link: Mananging Consultant

Cari Blog Ini

Minggu, 07 Oktober 2012

Warisan


Sunday, August 30, 2009 at 7:05am

Jangan tabu bicarakan warisan
oleh : Mike Rini Sutikno CFP


Dalam sebulan terakhir berita dukacita beberapa selebritas telah menjadi pembicaraan terhangat. Sebut saja musisi kelas dunia Michael Jackson, yang konon meninggalkan harta senilai US$1 miliar dan utang US$500 juta. Juga berita duka meninggalnya Mbah Surip, melejitkan rumor adanya royalti Rp4,5 miliar dari ring back tone lagu Tak Gendong. 

Tampaknya setelah seseorang meninggal ada banyak isu seputar keuangan yang harus diselesaikan. Siapa yang mendapatkan apa? Bagaimana nasib keluarga yang ditinggalkan? Apakah harta waris akan menjadi perselisihan di antara keluarga? 

Waris berdasar UU 

Kewarisan merupakan hal krusial dalam siklus hidup finansial seseorang. Kewarisan bisa timbul karena adanya tiga hal. Pertama, orang yang meninggal dunia yang disebut dengan pewaris. Kedua, harta peninggalan yang merupakan harta kekayaan si pewaris, disebut harta waris. Ketiga, orang yang menerima harta warisan yang disebut dengan ahli waris. Adanya pewarisan berarti adanya perpindahan ekonomi berupa harta benda dari si pewaris kepada ahli waris. 

Definisi dari hukum kewarisan, yaitu serangkaian peraturan yang mengatur mengenai sebab-sebab perpindahan harta kekayaan manusia serta beralihnya hak dan kewajiban atas kekayaan seseorang yang meninggal dunia kepada orang yang masih hidup. 

Masalahnya, berbicara tentang warisan sebelum seseorang meninggal masih dianggap tabu, tidak pantas. Sama saja dengan mengharapkan orang cepat meninggal, sebab kematian merupakan hal yang tak diharapkan layaknya musibah. 

Pembagian warisan sebenarnya sudah diatur dalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, sehingga ketika seseorang meninggal tanpa meninggalkan surat wasiat maka harta warisnya otomatis dapat dibagikan sesuai dengan hukum yang berlaku. 

Dalam hukum perdata dibagi empat kelompok ahli waris menurut garis keutamaan, yaitu: (1) suami/istri, anak-anak atau keturunannya; (2) orang tua (bapak & ibu) dan saudara-saudara sekandung; (3) keluarga bapak dan keluarga ibu (paman & bibi); (4) saudara sepupu. 

Berdasarkan wasiat 

Kenyataan ketika harta waris dibagikan sesuai dengan hukum perdata, tetap saja menimbulkan perselisihan antarahli waris. Karena itu merencanakan bagaimana harta Anda akan dibagikan setelah meninggal juga dapat direncanakan melalui wasiat. Tentunya asalkan tidak berlebihan dan tidak menghapuskan hak para ahli waris. 

Adanya perencanaan warisan dapat memberikan stabilitas keuangan dan emosi bagi para ahli warisnya. Tanpa perencanaan warisan, harta kekayaan akan dibagikan sesuai dengan hukum yang berlaku, yang mana distribusinya belum tentu sesuai dengan harapan Anda. 

Surat wasiat berisi tentang keinginan dan tujuan pemilik kekayaan. Surat wasiat adalah surat yang memuat keinginan terakhir seseorang yang akan dilaksanakan apabila yang bersangkutan meninggal dunia. 

Lebih sering dalam wasiat seseorang memuat keinginannya yang terakhir berkaitan dengan harta yang dimilikinya yang hendak dia wariskan kepada orang-orang yang disayanginya, tetapi tidak jarang memuat keinginannya mengenai hal-hal lain seperti penguburannya kelak (yang dikenal sebagai kodisil). 

Pewaris boleh saja mewariskan kekayaan kepada pihak yang bukan ahli warisnya. Misalnya, kepada badan amal melalui cara wakaf, yaitu memberikan harta kekayaan kepada pihak lain untuk kepentingan sosial. 

Adapun, dalam agama Islam besarnya wakaf yang disarankan tidak melebihi dari 1/3 harta kekayaan pewaris. Pewaris juga boleh mensyarakat pembagian harta waris tidak sesuai dengan UU, tetapi hukum adat, hukum agama, atau dengan cara lainnya. Pengaturan mengenai wasiat ini berada di Pasal 930-953 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata. 

Pelunasan utang 

Setelah pewaris meninggal dan proses pemakaman selesai, hal yang pertama perlu diselesaikan adalah penyelesaian kewajiban (utang) piutang antara almarhum dan pihak lain. Perlu diidentifikasi terlebih dulu sah tidaknya utang tersebut, bila ternyata sah, kewajiban tersebut harus dibayar. 

Selanjutnya ahli waris mengusahakan untuk dapat mengeksekusi harta peninggalannya untuk melunasi utang almarhum. Kadang terjadi di mana kesepakatan tentang pembagian warisan belum terjadi, akibatnya aset berupa rekening bank, realestat, royalti, surat berharga masih belum dapat dicairkan. Dibutuhkan waktu yang cukup lama untuk mengeksekusi aset tersebut. Kemungkinan ahli waris harus melakukan negosiasi dengan para kreditur untuk meminta keringanan jangka waktu pelunasan utang. 

Merencanakan warisan 

Pemilik kekayaan (pewaris) hendaknya mengetahui, mempersiapkan dan mendokumentasikan informasi penting berikut ini: 

Keterangan mengenai ahli waris: siapa saja yang dapat menerima harta waris dan bagaimana hubungannya dengan pewaris 

Daftar terperinci kekayaan. Daftar ini harus mengklasifikasi kategori kelas aset kekayaannya, misalnya aset kas (tabungan, deposito), aset keuangan (saham, obligasi, reksadana), properti (tanah, bangunan), logam mulia (emas, perak), barang koleksi, unit link, atau kepemilikan bisnis. Daftar ini juga harus memuat berapa nilai , status kepemilikan, lokasi di mana aset berada. 

