link: Mananging Consultant

Cari Blog Ini

Rabu, 05 Agustus 2009

High Speed Downlink Packet Access

Teknologi HSDPA (High Speed Downlink Packet Access )
Written by FITRIYANA_ 111068051
Wednesday, 10 December 2008 08:21

HSDPA (High Speed Downlink Packet Access) menghadirkan keistimewaan baru dengan transfer data yang cepat, yang dirilis oleh 3GPP (The 3rd Generation Partnership Project) dengan mengacu pada pengembangan laju kecepatan data pada arah downlink UMTS. Berikut perbandingan HSDPA dengan teknologi sebelumnya :

Tabel 2.1 Perbandingan bitrate dari 2G sampai 3,5G




Arsitektur HSDPA

HSDPA memperkenalkan semua efisiensi sistem dengan meminimalkan pengubahan yang telah ada pada arsitektur jaringan UMTS. Dalam radio interface protokol UMTS, 2 layer protokol yang sangat penting yang diimplementasikan pada Node B adalah MAC (Medium Access Control) dan physical layer. Dengan memperkenalkan HSDPA, dilakukan penambahan MAC sub-layer pada Node-B yang dikenal dengan MAC-hs (Medium Access Control – high speed).





Struktur Kanal Pisik HSDPA

Berikut ini merupakan penambahan tiga kanal baru pada sistem HSDPA :

a. High Speed downlink Shared Channel (HS-DSCH)

b. High Speed Shared Control Channel (HS-SCCH)

c. High speed Dedicated Physical Control Channel (HS-DPCCH)



Gambar 2..2 kanal HSDPA




HS-DSCH merupakan kanal transport yang mirip dengan DSCH pada UMTS (rel.99). HS-DSCH merupakan transport channel arah downlink pada HSDPA yang dapat digunakan untuk mengirim paket data oleh beberapa user dalam satu cell.


HS-SCCH merupakan kanal laju data yang tetap yang digunakan untuk signaling pada arah downlink antara Node B dan UE sebelum memulai penjadwalan TTI. Kanal ini memberitahu UE bila ada data pada HS-DSCH yang dialamatkan ke UE tertentu, dan memberikan UE perubahan parameter dengan cepat yang diperlukan untuk penerimaan HS-DSCH.


HS-DPCCH merupakan kanal pada arah uplink dengan bandwidth yang rendah yang digunakan untuk membawa informasi signaling ACK/NACK. Kanal ini akan memberitahukan apakah hubungan transmisi pada arah downlink telah sukses didokodekan dan CQI (Channel Quality Indicator) yang digunakan telah sesuai dengan link adaptation.


Arsitektur Medium Access Control – High Speed (MAC-hs)

MAC-hs bertanggung jawab untuk keputusan Scheduling yang sebelumnya diberikan pada RNC. Gambar berikut merupakan element-element yang dibangun pada sisi UE MAC-hs,




















Satu proses HARQ yang muncul untuk setiap UE per TTI yang mengatur tugas yang disediakan untuk level retransmisi RLC. Konfigurasi dari protokol HARQ disediakan oleh RRC. Block data yang sukses yang diterima diantrikan sesuai Transmission Sequence Number (TSN) dalam permintaan ulang penambahan distribusi antrian. Setiap UE dapat terdiri dari lebih dari satu aliran data dengan aplikasi jaringan multi-tasking. Permintaan ulang penambahan berikutnya mengatur blok data yang diterima berdasarkan kelas prioritasnya. Penambahan de-assembly kemudian membangkitkan pendekatan MAC-d PDUs dari urutan blok data yang tersedia pada antrian permintaan ulang.



Penambahan flow control antara RNC dan Node B meyakinkan bahwa buffer pada MAC-hs berisi cukup paket data untuk memaksimalkan throughput sistem saat menghindari paket loss yang seharusnya pada buffer overflow. Lebih dari itu, mekanisme flow control menjamin bahwa panjang buffer MAC-hs dijaga serendah mungkin agar mengurangi memory space yang diperlukan, round-trip delay dan packet loss pada handoff. Flow control disediakan secara tersendiri oleh prioritas kelas untuk masing-masing aliran MAC-d.



Radio Link Control (RLC)

Layer protokol RLC diimplementasikan pada RNC. RLC mengatur segmentasi dan retransmisi untuk kedua user dan control data. RLC dapat dibedakan dalam 3 mode :



1. Transparant mode, ketika tidak ada overhead yang ditambahkan dalam layer RLC.

2. Unackowledged Mode, tidak ada retransmisi protokol yang digunakan dan data yang dikirim tidak dijamin. Error yang diterima juga tidak diberi tanda error atau dibuang pada konfigurasinya. Sebuah penambahan Radio Link Control (RLC) pada unacknowledged mode didefinisikan seperti tidak memiliki arah karena tidak ada kesepakatan antara arah uplink dan downlink yang diperlukan. Unacknowledged mode contohnya digunakan pada aplikasi VoIP yang tidak memerlukan retransmisi pada RLC.

3. Acknowledged Mode, pada mode ini digunakan mekanisme HARQ untuk koreksi error. Segmentation, concatenation, padding dan duplicate detection disediakan oleh bagian header yang ditambahkan pada data.


Keistimewaan Teknologi HSDPA

Adaptive Modulation and Coding (AMC)

AMC merupakan teknologi utama pada HSDPA dimana feedback dari UE digunakan untuk menentukan skema coding dan modulasi yang akan digunakan berdasarkan CQI (Channel Quality Indicator). Proses ini dilakukan untuk setiap TTI dengan tujuan untuk memaksimalkan data rate dari UE dengan kondisi kanal yang baik. Modulasi pada HS-DSCH dilakukan secara adaptif dengan pemilihan modulasi QPSK (Quadrature Phase Shift Keying) atau 16 QAM (Quadrature Amplitude Modulation).


Hybrid Automatic Repeat dan reQuest (HARQ)

HARQ meningkatkan performansi dan menambah ketahanan terhadap error pada link adaptation. Penerima akan mengirim NACK melalui HS-DPCCH ketika mendeteksi error pada paket data yang diterima setelah 7.5 time slot dari akhir TTI HS-DSCH. Teknologi HARQ mengkombinasikan FEC (Forward Error Correction) dan ARQ untuk menyelamatkan informasi dari kegagalan transmisi sebelumnya untuk keperluan decoding pada UE.

Fast Scheduling

Pendjawalan merupakan element dasar pada teknologi HSDPA, karena scheduler dapat mempengaruhi karakteristik dari performansinya. Pada masing-masing TTI, scheduler menentukan ke arah mana terminal HS-DSCH akan ditransimisikan dan bersamaan dengan AMC, yang mengarahkan laju datanya. Scheduler HSDPA terletak pada Node B.


Round Robin

Algoritma Round Robin mengalokasikan kanal kepada user dalam suatu urutan berputar yang menawarkan suatu fair time resource sharing antara user. Karena algoritma ini mengabaikan kondisi kanal, maka algoritma tidak memberikan throughput yang adil antara user. Dan juga algoritma ini tidak memberikan adaptasi penjadwalan terhadap perubahan kondisi kanal yang singkat menyebabkan mengabaikan metode adaptasi cepat yang dikenalkan oleh sistem HSDPA. Hal ini menyebabkan algoritma ini memberikan throughput pada sel rendah. Keuntungan dari metode ini adalah sederhana dalam penerapannya.

Maximum C/I

Dalam Algoritma ini, BTS melakukan tracking kualitas kanal terhadap masing-masing user dengan mengukur SIR (Signal to Interference Ratio) pada kanal CPICH (Common Pilot Indicator Channel) dan mengalokasikan HS-DSCH lebih pada user yang mempunyai SIR terbaik. Dalam kondisi ideal ketika kondisi kanal dari user-user menampilkan statistik yang sama, algoritma ini dapat memaksimalkan throughput tiap-tiap user. Dalam realitanya, statistik tidak simetris karena user-user bisa jadi lebih dekat dengan BTS dengan rata-rata SIR lebih baik, atau user-user berada pada tepian sel yang relatif memiliki kondisi lebih buruk, stationary atau bergerak dengan kecepatan tinggi, dalam lingkungan yang kaya dengan scatering atau tanpa terjadi scatering pada lingkungan. Oleh karena itu dengan menggunakan Maximum C/I, user yang memiliki SIR lebih baik diberikan skema modulasi yang lebih tinggi (yakni, laju transmisi yang lebih tinggi) dan user yang memiliki SIR buruk yakni user yang berada ditepian sel akan menderita dikarenakan alokasi kanal HS-DSCH lebih sedikit. Meski algoritma ini dapat memaksimalkan throughput pada sel akan tetapi memunculkan masalah fairness antara user terutama user berada ditepian sel.



FCDS (Fair Channel-Dependent Scheduling)





FCDS merupakan scheduler yang lebih praktis yang menggabungkan metode Round Robin dan metode Maximum C/I. FCDS menggunakan beragam kondisi kanal radio untuk meningkatkan kapasitas sistem pada saat diimplementasikan pada degree of fairness. Karena itulah FCDS dapat dikatakan sebagai trade-off antara 2 metode scheduling tersebut. Penjadwalan FCDS berdasarkan pada relative power. Sehingga level transmisi dari semua user pertama-tama diterjemahkan berdasarkan variasi shadow fading dan/atau multipath yang diterima. Kemudian dinormalisasikan dengan standar deviasi.

Selasa, 04 Agustus 2009

HSDPA

HSDPA (HIGH SPEED DOWNLINK PACKET ACCESS)
Written by admin
Thursday, 07 May 2009 02:30

HSDPA adalah evolusi dari WCDMA, merupakan protokol tambahan pada sistem tersebut yang mampu mentransmisikan data berkecepatan tinggi. Dimana HSDPA merupakan standar HSPA dengan kemampuan dari sisi kecepatan transfer downlinknya (dari jaringan ke handset), dan dapat mencapai kecepatan downlink 7.2 Mbps yang secara teori dapat ditingkatkan sampai kecepatan 14.4 Mbps dengan maksimum uplink 384 kbps. HSDPA fase pertama berkapasitas 4.1 Mbps, fase 2 berkapasitas 11 Mbps dan kapasitas maksimal downlink peak data rate hingga mencapai 14 Mbit/s. Kecepatan jaringan HSDPA dilingkungan perumahan dapat melakukan download data berkecepatan 3.7 Mbps. Seseorang yang sedang berkendara dengan kecepatan 100 km/jam dapat mengakses internet berkecepatan 1.2 Mbps, sementara pengguna dilingkungan yang padat masih dapat menikmati streaming video meskipun hanya memperoleh 300 kbps.



