link: Mananging Consultant

Cari Blog Ini

Selasa, 05 April 2011

Wisata Bali

Paket wisata Bali

Kami ada karena banyak dari calon wisatawan yang sulit mendapatkan informasi yang akurat tentang Paket wisata Bali, Paket tour bali, dan informasi Tempat Wisata dibali.
Situs kami tidak hanya mengajak anda berlibur ke tempat wisata dibali seperti Kuta, Tanah lot, Ubud, kintamani, Uluwatu dan lain sebagainya, tetapi kami akan mengajak anda menyusuri alam dan budaya Bali yang sesungguhnya yang sangat menarik perhatian bagi anda yang ber wisata ke bali menggunakan paket tour bali dari kami.
Fendira Tour juga melayani berbagai event untuk perusahaan, mulai paket tour, outbound sampai seminar. Berbagai tema menarik siap kami berikan kepada perusahaan yang membutuhkan. Jika perusahaan anda telah memiliki tema sendiri sesuai event yang akan diadakan, team kreatif kami siap untuk merealisasikannya.

Fendira Bali tour memberikan kemudahan dalam merencanakan paket wisata Bali dan paket Tour Bali , serta merencanakan membeli paket Liburan ke Bali dengan harga yang SANGAT MURAH. Anda bisa menghitung berapa biaya yang harus anda keluarkan untuk mendapatkan paket seperti paket yang kami tawarkan ini tanpa menggunakan jasa tour dari kami. Tentunya pengeluaran anda akan jauh lebih besar dibandingkan dengan membeli paket tour yang kami tawarkan. Paket tour yang kami tawarkan sangat lengkap dan mencakup semua kebutuhan anda selama berlibur dibali. Ibarat seorang Raja atau Ratu… anda tinggal menikmati pelayanan yang kami berikan. Memberikan pelayanan terbaik kepada pelanggan kami merupakan Ruh kerja kami.
Kami juga menyiapkan hotel murah dibali atau penginapan murah dibali bagi anda yang membutuhkan. Hotel murah dibali atau penginapan murah dibali siap kita berikan informasinya untuk anda. Saat ini kami juga menyiapkan paket wisata luar negeri dan tour luar negeri.

Fendira Bali Tour akan memberikan pelayanan yang maksimal bagi anda yang berniat Tour ke bali, karena kami sadar waktu yang anda alokasikan untuk wisata diBali adalah sangat berharga sehingga kami sadar bahwa kami harus memberikan pelayanan terbaik kepada setiap costumer kami.
Dan akhirnya…. kami dan seluruh staff  Fendira Bali Tour dan Travel mengucapkan selamat wisata dibali dan segera hubungi kami untuk info  Paket Tour Bali, Hotel murah dibali, penginapan murah dibali dan Sewa mobil murah dibali.




Keliling Dunia dalam 23 Hari

Di LA kami menginap di Holyday Hotel Anaheim, lokasinya gak jauh dari Disneyland, sehingga bisa jalan kaki mengunjungi Disneyland, acar selanjutnya adalah mengunjungi Universal Studio lihat bagaimana film dibuat; Kingkong, Benji, Night Rider dll, lalu berkeliling Holywood ngintip rumah para bintang film beken, dan sempat mampir ke Rodeo Drive tempat mahal belanjanya para orang kaya dunia. Di LA juga sempat ke Chines Theater sekalian lihat “hall of fame” nya para bintang ternama.

Keliling Dunia dalam 23 Hari

by: Bambang Purwanto

Pada tahun 1992 penulis dan rombongan mendapat kesempatan mengikuti “overseas training”  atau semacam pelatihan operasi dan pemeliharaan air minum di Perusahaan Air Minum Manheim Jerman  dan belajar mengenal “partisipasi swasta disektor air minum” di PAM Exeter Inggris.

Rombongan dibagi dua  penulis ditambah direksi salah satu PDAM di Jateng  dan seorang pejabat dari Propinsi Jateng masuk rombongan pertama yang mengikuti pelatihan secara penuh termasuk hal-hal yang teknis detail ceriteranya, sedangkan rombongan kedua (boss penulis dan pak walikota) nanti bergabung di Frankfurt untuk melakukan peninjauan lapangan dan  kunjungan resmi ke kantor pejabat disana dan acara seremonial lainnya.

Tanggal 24 Agustus 1992 dengan menggunakan Luftansa rombongan pertama berangkat menuju Frankfurt dan atas kebaikan petugas travel “BB” rombongan penulis dapat “di-upgrade”dari kelas ekonomi menjadi bisnis tanpa tambahan biaya apapun alias gratis. Sampai di Bandara Frankfurt masih pagi dan penulis langsung naik taksi menuju Manheim yang kami sempat kesengsem lha wong taksinya mersedes kinyis-kinyis baru ya wus wus lewat autobahn gak kerasa. Sampai di Manheim kami langsung menuju kantor sponsor penyelenggara yang langsung membuat mereka bingung lho kok sudah nyampe sampeyan gak kontak-kontak sebelumnya, kami hanya cengar-cengir saja (dalam hati berkata jagoan dilawan).

Kami menginap di City Hotel Manheim, hotelnya mungil pinggir jalan namun jangan ditanya kebersihannya yang prima. Kami sempat makan siang diajak salah satu petinggi disana dengan menu ati sapi goreng bumbu semur dan kentang goreng yang rasanya maknyus, cocok dengan lidah melayu kami. Dari Menhein setelah sempat menginap semalam kami selanjutnya menuju London lewat udara menghemat waktu  turun di bandara Heathrow langsung setelah urusan imigrasi selesai kami ke Victoria Stasiun untuk naik kereta api menuju Lends End tempat tinggal salah seorang teman baik kami dan memang kami rencananya nginap disana sebelum ke PAM Exeter.

Kalau anda melihat peta Inggris Raya (The Great Britain) kota kecil Lends End ini letaknya memang diujung pulau Inggris kebarat lagi hanya laut yang membatasi oleh karena itu disebut Lends End. Sampai di Easson Cottage (rumah teman kami) pagi hari kami langsung dipersilahkan masuk kamar dan langsung jos “guher” kecapaian, tahu-tahu tuan rumah membangunkan kami dan mengajak makan malam, yang membingungkan dan “surprise” bagi kami bahwa dikota kecil dan terpencil diujung dunia  terdapat “restoran cina” yang menghidangkan nasi, bakmi dan ayam goreng krispi dan langsung tanpa basa basi kami santap (maklum sudah beberapa hari gak ketemu nasi).