Porsi pembagian harta waris. Pewaris dapat membagikan harta kekayaan sesuai dengan keinginannya, tetapi harus mempertimbangkan batasan pembagian mutlak. Yaitu bagian mutlak dari ahli waris (legitieme portie) yang tidak dapat disingkirkan. 

Selain itu tidak semua aset dapat dicairkan dan dibagikan langsung kepada para ahli waris. Beberapa instrumen keuangan memiliki peraturan sendiri mengenai hak waris, contoh: 

Polis asuransi, berapa jumlahnya dan siapa ahli waris yang tersebut dalam polis. 

Nominasi dana pensiun. Apakah dana pensiun dapat diambil tunai sekaligus dan dibagikan ke para ahli waris, atau telah ditunjuk ahli waris tertentu, atau diberikan sebagai penghasilan rutin kepada pasangan dan anak. 

Dana pendidikan. Apakah dana pendidikan baik berupa tabungan maupun asuransi dapat dibagikan sebagai harta waris, atau langsung ditunjuk seorang ahli waris tertentu. 

Royalti. Pada saat penandatanganan kontrak komersialisasi Hak Kekayaan Intelektual, Hak Cipta, Paten, dll. Pewaris umumnya diminta untuk langsung menunjuk ahli waris tertentu.

Peluang dari Trend


 Sunday, August 30, 2009 at 6:59am 
summary:
Carilah peluang dari trend yang sedang terjadi di Indonesia. Ikuti Trend tersebut, ciptakan produk baru untuk mendukung trend tersebut. 
salam,
Dwika

----------------
Indonesia 2010
Oleh : Bong Chandra

Sejak kerusuhan 1998 Indonesia mengalami badai ekonomi yang sangat dahsyat. Banyak bank yang terlikuidasi, pengusaha yang bangkrut, karyawan yang di PHK, perusahaan yang tutup dan lain sebagainya. Tampaknya memerlukan begitu banyak waktu untuk pulih 100%. Jumlah pengangguran di Indonesia tahun 2006 mencapai 39 juta orang lebih banyak 8 kali lipat dari jumlah penduduk Singapura yang hanya 5 juta orang. 

Badai ekonomi bukan hanya terjadi pada Negara Indonesia, melainkan Negara – Negara tetangga seperti Malaysia, Thailand, Vietnam, bahkan Jepang sekalipun. Tapi waktu pemulihan Negara Indonesia relatif lebih lama dibanding Negara – Negara lain. Contohnya seperti Malaysia, Negara yang sempat meminjam guru – guru dari Indonesia. 

Apakah ini terjadi karena perbedaan genetis, letak geografis yang tidak menguntungkan? 
Tidak! Negara Indonesia merupakan salah satu negara terkaya di dunia yang memiliki sumber daya alam yang tidak terbatas. Indonesia juga diuntungkan secara iklim yang hanya memiliki 2 musim. Dibandingkan dengan Eropa yang tidak bisa bekerja saat musim dingin. Sekarang mari kita lihat apa masalahnya. 

Masalahnya terletak pada kurangnya jumlah Entrepreneur. 
Jumlah Entrepreneur di Amerika adalah 11% dari jumlah penduduk, jumlah Enterpreuner di Singapura mencapai 7% dari jumlah penduduk, lalu bagaimana dengan Indonesia? Ternyata jumlahnya hanya 0,18% dari jumlah penduduk. Survei membuktikan sebuah negara bisa dikatakan stabil jika jumlah Entrepreneur minimal adalah 2% dari jumlah penduduk. Dengan banyaknya jumlah Entrepreneur artinya akan menciptakan banyak lapangan pekerjaan dan mengurangi pengangguran. 

Kami memiliki sebuah program untuk meningkatkan jumlah Entrepreneur di Indonesia. Program ini adalah ONE MILLION-ENTERPREUNER PROGRAM. Program ini merupakan program jangka panjang NON PROFIT sampai tahun 2010 dengan visi 1.000.000 Entrepreneur baru tahun 2010. Kami akan mengadakan ROADSHOW SEMINAR ke seluruh Indonesia dan EMAIL berantai berupa informasi dan tips mingguan bagaimana menjadi seorang Entrepreneur. Program ini tidak bisa berlangsung tanpa partisipasi dan dukungan dari masyarakat Indonesia. Sebarkan Artikel ini ke 10 teman Anda, semakin cepat informasi ini tersebar maka semakin cepat pula laju kemajuan ekonomi Indonesia. 

Berikut ini merupakan statistik menarik dari Leveraging Time to Create Wealth karya K.C. See.
Dari 100 orang kaya:
- 70% dari Bisnis
- 10% dari Profesional
- 10% dari karyawan
- 6% lain – lain (termasuk menang lotre)
Statistik sudah berbicara dan mengarahkan kita semua untuk mulai berbisnis. 

Berikut pertanyaan pertanyaan yang sering dilontarkan ketika orang ingin memulai bisnis; saya tidak punya modal? Dari mana saya harus mulai? Keterampilan apa yang harus saya miliki? Umumnya 3 pertanyaan ini yang paling sering ditanyakan. 

Anda tidak perlu khawatir karena dengan ONE MILLION ENTREPRENEUR PROGRAM Anda akan mendapatkan tips-tips menarik bagaimana menjadi seorang Entrepreneur yang handal. 

Tips pertama : Memulai sebuah bisnis dengan memanfaatkan TREND. 

Apa yang akan terjadi jika Anda membuka bisnis penyewaan video tape? Jelas ini tidak akan berhasil karena Anda akan melawan Trend. Teknologi Video tape yang dikembangkan 100 tahun tertelan oleh teknologi VCD player dalam waktu 4 tahun. Dunia berubah dengan sangat cepat jika Anda tidak mengikuti perubahan maka Anda akan punah seperti Dinosaurus. 