Kelebihan HSDPA:



1. Mengurangi keterlambatan (delay)



2. Memberikan respon yang lebih cepat saat pengguna memberikan aplikasi interaktif seperti mobile office atau akses internet berkecepatan tinggi, yang dapat disertai pula



Arsitektur HSDPA



Arsitektur UTRAN (UMTS Terrestrial Radio Access Network) dibangun oleh satu atau beberapa Radio Network System (RNS) yang terhubung pada Core Network (CN). RNS dapat dibagi menjadi dua entity, yaitu Radio Network Controller (RNC) dan Node B atau base station Node B pada HSDPA tidak hanya terdiri atas layer fisik, terdapat juga MAC (Medium Access Control) layer seperti terlihat pada gambar diatas . MAC-hs merupakan entity MAC yang menangani transport channel HS-DSCH. MAC-hs memiliki peran dalam fungsi retransmisi ARQ (Automatic Repeat Request) dan Scheduling dalam menangani prioritas paket . Dengan adanya MAC layer pada node B, maka proses retransmisi dapat terjadi lebih cepat dan delay untuk men-decode paket dapat berkurang karena round-trip retransmisi yang lebih pendek.












Walaupun fungsi MAC layer ditambahkan di node B, RNC pada HSDPA masih melakukan fungsi RLC (Radio Link Control) seperti pada protokol WCDMA. Pada kasus tertentu, yaitu dimana batas maksimum retransmisi oleh physical layer telah dicapai, proses retransmisi akan ditangani oleh layer RLC di RNC.



Channel-Channel pada HSDPA



Channel-channel yang digunakan pada WCDMA juga digunakan pada HSDPA, namun pada HSDPA diperkenalkan sebuah transport channel baru yang mendukung tercapainya evolusi HSDPA yaitu HS-DSCH. Untuk implementasi HSDPA selain digunakan HS-DSCH, penambahan kanal kontrol juga dilakukan pada platform WCDMA, yaitu High Speed Shared Control Channel (HS-SCCH), dan High Speed Dedicated Physical Control Channel (HS-DPCCH).





HS-DSCH (High Speed Downlink Shared Channel)



HS-DSCH merupakan transport channel arah downlink pada HSDPA yang dapat digunakan untuk mengirim paket data oleh beberapa user dalam satu cell. HS-DSCH memiliki Spreading Factor (SF) tetap sebesar 16, berbeda dengan DSCH pada WCDMA yang memiliki SF variable antara 4 hingga 256. Transmission Time Interval (TTI) pada HS-DSCH sebesar 2 ms adalah lebih pendek jika dibandingkan dengan TTI sebesar 10, 20, 40, atau 80 ms yang digunakan pada channel-channel sejenis sebelumnya. HS-DSCH dapat dipetakan ke satu atau beberapa HS-PDSCH (High Speed Physical Downlink Shared Channel). Oleh karena itu HSDPA dapat melakukan multicode operation menggunakan hingga 15 channelization codes berdasarkan kategori UE (User Equipment). Satu TTI pada HS-PDSCH terdiri atas tiga time slot seperti tampak pada gambar di bawah ini.








HS-SCCH (High Speed Shared Control Channel)




HS-SCCH merupakan downlink physical channel dengan SF tetap sebesar 128 yang membawa informasi kunci yang diperlukan untuk HS-PDSCH. Satu TTI pada HS-SCCH terdiri atas tiga time slot. Informasi yang kritis terhadap waktu (time critical) diletakkan pada slot pertama HS-SCCH, seperti channelization codes set (7 bit) dan skema modulasi (1 bit). Dua slot selanjutnya mengandung informasi non-time critical seperti Cyclic Redundancy Check (16 bit), transport block size (6 bit), redundancy and constellation version (3 bit), informasi HARQ, dan new data indicator (1 bit).





HS-DPCCH (High Speed Dedicated Physical Control Channel)



Selain berasosiasi dengan HS-SCCH, HS-DSCH juga berasosiasi dengan satu dedicated uplink physical control channel pada arah uplink, yakni HS-DPCCH. SF pada HS-DPCCH adalah tetap sebesar 256. HS-DPCCH membawa informasi control yang diperlukan dalam pengiriman paket data, seperti ARQ acknowledgement (ACK/NACK) serta CQI (Channel Quality Indicator). Nilai bit pada slot HS-DPCCH digunakan untuk memilih skema modulasi dan koding untuk pengiriman selanjutnya, dari QPSK dengan turbo code R=1/4 hingga 16-QAM dengan turbo code R=3/4. Termasuk memilih untuk tidak melakukan pengiriman jika kondisi kanal buruk .





Fitur-Fitur pada HSDPA



Untuk meningkatkan performansi sistem pada jaringan WCDMA, pada HSDPA dilakukan perubahan-perubahan pada radio interfaces yang berpengaruh pada physical layer dan transport layer. Fitur-fitur tersebut antara lain adalah penggunaan AMC, HARQ, serta fast scheduling.





AMC (Adaptive Modulation and Coding)



AMC merupakan teknologi utama pada HSDPA dimana feedback dari UE digunakan untuk menentukan skema coding dan modulasi yang akan digunakan berdasarkan CQI (Channel Quality Indicator) . Proses ini dilakukan untuk setiap TTI dengan tujuan untuk memaksimalkan data rate dari UE dengan kondisi kanal yang baik. Modulasi pada HS-DSCH dilakukan secara adaptif dengan pemilihan modulasi QPSK (Quadrature Phase Shift Keying) atau 16 QAM (Quadrature Amplitude Modulation). QPSK merupakan modulasi M-ary PSK (Phase Shift Keying) dengan beda fasa untuk masing-masing simbol sebesar 90 derajat. QPSK merepresentasikan 2 bit dalam setiap simbol. QAM merupakan kombinasi jenis modulasi M-ary ASK (Amplitude Shift Keying) dan M-ary PSK. Pada sistem HSDPA jenis QAM yang digunakan adalah 16-QAM dimana tiap simbolnya merepresentasikan 4 bit . Untuk mendapatkan throughput maksimal digunakan 16-QAM dengan turbo code R=3/4. Jika kondisi kanal buruk digunakan QPSK dengan turbo code R=1/4 serta kombinasi skema modulasi dan koding di antara kondisi tersebut.










HARQ (Hybrid Automatic Repeat and Request)




HARQ meningkatkan performansi dan menambah ketahanan terhadap error pada link adaptation. Penerima akan mengirim NACK melalui HS-DPCCH ketika mendeteksi error pada paket data yang diterima setelah 7.5 time slot dari akhir TTI HS-DSCH. Teknologi HARQ mengkombinasikan FEC (Feed Error Correction) dan ARQ untuk menyelamatkan informasi dari kegagalan transmisi sebelumnya untuk keperluan decoding pada UE .










Untuk retransmisi, HARQ menggunakan TBS (Transport Block Size) yang sama dengan transmisi sebelumnya dimana jumlah bit informasi yang dikirimkan sama. Namun jenis modulasi, channelization code atau daya transmisi yang digunakan dapat berbeda. HARQ pada HSDPA dapat terdiri atas teknik berikut: - Chase Combining (CC) Pada CC, bit-bit yang sama akan dikirimkan pada retransmisi ketika terjadi error pada proses decoding. Paket transmisi digabungkan dengan paket sebelumnya (soft combining) untuk dapat di-decode selanjutnya. - Incremental Redundancy (IR) Pada IR, bit parity tambahan dikirimkan saat terjadi error pada proses decoding. Bit parity tambahan ini digunakan bersama dengan bit parity yang asli sehingga dapat mengurangi code rate.









Fast Scheduling



Fast Scheduling merupakan mekanisme untuk menentukan user mana yang akan ditransmisikan paket data terlebih dahulu selama satu TTI. Dengan adanya MAC-hs pada node B maka delay transmisi paket yang terjadi dapat dikurangi. Tiga cara penjadwalan dipakai dalam sistem HSDPA yaitu Round Robin (RR), Maximum C/I, dan Proportional Fair (PF). Penjadwalan RR bekerja berdasarkan posisi antrian, first in first out. Meksipun paling sederhana dan fair, kondisi kanal yang dipakai UE tidak dijadikan pertimbangan. Sebagai konsekuensinya pengguna tetap dijadwal meskipun kondisi kanal buruk. Algoritma Maximum C/I menjadwal UE berdasarkan rasio C/I sesaat. User dengan nilai C/I paling tinggi akan mendapatkan prioritas lebih tinggi . Asumsinya seluruh UE memiliki level MCS (Modulation and Coding Scheme) tertinggi untuk melakukan transmisi. Hal tersebut kurang fair karena menyebabkan hampir setengah pengguna sel tidak memperoleh pelayanan yang cukup. PF merupakan bentuk kompromi antara RR dan Maximum C/I. PF bekerja berdasarkan keseimbangan antara rata-rata Throughput yang diperoleh dengan data rate sesaat. Hasilnya setiap pengguna dilayani saat kondisi kanal mendukung. Lebih fair karena kondisi kanal waktu tertentu pasti lebih baik daripada rata-ratanya.



Konfigurasi Jaringan HSDPA



Berikut ini merupakan konfigurasi jaringan HSDPA :










Skema struktur jaringan HSDPA secara umum terdiri dari :



1. UE ( Unit Equipment ) Merupakan perangkat atau terminal pada sisi pelanggan yang berupa headset untuk mengirim dan menerima informasi.



2. Node B ( Base Transceiver Station ) Merupakan perangkat untuk mengkonversi aliran data antara interface Uu dan Iub, juga berperan dalam radio resource management.



3. RNC ( Radio Network Controller ) Radio Network Controller (RNC) di GSM disebut BSC : bertanggung jawab untuk mengontrol sumber radio dalam jaringan (satu atau lebih Node B terhubung ke RNC). Suatu RNC yang dengan beberapa Node B membentuk Radio Network Subsystem (RNS).



4. Core network, terdiri dari beberapa bagian : Serving GPRS Support Node (SGSN) : berfungsi sama halnya seperti MSC/VLR tetapi secara khusus digunakan untuk servis Packet Switched (PS). Gateway GPRS Support Node (GGSN) : berfungsi sama halnya seperti GMSC tetapi berhubungan dengan servis-servis PS.