Hari berikutnya kami ke PAM Exeter untuk melihat bagaimana mereka sukses menjalin kerjasama dengan mitra swastanya, bagaimana proses awal kerjasama, perhitungan tarif, capex, opex, “water charging”nya (maaf jadi agak teknis nih), dan inilah hasil “debirokratisasinya yang diperkenalkan oleh PM Margret Tatcher, di Inggris sampai sekarang menganut paham siapa yang bisa melayani kebutuhan infrastruktur bagi rakyat Inggris dengan tarif murah dan pelayanan  prima dia boleh berusaha di Inggris, sekarangpun yang mengelola sampah di London adalah mitra Perancisnya, jadi masalah nasionalisme nomer dua yang nomer satu pelayanan masyarakatnya.

Yang bikin krasan kami semua sewaktu dalam perjalanan naik mobil di Inggris adalah kami disuguhi musik dangdut yang jadi musik kesukaan  paklik Fred tuan rumah kami yang kemana-mana menemani kami. Berlalu lintas di Ingrris bagi orang Indonesia tidak terlalu masalah soalnya menganut “sistim lalu lintas kiri” jadi dijamin kalaupun anda harus nyopir no  problemlah.

Sambil menyelam minum air ibaratnya kami sempat mengunjungi tempat2 wisata favorit disekitar Lands End Hayle, lihat Hotel pertama  yang dibangun disana dan juga angkutan bus pertama yang ditarik oleh kuda beban, kawasan ini hanya ramai pengunjung wisatawan pada saat liburan musim panas saja, selain waktu itu sepi.
Setelah kunjungan ke PAM Exeter kami menuju bandara Heathrow London ke Frankfurt, sampai di Frankfurt luchtahen  (bandara) cari stasiun KA yang tidak jauh dari situ  tujuan menuju Leuven Belgia, sekalian napak tilas tempat kuliah penulis ambil S2 yang sudah 10 tahun belum ditinggal sejak 1982. Di Leuven sudah larut malam kami bertiga nginap di hotel dekat stasiun KA di Centrum of Leuven, paginya setelah sarapan roti panggang dan rebus telur ditambah sayur kacang merah saus tomat kami langsung cabut jalan2 seputar kota, dari centrum ke Heverlee turun di Ter Bank (asrama mahasiswa di Katholieke Universiteit te Leuven disingkat KUL).

Tujuan selanjutnya adalah Wina (Viena) permasalah timbul salah satu rekan kami tidak sempat ambil visa Austria jadi dia nggak bisa ikut ke Wina (waktu itu belum ada fasilitas “schengen” jadi harus ambil visa satu persatu negara, demikian juga mata uang masing2 negara punya mata uang yang berbeda). Aneh tapi nyata rekan kami yang kami tinggal juga tidak mengusai bahsa Inggris maupun asing lainnya, jadi di stasiun perbatasan Jerman-Austria dia kami tinggal sambil membawa secarik kertas yang menerangkan bahwa dia lagi menunggu temannya yang sedang ke Wina he he he.

Sampai di Winapun kami jalan2 sambil was2 alias gak enjoy full habis mikirin temen kami kalau ada apa2, sorenya kami langsung kembali sambil menjemput teman kami dan turun di Stutgart. Keluar stasiun sambil jalan2 dipusat keramaian mau cari penginapan tiba2 terdengar ada dua orang bicara bahasa  Jawa, langsung kami sergap kami tanya dimana ada penginapan yang dekat, tahu2 mereka menawarkan  untuk menginap  diapartemen salah satu dari mereka, pucuk dicinta ulam tiba kata pepatah, mereka adalah dosen salah satu perguruan tinggi di Indo yang sedang kuliah S3, setelah mandi dan berpakaian rapi kita makan  malam bersama di Indonesian Resto walah eunaak tur wareg tenan, malamnya tidur nyenyak.

Pagi hari setelah sarapan dan ngobrol basa-basi kami mengucapkan terima kasih dan mohon pamit dan langsung naik kereta dari stasiun Stutgart menuju Manhein markas sementara kami sambil menunggu kedatangan rombongan kedua. Besoknya rombongan kedua datang kami sempat jalan2 di Frankfurt melakukan “kunjungan kehormatan ke kantor tuan rumah” dan kunjungan lapangan ke Instalasi Pengolahan Air Minum kota Maheim.

Besoknya rombongan dibagi dua rombongan 5 orang jalan2 di Eropa sedangkan penulis berdua ke New York, ini pengalaman pertama penulis ke Amerika dan mumpung waktu tempuhnya juga cukup pendek sekitar 7 jaman (lagi2 ini hasil reroute penerbangan penulis) masih naik Luftansa. Sampai di La Gardia Internasional Airport yang lumayan besar dimana setiap penerbangan punya counter masing dan lihat ada dua pesawat yang lagi take off bareng cukup bikin penasaran penulis. Kami langsung ke Hotel Radison istirahat masih jetleg, besoknya sudah sempat menjelajah New York dimulai dari naik ke puncaknya “Empire State Building” salah satu bangunan tertinggi didunia,  lihat markas PBB dan tak boleh ketinggalan pergi ke Liberty Statue naik ferry dari Manhattan, pulangnya ketinggalan bis terpaksa naik taksi habis hari sudah gelap menjelang malam.

Keesokan harinya sudah harus ke bandara Dulle Int Airport untuk terbang jarak pendek ke Washington,  yang saya perhatikan efisiensi penerbangan  United Airline dari mulai ngurus checkin sampai ngatur naik pesawat Cuma dilakukan oleh seorang bude setengah sepuh, waduh betapa efisiennya.
Di Washington kami menginap di Comfort Inn lokasinya ditengah kota jadi cukup jalan kaki keseluruh obyek turis disana mulai dari Museum2, Gedung Putih, Lincoln Memorial, National Monumen, Vietnam dan Korea Memorial dan dilanjutkan “tamasya” ke Arlington Cemetery lihat kuburan para pahlawan Amerika, sungguh waktu itu semua masih serba aman (belum ada americanoid terorist akibat serangan World Trade Center).
Perjalanan udara berikutnya adalah dari Washington ke Las Vegas via Chicago cukup lama dari pantai timur Amerika ke pantai barat, di Chicago pesawat kami mengalami keterlambatan dan kepada masing2 penumpang diberikan voucher seharga US @ 25 yang kami tukarkan makmin di resto  yang hasilnya cukup lumayan banyaknya lumayan buat cemilan.  Bandara-bandara di Amerika punya ciri sendiri-sendiri misalnya di Las Vegas dari tempat parkir ke terminal naik kereta semacam skyline di Changi Airport (Chicago dengan bus yang bisa naik turun mirip di Johanesburg).