Jeff Bezos memanfaatkan Trend internet dan membuka toko buku di dunia maya yang bernama Amazon.com dan memecahkan rekor sebagai orang tercepat mengumpulkan USD $1 milyar.
Perbandingan dalam mencapai USD $1 milyar yang pertama adalah sebagai berikut:
- Henry Ford membutuhkan waktu 25 tahun
- Bill Gates membutuhkan waktu 12 tahun
- Jeff bezos hanya membutuhkan waktu 3 tahun 

Apa yang menjadi Trend di Indonesia saat ini? 
Carilah peluang dari trend yang sedang terjadi di Indonesia. Ikuti Trend tersebut, ciptakan produk baru untuk mendukung trend tersebut. Misalnya saat ketika terjadi demam pencarian emas di Amerika muncul Trend besar – besaran dimana orang bergerak ke arah barat untuk mencari emas. Orang yang paling sukses adalah orang yang memanfaatkan trend tersebut. Mereka adalah orang – orang yang menjual alat-alat pertambangan emas. Jika Anda melihat trend sebagai kesempatan maka Anda akan menjadi seorang Entrepreneur yang dahsyat. 

Untuk mendapat Tips-tips mingguan secara gratis, silahkan Email Nama, No HP, kota, & Pekerjaan Anda ke best_community@ymail.com (mohon tulis subject : TIPS) . Anda akan mendapat Tips dan informasi mingguan seputar Entrepreneurship yang akan dikirim ke Email Anda. 
Selamat mencoba GO ENTREPRENEUR!!
Updated about 4 months ago · Comment · LikeUnlike
Elisa Atm likes this.

Tipe-tipe entrepreneur


Sunday, August 30, 2009 
Summary:
Temukan yang mana tipe Anda, maka mulailah melakukan modelling dengan konsep ATM. Amati, Tiru, Modifikasi tipe-tipe entrepreneur, temukan, kembangkan tipe dan cara Anda sendiri untuk menjadi pebisnis yang sejati.
salam,
Dwika
--------------------------

Bagaimana Menerjuni Dunia Entrepreneur
Oleh : Ikhwan Sopa

Apakah Anda mau dan ingin menerjuni dunia bisnis, sekarang atau nanti? Jawabnya harus mau dan ingin. Sepertinya jawaban itu cukup memaksa Anda untuk mulai memikirkan tentang fenomena berikut ini.

Jika Anda bekerja pada orang lain, adalah baik jika Anda mempertimbangkan untuk terus meniti karir sampai ke puncak. Tapi sebagai pekerja, Anda juga pasti akan pensiun.

Jika Anda mengikuti pola dan alur pensiun yang normal dan alamiah, maka ketahuilah bahwa saat Anda pensiun, Anda juga pada dasarnya pensiun dari semua pemberi kerja, bukan hanya dari pemberi kerja Anda saat ini. Terlebih lagi, jika pola "normal" dan "alamiah" itu erat kaitannya dengan usia produktif.

Akan cukup sulit bagi Anda, setelah pensiun di usia 30, 40, atau bahkan 50 tahun, menemukan pemberi kerja yang mau mempekerjakan Anda. Dan sangat mungkin, Anda sendiri pun akan bosan dengan lagi-lagi bekerja untuk orang lain.

Apa yang pasti adalah; Anda jelas tak ingin setelah pensiun langsung mati. Sisa usia Anda mungkin masih 10, 20, atau malah 50 tahun juga.

Jadi, mau tidak mau, ingin tak ingin, Anda juga harus mulai berpikir tentang menerjuni dunia entrepreneur, baik sesegera mungkin atau segera setelah Anda pensiun.

Di Workshop E.D.A.N. kemarin, saya sempat berdiskusi ringan dengan salah seorang peserta yang menjadi founder, moderator, dan pembina di sebuah komunitas entrepreneurship. Dari diskusi itu, beberapa pelajaran bisa ditarik berkaitan dengan apa dan bagaimana seseorang bisa menerjuni dunia entrepreneur.

Saya kemudian mencoba memikirkannya sedikit lebih dalam, dan berikut inilah yang bisa saya temukan tentang tipe-tipe entrepreneur yang memulai dunia entrepreneurshipnya.

Early Birds

Inilah tipe entrepreneur yang sejak awal telah memproyeksikan dirinya menjadi entrepreneur. Mereka telah mempertimbangkan dunia entrepreneur sejak mereka masih di bangku sekolah. Bagaimanapun situasi dan keadaan sekolah mereka, cita-cita mereka setelah lulus adalah menjadi entrepreneur.

Mereka mungkin sudah mulai berbisnis sejak di sekolah. Atau mereka secara mandiri mempelajari dunia entrepreneurship.

Maka bagi mereka, siap tidak siap nantinya setelah selesai bersekolah, mereka tidak ingin bekerja pada orang lain, tapi sebaliknya berkeinginan besar menjadi pemberi kerja.

Beberapa dari mereka, bahkan tidak sempat menyelesaikan sekolahnya karena kesibukannya berbisnis.

Secara pribadi, saya sangat mengidam-idamkan keadaan di mana anak-anak Indonesia, sudah mulai diperkenalkan dengan dunia entrepreneurship sejak masih SMP atau SMU.

Alangkah bagusnya jika di SMP atau SMU, kita bisa melihat keberadaan radio sekolah, televisi sekolah, koran sekolah, majalah sekolah, koperasi sekolah, atau divisi bisnis sekolah, yang dikelola dengan profesional oleh anak-anak muda berusia belasan tahun.

Smooth Lander

Mereka adalah para profesional yang terus mengasah kemampuannya, sembari meniti karir ke jenjang yang setinggi-tingginya. Mereka menantikan peluang emas di mana para pemodal mau memberi mereka kesempatan untuk menjalankan sebuah bisnis.

Fenomena yang paling umum terjadi adalah pemupukan sumber daya dalam bentuk tabungan dan investasi yang menghasilkan berbagai macam passive income. Kita mengenal mereka sebagai orang-orang yang akrab dengan tantenya yaitu "Bude Ros".

Amphibi

Mereka adalah para profesional muda yang penuh dengan semangat, tapi cukup berhati-hati dalam menjalani petualangan bisnis.

Segera setelah memungkinkan, setelah berbagai kebutuhan dasar terpenuhi, mereka mulai melakukan berbagai bentuk gerilya. Mulai dari yang kurang mulus seperti ngobyek atau mencuri waktu dan kesempatan, atau yang cukup elegan dengan mulai membangun bisnis rumahan, bisnis online, atau bisnis jaringan.