FENI NORHAYATIH_ (111068005)



ANALISIS PERFORMANSI SISTEM LOAD SHARING PADA JARINGAN HSDPA



(THE ANALISYS OF LOAD SHARING SYSTEM PERFORMANCE AT HSDPA NETWORK )

Rabu, 13 Mei 2009

Voice over IP

Voice over IP
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
(Dialihkan dari VoIP)
Langsung ke: navigasi, cari

Voice over Internet Protocol (juga disebut VoIP, IP Telephony, Internet telephony atau Digital Phone) adalah teknologi yang memungkinkan percakapan suara jarak jauh melalui media internet. Data suara diubah menjadi kode digital dan dialirkan melalui jaringan yang mengirimkan paket-paket data, dan bukan lewat sirkuit analog telepon biasa.

Definisi VoIP adalah suara yang dikirim melalui protokol internet (IP).
Daftar isi
[sembunyikan]

* 1 Perbandingan dengan jaringan suara konvensional
o 1.1 Aplikasi VoIP dan Keamanannya
o 1.2 Keuntungan VoIP
o 1.3 Kelemahan dari VoIP
o 1.4 Komunitas VoIP
o 1.5 Kualitas suara
o 1.6 Kesimpulan
o 1.7 Pranala luar

[sunting] Perbandingan dengan jaringan suara konvensional

Pada jaringan suara konvesional pesawat telepon langsung terhubung dengan PABX (Privat Automated Branch exchange) atau jika milik TELKOM terhubung langsung dengan STO (Sentral telepon Otomat) terdekat. Dalam STO ini ada daftar nomor-nomor telepon yang disusun secara bertingkat sesuai dengan daerah cakupannya. Jika dari pesawat telepon tersebut mau menghubungi rekan yang lain maka tuts pesawat telepon yang ditekan akan menginformasikan lokasi yang dituju melalui nada-nada DTMF, kemudian jaringan akan secara otomatis menghubungkan kedua titik tersebut.

Bentuk paling sederhana dalam sistem VoIP adalah dua buah komputer terhubung dengan internet. Syarat-syarat dasar untuk mengadakan koneksi VoIP adalah komputer yang terhubung ke internet, mempunyai kartu suara yang dihubungkan dengan speaker dan mikropon. Dengan dukungan perangkat lunak khusus, kedua pemakai komputer bisa saling terhubung dalam koneksi VoIP satu sama lain.

Bentuk hubungan tersebut bisa dalam bentuk pertukaran file, suara, gambar. Penekanan utama untuk dalam VoIP adalah hubungan keduanya dalam bentuk suara. Jika kedua lokasi terhubung dengan jarak yang cukup jauh (antar kota, antar negara) maka bisa dilihat keuntungan dari segi biaya. Kedua pihak hanya cukup membayar biaya pulsa internet saja, yang biasanya akan lebih murah daripada biaya pulsa telepon sambungan langsung jarak jauh (SLJJ) atau internasional (SLI).

Pada perkembangannya, sistem koneksi VoIP mengalami evolusi. Bentuk peralatan pun berkembang, tidak hanya berbentuk komputer yang saling berhubungan, tetapi peralatan lain seperti pesawat telepon biasa terhubung dengan jaringan VoIP. Jaringan data digital dengan gateway untuk VoIP memungkinkan berhubungan dengan PABX atau jaringan analog telepon biasa. Komunikasi antara komputer dengan pesawat (extension) di kantor adalah memungkinkan. Bentuk komunikasi bukan Cuma suara saja. Bisa berbentuk tulisan (chating) atau jika jaringannya cukup besar bisa dipakai untuk Video Conference. Dalam bentuk yang lebih lanjut komunikasi ini lebih dikenal dengan IP Telephony yang merupakan komunikasi bentuk multimedia sebagai kelanjutan bentuk komunkasi suara (VoIP). Keluwesan dari VoIP dalam bentuk jaringan, peralatan dan media komunikasinya membuat VoIP menjadi cepat popular di masyarakat umum.

Khusus untuk VoIP bentuk primitif dari jaringan adalah PC ke PC. Dengan memakai PC yang ada soundcardnya dan terhubung dengan jaringan maka sudah bisa dilakukan kegiatan VoIP . Perkembangan berikutnya adalah pengabungan jaringan PABX dengan jaringan VoIP. Disini dibutuhkan VoIP gateway. Gambarannya adalah lawan bicara menggunakan komputer untuk menghubungi sebuah office yang mempunyai VoIP gateway. Pengembangan lebih jauh dari konfigurasi ini berbentuk penggabungan PABX antara dua lokasi dengan menggunakan jaringan VoIP. Tidak terlalu dipedulin bentuk jaringan selama memakai protocol TCP/IP maka kedua lokasi bisa saling berhubungan. Yang paling komplek adalah bentuk jaringan yang menggunakan semua kemungkinan yang ada dengan berbagai macam bentuk jaringan yang tersedia. Dibutuhkan sedikit tambahan keahlian untuk bentuk jaringan yang komplek seperti itu.

Pada awalnya bentuk jaringan adalah tertutup antar lokasi untuk penggunaan sendiri (Interm, Privat). Bentuk jaringan VoIP kemudian berkembang lebih komplek. Untuk penggunaan antar cabang pada komunikasi internal, VoIP digunakan sebagai penyambung antar PABX. Perkembangan selanjutnya adalah gabungan PABX tersebut tidak lagi menggunakan jaringan tertutup tetapi telah memakai internet sebagai bentuk komunikasi antara kantor tersebut. Tingkat lebih lanjut adalah penggabungan antar jaringan. Dengan segala perkembangannya maka saat ini telah dibuat tingkatan (hirarky) dari jaringan Voip.

[sunting] Aplikasi VoIP dan Keamanannya

Salah satu aplikasi VoIP yang tersedia adalah Skype. Skype adalah [[software]] aplikasi komunikasi suara berbasis IP melalui internet antara sesama pengguna Skype. Pada saat menggunakan Skype maka pengguna Skype yang sedang online akan mencari pengguna Skype lainnya lalu mulai membangun jaringan untuk menemukan pengguna-pengguna lainnya. Skype memiliki berbagai macam fitur yang dapat memudahkan penggunanya. Skype juga dilengkapi dengan SkypeOut dan SkypeIn yang memungkinkan pengguna Skype untuk berhubungan dengan pengguna telepon konvensional dan telepon genggam.

Skype menggunakan protokol HTTP untuk berkomunikasi dengan Skype server untuk otentikasi username/password dan registrasi dengan Skype directory server. Versi modifikasi dari protokol HTTP digunakan untuk berkomunikasi dengan sesama Skype client. Keuntungan yang dimiliki aplikasi ini adalah tersedianya layanan keamanan dalam pentransmisian data yang berupa suara. Layanan keamanan yang diberikan adalah sebagai berikut :

* Privacy

Skype menggunakan AES (Advanced Encryption Standard) 256-bit untuk proses enkripsi dengan total probabilitas percobaan kunci (brute-force attack) sebanyak 1,1 x E-77 kali, sedangkan untuk proses pertukaran kunci (key exchange) simetriknya menggunakan RSA 1024-bit. Public key pengguna akan disertifikasi oleh Skype server pada saat login dengan menggunakan sertifikat RSA 1536 atau 2048-bit. Skype secara otomatis akan mengenkripsi semua data sebelum ditransmisikan melalui internet.

* Authentication

Setiap pengguna Skype memiliki sebuah username dan sebuah password. Dan setiap username memiliki sebuah alamat e-mail yang teregistrasi. Untuk masuk ke sistem Skype , pengguna harus menyertakan pasangan username dan passwordnya. Jika pengguna lupa password tersebut maka Skype akan mengubahnya dan mengirimkan password yang baru ke alamat e-mail pengguna yang sudah teregistrasi. Pendekatan ini dikenal dengan E-mail Based Identification and Authentication. Dikarenakan Skype merupakan sistem komunikasi suara maka setiap penggunanya dapat secara langsung mengidentifikasi lawan bicaranya melalui suaranya.

[sunting] Keuntungan VoIP

* Biaya lebih rendah untuk sambungan langsung jarak jauh. Penekanan utama dari VoIP adalah biaya. Dengan dua lokasi yang terhubung dengan internet maka biaya percakapan menjadi sangat rendah.
* Memanfaatkan infrastruktur jaringan data yang sudah ada untuk suara. Berguna jika perusahaan sudah mempunyai jaringan. Jika memungkinkan jaringan yang ada bisa dibangun jaringan VoIP dengan mudah. Tidak diperlukan tambahan biaya bulanan untuk penambahan komunikasi suara.
* Penggunaan bandwidth yang lebih kecil daripada telepon biasa. Dengan majunya teknologi penggunaan bandwidth untuk voice sekarang ini menjadi sangat kecil. Teknik pemampatan data memungkinkan suara hanya membutuhkan sekitar 8kbps bandwidth.
* Memungkinkan digabung dengan jaringan telepon lokal yang sudah ada. Dengan adanya gateway bentuk jaringan VoIP bisa disambungkan dengan PABX yang ada dikantor. Komunikasi antar kantor bisa menggunakan pesawat telepon biasa
* Berbagai bentuk jaringan VoIP bisa digabungkan menjadi jaringan yang besar. Contoh di Indonesia adalah VoIP Rakyat.
* Variasi penggunaan peralatan yang ada, misal dari PC sambung ke telepon biasa, IP phone handset

[sunting] Kelemahan dari VoIP

* Kualitas suara tidak sejernih Telkom. Merupakan efek dari kompresi suara dengan bandwidth kecil maka akan ada penurunan kualitas suara dibandingkan jaringan PSTN konvensional. Namun jika koneksi internet yang digunakan adalah koneksi internet pita-lebar / broadband seperti Telkom Speedy, maka kualitas suara akan jernih - bahkan lebih jernih dari sambungan Telkom dan tidak terputus-putus.
* Ada jeda dalam berkomunikasi. Proses perubahan data menjadi suara, jeda jaringan, membuat adanya jeda dalam komunikasi dengan menggunakan VoIP. Kecuali jika menggunakan koneksi Broadband (lihat di poin atas).
* Regulasi dari pemerintah RI membatasi penggunaan untuk disambung ke jaringan milik Telkom.
* Jika belum terhubung secara 24 jam ke internet perlu janji untuk saling berhubungan.
* Jika memakai internet dan komputer di belakang NAT (Network Address Translation), maka dibutuhkan konfigurasi khusus untuk membuat VoIP tersebut berjalan
* Tidak pernah ada jaminan kualitas jika VoIP melewati internet.
* Peralatan relatif mahal. Peralatan VoIP yang menghubungkan antara VoIP dengan PABX (IP telephony gateway) relatif berharga mahal. Diharapkan dengan makin populernya VoIP ini maka harga peralatan tersebut juga mulai turun harganya.
* Berpotensi menyebabkan jaringan terhambat/Stuck. Jika pemakaian VoIP semakin banyak, maka ada potensi jaringan data yang ada menjadi penuh jika tidak diatur dengan baik. Pengaturan bandwidth adalah perlu agar jaringan di perusahaan tidak menjadi jenuh akibat pemakaian VoIP.
* Penggabungan jaringan tanpa dikoordinasi dengan baik akan menimbulkan kekacauan dalam sistem penomoran

[sunting] Komunitas VoIP

Komunitas pengguna / pengembang VoIP di masyarakat, berkembang di tahun 2000. Komunitas awal pengguna / pengembang VoIP adalah “VoIP Merdeka”.”VoIP Merdeka” (VM) dicetuskan oleh Onno W. Purbo. Teknologi yang digunakan oleh "VoIP Merdeka" (VM) adalah H.323 yang merupakan teknologi awal VoIP. Sentral VoIP Merdeka di hosting di Indonesia Internet Exchange (IIX) atas dukungan beberapa ISP dan Asossiasi Penyelenggara Jaringan Internet (APJII). Kode area "VoIP Merdeka" pada saat itu secara aklamasi di tentukan menjadi 6288, tentunya tanpa memperoleh restu dari pemerintah.