Dari bandara naik taksi langsung ke Hilton Hotel tempat kami menginap dan yang buat kami kaget adalah di lantai dasar setiap hotel disana sudah langsung tersedia bermacam-macam perjudian dari mulai jackpot sampai judi kartu dan lain2nya, hotel dan makanan cukup murah (bahkan saya menemukan untuk buffet hanya US $1.9) dengan tujuan agar tamu betah berjudi sekalian menguras kantong mereka. Di Las Vegas banyak tempat2 yang cukup spektakuler misalnya Hotel MGM Grand dengan kamar 5.000 an lebih tempat pertarungan tinju klas berat sering diadakan disini, dalamnya lengkap dengan restoran dan berbagai atraksi hiburan, Hotel Luxor dengan kamar diatas 3 ribuan ditengahnya dibangun  sungai-sungai Nil yang dapat dilayari kapal seolah berwisata kesungai Nil, namun pada kunjungan tahun 2008 sudah tidak ada lagi hanya hotelnya yang berbentuk piramida sudah jadi dua.

Hari berikutnya kami sudah bersiap terbang dari Las Vegas ke San Fransisco, sekitar 1 jam penerbangan  kami menginap di Hotel Radison, San Fransisco terkenal paling banyak penduduk yang berasal dari Asia, termasuk petugas resepsion hotel dimana kami menginap berasal dari Korsel, jangan ditanya soal makanan asia cukup banyak tersedia. Tempat wisata yang terkenal cukup banyak untuk dikunjungi, kami sempat melihat Jembatan  “Golden Gate” yang fenomenal itu, Presidio lokasi film dengan judul yang sama yang dibintangi San Conery,  pada kunjungan berikut kami sempat naik Ferry dari Fisherman Wharf ke “mantan” penjara Alcatraz yang  terkenal pula di film “Escape from Alcatraz”. Pertama kali melihat anjing2 laut bebas dialam ya di Fisherman Wahrf San Franmsisco ini, di San Fransisco ini terdapat “the most crocest street in the world” alias jalan paling berkelok didunia, cukup curam jadi rutenya harus dari atas.

Dari San Fransisco kami terbang menuju Los Angeles dengan penerbangan pendek satu jam-an, di LA kami menginap di Holyday Hotel Anaheim, lokasinya gak jauh dari Disneyland, sehingga bisa jalan kaki mengunjungi Disneyland, acar selanjutnya adalah mengunjungi Universal Studio lihat bagaimana film dibuat; Kingkong, Benji, Night Rider dll, lalu berkeliling Holywood ngintip rumah para bintang film beken, dan sempat mampir ke Rodeo Drive tempat mahal belanjanya para orang kaya dunia. Di LA juga sempat ke Chines Theater sekalian lihat “hall of fame” nya para bintang ternama, dan tak ketinggal pasti ke “China Town” untuk cari makan nasi disana.

Syukur selama perjalanan gak pernah terganggu kesehatan penulis. badan masih kuat perjalanan dilanjutkan ke Honolulu, Hawai ini perjalanan cukup panjang dan iklim persis seperti di Indo, kami menginap di Hotel Miramar Waikiki Outdriger Str, letak hotel yang dipinggir pantai Waikiki memudahkan untuk jalan2, sorenya nonton tari hula-hula goyang pinggul penarinya membuat para penonton terpesona, disana tersedia mobil angkutan terbuka yang berhenti disetiap obyek turis cukup bayar sekali bisa turun dan naik sesuka kita, mau lihat monumen Pearl harbour yang di bom tentara Jepang atau sekedar belanja2 sovenir, yang hampir semua kiosnya dimiliki orang Jepang disana.

Dari Honolulu kami terbang jauh ke Hongkong via Tokyo, di Hongkong sudah malam lansung kami ke hotel karena rencanannya besoknya terus ke Beijing, besok paginya ngantri checkin rebutan ke Beijing sampai siang gak dapat, akhirnya tinggal penulis sendiri yang mau ke Beijing tapi sampai malam gak ada kepastian, akhirnya penulis nyerah langsung ke counter garuda dan Alhamdullilah dapat peberbangan langsung ke Jakarta. Perlu di ketahui bahwa pada saat ini wisata ke Beijing masih sulit dan terbatas sekali fasilitasnya, alhasil tiket Hongkong-Beijing pp berikut voucher hotelnya gak terpakai.
Secara tidak sadar apa yang penulis lakukan dalam perjalanan adalah betul-betul keliling dunia dimana rute berangkat berbeda dengan rute pulangnya yaitu; Jakarta-Frankurt-London-Frankfurt-New York-Washingtong-Las Vegas-San Fransisco-Las Vegas-Los Angeles-Honolulu-Tokyo-Hongkong-Jakarta, yang secara keseluruhan memakan waktu 23 hari, 56 jam terbang diudara, melewati 3 benua;  Asia, Eropa, Amerika dan menjelajah  lebih dari 21 kota kecil, besar dan metropolitan dan ini dilakukan 1 kali perjalanan lho (bp).

