melalui internet
tanpa tahu secara detail lokasi maupun server sumber daya komputasi
yang kita pergunakan.
Sebagai ilustrasi bagaimana cloud
computing ini bekerja seperti ditujukan dalam gambar 3. Pengelola dalam
gambar tersebut menyediakan dan mengelola semua fasilitas Data Center
berikut aplikasinya di tempat penyedia layanan cloud computing,
sementara pengguna layanan cukup mengaksesnya dari Internet.
Tiga Golongan Layanan Cloud Computing
Jenis
layanan Cloud Computing yang ada, terbagi dalam 3 golongan yaitu yang
disebut sebagai Software as a Service (SaaS), kemudian Platform as a
Service (PaaS) dan terakhir Infrastructure as a Service (IaaS).
Software as a Service (SaaS)
Sebagai konsumen individual, kita sebenarnya sudah akrab dengan layanan
cloud computing
melalui Yahoo Mail, Hotmail, Gmail, Google Search, Bing, atau MSN
Messenger. Contoh lain yang cukup populer adalah Google Application
ataupun Microsoft Office Web Applications yang merupakan aplikasi
pengolah dokumen berbasis internet.
Di dunia bisnis, kita mungkin
familiar dengan SalesForce.com atau Microsoft CRM yang merupakan
layanan aplikasi CRM. Di sini, perusahaan tidak perlu
setup hardware dan
software
CRM di server sendiri. Cukup berlangganan SalesForce.com maupun
Microsoft CRM, kita bisa menggunakan aplikasi CRM kapan dan dari mana
saja melalui internet. Kita tidak perlu melakukan investasi server
maupun aplikasi. Kita juga akan selalu mendapat aplikasi terbaru jika
terjadi
upgrade. Intinya, kita benar-benar hanya tinggal
menggunakan aplikasi tersebut. Pembayaran biasanya dilakukan bulanan,
dan sesuai jumlah pemakai aplikasi tersebut. Dengan kata lain,
pay as you go, pay per use, per seat.
Nah, semua layanan ini, dimana suatu aplikasi software tersedia dan
bisa langsung dipakai oleh seorang pengguna, termasuk ke dalam
kategori Software as a Services (SaaS). Secara sederhana, kita langsung
mengkonsumsi layanan aplikasi yang ditawarkan.
Beberapa contoh aplikasi dalam katagori SaaS diantaranya adalah:
- Microsoft Itune:
merupakan aplikasi cloud sederhana untuk PC management yang berguna
selain update software/services, kemampuan update security juga
memberikan kepada penggunanya untuk men-tune performance dari windows 7
yang digunakan.
- McAfee Security Scan Plus: aplikasi cloud untuk men-scaning virus di komputer pengguna.
- Microsoft Office 365: aplikasi online untuk MS Office.
Platform as a Service (PaaS)
Sering terjadi, suatu aplikasi software yang sifatnya
package
tidak dapat memenuhi kebutuhan proses bisnis kita. Demikian pula dengan
SaaS, di mana aplikasi yang ditawarkan sebagai layanan tidak sesuai
dengan proses bisnis kita. Nah, pada skenario ini, kita dapat
menggunakan jenis layanan yang disebut Platform as a Service (PaaS).
Pada PaaS, kita membuat sendiri aplikasi software yang kita inginkan, termasuk skema
database yang diperlukan. Skema itu kemudian kita pasang
(deploy)
di server-server milik penyedia jasa PaaS. Penyedia jasa PaaS sendiri
menyediakan layanan berupa platform, mulai dari mengatur server-server
mereka secara virtualisasi sehingga sudah menjadi
cluster
sampai menyediakan sistem operasi di atasnya. Alhasil, kita sebagai
pengguna hanya perlu memasang aplikasi yang kita buat di atasnya.
Jika
kita adalah perusahaan pembuat software, PaaS juga memberi alternatif
lain. Alih-alih memasang software di server konsumen, kita bisa
memasang software tersebut di server milik penyedia layanan PaaS, lalu
menjualnya ke konsumen dalam bentuk langganan. Dengan kata lain, kita
membuat sebuah SaaS.
Singkatnya, dengan PaaS, kita membangun
aplikasi kita sendiri di atas layanan PaaS tersebut. Adapun contoh
vendor penyedia layanan Paas adalah Microsoft Azure dan Amazon Web
Services.
Infrastructure as a Service (IaaS)
Ada kasus
ketika konfigurasi yang disediakan oleh penyedia PaaS tidak sesuai
dengan keinginan kita. Kita berniat menggunakan aplikasi yang
memerlukan konfigurasi server yang unik dan tidak dapat dipenuhi oleh
penyedia PaaS. Untuk keperluan seperti ini, kita dapat menggunakan
layanan
cloud computing tipe Infrastructure as a Service (IaaS).
Pada IaaS, penyedia layanan hanya menyediakan sumber daya komputasi seperti prosesor, memori, dan
storage
yang sudah tervirtualisasi. Akan tetapi, penyedia layanan tidak
memasang sistem operasi maupun aplikasi di atasnya. Pemilihan OS,
aplikasi, maupun konfigurasi lainnya sepenuhnya berada pada kendali
kita.
Jadi, layanan IaaS dapat dilihat sebagai proses migrasi server-server kita dari
on-premise ke
data center milik penyedia IaaS ini. Para vendor
cloud computing
lokal rata-rata menyediakan layanan model IaaS ini, dalam bentuk
Virtual Private Server seperti Windows Server Hyper-V, VM Ware
Virtualization dan lain-lain.
Identifikasi SaaS, PaaS dan IaaS
Perbedaan
SaaS, PaaS dan IaaS dapat dilihat dari sisi kendali atau tanggung
jawab yang dilakukan oleh vendor penyedia jasa layanan
cloud maupun
customer. Pada gambar 4, di situ dijelaskan
stack (jenjang) teknologi komputasi dari Networking naik hingga ke Application. Di situ juga dijelaskan sampai di
stack mana suatu vendor layanan
cloud memberikan layanannya, dan mulai dari jenjang mana konsumen mulai memegang kendali dan bertanggung jawab penuh pada
stack di atasnya.
Mulai dari kanan, pada SaaS, seluruh
stack merupakan tanggung jawab penyedia layanan
cloud. Konsumen benar-benar hanya mengkonsumsi aplikasi yang disediakan.
Pada PaaS, penyedia layanan
cloud
bertanggung jawab mengelola Networking hingga Runtime. Konsumen
memiliki kendali dan bertanggung jawab membuat aplikasi dan juga skema
database-nya.
Pada IaaS, penyedia layanan Cloud bertanggung jawab untuk Networking
hingga Virtualization. Konsumen sudah mulai bertanggung jawab untuk
Operating System ke atas.
Sebagai perbandingan, di gambar juga ditunjukkan arsitektur tradisional
on-premise (bukan
cloud), alias semua ada di data center kita. Di sini kita bertanggung jawab untuk seluruh
stack, dari Networking hingga Application.
Sumber:
- Ilmukomputer.com
- Wikipedia.org
- Rackspace.com
- Computerworld.com
- Microsoft.com
Diskusikan artikel ini di thread
forum user di Tambah.info.