Di tahun 2005, Anton Raharja dkk dari ICT Center Jakarta mulai mengembangkan VoIP jenis baru berbasis Session Initiation Protocol (SIP). Teknologi SIP merupakan teknologi pengganti H.323 yang sulit menembus proxy server. Di tahun 2006, infrastruktur VoIP SIP di kenal sebagai VoIP Rakyat.

[sunting] Kualitas suara

Kualitas suara VoIP dipengaruhi oleh beberapa parameter yaitu kapasitas bandwidth, tingkat hilang paket dan waktu tunda yang terjadi di dalam jaringan. Kapasitas bandwidth adalah ketersediaan sumber daya jaringan dalam bentuk lebar pita yang digunakan untuk mentransmisikan data paket. Tingkat hilang paket adalah parameter yang menyatakan besarnya laju kesalahan yang terjadi sepanjang jalur pengiriman data paket dari pengirim ke penerima. Waktu tunda adalah parameter yang menyatakan rentang waktu yang diperlukan untuk mengirimkan paket dari pengirim ke penerima.

[sunting] Kesimpulan

Dengan segala potensi yang ada terutama sekali biaya yang relatif murah untuk percakapan jarak jauh, VoIP sangat berpotensi dikembangkan. Paradigma bahwa PSTN adalah inti dari jaringan suara harus dirubah bahwa telepon analog biasa adalah bagian dari IP Telephony, yang mengakibatkan perkembangan IPTelePhony akan jauh berkembang dengan pesat dibandingkan telepon analog biasa.

Memanfaatkan idle bandwidth. Jika perusahaan sudah mempunyai jaringan antar cabang VoIP dapat digunakan tanpa menambah biaya jaringan. Tergantung dari system yang mau dipakai, jika hanya antar PC maka tidak ada investasi tambahan untuk membuat jaringan VoIP. Investasi tambahan yang akan muncul jika jaringan VoIP ini digabung dengan PABX.

Perkembangan VoIP akan makin berkembang menjadi IP Telephony, suatu bentuk komunikasi multimedia. Sebagai Alternatif penggunaan telepon, dengan makin maraknya penggunaan VoIP Merdeka Dari 200 ke 1.300 pengguna dalam 1 bulan pertama. Saat ini 3.000 s.d. 4.000 panggilan dalam sehari. Lebih murah, misalkan biaya internet - TelkomNet Instan +/- Rp 10.000/jam, 2 pihak Rp 20.000/jam. Biaya SLJJ Zone 3 (>500km) termurah Rp 505/menit Rp 30.300/jam.

Border Gateway

Border Gateway Protocol (BGP)

Border Gateway Protocol atau yang sering disingkat BGP merupakan salah satu jenis routing protocol yang ada di dunia komunikasi data. Sebagai sebuah routing protocol, BGP memiliki kemampuan melakukan pengumpulan rute, pertukaran rute dan menentukan rute terbaik menuju ke sebuah lokasi dalam jaringan.

Routing protocol juga pasti dilengkapi dengan algoritma yang pintar dalam mencari jalan terbaik. Namun yang membedakan BGP dengan routing protocol lain seperti misalnya OSPF dan IS-IS ialah, BGP termasuk dalam kategori routing protocol jenis Exterior Gateway Protocol (EGP). Exterior, routing protocol jenis ini memiliki kemampuan melakukan pertukaran rute dari dan ke luar jaringan lokal sebuah organisasi atau kelompok tertentu. Organisasi atau kelompok tertentu diluar organisasi pribadi sering disebut dengan istilah autonomous system (AS).

Maksudnya rute-rute yang dimiliki oleh sebuah AS dapat juga dimiliki oleh AS lain yang berbeda kepentingan dan otoritas. Begitu juga dengan AS tersebut dapat memiliki rute-rute yang dipunya organisasi lain. Apa untungnya organisasi lain memiliki rute milik organisasi Anda dan sebaliknya?Keuntungannya adalah organisasi Anda bisa dikenal oleh organisasi-organisasi lain yang Anda kirimi rute. Setelah dikenali rute-rute menuju lokasi Anda, banyak orang yang dapat berkomunikasi dengan Anda. Selain itu, Anda juga menerima rute-rute menuju ke organisasi lain, sehingga Anda juga dapat membangun komunikasi dengan para pengguna yang tergabung di organisasi lain. Dengan demikian, komunikasi dapat semakin luas menyebar.

BGP dikenal sebagai routing protocol yang sangat kompleks dan rumit karena kemampuannya yang luar biasa ini, yaitu melayani pertukaran rute antarorganisasi yang besar. Routing protocol ini memiliki tingkat skalabilitas yang tinggi karena beberapa organisasi besar dapat dilayaninya dalam melakukan pertukaran routing, sehingga luas sekali jangkauan BGP dalam melayani para pengguna jaringan.

Apa yang akan terjadi jika banyak organisasi di dunia ini yang saling berkumpul dan bertukar informasi routing? Yang akan dihasilkan dari kejadian ini adalah INTERNET. Maka dari itu, tidak salah jika BGP mendapat julukan sebagai inti dari eksisnya dunia Internet.

Posted by Dewa Sugianta at 17:05

Senin, 11 Mei 2009

SIP Gateway Diagram

SIP Gateway

Please provide a brief overview of what the purpose of a SIP gateway is, and how it can be used.
Yes that's pretty brief! What I want to understand is - I presume it's bidirectional? It also routes voice back to a SIP server. And the phone it connects to - what sort of phone can be used?
Tags: Sip Gateway


A SIP gateway accepts SIP traffic and routes it to phones.

Media Server is a Computer Appliance

A media server is a computer appliance, ranging from an enterprise class machine providing video on demand, to, more commonly, a small home computer, or NAS (Network Attached Storage), dedicated for storing various digital media (meaning digital videos/movies, audio/music, and picture files).
Contents


* 1 Purpose
* 2 Hardware
* 3 HTPC packages with server capabilities
* 4 TV tuner hardware
* 5 Media Servers in Performance Environments
* 6 Media Servers in Telephony
* 7 See also

Purpose

By definition a media server is a device that simply stores and shares media. This definition is vague, and can allow several different devices to be called Media Servers. It may be a simple Network-attached storage, a media center PC running Windows XP Media Center Edition, MediaPortal or MythTV, or a commercial web server that hosts media for a large web site. In a home setting, a media server acts as an aggregator of information: video, audio, photos, books, etc. These different types of media (whether they originated on DVD, CD, digital camera, or in physical form) are stored on the media server's hard drive. Access to these is then available from a central location. It may also be used to run special applications that allow the user(s) to access the media from a remote location via the internet.

Hardware

The only requirement for a media server is a method of storing media and a network connection with enough speed to allow access to that media. Depending on the uses and applications that it runs, a media server may require large amounts of RAM, or a powerful, multicore CPU. A RAID may be used to create a large amount of storage, though it is generally not necessary in a home media server to use a RAID that gives a performance increase because current home network transfer speeds are slower than that of most current hard drives. However, a redundant RAID configuration may be used to prevent accidental loss of the media files. Many Media servers also have the ability to capture the media. This is done with specialized hardware such as TV tuner cards. Analog TV tuner cards can capture video from analog broadcast TV and output from cable/satellite set top boxes. This analog video then needs to be encoded in digital format to be stored on the Media server. This encoding can be done with software running on the Media server computer or by hardware on the TV tuner card. Digital TV tuner cards take input from broadcast digital TV. In the USA, the ATSC standard is used. In most of the rest of the world, DVB-T is the accepted standard. Since these transmissions are already digital, they do not need to be encoded.

HTPC packages with server capabilities

* GB-PVR
* Got All Media
* LinuxMCE
* MediaPortal / MediaPortal TV Server
* MythTV
* XBMC Media Center

TV tuner hardware

* Vista View Saber Cards. Analog and Combo.
* Hauppauge

Media Servers in Performance Environments

The growing use of motion graphics in environments such as Theatre, Dance, Corporate Events and rock tours has led to the development of media servers designed specifically for live events. These machines are often high-spec home computers with increased RAM or hard drive technologies such as RAID arrays or Solid State Disks. They are then supplied with software which allows the control and manipulation of video content, much like VJ software. One of the primary functions of these machines is to allow current show control technologies to control the playback of video content. Thus, a media server system may include inputs for DMX, MIDI or similar control protocols.

Media Servers in Telephony

In the world of telephony, a media server is the name given to the computing component that processes the audio and/or video streams associated with telephone calls or connections. Conference services are a particular example of how media servers can be used, as a special 'engine' is needed to mix audio streams together so that conference participants can hear all of the other participants. Conferencing servers may also need other specialized functions like "loudest talker" detection, or transcoding of audio streams, and also interpreting DTMF tones used to navigate menus. For video processing, it may be needed to change video streams, for example transcode from one video codec to another or rescale (transrate) a picture from one size to another. This media processing functions are the core responsibility of a media server.