Keliling China

Keliling China? China kan luas banget bo, apalagi menyandang predikat negara terluas ke-3 di dunia setelah Rusia dan Kanada. Udah gitu banyak banget obyek wisata China yang tersohor di penjuru dunia, mulai dari The Great Wall, forbidden city, Tibet, gurun Gobi, Shanghai, Huangzhou sampai sungai Kuning dan Yangtze yang masuk kategori sungai terpanjang di dunia, dan masih banyak lagi yang lainnya.
Trus 1 yuan? Ah yang bener aja kamu tan, kalo ditukerin ke rupiah kan cuma 1500? konversi ke dollar apa lagi, cuma dapet 1/6 US dollar. Nah trus buat apa duit segitu? Boro-boro buat ongkos pesawat or kereta api, paling mentok juga naik bis dalam kota. Nah trus kok bisa-bisanya keliling China cuma pakai uang 1 yuan aja?
Yup betul sekali, bukan sulap bukan pula sihir. Ga perlu pinjam pintu ajaibnya doraemon or ngutang ke Bank dulu buat keliling China yang maha luas ini. Cukup pakai uang 1 yuan saja! Ya..cuma 1 yuan atau 1500 rupiah.
Dengan uang tersebut saya bisa naik bis angkutan kota menuju pusat kota. (Loh kok jadi ke pusat kota sih, katanya mau keliling2 China?). Sik to sik sabar yo nduk.. Nah, setelah saya sampai di pusat kota, langsunglah saya menuju tempat ajaib itu, dimana saya bisa keliling seluruh China atau bahkan seluruh dunia pun bisa. (btw makin lama makin ngayal ya ni anak, hehe). Perjalanan dari halte bis pusat kota ke tempat itu juga tidak terlalu jauh, kurang lebih 10menit berjalan kaki.
Yap! Akhirnya sampailah saya di tempat ajaib itu yang tak lain tak bukan adalah TOKO BUKU.
xinhuashudian
hihi..tuh kan ga boong kan saya, disana bener-bener bisa keliling China bahkan keliling dunia hanya dengan uang 1 yuan untuk ongkos bisnya. Disana banyak sekali buku-buku tentang seluruh kebudayaan di China, lengkap dengan gambar-gambar tentunya. Tak hanya itu, saya juga ikut hanyut dan meluncur ke peradaban China jaman dahulu kala, mulai dari kejayaan dinasti Qin, Min, dan dinasti Tang yang tersohor.
Dari tempat ajaib itu pula saya bisa menjambangi obyek2 wisata China yang tersohor mulai dari Great Wall, Kota Shanghai, Kuil Shaolin di Henan, dll  hanya dalam bilangan detik, trus merem dan membayangkan gambar yang ada di buku itu  tepat ada di depan mata saya. Penuh penghayatan deh pokoknya sambil berkhayal “ANDAI AKU DISANA”
The last but not least : Mari Membaca!!

note : (tulisan ini dibuat oleh pelajar yang lagi liburan tapi ga ada budget buat jalan-jalan ke Great Wall, jadinya liburannya tiap hari pergi ke toko buku untuk menjelajah dunia, hehehe. Itu aja jarang beli, paling banter cuma duduk di sana trus baca paling ga satu buku) :P hanya dengan 1 yuan

Keliling China? China kan luas banget bo, apalagi menyandang predikat negara terluas ke-3 di dunia setelah Rusia dan Kanada. Udah gitu banyak banget obyek wisata China yang tersohor di penjuru dunia, mulai dari The Great Wall, forbidden city, Tibet, gurun Gobi, Shanghai, Huangzhou sampai sungai Kuning dan Yangtze yang masuk kategori sungai terpanjang di dunia, dan masih banyak lagi yang lainnya.
Trus 1 yuan? Ah yang bener aja kamu tan, kalo ditukerin ke rupiah kan cuma 1500? konversi ke dollar apa lagi, cuma dapet 1/6 US dollar. Nah trus buat apa duit segitu? Boro-boro buat ongkos pesawat or kereta api, paling mentok juga naik bis dalam kota. Nah trus kok bisa-bisanya keliling China cuma pakai uang 1 yuan aja?
Yup betul sekali, bukan sulap bukan pula sihir. Ga perlu pinjam pintu ajaibnya doraemon or ngutang ke Bank dulu buat keliling China yang maha luas ini. Cukup pakai uang 1 yuan saja! Ya..cuma 1 yuan atau 1500 rupiah.
Dengan uang tersebut saya bisa naik bis angkutan kota menuju pusat kota. (Loh kok jadi ke pusat kota sih, katanya mau keliling2 China?). Sik to sik sabar yo nduk.. Nah, setelah saya sampai di pusat kota, langsunglah saya menuju tempat ajaib itu, dimana saya bisa keliling seluruh China atau bahkan seluruh dunia pun bisa. (btw makin lama makin ngayal ya ni anak, hehe). Perjalanan dari halte bis pusat kota ke tempat itu juga tidak terlalu jauh, kurang lebih 10menit berjalan kaki.
Yap! Akhirnya sampailah saya di tempat ajaib itu yang tak lain tak bukan adalah TOKO BUKU.
xinhuashudian
hihi..tuh kan ga boong kan saya, disana bener-bener bisa keliling China bahkan keliling dunia hanya dengan uang 1 yuan untuk ongkos bisnya. Disana banyak sekali buku-buku tentang seluruh kebudayaan di China, lengkap dengan gambar-gambar tentunya. Tak hanya itu, saya juga ikut hanyut dan meluncur ke peradaban China jaman dahulu kala, mulai dari kejayaan dinasti Qin, Min, dan dinasti Tang yang tersohor.
Dari tempat ajaib itu pula saya bisa menjambangi obyek2 wisata China yang tersohor mulai dari Great Wall, Kota Shanghai, Kuil Shaolin di Henan, dll  hanya dalam bilangan detik, trus merem dan membayangkan gambar yang ada di buku itu  tepat ada di depan mata saya. Penuh penghayatan deh pokoknya sambil berkhayal “ANDAI AKU DISANA”
The last but not least : Mari Membaca!!
note : (tulisan ini dibuat oleh pelajar yang lagi liburan tapi ga ada budget buat jalan-jalan ke Great Wall, jadinya liburannya tiap hari pergi ke toko buku untuk menjelajah dunia, hehehe. Itu aja jarang beli, paling banter cuma duduk di sana trus baca paling ga satu buku) :P