Mereka mungkin membiayai keluarganya untuk mengoperasikan sebuah bisnis pemula. Mereka juga mungkin membuka kios atau memanfaatkan garasi rumahnya. Mereka juga mungkin membangun aliansi dengan teman sekerja, mendirikan perusahaan baru yang belum diterjuninya secara total.

Mereka akan segera menerjuni bisnis secara total, manakala berbagai parameter dan persyaratan pribadi mereka dianggap sudah terpenuhi. Misalnya punya cadangan yang setara dengan dua tahun gaji mereka selama ini, atau sudah punya sumber lain yang ajeg dan tetap, dan sebagainya.

Free Diver

Yang ini adalah benar-benar petualang. Mereka tak terlalu peduli tentang keamanan posisi cadangan dan sumber daya. Mereka benar-benar mengandalkan impian dan kekuatan kemauan. Mereka hanya tahu satu hal, yaitu keinginan, cita-cita, atau obsesi dan idealisme mereka.

Ships Burner

Mereka adalah orang-orang yang sejak dini telah membaktikan hidupnya untuk dunia bisnis. Bisa jadi, mereka bahkan tidak pernah mengenyam bangku pendidikan formal. Sekolah mereka adalah dunia bisnis yang nyata.

Mereka bergerak dan mengoperasikan bisnis demi bisnis. Jika sebuah bisnis belum berjalan sesuai harapan, mereka tak akan segan meninggalkannya dan menerjuni dunia bisnis yang lain, sekalipun dunia bisnis baru itu masih cukup gelap bagi mereka.

Jika sebuah bisnis ternyata membawa kebangkrutan atau tidak berkembang, setelah merasa cukup berupaya menyelamatkannya, dan itu tidak dianggap berhasil, mereka tak akan segan-segan "membakar" kapal mereka. Mereka akan membangun kapal yang baru, dan segera mengarungi samudera kembali.

Slow Surfer

Mereka adalah para pebisnis yang meyakini peribahasa "sedikit demi sedikit, lama-lama menjadi bukit".

Mereka tidak ragu membangun bisnis yang dianggap orang lain kecil atau remeh. Mereka lebih berfokus pada pola pembelajaran. Mereka meyakini bahwa sekecil apapun itu, jika ditekuni pasti akan membawa hasil.

Revolusionist

Mereka adalah orang-orang yang sedikit banyak punya jiwa penjudi (dalam konteks positif tentu saja). Mereka meyakini yang satu ini: "Hanya diperlukan satu kesuksesan, untuk menciptakan rentetan kesuksesan sampai tujuh turunan".

Pelajarilah semua tipe di atas, refleksikan pada diri Anda. Jika Anda telah menemukan yang mana tipe Anda, maka mulailah melakukan modelling dengan konsep ATM. Amati, Tiru, Modifikasi.

Semua tipe-tipe entrepreneur di atas bukanlah harga mati. Sebab Anda, sangat mungkin menemukan dan mengembangkan tipe dan cara Anda sendiri, untuk menjadi pebisnis yang sejati.


Semoga bermanfaat.
Updated about 4 months ago · Comment · LikeUnlike
Hendradjaja Husin
saya mungkin kombinasi Smooth Lander dan Revolunionist......he...he....he.....
August 31, 2009 at 4:42am ·
Dwika Sudrajat

Melayani dan memenuhi kebutuhan orang

Pekerjaan kita adalah bagaimana kita bisa melayani dan memenuhi kebutuhan orang yang menggunakan produk yang kita hasilkan. 
Banyak orang yang tidak peduli pada kebutuhan orang lain kagi mereka yang terpenting adalah menyelesaikan pekerjaan sesegera mungkin dan mendapatkan uang. 
wass,
Dwika

-------------------------------------
Aku hanya peduli pada uangmu
oleh : Arvan Pradiansyah 

Suatu hari gigi saya terasa sakit sekali. Wah, ini benar-benar kabar buruk bagi saya. Betapa tidak, hari itu saya harus memberikan pelatihan untuk para eksekutif sebuah perusahaan besar. 

Berbicara sehari penuh, memberikan inspirasi, motivasi, berdiskusi, dan menjawab pertanyaan mereka dalam kondisi seperti ini benar-benar merupakan tantangan yang luar biasa bagi saya. 

Akan tetapi ada juga manfaatnya. Saya jadi lebih bisa berempati dengan orang yang sedang sakit gigi. Saya juga baru paham mengapa banyak orang bilang bahwa "sakit gigi bisa lebih sakit daripada sakit hati". 

Karena pelatihan masih akan berlangsung esok harinya, maka pada sore hari saya buru-buru berobat ke dokter gigi di sebuah rumah sakit terdekat. Dokter gigi yang saya jumpai bekerja dengan cepat dan tak banyak bicara. 

Ketika saya menjelaskan kondisi saya dia hanya diam saja dan dari pandangan matanya seolah-olah dia mengatakan, "Sudahlah tak usah Anda ceritakan pun saya sudah tahu apa yang terjadi. Saya kan sudah bertahun-tahun jadi dokter gigi." 

Hanya dalam waktu 15 menit, si dokter selesai melayani saya. Dia menambal gigi saya yang berlubang dengan tambalan permanen. "Masih terasa ada yang mengganjal, dok," kata saya sebelum meninggalkan dokter. "Tambalannya terasa kurang rata, bagaimana kalau dibuat rata saja," ujar saya. 

Dokter itu memandang saya dengan tak bergairah. Sambil bergegas seakan-akan sudah segera ingin pulang dia mengatakan, "Sudahlah, nanti juga akan baik sendiri." Saya pun segera pulang dan membayar biayanya yang ternyata cukup mahal. 

Namun, keesokan harinya sakit saya malah semakin parah. Kalau sebelumnya saya hanya merasa nyeri, sekarang rasanya sakit sekali, bahkan ketika gigi atas bersentuhan dengan gigi bawah yang ditambal si dokter. 

Seharian itu pun saya tidak bisa makan. Padahal pelatihan masih berlangsung. Namun demikian, saya berusaha untuk tetap semangat seolah-olah segala sesuatunya baik-baik saja. 