With telephony networks moving more towards VoIP technology, and using Session Initiation Protocol (SIP), the idea of media servers has started to gain some traction. Typically, an application (the 'application server') has the controlling logic, and controls a remote media server (or multiple servers) over an IP connection, possibly using SIP. Protocols such as Netann, MSCML and MSML have been created for this way of working, and a new protocol, MediaCTRL is under development at the IETF.

The IP Multimedia Subsystem (IMS), the blueprint for next generation networks, defines a component called the MRF (Media Resource Function), which is a kind of media server. In the case of IMS, the 'controlling logic' is provided by the MRFC (MRF controller), which, along with layers above constitutes an 'application server'. Although the MRF has been associated largely with the legacy telecom H.248 protocol (see Gateway Control Protocol), it is likely that SIP-based protocols like MediaCTRL will ultimately prevail.

Media Server - Definition

Media Server - Definition

A Media Server, is a network element, deployed in Enterprise and Service Provider voice networks, which supplies media related functions such as media manipulation (e.g. voice stream mixing) and playing of tones and announcements.

Under the IMS (IP Multimedia Subsystem) definitions, a Media Server is defined as an MRF (Media Resource Function). Each MRF is further divided into a Media Resource Function Controller (MRFC) and a Media Resource Function Processor (MRFP). The MRFC is a signalling plane node that acts as a SIP User Agent to the S-CSCF, and which controls the MRFP with a H.248 interface. The MRFP is a media plane node that implements all media-related functions.
Media Server - Synonyms

Media Server; VoIP Media Server; Voice Server; Media Resource Function Processor; MRFP, MS

Media Server

Media Server

Media Server is a global platform offer within the Communication Manager Linux family of servers. Media Server is attractive to enterprises that value the core competencies of Communication Manager such as reliability, performance and security.These enterprises tend to invest carefully to upgrade equipment and add applications to more efficiently manage their business or reduce their cost structure.It is an ideal platform for those businesses with a restricted budget,but place high value on dependable systems that protect their investment and can help them grow with their communication needs.

What's New With This Release

This is the first release for the Media Server. This offer provides the mid size enterprise with a cost effective solution.It supports up to five media gateways and can be used to support multiple location enterprises. It also supports co resident software for voice Messaging, fax messaging, auto attendant and other applications.

Business Benefits

* A cost effective system easily enhanced that will accommodate a growing enterprise.
* Applications that will improve customer service and increase productivity.
* Provides ability for enterprises to migrate to IP telephony at their pace and choice.
* Investment protection by reusing many components.
* Easy migration of system translations thereby reducing migration down time.

Cara-cara Anda Baru

Kumpulan Tips Motivasi Mario Teguh
October 10th, 2008 •

Anda pasti kenal dengan Mario Teguh sang Inspirator yang wajahnya sering menghiasi salah satu TV swasta di Jakarta, dan juga seorang bergerak di bidang Bussiness Efectiveness Consultant. Selain wajahnya yang teduh sekaligus pembawaannya dalam menyampaikan yang khas. Tentu yang takkan pernah terlupakan adalah tips dan motivasinya. Berikut ini adalah Tips Motivasi dari Mario Teguh mudah-mudahan menjadi pemompa semangat bagi kita yang ingin maju.

Jika anda sedang benar, jangan terlalu berani dan
bila anda sedang takut, jangan terlalu takut.
Karena keseimbangan sikap adalah penentu
ketepatan perjalanan kesuksesan anda

Tugas kita bukanlah untuk berhasil. Tugas kita
adalah untuk mencoba, karena didalam mencoba
itulah kita menemukan dan belajar membangun
kesempatan untuk berhasil

Anda hanya dekat dengan mereka yang anda
sukai. Dan seringkali anda menghindari orang
yang tidak tidak anda sukai, padahal dari dialah
Anda akan mengenal sudut pandang yang baru

Orang-orang yang berhenti belajar akan menjadi
pemilik masa lalu. Orang-orang yang masih terus
belajar, akan menjadi pemilik masa depan

Tinggalkanlah kesenangan yang menghalangi
pencapaian kecemerlangan hidup yang di
idamkan. Dan berhati-hatilah, karena beberapa
kesenangan adalah cara gembira menuju
kegagalan

Jangan menolak perubahan hanya karena anda
takut kehilangan yang telah dimiliki, karena
dengannya anda merendahkan nilai yang bisa
anda capai melalui perubahan itu

Anda tidak akan berhasil menjadi pribadi baru bila
anda berkeras untuk mempertahankan cara-cara
lama anda. Anda akan disebut baru, hanya bila
cara-cara anda baru

Ketepatan sikap adalah dasar semua ketepatan.
Tidak ada penghalang keberhasilan bila sikap
anda tepat, dan tidak ada yang bisa menolong
bila sikap anda salah

Orang lanjut usia yang berorientasi pada
kesempatan adalah orang muda yang tidak
pernah menua ; tetapi pemuda yang berorientasi
pada keamanan, telah menua sejak muda

Hanya orang takut yang bisa berani, karena
keberanian adalah melakukan sesuatu yang
ditakutinya. Maka, bila merasa takut, anda akan
punya kesempatan untuk bersikap berani

Kekuatan terbesar yang mampu mengalahkan
stress adalah kemampuan memilih pikiran yang
tepat. Anda akan menjadi lebih damai bila yang
anda pikirkan adalah jalan keluar masalah.

Jangan pernah merobohkan pagar tanpa mengetahui
mengapa didirikan. Jangan pernah mengabaikan
tuntunan kebaikan tanpa mengetahui keburukan
yang kemudian anda dapat

Seseorang yang menolak memperbarui cara-cara
kerjanya yang tidak lagi menghasilkan, berlaku
seperti orang yang terus memeras jerami untuk
mendapatkan santan

http://www.tarjoni.com/kumpulan-tips-motivasi-mario-teguh/?cp=10

Memindahkan Website Joomla Satu Server ke Server Lainnya

Memindahkan Website Joomla Satu Server ke Server Lainnya
January 20th, 2009 • Related • Filed Under
Filed Under: Joomla
Tags: Joomla

Jika Anda telah membuat website joomla di server lokal dan ingin di publish ke server web hosting kita, namun kita tidak ingin kehilangan settingan sebelumnya. Atau Anda ingin sekedar memindahkan web kita dari satu server ke serverlainnya maka beberapa hal yang musti anda lakukan adalah sebagai berikut. (Contoh ini adalah menggunakan Joomla versi 1.0.xx) jika anda menggunakan versi 1.5.xx pada prinsipnya sama yang perlu di edit adalah file configuration.php.

1. 1. Copy seluruh file Joomla dan database Joomla Anda ke server baru. Ada baiknya seluruh file di server lama di kompress ke dalam 1 buah file zip, kemudian copy file zip tersebut ke server baru. Selanjutnya unzip file zip tadi menggunakan program puTTy (Linux only) atau menggunakan fasilitas extraxt pada cPanel hosting anda. Jika dalam komputer lokal anda cukup Unzip saja.
2. 2. Kemudian di server baru tersebut, buka file configuration.php, kemudian pastikan parameter-parameter berikut ini sesuai dengan kondisi di server yang baru.

$mosConfig_absolute_path: “lokasi/file/joomla”;
$mosConfig_cachepath: “lokasi/cache/joomla/cache”;
$mosConfig_db: “nama_database”;
$mosConfig_live_site: “http://urlwebsitejoomla”;
$mosConfig_password: “password_database_joomla”;
$mosConfig_user: “username_database_joomla”;

Jangan lupa import database dari server ke server menggunakan PHPMyAdmin

Catatan : Jika file configuration.php tidak bisa di write, chmod dahulu file tersebut ke 755, jika proses perubahan parameter sudah selesai jangan lupa untuk chmod lagi ke 644. (Dan jika di komputer (lokal) maka seharusnya Webhosting Anda sudah bisa berjalan)

Oke selamat mencoba, mudah-mudahan Anda sudah bisa memindahkan website Joomla anda dari satu server ke server lainnya.

source:
http://www.tarjoni.com/memindahkan-website-joomla-satu-server-ke-server-lainnya/

Kamis, 07 Mei 2009

Virtualization

Istilah di Virtualization

November 13th, 2008
Banyak istilah yang perlu dipahami pada virtualization ini. Nah berikut adalah istilah-istilah yang umum dan biasa terdengar :

Hypervisor :

Sebuah platform virtualisasi yang dapat menjalankan beberapa sistem operasi sekaligus dalam satu komputer. Dikenal juga dengan istilah Virtual Machine Monitor

Hosted Hypervisor :

Software virtualisasi yang jalan di dalam host sistem operasi dimana si virtual mesin berjalan. Contoh : Microsoft Virtual PC dan Server, VMWare Server atau VMWare Workstation.

Bare Metal Hypervisor :

Platform virtualisasi yang jalan langsung berhubungan dengan hardware tanpa membutuhkan sistem operasi diatasnya. Contoh : Hyper-V, ESX Server dan Citrix XenServer

Virtual Machine :

Implementasi software yang menampilan seolah-olah mesin itu merupakan physical machine (duh angel banget istilahnya).

Host Operating System :

Merupakan “base operating system” yang diinstal pada komputer. Ini secara fisik terinstalnya. Nah diatas host ini bisa dipasang guest operating system yang terinstall pada virtual machine.

Guest atau Child Operating System :

Sistem operasi yang diinstall dalam virtual machine

Virtual Hard Disk :

Format file yang dipakai oleh Microsoft untuk menaruh data dari virtual machine (guest ataupun child)


http://zero.sentradev.com/

Selasa, 05 Mei 2009

Media Server

NGN dan IMS Perbedaan Keduanya


Abstrak: Trend teknologi IMS saat ini membawa perubahan pemikiran akan trend jaringan masa depan. Teknologi IMS diarahkan pada konvergensi jaringan wireless dan wireline dengan kemampuan layanan multimedia yang akan dideliver diatas keduanya. Keadaan ini dapat merubah konsep Next Generation Network yang sudah mulai marak diimplementasikan. Bagaimana sebenarnya posisi kedua konsep teknologi ini? Tulisan ini dan berikutnya akan menunjukkan persamaan, perbedaan dan sinkronisasi diantara keduanya. Tulisan pertama ini akan mendeskripsikan hal-hal yang membedakannya.