Haji

Jadi monster pas berhaji

by Nurul Rahmawati*
Nurul (paling kiri) di bus bersama teman2 sekamar
Nggak banyak orang Indonesia yang berangkat haji di usia muda. Padahal, haji adalah totallyIbadah Fisik banget! Bayangin aja, selama Haji, kita kudu ngelakoni Thowaf (muterin bangunan Ka’bah selama 7 putaran), plus sa’i (jalan cepat antara bukit Shofa dan Marwah) juga selama 7 kali. Bangunan Masjidil Haram yang luas banget itu, juga kudu ditempuh dengan berjalan kaki. Kebayang kalo yang harus ngejabanin itu semua adalah nenek-nenek berusia 70-an tahun, lumayan bikin encok rematik jadi kumat bukan? Syukurlah, saya diberi kesempatan oleh Tuhan untuk berhaji di usia yang masih lumayan “pagi”: 29 tahun. Walaupun bobot bodi saya lumayan bikin ngos-ngosan—berat saya 69 kg dengan tinggi badan 155 cm, tapi, saya kan masih muda banget jadi saya optimis dan super-pede dengan perjalanan Haji pertama saya ini.
Ternyata, di Mekkah, saya kudu nginep di maktab (penginapan) di kawasan Syisya yang berjarak sekitar 6 kilo dari Masjidil Haram. Untungnya, gara-gara lokasi yang cukup jauh, saya dapat cash back dari pemerintah RI senilai 700 reyal. Selain itu, untuk menjangkau Masjidil Haram cukup naik bus Saptco 2 kali, dengan rute: Syisya-Terminal Mahbaz Jin, lalu ganti bus lagi, dengan jurusan Terminal Mahbaz Jin-Masjidil Haram. Busnya gratis pula. Jadi, pemerintah Indonesia menyiapkan sejumlah armada bus dengan rute yang disesuaikan berdasarkan lokasi maktab. Karena maktab saya bernomor 203, maka saya kudu naik bus nomor 2, jurusan Syisya. Nah, di Syisya itu bercokollah ribuan umat manusia yang juga pengin naik bus gratisan dengan destinasi yang sama: Masjidil Haram. Namanya aja bus gratisan, butuh perjuangan ekstra untuk bisa nangkring manis di dalam bus, baik dalam perjalanan dari maktab ke Masjidil Haram, maupun sebaliknya.
Apa aja kendalanya? Tentu perkara antre. Untuk bisa nangkring manis di dalam bus, kita musti baris-berbaris di sekujur line yang disediakan petugas haji di kawasan Bab Ali (pintu Ali) di Masjidil Haram. Antrinya bak ular naga panjangnya bukan kepalang! Tapi namanya manusia itu susaaahh banget diatur. Ternyata selama di Arab Saudi, beberapa dari kita justru menjelma menjadi “Monster”. Meski sama Pak Ustadz bolak-balik diceramahin bahwa kita kudu melatih kesabaran selama Berhaji, wew, ternyata slogan “Orang Sabar Disayang Tuhan” kagak berlaku manakala kita antre bus.
Pernah tuh, saya antre dengan rapih-jali, tiba-tiba seorang manusia slonong boy di sebelah saya, ia dengan cueknya nyerobot! Sabar, sabar Bu Haji… saya cuman bisa membatin. Eeh beberapa detik setelah itu, muncul segambreng manusia yang nyerobot juga. Terang aja, kami yang udah hampir mati berdiri saking lamanya antre, langsung muntab. “Woooiii… antre woooiii!”, kami pun koor neriakin si tukang serobot. Entah pura-pura budeg atau emang budeg beneran, tuh orang kagak ngeh dan nggak meduliin teriakan kita. Langsung aja saya samperin mereka, “Pak, antre tuh baris ke belakang, bukan baris ke samping. Di sekolah pernah ikut upacara bendera gak seh?”
Lain waktu, ada nenek-nenek yang ngantri di belakang saya. Hmm, enak nih, kalo nenek-nenek biasanya sopan. Lah, ternyata dugaan saya meleset! Biar kata nenek-nenek, dia tetep dengan pedenya dorongin badan saya yang segede gaban ini. Saya pun nyolot, “Rese deh! Nek, saya tuh bisa jalan sendiri, nggak usah didorong-dorong kenapa?”. Dan dengan manisnya, tu nenek malah melengos.
Setelah antre-mengantre yang super ngeselin itu, kami menanti detik-detik yang menegangkan untuk keluar dari Bab Ali. Jadi, para petugas itu membentengi kami yang lagi ngantre ini dengan sebingkai rantai. Manakala rantai penghalang itu dibuka…. Gruduuuuggg, para jamaah haji ini lepas begitu saja, kayak kuda dikeluarin dari kandangnya! Lalu, kita musti dorong sana-dorong sini, demi mendapatkan posisi wenak di dalam bus. “Kalo lo pengin dapat tempat duduk di bus, maka lo kudu agresif!” gitu kata salah satu temen sekamar saya. Jadilah, sikut sana, sikut sini sambil lari-lari ngejar bus.
Dapat kursi di dalam bus bagaikan secuil surga yang dilemparkan Tuhan ke muka bumi. Jadilah, kalo pas lagi hoki dan dapat tempat duduk, saya merem-meremin sekujur indra penglihatan, dan pura-pura bego ajalah, biarpun ada jamaah lain yang meminta belas kasihan untuk ikutan numpang duduk. Tapi, kadang, suka terbersit perasaan pengin nolong juga, apalagi kalau yang pasang tampang ‘melas jaya’ itu adalah nenek-nenek yang kliatan lemes banget gara-gara kurang oksigen pas antre di Bab Ali.
Belum lagi kalau kebetulan kita satu bus dengan jamaah dari negara lain, misalnya Turki atau Iran yang badannya segede alaihim. Tenaganya jos markojosss! Jangan coba-coba sikut-sikutan ama mereka, dijamin kita bakal dikepret.  Pernah nih, saya coba berusaha “asertif” dengan tetep keukeuh ambil giliran saya untuk naik bus. Apa yang terjadi kemudian? Saya disikut, plus dapat bonus lirikan tajam yang seolah-olah mengatakan, “Apaan lo? Orang Indonesia bodi kontet kayak gitu mau coba-coba lawan gue?”
Eniwei, justru suka-duka selama antre bus yang kayak ular naga panjangnya; sikut-sikutan antar jamaah; dan watak asli kita yang keluar selama di sana, adalah hiburan yang lumayan memorable selama saya berhaji. Kalau udah kumat betenya gara-gara capek antre dan lari-lari kejar bus, saya coba alihkan dengan ngobrol bareng mas-mas Temus alias Tenaga Musiman, yang jadi petugas transportasi di Arab Saudi. Mas-mas ini adalah orang Indonesia, kebanyakan mahasiswa Al-Azhar University, Kairo, Mesir, yang memanfaatkan libur kuliahnya dengan cari ceperan di Arab. Lumayan enak diajakin ngobrol, bahkan saya kerap diajarin beberapa kosakata Bahasa Arab. Maklum, sopir bus gratisan itu kebanyakan orang Sudan yang ga bisa berbahasa Inggris. Efek positifnya bisa ditebak.  Saya gak perlu bingung-bingung manakala nyuruh sopir bus buat berhenti di depan maktab. Bonusnya adalah, tatapan mata kagum dari penumpang lainnya, “Wah, ternyata mbak ini bisa bahasa Arab tho? Lulusan pesantren mana yak? Pasti dia hafal Quran juga.” Hehehe… saya pun turun dari bis dan melenggang dengan jumawa.
_____
*Nurul Rahmawati