Sore harinya saya kembali ke rumah sakit yang sama, dan karena dokter itu tidak praktik, saya ditangani dokter lain. Begitu melihat gigi saya si dokter segera menyadari kesalahan yang dibuat koleganya. 

"Tambalan ini terlalu tinggi, jadi sudah pasti rasanya sakit sekali," katanya. Ia pun segera meratakan tambalan tersebut. Namun, ternyata bukan hanya itu kesalahan yang dibuat dokter pertama. 

Menurut dokter kedua, gigi saya sudah mengalami masalah dengan akarnya sehingga yang mestinya dilakukan bukanlah menambalnya melainkan melakukan perawatan syaraf. Menambal gigi ini apalagi dengan tambalan permanen malah hanya akan memperunyam masalah. Karena di rumah sakit ini setiap dokter mempunyai spesialisasi sendiri maka saya diminta untuk berobat ke dokter spesialis konservasi gigi. 

Beberapa hari kemudian saya menemui dokter yang dimaksud. Dokter ini masih muda, bersemangat dan berbicara dengan tempo yang cepat, tetapi tampaknya dia tidak suka mendengarkan orang lain. 

Ketika saya baru menjelaskan masalah yang saya hadapi, tiba-tiba dia memotong pembicaraan saya sambil berkata, "Sudahlah, saya sudah tahu apa yang terjadi pada you. Kalau you mau sembuh maka you harus mengikuti kata-kata saya." 

Saya terdiam sejenak. Ketika dia menyebutkan berapa banyak biaya yang harus saya bayar untuk perawatan syaraf gigi saya sudah tidak lagi berkonsentrasi pada pembicaraannya. 

Terus terang saya merasa kurang nyaman, bukan hanya karena si dokter tidak mau mendengarkan dan segera memotong kata-kata saya, melainkan juga karena dia menyebut saya dengan sebutan you. 

Bila ia berbicara pada saya dalam bahasa Inggris tentu saja you adalah cara menyapa seseorang yang wajar, tetapi karena dia bicara dalam bahasa Indonesia maka kata you terasa kurang pas di telinga saya. Bukankah akan lebih tepat bila kita menyapa seseorang dengan panggilan Anda? 

Pembaca yang budiman, ilustrasi di atas saya sampaikan kepada Anda untuk menggambarkan mengenai betapa sulitnya kita melayani orang lain. 

Ketika memberikan pelatihan di salah satu perusahaan perkebunan terbesar di Indonesia beberapa waktu yang lalu, saya mendapatkan banyak pertanyaan dari para peserta mengenai hal ini. "Bagaimana mungkin saya bisa melayani orang lain? Bukankah dalam pekerjaan saya di kebun atau di pabrik saya berinteraksi dengan benda-benda dan bukan dengan manusia?" 

Ini tentu saja sebuah pertanyaan yang menarik. Kawan-kawan yang bekerja di pabrik, perkebunan, pertambangan dan sebagainya pasti merasa bahwa sehari-hari pekerjaan mereka adalah berhubungan dengan benda bukan dengan manusia. 

Ini tentu saja berbeda dengan mereka yang bekerja di dunia perbankan, asuransi, sektor finansial, telekomunikasi, bagian penjualan, dunia hiburan, perhotelan, dan rumah sakit. Akan tetapi, apa benar kawan-kawan yang bekerja dengan benda ini tidak melayani manusia? Apakah ada pekerjaan yang tidak melayani manusia? 

Inilah pertanyaan yang perlu kita pikirkan dalam-dalam. Bukankah tidak ada pekerjaan di dunia ini yang tidak berkaitan dengan manusia? Bukankah pekerjaan itu justru hanya ada bila dia dibutuhkan oleh manusia? Karena itu bukankah bila ia tidak melayani manusia maka ia tidak dapat disebut sebagai sebuah pekerjaan yang benar? 

Karena itu kita seharusnya tidak hanya melihat pekerjaan sebatas aspek fisiknya. Aspek fisik hanyalah hal yang terlihat, padahal bukankah hakikat pekerjaan kita adalah bagaimana kita bisa melayani dan memenuhi kebutuhan orang yang menggunakan produk yang kita hasilkan? 

Yang lebih menarik lagi, bahkan walaupun suatu pekerjaan secara fisik langsung berhubungan dengan orang lain, hal itu tidaklah menjamin pelakunya bisa melihat pekerjaan tersebut sebagai upaya untuk melayani orang lain. 

Banyak orang yang tidak peduli pada kebutuhan orang lain sekalipun orang tersebut sedang berada di hadapannya. Bagi mereka yang terpenting adalah menyelesaikan pekerjaan sesegera mungkin dan mendapatkan uang. Dokter gigi saya hanyalah salah satu dari sekian banyak contohnya.

Realita Bisnis


Summary:
1. Realita berbisnis: Anda dapatkan banyak utang, tambahan modal terus-menerus, penjualan merosot, pembenahan penjualan, piutang membengkak, cash flow terganggu, inventory terlalu tinggi, macet di gudang, dan akhirnya cash flow menjadi masalah kembali.
2. Solusi: menjadi Entrepreneurs dituntut selalu belajar (pengetahuan), harus mencari mentor yang berhasil membangun bisnis (berketrampilan).

==========================
Ilmu dan Keterampilan Bisnis
By Ir. H. Heppy Trenggono, MKomp.

ADA banyak alasan mengapa kita memulai bisnis. Namun ada tiga alasan utama
yang membuat kita mau memulai bisnis. Tiga alasan itu adalah Financial Freedom, Passive Income, dan More Time.

Financial Freedom,
kita memulai bisnis karena keinginan kita untuk terbebas dari masalah
keuangan dan keterbatasan kemampuan keuangan. Kita ingin mampu
memiliki segala sesuatu sesuai dengan keinginan, misalnya ingin membeli
rumah bagus, kendaraan, atau baju bagus tanpa harus menunggu saat ada
diskon. Atau ingin makan di restaurant favorit bersama keluarga dan
bebas memilih makanan kesukaan tanpa harus melihat besaran angka yang
ada di sebelah kanan menu yang kita inginkan.