Kehadiran teknologi softswitch, banyak dilatarbelakangi oleh beberapa keadaan pada sirkit switch. Diantaranya adalah ketergantungan terhadap vendor sangat tinggi, karena perangkat yang digunakan masih banyak yang bersifat proprietary, yang secara langsung mengakibatkan biaya investasi dan operasi yang tinggi. Disamping itu dengan adanya fungsi kontrol, fungsi layanan, dan fungsi network yang melekat dalam sirkit switch yang dalam kenyataannya menjadikan operator mengalami banyak kesulitan dalam melakukan inovasi dan diversifikasi layanannya. Dengan alasan ini, perlu dilakukan pemisahan antara fungsi-fungsi tersebut dengan tujuan untuk mengurangi ketergantungan pada vendor-vendor tertentu dan pengembangannya menjadi lebih fleksibel. Konsep pemisahan fungsi-fungsi pada elemen jaringan yang berbeda tersebut sangat membutuhkan keberadaan suatu protokol komunikasi yang bersifat terbuka.

Teknologi IMS lahir sebagai satu teknologi yang mengakomodasi teknologi wireless dan wireline dengan tawaran layanan yang tidak hanya voice namun juga layanan data yang sangat beragam. Prinsip teknologi ini adalah mengatur session yang timbul untuk tiap layanan.

Untuk melihat secara lebih mendalam, maka hubungan dan perbedaan diantara dua konsep teknologi masa depan itu diuraikan sebagai berikut dibawah ini.

A. Layer Fungsional

Perbedaan yang pertama adalah dalam layer fungsional. Dalam konsep yang dikembangkan oleh International Packet Communication Consortium, IPCC, jaringan NGN berbasis Softswitch memiliki model arsitektur 4 (empat) layer fungsional, yaitu; management, transport, call control & signaling, dan service & application.

Adapun fungsional dari keempat layer tersebut adalah sebagai berikut:

1) Management Plane

Management Plane merupakan bagian jaringan yang berfungsi untuk memberikan fungsi-fungsi dari Operation System Support (OSS).

2) Transport Plane

Transport Plane merupakan bagian jaringan yang berfungsi sebagai media transport bagi semua message di jaringan.

3) Call Control & Signaling Plane

Call Control & Signaling Plane merupakan bagian jaringan yang berfungsi sebagai pengendali proses pembangunan hubungan yang melibatkan elemen-elemen jaringan pada layer yang lain berdasarkan signaling message yang diterima dari Transport Plane.

4) Service & Aplication Plane

Service & Application Plane merupakan bagian jaringan yang menyediakan dan mengeksekusi berbagai aplikasi layanan teleponi, data, dan multimedia termasuk juga memberikan fungsi fitur seperti conferencing, IVR, tone processing, dll.

Dalam perkembangan selanjutnya IPCC yang sekarang mereformasi dirinya menjadi IMS Forum. Perkembangan layer fungsional IMS hingga saat ini banyak didorong oleh standardisasi yang dilakukan oleh lembaga standar internasional 3GPP dan 3GPP2.

Pada konsep IMS dikenal tiga layer fungsi, yaitu: Service layer, Control Layer dan Transport Layer. Adapun keterangan fungsi masing-masing layer fungsional yang dikembangkan untuk IMS adalah sebagai berikut:

1) Control Layer

Control Layer merupakan bagian jaringan yang berfungsi sebagai pengendali proses pembangunan dan pemutusan hubungan yang melibatkan elemen-elemen jaringan pada layer yang lain berdasarkan signaling message yang diterima dari Transport Layer. Karakteristik layer ini adalah adanya elemen CSCF yang berfungsi sebagai sebuah mesin routing terpusat, policy manager dan policy enforcement point yang memfasilitasi pengiriman aplikasi multimedia real time menggunakan transport IP.

2) Service Layer

Service Layer merupakan bagian jaringan yang menyediakan dan mengeksekusi satu atau beberapa aplikasi layanan di dalam IMS. Service Layer juga mengontrol Media Server yang memberikan fungsi seperti conference, IVR, tone processing, dll. Protokol yang diterapkan antara control layer dan service layer adalah SIP (dengan elemen SIP application server).

3) Transport Layer

Transport Layer merupakan bagian jaringan yang berfungsi sebagai media transport bagi semua message di jaringan, seperti: call signaling, call & media setup atau informasi voice atau datanya sendiri. Pada transport layer ini, operator akan mengoptimalkan jaringan packet core eksisting untuk berinteraksi dengan control layer. Interface antara transport layer dengan control layer merupakan interface yang standard dan terbuka.


Gambar 1. Layer Fungsi NGN dan IMS

B. Konsep Layanan Dasar

Perbedaan yang kedua diantara konsep ini adalah dalam hal konsep layanan dasar, dimana konsep NGN/softswitch diarahkan sebagai solusi layanan suara dan konsep IMS diarahkan untuk konsep layanan multi layanan (multimedia).

B.1. Konsep Layanan Dasar Softswitch

Karena pada saat awal lahirnya softswitch lebih banyak diarahkan sebagai solusi layanan suara. Konsep dasar penyediaan layanan teleponi oleh softswitch adalah harus mampu menyediakan layanan teleponi minimal setingkat dengan layanan yang sudah diberikan oleh PSTN dengan berbagai kelengkapan fiturnya. Karena konsep ini maka session yang ditimbulkan untuk layanan data menjadi tidak efektif untuk dilewatkan pada satu server tunggal (softswitch). Hal ini dikarenakan database pelanggan dan atributnya yang terlibat dalam layanan data tidak seluruhnya menggunakan atribut layanan suara, demikian sebaliknya.

B.2. Konsep Layanan Dasar IMS

Dengan konsep IMS maka ketidakefisienan diatas dapat ditanggulangi dengan melibatkan IP Sub System (server) yang akan menangani layanan berdasarkan atributnya, dimana setiap layanan akan dikenali dengan session yang dibangkitkannya. Dengan IMS ini pula dimungkinkan untuk membangkitkan multi layanan dengan satu session, dimana hal ini akan lebih mengefisienkan proses komunikasi yang dibangun. Dalam hal ini protokol SIP (session initiation protocol) akan berperan.

IP Multimedia Subsystem (IMS) pada dasarnya dikhususkan untuk jaringan mobile dalam memberikan layanan telekomunikasi berbasis IP.


Gambar 2. Multimedia Session dalam Konsep IMS

C. Konsep Pengembangan Layanan

Perbedaan yang ketiga diantara konsep ini adalah dalam hal konsep pengembangan layanan.

C.1 Konsep Value Creation

Trend yang berkembang mengiringi konsep IMS adalah berkembangnya proses Value Creation (baik pada layanan baru maupun eksisting). Khusus mengenai value creation ini terjadi perubahan mendasar dari konsep pengembangannya. Pada masa kini, khususnya pada saat implementasi awal NGN-Softswitch, konsep pengembangan layanan adalah mengikuti konsep 7 layer OSI yang didesain untuk mendukung suatu layanan mulai dari layer 1 hingga ke layer 7 secara vertikal (konsep ini diberi istilah ‘spaghetti’). Kini dengan konsep IMS dimodifikasi dengan mempertahankan empat layer terakhir (4 s/d 7) secara vertikal sesuai dengan jenis layanan yang akan dikembangkan dan membuat tiga layer awal (1 s/d 3) dengan konsep horizontal (konsep ini diberi istilah ‘lasagna’) yang membuatkan menjadi common untuk berbagai layanan yang dibangun diatas ketiga layer tersebut. Hal ini akan mempermudah pengembangan layanan dan value creation menjadi lebih terbuka sesuai dengan kebutuhan dan bertempo cepat.


Gambar 3. Konsep Value Creation (Spahetti dan Lasagna)

C.2 Konsep Layanan Konvergen

Trend teknologi IMS membawa dampak pula terhadap trend jenis layanan yang akan berkembang. Trend layanan yang akan berkembang adalah layanan yang berupa konvergensi layanan wireless dan wireline. Pengintegrasian beberapa media yang berbeda telah membuka kemungkinan kreasi layanan multimedia baru yang dibangun diatas jaringan IP lebih dari yang tersedia hari ini. Fokus kreasi layanan diarahkan pada pengembangan layanan real time person-to-person. Pengembangan layanan ini membutuhkan IMS untuk melakukan kerjasama dengan jaringan lain seperti: Public Switched Telephone Network (PSTN) dan Public Land Mobile Network (PLMN), walaupun jaringan core circuit switched core network tidak lagi dibutuhkan. Dengan konsep IMS ini maka kebutuhan jaringan dan pengguna dengan spesifikasi sebagai berikut dibawah ini dapat dipenuhi, yaitu:

· Delivery layanan komunikasi multimedia dengan karakteristik real time dan person-to-person dengan basis IP (seperti voice atau videotelephony), demikian juga halnya dengan komunikasi person-to-machine (seperti layanan gaming).

· Mengintegrasikan layanan komunikasi multimedia real time dengan non real time (seperti video live streaming dan chatting).

· Mampu melayani dan berinteraksi dengan layanan dan aplikasi yang beragam (seperti mengkombinasikan presence dan instant messaging).

· Kemudahan dalam melakukan set up multi layanan dalam satu session tunggal atau multi session secara bersamaan.

D. SIP Generic

Perbedaan yang keempat diantara kedua konsep ini adalah dalam hal dukungan protokol, dimana konsep NGN/softswitch diimplementasikan dengan dukungan berbagai protokol antara softswitch dengan media gateway, seperti: MGCP, Megaco, SIP, SIGTRAN, RTP dan lainnya. Sedangkan konsep IMS diarahkan untuk diimplementasikan dengan protokol SIP secara generik.


Gambar 4. Protokol Pendukung NGN-Softswitch

Dalam implementasinya teknologi IMS ini akan banyak didukung oleh protokol SIP (Session Initiation Protocol) yang dikembangkan IETF. SIP yang digunakan sebagai protokol untuk application servers dan softswitch yang dapat berinteraksi dengan IAD atau Access Gateway serta membangun komunikasi antara pemanggil dengan yang dipanggil. SIP dapat digunakan untuk membangun panggilan, interworking dengan H.323, serta membangun sesi komunikasi multimedia.

Protocol SIP (Session Initiation Protocol) protokol end-to-end yang diturunkan dari “data session management”. Protokol ini berbasis teks (seperti HTTP). SIP akan menggantikan H.323 sebagai pilihan protokol end-to-end, karena beberapa keunggulan terutama skalabilitas. SIP digunakan pada end-point teleponi maupun end-point layanan.

Aplikasi yang didukung SIP mengakomdasi integrasi layanan teleponi dengan Web seperti : UMS, Internet call waiting, click to dial, instant messaging.