Mongolia

Kabur ke Inner Mongolia

tenda di tengah padang rumput
Lagi enak-enaknya jalan-jalan di Beijing di bulan Oktober 2009, tiba-tiba saya terima surat yang nyelip dari kolong pintu kamar hostel. Surat itu berasal dari pemerintah China yang menyatakan bahwa dalam 3 hari ke depan semua tamu hostel dilarang keluar gedung dengan alasan keamanan negara! Ah, gila sekali, saya berasa jadi tahanan rumah! Masa udah jauh-jauh ke Beijing saya disuruh bobo di kamar selama 3 hari? Saya lalu kasak-kusuk dengan tamu-tamu hostel lain. Dasar bule banyak waktu, sebagian mereka cuek aja. Sebagian lain segera merencanakan cabut ke kota/negara lain.
Saya dan Yasmin pun ikutan pasang strategi. Pertama ke warnet untukbrowsing tempat kabur. Sialnya website yang kebuka kok ya banyakan karakter Cina sampe nggak bisa beli tiket online. Saya baru sadar kalau di China facebook dan twitter di-ban! Secara visa China cuma single entry, berarti kami hanya bisa cabut ke kota lain. To make it worse, saat itu lagi musim liburan besar di China dimana semua orang pulang kampung kayak Lebaran. Saya pun keliling travel agent untuk cari tiket pesawat, sementara Yasmin nongkrongin stasiun kereta api. Buset, alat transportasi publik dari Beijing ke luar kota semua fully booked! Strategi selanjutnya adalah pergi ke tempat yang nggak ngetop di China. Pilihan pun jatuh ke kota Hohhot karena cuma itu tiket pesawat yang tersedia dan terjangkau naik Hainan Airlines. Saya sampe ngakak guling-guling karena lambangnya maskapai Hainan ini adalah gambar seekor ayam berwarna merah digeprek jadi penyet! Duh, nggak kebayang nama maskapai yang mengingatkan saya akan “nasi hainan” ini keamanannya kayak apa, yang penting bisa segera keluar dari Beijing.
Hohhot adalah ibukota Inner Mongolia, sebuah propinsi di China utara yang berbatasan dengan negara Mongolia. Dulunya Inner dan Outer Mongolia (negara Mongolia) bersatu di bawah pimpinan Jengis Khan dan Kublai Khan, tapi sejak tahun 1921 si Outer jadi negara merdeka karena di-backing USSR. Kalau di China biasa lihat foto Mao dipajang di mana-mana, di Inner Mongolia malah foto Jengis Khan. Secara garis besar, orang Mongol di Inner (hanya 20% dari total penduduknya) dan Outer ya sama aja budayanya. Mereka suku yang hidup nomaden di padang rumput luas sambil naik kuda liar. Bahasa keduanya sama, tulisannya mirip sisir. Saya pun jadi semangat ke sana, soalnya belum kesampean pergi ke negara Mongolia. Jadi “KW2”-nya pun oke lah.
Inner Mongolia Museum
Hohhot dalam bahasa Mongolia berarti “blue city”. Nama itu bener banget karena warna langitnya sangat biru-ru-ru tanpa awan sama sekali. Bila di Beijing aja udah mati gaya nggak bisa berkomunikasi, di Hohhot tambah parah lagi karena bahasanya beda. Untuk nginep di hotel sana harus cari yang punya lisensi “menerima tamu asing”, tapi semua staf hotel tidak bisa berbahasa Inggris. Maka cari makan, naik bus, beli tiket, dll, semua pake bahasa Tarzan. Tak banyak yang bisa dilakukan di Hohhot. Yang paling menarik adalah Inner Mongolia Museum yang gede dan keren banget. Sisanya kami luntang-lantung di kota dan nongkrong mratiin orang-orang di taman.
Supaya nggak repot mikir mau ngapain, hari selanjutnya kami ikut paket tur ke Grasslands. Memang sih tur ini turis banget, tapi kami tidak punya pilihan. Di Hohhot garing, sementara ke Grasslands nggak mungkin pergi sendiri. Dalam serombongan yang orang asing cuman kami dan 2 orang Perancis, sisanya orang-orang China entah dari mana. Sampe di daerah Baotou, widih.. pemandangannya bener-bener spekakuler! Sepanjang mata ya dataran rata padang rumput, nggak ada pohon sama sekali. Sesekali terlihat sekawanan kuda dan sapi.
Namanya juga paket yang udah didesain untuk turis, begitu datang kami disambut dengan tari-tarian Mongol dan ditenggakin minuman tradisional yang beralkohol. Makan siang diadakan di dalam sebuah tenda besar, menunya berupa nasi, sayuran, dan kambing rebus yang diletakkan di tengah meja dan harus berbagi sama tamu-tamu lain. Aktivitas selanjutnya nonton pertunjukan gulat Mongol antar para lelaki muda yang saling mendorong. Dilanjut dengan nonton balapan kuda.
Lalu kami pun menyewa kuda untuk berkeliling. Si pemilik kuda mengajarkan cara naik kuda dan cara memerintah kuda… dalam bahasa Mongol! Susah payah saya menghapal bahasa Mongol untuk “belok kanan, belok kiri, lari cepat, lambat, berhenti” soalnya satu orang naik satu kuda sementara si bos ngacir entah ke mana. Untung jalannya sudah ada path, jadi tinggal ngikutin jalan tanahnya aja. Pemandangan masih berupa rumput, semak-semak, beberapa kompleks yurt(tenda orang Mongol terbuat dari kain putih, dari jauh mirip bakpao) dan tiang pemujaan yang dipenuhi bendera warna-warni.
Orang2 Mongol
Tiba-tiba langit mendung dan hujan turun. Kami singgah ke “Perumnas” orang Mongol yang rumahnya sudah terbuat dari tembok bata. Di dalam rumah sebuah keluarga, kami disuguhi susu kambing dan kue kering yang terbuat dari susu kambing. Saat saya izin ingin ke toilet, haa.. ternyata mereka tidak punya toilet! Saya perhatikan bentuk rumahnya, ya iya sih cuma kotak gitu doang, nggak ada kamar tidur, apalagi kamar mandi. Si pemilik rumah pun menunjuk-nunjuk padang rumput. Jiaah, pipis di padang rumput kan kelihatan dari segala arah. Mau ngumpet di mana coba?
Kembali ke tenda besar, kami makan malam (lagi-lagi kambing rebus yang prengus) sambil nonton tari-tarian tradisional. Kelar makan, dilanjutkan acara nyanyi diiringi dengan ortung (organ tunggal). Duh, mulai deh tu tamu-tamu Cina berebutan nyanyi. Ada satu bapak-bapak kekeuh nyanyi terus padahal fals nggak ketulungan sampe si Yasmin melempar si bapak pake sumpit!
Malam itu kami berdua menginap di sebuah yurt yang hanya memiliki 1 pintu dan tidak berjendela. Karena terletak di tengah padang rumput, kawanan sapi dan kuda cuek aja lewat-lewat di depan tenda sampe kadang ngagetin karena tiba-tiba mengendus di sebelah kami. Di dalam yurt, ya hanya ruang kosong aja yang alasnya ditumpuk selimut-selimut tebal. Menjelang malam, temperatur drop menjadi 2°C! Ngomong pun jadi berasap kayak di “AC Milan”, saking dinginnya. Nah, tinggal di dalam tenda kain di tengah padang rumput yang luas tanpa pohon.. tentu bikin angin bablas masuk sampe gigi kami bergeretak menggigil. Dan di malam yang dingin dan sepi ini pun kami main gaple sambil diliatin muke Jengis Khan yang tergantung di dinding.
It’s not bad after all… Tapi dari pengalaman ini, saya kok jadi kurang tertarik untuk mengunjungi negara Mongolia ya?