Passive Income,
dengan memilili bisnis kita membayangkan akan memiliki penghasilan
tanpa harus selalu bekerja untuk mendapatkannya. Kita ingin bisnis yang
kita miliki mengirimkan uang secara terus menerus. Ingin memiliki
pendapatan yang terus mengalir selagi kita berlibur, selagi kita
bepergian, bahkan kalau perlu selagi kita tidur.

More Time, hampir sebagian besar orang yang memulai bisnis membayangkan akan
memiliki waktu yang lebih fleksibel. Tidak seperti ketika masih menjadi
pekerja yang sangat terikat dengan aturan dan disiplin, harus masuk
sesuai jam kerja lima hari dalam seminggu, bahkan kadang - kadang harus
masuk di hari libur. Dengan memiliki bisnis sendiri kita berharap bisa
berlibur kapan saja, mengantar dan menjemput anak ke sekolah, pulang
kampung (buat saya sesuatu yang istimewa), atau mau melakukan apapun
kapan saja tanpa harus izin sakit, izin ke ini, izin ke itu yang tidak
menyenangkan sama sekali.

Setelah kita memulai berbisnis, hampir semua entrepreneurs yang saya jumpai dan termasuk saya tentunya pada awal - awal saya berbisnis, bukannya mendapatkan tiga hal di atas malah
justru semakin jauh dari yang kita harapkan. Bukan Financial Freedom
yang kita dapatkan malah semakin hari semakin banyak utang yang kita
gali, bisnis seolah-olah tak pernah henti-hentinya membutuhkan
tambahan modal.
Bulan lalu kita menyuntik dana, bulan ini tak terhindarkan lagi kita
harus mencari utang kesana kemari untuk menutupi cash flow, kalau tidak
kita tutupi maka karyawan tidak gajian, maka supplier tidak akan
mengirimkan lagi barangnya kepada kita, dan begitulah terus tanpa ada
hentinya sehingga hutang semakin dalam.

Passive Income? Kita sudah lupa lagi bahwa kita pernah membayangkan memiliki passive income dari bisnis, karena setiap hari kita selalu disibukkan dengan berbagai
persoalan. Bulan lalu penjualan merosot sehingga bulan ini kita harus
fokus untuk membenahi penjualan. Ketika penjualan mulai kita tangani
dan membaik muncul masalah piutang yang membengkak sehingga cash flow
kita terganggu. Besok, inventory kita yang terlalu tinggi dan macet di
gudang, dan lagi- lagi cash flow selalu menjadi masalah.

Kita jadi frustasi karena tim kita sangat tergantung dengan kita, tidak bisa
memutuskan sendiri, tidak ada inisiatif, harus selalu kita kejar-kejar,
bahkan banyak perintah-perintah kita yang tidak berjalan atau tidak
dijalankan. Bukannya passive income yang kita dapat tetapi very very very active income yang ada.

Setelah berbisnis, bukan More Time atau waktu berlebih yang kita dapatkan, kita bahkan sudah tidak bisa lagi pulang sore seperti ketika kita menjadi pegawai dulu. Sabtu dan minggu
kadang kadang harus mengurusi bisnis, waktu untuk keluarga terganggu,
libur menjadi barang mahal bagi kita. Ketika menjadi pegawai, kita
senang kalau ada tanggal merah. Namun, setelah jadi entreprenuer justru
sebaliknya, sebal kalau ada tanggal merah, karena yang lain libur kita
tetap memikirkan pekerjaan sendirian.

Banyak entrepreneur yang kehilangan orientasi dalam berbisnis karena semakin peliknya situasi,
semakin dalamnya permasalahan dan semakin kompleksnya proses bisnis
yang dihadapi seiring dengan bertumbuhnya bisnis yang dimiliki. Umumnya
entrepreneur memulai bisnis dengan bekal semangat dan mimpi besar, dan
terus demikian semakin lama bisnisnya bertumbuh tanpa mengimbangi
dirinya dengan bekal pengetahuan dan ketrampilan dalam berbisnis secara
memadai.

Kalau kita lihat berbagai profesi yang ada dalam kehidupan sehari-hari, hampir semua membutuhkan pengetahuan dan keterampilan, menjadi dokter, pengacara, dosen, guru, bahkan tukang
kayu, tukang las, ataupun pengemudi, semuanya memerlukan bekal
pengetahuan dan keterampilan. Pengemudi perlu pengetahuan tentang
jalan-jalan, pengetahuan tentang kendaraan yang dibawanya, dan juga
perlu keterampilan dalam mengemudi, menghadapi kemacetan, melewati
jalan menanjak, dan memberhentikan kendaraannya dengan aman.

Demikian juga dengan entrepreneur, kita tidak dapat membangun bisnis sesuai
dengan keinginan kita tanpa pengetahuan dan keterampilan, membangun
bisnis yang menjadi mesin pencetak uang bagi kita, bisnis yang jalan
tanpa setiap saat mengharuskan kehadiran kita, dan bisnis yang bisa
mengantarkan kita meraih impian-impian kita.

Pengetahuan dan Keterampilan, itulah kuncinya. Menjadi entrepreneurs dituntut untuk selalu menuntut
ilmu dan belajar, tidak hanya belajar dari pengalaman kita sendiri
tetapi juga harus belajar dari pengalaman orang lain, dengan membaca
buku, majalah, atau mencari mentor dari entrepreneur yang sudah
berhasil membangun bisnis. Dengan pengetahuan dan ketrampilan yang
kita miliki sebagai entreprenuer kita akan terhindar dari berbagai
persoalan yang sebenarnya tidak perlu terjadi. *)
Updated about 4 months ago · Comment · LikeUnlike
Smile Eve likes this.
Sony Surya Nurcahya
good point, life time learning.