Gambar 5. Arah Perkembangan Protokol menuju SIP (Source:Ovum)

E. Kesimpulan

Dengan melihat uraian diatas maka perbedaan mencolok antara NGN-Softswitch dan IMS adalah seperti tabel berikut dibawah ini.

Tabel 1. Perbedaan NGN-Softswitch dan IMS

No
Parameter
NGN
IMS

1.
CSCF



2.
Voice Centric



3.
Multimedia Centric



4.
Kreasi Layanan SIP



5.
SIP only



6.
Wire-less/line convergences




Secara bisnis dan cost effective Teknologi IMS ini sangat menjanjikan, terutama jika dilihat dari pengoptimalan session dan jaringan packet IP untuk pengembangan dan kreasi layanan ke depan. Namun perlu dicatat bahwa konsep IMS variasinya sangat banyak, sehingga operator perlu lebih selektif.



Akhmad Ludfy, Penulis adalah salah seorang engineer lab transport – TELKOM RisTI- PT TELKOM yang terlibat dalam kegiatan assessment teknologi jaringan transport, khususnya jaringan optik dan jaringan data. Dilibatkan dalam beberapa proyek antara lain: Implementasi softswitch TELKOM, Rilis Teknologi Softswitch, dan penyusun standard system softswitch.



Referensi:

1. The IMS: IP Multimedia Concepts and Services in the Mobile Domain, Miikka Poikselka, John Wiley & sons, Ltd (ISBN: 0-470-87113-X)

2. The 3G IP Multimedia Subsystem (IMS): Merging the Internet and the Cellular Worlds, Gonzalo Camarillo, John Wiley & sons, Ltd (ISBN: 0-470-87156-3)

3. Dittberner Associates, The DAI Perspective ‘Voice Over Packet (IP and ATM)

4. Putting VoIP to work Softswitch Network Design and Testing , Bill Douskalis,PH PTR.

5. Network Evolution towards, IP Multimedia Subsystem, Alcatel Telecommunications Review - 4th Quarter 2003/1st Quarter 2004

6. Summit Hong Kong, 22 - sep – 2004, HÃ¥kan Eriksson, Ericsson Presentation

7. Protocol Pendukung Implementasi Softswitch, Akhmad Ludfy, 2004

8. Softswitch, Architecture for VoIP, Mc Graw Hill-2002


Disclaimer: Isi diluar tanggung jawab Redaksi
http://www.ristinet.com/index.php?ch=8&lang=&s=3bce857e36d667c6bdf7cafb888d007c&n=344&page=19

Kamis, 16 April 2009

linear scale and logarithmic scale

u-LAW and A-LAW definitions

A-law and u-law are companding schemes used in telephone network to get more dynamics to the 8 bit samples that is available with linear coding.

Typically 12..14 bit samples (linear scale) sampled at 8 kHz sample.

8 bit (logarithmic scale) for transmission over 64 kbit/s data channel.

In the receiving end the data is then converter back to linear scale (12..14 bit) and played back. converted back

u-LAW and A-LAW

u-LAW and A-LAW definitions

A-law and u-law are companding schemes used in telephone network to get more dynamics to the 8 bit samples that is available with linear coding. Typically 12..14 bit samples (linear scale) sampled at 8 kHz sample are companded to 8 bit (logarithmic scale) for transmission over 64 kbit/s data channel. In the receiving end the data is then converter back to linear scale (12..14 bit) and played back. converted back


u-law definition
u-LAW (pronounced mu-LAW) is

sgn(m) ( |m |) |m |
y= ------- ln( 1+ u|--|) |--| =< 1
ln(1+u) ( |mp|) |mp|

Another definition for mu-law I have seen
ln(1+255 |x|)
output = sgn(x) ---------------------
ln(1+255)

x = normalized input ( between -1 and 1)
255 = compression parameter
sgn(x) = sign (+/-) of x


a-law definition
A-LAW is
| A (m ) |m | 1
| ------- (--) |--| =< -
| 1+ln A (mp) |mp| A
y=|
| sgn(m) ( |m |) 1 |m |
| ------ ( 1+ ln A|--|) - =< |--| =< 1
| 1+ln A ( |mp|) A |mp|

Values of u=100 and 255, A=87.6, mp is the Peak message value, m is the current quantised message value. (The formulae get simpler if you substitute x for m/mp and sgn(x) for sgn(m); then -1 <= x <= 1.)

Converting from u-LAW to A-LAW is in a sense "lossy" since there are quantizing errors introduced in the conversion.

"..the u-LAW used in North America and Japan, and the A-LAW used in Europe and the rest of the world and international routes.."

References:

Modern Digital and Analog Communication Systems, B.P.Lathi., 2nd ed. ISBN 0-03-027933-X

Softswitch

Jaringan Softswitch dibangun oleh 5 komponen penting diantaranya:

1. MGC Media Gateway Controller merupakan salah satu unit fungsi utama pada softswitch. Gateway controller menangani call processing menggunakan Media gateway dan Signaling gateway. Dalam menangani Call Peocessing, Signaling Gateway berperan untuk membangun dan membubarkan koneksi. Gateway Controller sering disebut Call Agent (karena memiliki fungsi pesan pengontrol panggilan), dan juga disebut Media gateway Controller (karena memiliki fungsi pengontrol media gateway).Terkadang Call Agent disebut juga sebagai Softwitch (karena dikombinasikan dengan media gateway dan signaling gateway sehingga mempresentasikan konfigurasi minimun softswitch). Komponen ini menghubungkan antar komponen dalam jaringan softsiwtch dan juga menghubungkan ke ke jaringan luar yang berbeda protokol, seperti ke jaringan PSTN, SS7 dan jaringan IP.
2. MG Media Gateway disebut juga AG (Access Gateway) dan TG (Trunk Gateway). Access Gateway (AG) sebagai penghubung ke arah jaringan akses yang berhubungan dengan pengguna. Pada umumnya access gateway yang dikenal adalah perangkat yang berbasis paket (IP) ataupun nonpaket yang selanjutnya diubah menjadi paket untuk dapat dikontrol oleh softswitch. Trunk Gateway (TG) dipergunakan untuk menghubungkan jaringan berbasis softswitch kepada jaringan non-paket dan berfungsi sebagai trunking. Di dalam perangkat ini terdapat perubahan dari trafik yang non-paket ke paket ataupun sebaliknya.
3. SG Signalling Gateway melayani sebagai gateway atau gerbang antara jaringan signal SS7 dengan node-node lain pada jaringan IP yang di manage atau dikontrol oleh softswitch. Sebuah signaling gateway secara fisik terhubung ke jaringan SS7 dan harus mampu melayani berbagai protocol yang telah distandartkan. Signaling Gateway menyebabkan Softswitch seperti node-node yang ada pada jaringan SS7. Signaling Gateway menangani pengiriman signal SS7, sementara Media Gateway menangani pengiriman voice.
4. MS Media Server biasanya terpisah dari Feature Server karena aplikasi Media Server melibatkan media processing. Artinya Media Server harus mampu mendukung DSP (digital signal Processing).
5. FS Feature Server menyediakan semua feature dan layanan seperti tagihan, multy party conference, dll. Feature Server menggunakan semua sumber layanan atau jasa yang berkaitan dengan komponen-komponen lain pada softswitch. Dengan adanya Feature Server yang bekerja berbasis jaringan IP maka tidak ada lagi hambatan bagi softswitch untuk membagi dan mengelompokkan komponen aplikasi.

http://hariagustomo.blogspot.com/search/label/Telekomunikasi

H.261 dan H.263

Istilah Telekomunikasi Protokol H.323

H.323 merupakan protokol yang memayungi beberapa protokol lain yang terlibat dalam proses transmisi multimedia. Protokol – protokol tersebut tidak semuanya merupakan rekomendasi ITU-T tapi ada juga yang merupakan rekomendasi IETF. Beberapa protokol tersebut diantaranya:

* H.26x codecs Rekomendasi mengenai proses digitalisasi sinyalvideo analog. Contohnya : H.261 dan H.263
* H.225.0 Jika gatekeeper terdapat dalam suatu network makaH.225.0 mengatur proses registrasi terminal kegatekeeper tersebut dan mengatur pula proses admisi di jaringan tersebut. Jika gatekeeper tidak ada maka H.225 digunakan untuk proses setup dan cleardown panggilan, bekerja sama dengan protokol Q.931.
* H.245 Protokol ini berfungsi untuk membangun kanal logikal (logical channel) yang akan menjadi kanal transmisi media. Setelah proses setup hubungan antara dua endpoint berhasil dilakukan menggunakan H.225.0 dan Q.931
* Q.931Q.931 digunakan bersama H.225.0 untuk membangun hubungan H.323. H.225.0 di sisipkan dalam pesan UUIE (User to User Information Element) dari Q.931 untuk menyediakan informasi tambahan yang tidak tersedia dalam format Q.931misalnya informasi mengenai IP address.
* RTP (Real time Transport Protocol)adalah protokol yang digunakan untuk mengkompensasi jitter dan desequencing yang terjadi pada jaringan IP. RTP berisi informasi tipe data yang dikirim yaitu timestamps yang digunakan untuk pengaturan waktu suara percakapan sehingga terdengar seperti sebagaimana diucapkan, dan sequence numbers yang digunakan untuk pengurutan paket dataRTP didesain untuk digunakan pada layer transport, namun demikian RTP digunakan diatas UDP, bukan pada TCP karena TCP tidak dapat beradaptasi pada pengiriman data secara real-time dengan keterlambatan yang relatif kecil seperti pada pengiriman data komunikasi suara.
* RTCP (Real time Transport ControlProtocol) digunakan untuk mengirimkan paket kontrol setiap terminal yang berpartisipasi pada percakapan yang digunakan sebagai informasi untuk kualitas transmisi jaringan