Darwin

Buaya Darwin

Pemandangan kota dari Holiday Inn Darwin
Gara-gara Air Asia buka rute baru direct flightDenpasar-Darwin dan dapet harga promo Rp 1,3 juta + pp (ini ke Australia lho!), saya langsung cabut! Sebenarnya dulu saya sudah pernah ke Australia, tapi hanya ke daerah Timur (Melbourne sampai Cairns). Nggak kebayang saya akan ke Utara, tepatnya ke Darwin, secara tempat itu sepertinya nggak ngetop dan nggak ada apa-apanya. Tapi, saya kan demennya ke tempat yang nggak biasa. Malah saya sengaja nggak rajin riset sebelum berangkat supayasurprise akan apa yang akan terjadi.
Nama Darwin sendiri berasal dari ilmuwan teori evolusi Charles Darwin yang pernah ke sana tahun 1836. Darwin adalah ibukota propinsi Northern Territory yang terletak di di Laut Timor, jadi dari Bali cuman terbang 2,5 jam. Karena lokasinya paling dekat dengan Asia, maka penduduknya pun multi-kultural. Cuaca di sana pun mirip banget kayak di Indonesia, cuman ada musim hujan (September-April) dan musim panas (Mei-Oktober) dengan tingkat kelembaban yang tinggi alias gampang bikin kemringet.
Kota Darwin tidak begitu besar. Jangan membayangkan kota metropolitan dengan banyak gedung pencakar langit, rata-rata di sana bangunannya bertingkat dua, kecuali hotel dan apartemen. Bangunannya pun relatif baru karena kota ini pernah kena badai Cyclone Tracy tahun 1974 yang menghancurkan lebih dari 70% bangunan di Darwin. Bagusnya semuanya rapih, bersih, dan serba hijau dengan pepohonan. Suasananya kayak di kota pantai dimana orang-orangnya pake tank tops dan celana pendek. Orang sana memang hidupnya laid back, ditambah lagi banyaknya populasi anak muda. Konon demografi penduduk Darwin memang sebagian besar anak muda, jadi mantab banget kalo mau ngeceng. :)
Kalau mau menginap, pastikan tinggal di sekitar Mitchel Street. Di sepanjang jalan itulah yang paling “hidup”, mulai dari hostel/hotel, travel agent, restoran, bar, supermarket, toko suvenir sampai mal, jadi tinggal jalan kaki ke mana-mana. Harap diingat, di sana toko/mal buka hanya sampai jam 5 sore, bahkan kalo weekend tutup jam 3 sore. Yang buka sampai pagi ya hanya bar. Bar di sana modelnya semi-outdoor, jadi bisa ngintip dulu happening apa nggak sebelum memutuskan masuk. Untungnya bar di sana kayak di Bali, boleh masuk pake kostum apapun, termasuk pake kaos dan sendal jepit.
Parap Village Market
Keramaian yang ditunggu-tunggu orang lokal adalah pergi ke pasar, yaitu di Parap Village Market (setiap Sabtu) dan Mindil Beach Sunset Market (setiap Kamis dan Minggu di musim panas). Pasar non-permanen yang nggak becek itu jualan segala macam, mulai dari buah sampai perhiasan, tapi utamanya orang ke sana untuk makan berbagai masakan Asia – bahkan ada warung sate yang penjualnya orang Indonesia. Hebatnya, meski cuman buka lapak, pembayaran bisa dilakukan pake kartu kredit.
Litchfield National Park
Sebagian besar turis yang doyan adventuremenjadikan Darwin sebagai titik awal untuk menjelajah national parks terdekat yang ada di Northern Territory. Kakadu National Park yang termasuk UNESCO Heritage Site memiliki lansekap yang dramatis seluas setengah negara Swiss dan telah dihuni manusia sejak 40 ribu tahun yang lalu. Selain itu ada Litchfield National Park dan Katherine Gorge. Aktivitasnya nggak cuma trekking dan kemping, tapi juga melihat rock painting-nya suku Aborigin, berenang di banyak air terjun, sampai menyusuri sungai sambil melihat buaya.
Bicara soal buaya, pergi ke Australia bayangan saya adalah pantai dan berenang. Ternyata saya salah besar. Memang Darwin terletak di pinggir pantai, tapi pantainya nggak ada yang bisa diberenangin karena… banyak buaya! Yep, buaya di sana hidupnya di air laut, makanya disebut sebagaisaltwater crocodiles – jenis reptil terbesar di dunia. Warnanya putih/beige gitu, panjangnya rata-rata 6an meter (rekor terpanjangnya 10 meter) dengan berat sampai 1 ton!
Di pantai mesti ada plang bertuliskan “Danger! Crocodiles inhabit in this area. Keep away from the water’s edge”. Karena itulah hampir setiap rumah di Darwin memiliki kolam renang supaya penduduknya bisa santai berenang nggak pake dikejar buaya. Kalau mau gampang dan aman melihat buaya, di Mitchel Street ada Crocosaurus Cove. Di sana bisa lihat bayi buaya yang bisa ditimang-timang sampe mama buaya yang guedhe banget. Mau aktivitas yang memacu adrenalin? Silakan ikutan berenang bersama buaya di dalam Cage of Death. Jadi kita dimasukin ke dalam kerangkeng dan diceburin ke kolam buaya. Dari situ kita bisa melihat buaya supergede dari jarak sangat dekat. Berani?
Uniknya, buaya ini juga sehari-hari biasa jadi makanan orang sana. Jangan kaget kalo di restoran ada menucrocodile meat. Daging buaya memang merupakan makanan orang Aborigin yang tinggal di sekitar pantai. Demi perlindungan binatang, pemerintah Australia melarang orang non-Aborigin untuk membunuh buaya. Tapi kalau buaya untuk konsumsi restoran berasal dari peternakan khusus buaya yang sudah berlisensi. Saya pun nyobain makan daging buaya di restoran paling happening di Darwin’s Sailing Club. Secara takut rasanya aneh, saya pilih menu buaya yang ditumis bersama sayuran dan dimakan sama nasi. Ternyata daging buaya itu rasa dan teksturnya kayak daging ayam, warnanya putih, tidak berserat, tidak berbau, tapi sedikit lebih kenyal. Semua baik-baik saja di mulut dan perut, asal jangan sambil membayangkan bentuk buayanya. Hehe!