Selasa, 02 Oktober 2012

Gaji itu ngikut

Dalam prakteknya gaji itu ngikut. 
Kalau Anda melakukan goodwork sebaik mungkin, secara ajaib gaji juga ikut naik, melebihi yang Anda perlukan. 
Kalau tidak percaya, coba saja.
I like You,
Dwika



Good Work

Konon banyak orang mendapat serangan jantung di hari Senin. Mengapa? Karena banyak orang tidak menyukai pekerjaannya. Padahal setengah hidupnya itu dihabiskan di tempat kerja. Bagaimana dong?
Solusinya: lakukanlah kerja baik. Good work.
Mengapa orang masa kini harus bekerja?
Terutama karena dari bekerja, ia memperoleh gaji untuk membayar kebutuhan hidupnya. Tanpa gaji, hidupnya akan susah. Sandang, pangan, perumahan, transportasi ia perlukan. Tanpa itu orang tidak akan menghormatinya. Ia akan mengalami kesulitan cari jodoh. Ia akan disepelekan secara sosial. Jadi bekerja itu menjadi kunci hidup masa kini.
Tapi hidup bisa surprising. Secara positif maupun negatif. Pilihannya ada empat: (1) gaji besar kerjaan cocok, (2) gaji besar kerjaan tidak cocok, (3) gaji kecil kerjaan cocok, dan (4) gaji kecil kerjaan tidak cocok. Hidup bisa mengantarkan kita pada satu dari empat ini.
Idealnya tentu kita dapat pilihan (1) ya?
Horward Gardner, profesor psikologi dari Harvard, memberikan pilihan lain. Menurutnya orang perlu memilih melakukan kerja baik (goodwork). Ini didasarkan pada hasil riset berpuluh tahun tentang kesehatan dan kebahagiaan jiwa manusia.
Apa goodwork itu?
Goodwork itu pekerjaan apapun sepanjang ia memenuhi tiga ciri utama (3E: excellent, ethical, engaging):
  1. Kualitas istimewa (excellent quality), baik dalam cara bekerja maupun hasil kerja. Secara teknis pekerjaan kita istimewa, tidak sembarangan, tidak biasa-biasa saja, tidak di bawah standar. Karya kita mengundang kesan wow.
  2. Dikerjakan dengan cara yang etis dan bertanggungjawab secara sosial (ethically pursued dan socially responsible). Kita main cantik. Kita tidak melanggar hukum. Susuai nurani kita. Kita tidak menimbulkan kerusakan dalam masyarakat dan lingkungan.
  3. Membuat kita berkonsentrasi penuh, terlibat penuh, menyenangkan, sampai lupa waktu (engaging, enjoyable, dan feels good). Tidak setengah-setengah. Pikiran tidak bercabang. Kita memberikan seluruh perhatian dan waktu kita.
Menurut riset Gardner, manusia sebenarnya didesain untuk melakukan pekerjaan goodwork. Maksudnya, di luar goodwork, kita tidak memiliki integritas. Kita akan sakit.
Perhatikan bahwa tidak ada dalam kriteria goodwork soal gaji. Tapi saya pikir itu agak implisit di kriteria tiga. Jadi kalau kita tidak merasa dibayar pantas, maka kita tidak akan senang. Dan perasaan kita akan terganggu. Kita tidak bisa engage.
Tapi saya kira dalam prakteknya gaji itu ngikut. Kalau kita melakukan goodwork sebaik mungkin, secara ajaib gaji juga ikut naik, melebihi yang kita perlukan. Kalau tidak percaya, coba saja.
Jadi kita harus tanggalkan cara berpikir lama, bahwa kita bekerja untuk mendapatkan gaji. Kita adopsi hasil riset Gardner itu. Mulai sekarang kita melakukan goodwork: excellent, ethical, dan engaging.

Sabtu, 29 September 2012

Kinect Disneyland



Kinect Disneyland Adventures Review

GamerPops Score

Publisher: Microsoft Studios

Developer: Frontier Developments

Reviewed for: Xbox 360 Kinect

Also available for: None

rating
This review uses GamerPops' Kid's Game Metric, emphasizing age-appropriate content and challenge, kid-friendly controls, engagement, creative thinking, value, learning opportunities, and problem solving.
Kinect Disneyland Adventures Snow White
When we first heard about Kinect Disneyland Adventures, there was a lot to like. Sure, the section of the Microsoft presser at E3 devoted to the game was a little hokey with the paid child actors, etc., but that’s about par for the course for the show anyways, and the potential was amazing.  We loved the idea, we loved the direction we were seeing. We basically knew that this could be huge.
And then we got some time with the game. Even with the conspicuous disclaimers about it being a demo build and not a finished product, there was just a feeling we couldn’t shake. That little bit of doubt tugging at your optimism. We know that Kinect can be a challenge, control-wise, and the demo’s controls were anything but tight. But, we reasoned, they have lots of time to flesh that part out before launch, and everything else was aces. Navigating Disneyland? Playing minigames inspired by park attractions and locations? Getting character autographs and hugging them? Heck, we couldn’t decide if it was sheer stupidity to make the game and eliminate the need to visit the actual park, or if it was the greatest ad for Disneyland we’d ever seen.
And now the finished product is here. The experience is everything we thought it would be, and more. Unfortunately, the controls are everything we thought they might be, too. And yet somehow, maybe because of that clichéed “Disney Magic”, it still ends up being that rarest of creatures, the Technically Flawed Yet Must Own Game, at least for kids.
Kinect Disneyland Adventures Donald Duck
Insert the obligatory "cheaper than a trip to the REAL Disneyland" comment here.