Cowok Korea

Cowok Korea unyu-unyu?

ini siapa sih?
Saat saya memutuskan pergi ke Korea Selatan, banyak NTers via twitter yang “titip salam” untuk  Lee Min Ho, Jang Geun Suk, Kim Bum, tralala trilili bam bim bum dan sebagainya. Blah, terus terang saya nggak pernah denger semua nama yang disebutin itu. Katanya sih mereka adalah bintang serial drama Korea. Duh, pantes aja nggak tau soalnya saya nggak pernah nonton. Banyak NTers, terutama cewek-cewek, pengen banget ke Korea ya karena pengen melihat langsung cowok Korea yang (katanya) unyu-unyu itu! Jadilah sebelum berangkat saya menyempatkan diri browsing images nama-nama yang disebutkan.
Gara-gara kena “racun” yang bilang cowok Korea cakep-cakep, saya jadi selalu pasang mata “melototin” cowok-cowok Korea dari ujung kepala sampe ujung kaki – malah melebihi perhatian saya terhadap obyek wisatanya. Begitu masuk pesawat Garuda Indonesia aja mata saya langsung jelalatan melihat para penumpang – lebih tepatnya cowok-cowok Korea – di sekitar saya. Hmm, boro-boro cowok muda Korea yang seger-seger, isinya sebagian besar orang tua. Saya pikir mungkin saya bisa cuci mata pas nanti di sarangnya.
Setiap hari selama hampir seminggu jalan di Seoul dan Incheon, mata saya berburu cowok-cowok muda Korea mulai dari di jalanan sampe tempat gaul. Kesimpulannya, nggak ada tuh yang muka cowoknya kayak di serial drama Korea! Well, ada sih tapi bisa dihitung dengan jari satu tangan, itu pun nggak mirip. Rata-rata muka mereka kayak kotak amal alias kotak-kotak dengan rahang tegas. Bodinya juga nggak semua lean atau muscular, tapi banyak juga yang segede gaban. Saya juga nggak menyangka banyak yang tinggi-tinggi. Model rambut memang trendy lah, bergaya awut-awutan pake wax, sebagian nekat mencat rambut warna pirang. Kulit jelas putih bersih, tapi kalo yang ABG sih tetep aja jerawatan merah-merah. Baunya kalo siang bau kimchi (sayuran fermentasi), kalo malem bau soju (arak Korea) *eh ini sih lebay*. Yang bikin mereka keren adalah gaya berpakaiannya, terutama pada saat musim dingin dengan suhu -10°C. Mereka tuh pake jaket atau jas yang keren dengan model yang keren, jahitan yang bener dan kualitas bahannya juga bermutu.
Jarang saya melihat cowok Korea jalan kaki sendiri, kecuali yang tua dan para pekerja kantoran. Cowok-cowok mudanya sih doyan jalan bareng bersama geng cowok-cowok juga. Kalo ada yang berpasangan, mereka tidak menunjukkan PDA (public display of affection). Malah sering saya liat lagi berantem: yang ceweknya ngambek lagi dirayu-rayu cowoknya sampe teriak-teriak satu sama lain di mal yang rame. Pernah juga di mal liat cewek menampar cowoknya yang berseragam loreng-loreng tentara! Gara-gara ini saya sampe pengen punya kekuatan super power untuk bisa mengerti semua bahasa di dunia..
Nah, cewek-cewek Korea yang justru jauh lebih cantik dari bayangan saya. Selama ini saya ketemu cewek Korea di Indonesia atau pas lagi traveling di negara lain, rasanya nggak ada yang mending. Tapi begitu ke negaranya ternyata mereka sungguh cantik-cantik! Udah kulit putih mulus, tulang pipi tinggi, bodi langsing, eh cuek pake rok mini di suhu di bawah 0 lagi! Rambutnya sih banyak yang dikeriting dan diwarnain. Kalo jaket demennya pake yang bulu-bulu. Sepatu botnya juga keren-keren. Kesimpulannya, lebih banyak cewek cantik dibanding cowok cakep di Korea Selatan. Gilanya, meski cewek Korea udah putih, ternyata mereka – sama kayak di Indonesia – teteup terobsesi dengan kulit putih. Produk pemutih dan iklannya banyak bertebaran.
Yang bikin saya shock, saya sempat berkunjung ke Nu Plastic Surgery, sebuah Rumah Sakit khusus operasi plastik. Menurut pejabat RS itu, 60% orang Korea usia 20-40 tahun pernah dioperasi plastik! Yang paling laku adalah operasi bikin lipetan mata (double eyelids) dan mancungin hidung. Pantes aja RS operasi plastik banyak banget di sana, sekecamatan aja ada 400 RS! Sesuai teori supply and demand, operasi plastik di Korea termasuk salah satu yang paling murah di dunia. Lalu saya pun mendengar gosip.. Katanya mbak-mbak kantoran aja biasa melakukan operasi plastik pada saat jam makan siang kantor. Anak ulang tahun biasa dihadiahi operasi plastik oleh orang tuanya. Trus, artis Hollywood yang main di serial Desperate Housewives aja operasi plastiknya di Korea. Bahkan udah ada sebagian orang Indonesia juga lho!
Yah begitulah, artis dan selebritas yang cuakep itu ya cuma ada di TV atau film, nggak bisa digeneralisasikan ke kehidupan sehari-hari di negaranya. Kita juga nggak bisa menyimpulkan semua cowok Amerika kayak Brad Pitt atau semua cewek India kayak Aishwarya Rai kan? Anyway, cakep itu relatif (dan jelek itu mutlak). Masalah selera juga tidak bisa diperdebatkan. Tapi bagi saya, cowok-cowok Korea yang unyu-unyu itu sih bukan tipe saya karena terlihat seperti kurang testosteron. Masih cakepan juga Ariel-nya Peterpan. Ya kan? Ya kan? Hehe!