The Parent Perspective

Kinect Disneyland Adventures is a rare game that manages to overcome iffy controls to present an experience that should be on the must-have list of every family with younger children. I’m not really sure what’s in the Kool-Aid here, but “Disney Magic” is abundant in this adventure. It really is a well done virtual trip to Disneyland that you take, and there’s no denying how much kids love the place.
After a bit of a learning curve with the controls, it is fairly easy to get into the game. Since it’s all body-based, kids will be able to pick up on things fairly quickly. In the minigames, your characters can never die. If they hit an obstacle they simply disappear for a second and then come back, allowing you to continue the game and not worry about returning to checkpoints. Overall, the difficulty is not all that onerous. The game knows its audience well and caters to it. Kids could get frustrated with some of the control issues I mention later, though.
When engaging in side quests, there is a constant gold trail that directs you where you need to go next, meaning kids will be able to figure out their next activity pretty easily. Sometimes you need to look around a bit to find it, but it’s there (think the golden trail in Fable 3). The game also features some of the best drop-in, drop-out co-op play I’ve seen in a game in quite some time. If somebody jumps into the playing area, a second player appears on screen. During park navigation, only the primary player controls movement while the second player tags along, though the second player can interact with characters. Plus, the minigames allow for a second player to join in the fun.
For content, the game is rated 10+ as there will be a bit of cartoony violence. It’s not bad, and is about what you would expect from a Disney property. It all comes from the minigames where sometimes you have to throw projectiles at enemies, swordfight, and other actions. Defeated enemies typically just pass out or disappear. I would really have no problem going younger that 10 from a content standpoint, in fact, you might see some of this stuff on a regular visit to Disneyland.
Kinect Disneyland Adventures Pirates
Why yes, Disney IS milking the Pirates of the Caribbean franchise, why do you ask?

The Review

I actually wish Disney had held off approving this game. Kinect, while a remarkable piece of technology, needs further refinement to create a tight controlling experience, and my biggest fear was that an incredible family gaming experience was going to wasted on shabby controls. Turns out, my fears were somewhat justified, but because they absolutely NAILED everything else, it manages to overcome what are at times frustrating controls.
There are two main parts to the game. One is the open sandbox world that you can explore. Of course, it should be mentioned that the sandbox is freaking DISNEYLAND. You could just run around exploring a fairly solid recreation of Disneyland all day if you want. There are rides you can go on, places to take pictures, characters to meet, and other authentic Disneyland experiences to partake of. If you like, you can collect coins to use in shops, and go on quests given to you by the characters that you meet. These quests usually involve looking for items or talking to other characters. There are so many hidden secrets and things to collect, it rivals any AAA title I’ve played recently. Frontier could have easily made park exploration a game on its own.
The controls for the park section of the game are actually not bad at all. It’s a challenge to find a way to actually navigate and walk around using only your body, but the way Disneyland Adventures does it works well. You use your arms to navigate everything, pointing forward to move in that direction, and putting moving your right arm out to turn right and left arm out to turn left. There are also gestures for accessing the menu and for using various accessories you collect like a camera for taking pictures or a magic wand for unlocking secrets and getting more coins. I found the gestures for the park navigation in general to be very good and responsive. My 8-year-old son did say he found it a challenge to navigate the park, and I’ll agree that at first it’s difficult to figure out. Once you get some practice with it, you can nail it, especially the turns. There are a couple of challenges, as having your arm in front of you will cause fatigue and will result in a lot of arm switching (which isn’t an option if you’re carrying an object sometimes). Plus I would have liked an option for running, especially for longer treks. It’s also a bit annoying when you walk into the circle around a character or attraction because it slows you right down. I understand the need for this (so you don’t overshoot them), but it does delay things a lot. Fortunately, you can bypass the park by using the menus if there’s a specific attraction or place you want to get to and don’t want to go on a sidequest at that point.
Kinect Disneyland Adventures Alice in Wonderland
Alice is just as weird in the game as it is in the stories and movies.
The second part of the game is at times the best and the worst part of the game. This would be the attractions available. These are typically re-imaginings of class Disneyland attractions like Pirates of the Caribbean, It’s a Small World, Peter Pan’s Flight, and more. There are times you’ll find yourself totally immersed in amazing experiences like skiing down the Matterhorn with Goofy, rolling in a croquet ball with Alice in Wonderland, or going on a daring space mission with Buzz Lightyear in Buzz Lightyear Astro Blasters. Unfortunately, some of these experiences are made a bit less enjoyable by less-than-responsive or inaccurate controls. Sometimes it’s lag, sometimes it’s a poor control choice, sometimes Kinect just totally misreads what you want to do. Throwing an object, for example, is nowhere close to accurate and sometimes I’d throw a snowball right at something (or so I thought) and it would just fly off to the right. And when a game is awarding points and stars based upon how well you do in a minigame, that gets frustrating fast. Some minigames work better than others. It’s a Small World is mostly matching dance moves, which Kinect is typically fairly good with. With practice, anything with “Lean to Steer” can be done moderately well. But throwing and swordplay, basically motions involving using your arms, forget about it.
These experiences could have been the star of the show, and to an extent they still are. If you can ignore, or at least get past, the control issues with some games, the attractions part of the game is a great experience to behold. And while kids might appreciate it most, there were times I was caught up in how cool the whole thing was. Of course, you can go back to try and improve your score and get more and better pins. Yes, the minigames are a lot of the same things that you might have played already on Kinect, but it’s how they get dressed up that makes the big difference here.

The GamerPops Recommendation

Kinect Disneyland Adventures is one of those rare games that does so many things well that you can almost overlook big issues like control issues and presentation issues (there is some really bad pop-in and graphical glitches from time to time). There’s a HUGE world to explore, collectibles o’ plenty, great drop-in, drop-out play, and magical experiences that even an adult could get lost in from time to time. The control issues do cost it, of course, and while I’ll normally advise against games with those kind of issues, there’s just too much other great stuff to play with here to more than make up for it. If this game could get updated if/when we get a next iteration of Kinect with more precise tracking, Microsoft will have an even bigger success on its hands. For now, it’s still worthy of a purchase and highly recommended for the Disney fan in your house.
A review copy was provided to GamerPops.
Kinect Disneyland Adventures Main Street Pluto
Somebody should really tell Mickey they found his dog.

ESRB Rating Summary

Rating: Everyone 10+
Content descriptors: Mild Cartoon Violence
Rating summary: This is an adventure game in which players explore a Disneyland theme park and embark on quests modeled after major rides and attractions. As they run, jump, and fly around fantastical 3D environments, players sometimes use fruit, snowballs, and “cartoony” bombs to defeat various animals/creatures (e.g., robots, crocodiles, yetis, pirates). In some sequences, players engage in battles with villains from various Disney movies: a swordfight with Peter Pan’s Captain Hook; a laser battle with Toy Story’s Emperor Zurg). Combat is sometimes accompanied by laser fire, sword-clanging sounds, and colorful explosions as enemies’ health meters are drained.