Standar ini bukan standar yang berdiri sendiri tetapi merupakan kumpulan dari beberapa komponen, protokol dan prosedur dalam membangun layanan komunikasi multimedia yang menerangkan set voice, video dan standar konferensi data. Semoga informasi tentang protokol H.323 dapat bermanfaat bagi anda dan Saya informasikan kepada pembaca, jika anda membeli perangkat telekomunikasi, sebaiknya yang sudah di sertifikasi atau yang sudah bersertifikat resmi dari postel, untuk menjaga agar anda tidak berurusan dengan pihak yang berwajib

http://hari.narmadi.net/telekomunikasi/istilah-telekomunikasi-protokol-h323

NGN

NGN-Jaringan Telekomunikasi Masa Depan

Source: Kompas-Rabu, 11 Februari 2004
Oleh: Anton Timur

TEKNOLOGI informasi dan komunikasi (infokom) berkembang semakin pesat didorong oleh Internet protocol (IP) dengan berbagai aplikasi baru dan beragam layanan multimedia. Infrastruktur infokom terdiri dari public switched data network (PSDN) dan public switched telephone network (PSTN), namun hingga kini tulang punggung infokom masih banyak berpijak pada jaringan PSTN.
Kondisi ini kurang menguntungkan karena PSTN eksisting umumnya lebih menekankan pada layanan suara dan berpita sempit (narrow band). Untuk mempercepat penyediaan layanan pita lebar (broadband) pada jaringan eksisting tersebut maka PSTN dan PSDN harus segera "melebur" menjadi satu jaringan tunggal multilayanan yang disebut dengan jaringan telekomunikasi masa depan atau next generation network (NGN).
Ada tiga faktor utama pendorong evolusi jaringan PSTN tradisional menuju NGN. Pertama, keterbatasan arsitektur sentral PSTN eksisting. Operator telekomunikasi akan kesulitan untuk meningkatkan kemampuan PSTN untuk melayani layanan multimedia jika hanya mengandalkan upgrade versi perangkat lunak dan hardware pada sentral eksisting.
Infrastruktur sentral eksisting kebanyakan merupakan propietary atau teknologinya bersifat tertutup dan dikuasai vendor tertentu saja. Hal ini jelas menimbulkan ketergantungan operator telekomunikasi kepada pemasok perangkat tersebut.
Operator juga sulit untuk berinovasi dan membuat fitur baru. Selain itu, biaya upgrade dan pengembangannya pun menjadi mahal dan membutuhkan waktu yang lama. Karena sifatnya yang tertutup pula, maka biaya operasi dan pemeliharaan juga semakin besar.
Kedua, tren konvergensi jaringan dan layanan. Saat ini perbedaan teknik antara PSTN dan PSDN menyebabkan terjadinya pemisahan antara keduanya. PSTN yang berbasis sirkuit switch merupakan jaringan kompleks dengan ukuran yang besar, tersentralisir, dan tertutup. Sedangkan PSDN berbasis paket switch, lebih sederhana dan terdistribusi. PSDN tumbuh dengan pesat dengan adanya Internet, ekstranet, virtual private network (VPN), serta teknologi berbasis paket lainnya.
Bahwa suatu saat nanti paket switch akan menggantikan sirkuit switch, bisa dilihat dari semakin meningkatnya penggunaan voice over Internet protocol (VoIP). Namun hingga kini PSTN masih menduduki posisi terdepan untuk menyalurkan data, terutama layanan dial up analog modem.
Investasi sentral PSTN eksisting yang sangat besar juga tidak bisa diabaikan begitu saja. Pilihannya adalah konvergensi antara PSDN dan PSTN menjadi satu jaringan tunggal multilayanan, dengan melakukan evolusi secara bertahap pada jaringan PSTN agar mampu mengakomodasi paket switch.
Ketiga, regulasi telekomunikasi telah memunculkan operator-operator baru. Persaingan yang semakin ketat antaroperator menyebabkan pelanggan akan berpindah ke kompetitor jika operator tersebut tak mampu memberikan layanan yang beragam, broadband, dan murah.
Arsitektur NGN
Menurut tren perkembangan jaringan telekomunikasi saat ini, jaringan masa depan akan menjadi jaringan terintegrasi pita lebar, terdiri dari bermacam-macam akses edge dengan hierarki fungsional jaringan makin jelas dan mudah dipahami. Secara umum, hierarki NGN terbagi menjadi beberapa lapisan (layer), yaitu: network service & application, network control, core switching, dan edge access layer.
Lapisan network service & application bertugas untuk memproses logika layanan, meliputi logika layanan intelligent network (IN), AAA (addressing, authentication, authorization) dan address resolution, serta mengembangkan aplikasi layanan dengan mengadopsi protokol standar dan application program interface (API). Komponennya meliputi server AAA, network management system (NMS), billing, network database, serta server aplikasi (application server).
Dengan adanya server aplikasi ini maka aplikasi-aplikasi layanan atau fitur-fitur baru lebih mudah dan murah dikembangkan karena platformnya terbuka (open platform) tanpa harus terikat oleh platform dari vendor/developer tertentu (propietary). Contoh aplikasi yang bisa dikembangkan adalah number portability, yaitu layanan yang memungkinkan nomor telepon pelanggan asal tidak berubah apabila pelanggan tersebut berpindah lokasi atau operator.
Lapisan kedua, network control, bertugas mengatur logika panggilan, memproses permintaan panggilan, dan memberi tahu lapisan core switching untuk membentuk hubungan yang sesuai. Di sinilah letak softswitch yang terdiri dari server panggilan (call server), pengendali rute (route controller), dan gerbang pensinyalan (signalling gateway). Secara hierarkis softswitch dapat dibagi menjadi dua tingkatan, yaitu class 4 dan class 5.
Softswitch class 4 merupakan pengendali hubungan antarsentral tandem regional (trunk) dalam backbone nasional. Sedangkan softswitch class 5 merupakan tipe softswitch yang mengendalikan hubungan pada sentral lokal yang terhubung langsung dengan pelanggan.
Lapisan ketiga NGN adalah lapisan core switching untuk mengatur pembangunan dan pengelolaan hubungan serta melakukan penyambungan dan pengaturan jalur komunikasi untuk merespons perintah control layer. Komponennya meliputi sentral broadband multi- service, sentral utama ATM dan router IP berkapasitas besar, dan lain-lain.
Lapisan paling bawah adalah lapisan akses ujung (edge access layer) yang mendukung akses dari berbagai macam tipe media gateway, yaitu trunk gateway dan access gateway. Berbagai tipe perangkat konsentrasi akses multi-service, remote access server (RAS), analog gateway, maupun wireless gateway bisa diimplementasikan pada lapisan ini (Lihat gambar).
Kendala
Ada sejumlah kendala yang menghadang migrasi NGN pada infrastruktur telekomunikasi di Indonesia. Meskipun sejumlah vendor global dan nasional telah berhasil mengembangkan teknologi ini, namun kematangan softswitch masih dipertanyakan mengingat teknologi ini belum secara luas digunakan untuk kepentingan komersial oleh operator-operator telekomunikasi dunia.
Kondisi infrastruktur eksisting juga bisa menjadi penghambat laju menuju NGN. Hampir seluruh sentral dan perangkat telekomunikasi di Indonesia masih memakai spesifikasi teknis atau protokol lama yang bersifat propietary. Di lain pihak softswitch memberikan persyaratan standar dan protokol yang paling mutakhir dan terbuka sehingga hal ini dapat menyulitkan persyaratan kesesuaian protokol, interoperability dan interworking antara perangkat eksisting dengan perangkat NGN.
Faktor lainnya adalah masalah biaya investasi perangkat NGN dan penyediaan jaringan akses yang masih terasa mahal dan kurang kompetitif jika dibandingkan dengan meng-upgrade sentral eksisting. Diperkirakan investasi untuk menyediakan jaringan akses yang kompatibel dengan NGN bisa mencapai 65 persen dari total investasi untuk menggelar NGN.
Dan yang terakhir namun sering membuat runyam adalah masalah regulasi. Penerapan NGN bisa menimbulkan konsekuensi perubahan peta bisnis telekomunikasi sehingga regulator dituntut untuk segera memahami dan membuat aturan main tentang teknologi ini. Sasarannya, agar tidak menimbulkan dispute antar- operator dan kebingungan masyarakat saat nantinya teknologi ini telah dikomersialkan.
Meskipun masih banyak kendala yang dihadapi operator telekomunikasi untuk menerapkan teknologi softswitch, tetapi langkah perencanaan untuk melakukan migrasi (roadmap) menuju NGN harus segera dilaksanakan. Tanpa melakukan migrasi menuju NGN, jaringan PSTN yang masih menjadi tulang punggung infrastruktur telekomunikasi lambat laun tak akan optimal lagi mengakomodasi layanan multimedia.

Anton Timur Spesialis Penelitian dan Pengembangan Telekomunikasi

WLL = RITL atau FRA.

Apa beda WLL dengan Flexi?

Sumber: Kompas- Kamis, 16 September 2004
Oleh: Anton Timur

SETAHUN sudah TelkomFlexi hadir memenuhi kebutuhan telekomunikasi masyarakat, karena jaringan telepon tetap yang menggunakan kabel tembaga kini tak lagi banyak tersisa. Masyarakat yang mengharapkan sambungan telepon rumah mau tak mau harus menggunakan Flexi.
MESKI terasa kurang sreg, masyarakat mulai antusias memanfaatkan Flexi. Anggapan bahwa teknologi dan kualitas Flexi identik dengan WLL menjadi salah satu penyebab mengapa orang kurang sreg.
Pertanyaan yang sering mengemuka apakah Flexi menggunakan teknologi yang sama dengan WLL atau berbedakah Flexi dengan WLL? Sebagian pelanggan telekomunikasi di Indonesia memang masih trauma pada kualitas layanan WLL yang dulu ditawarkan semasa KSO (kerja sama operasi) di beberapa Divisi Regional (divre) PT Telkom.
Wireless local loop (WLL) adalah sistem telekomunikasi yang menggunakan sinyal radio sebagai pengganti kabel tembaga (copper). Teknologi WLL juga sering disebut dengan radio in the loop (RITL) atau fixed-radio access (FRA). Secara umum WLL bisa diimplementasikan menggunakan beberapa teknologi tanpa kabel, yaitu seluler analog, seluler digital, dan personal communication network (PCN)/personal communication service (PCS).
Ada tiga sistem seluler analog yang dulu dikenal luas, yaitu advanced mobile phone system (AMPS), nordic mobile telephone (NMT), dan total access communication system (TACS). Namun, seluler analog mempunyai kapasitas yang terbatas sehingga kurang cocok dipakai sebagai platform WLL.
Kemudian muncul seluler digital, seperti global system for mobile communication (GSM) dan code divison multiple access (CDMA). Meski GSM mendominasi implementasi seluler bergerak, namun GSM jarang digunakan sebagai solusi WLL. Penyebabnya arsitektur GSM sejak awal dirancang untuk melayani daerah perkotaan dan kurang efisien diterapkan di daerah dengan kepadatan telepon rendah.
Pada saat yang hampir bersamaan teknologi CDMA generasi awal (IS 95A, IS 95B, dan CDMAOne) kemudian hadir. Dengan kapasitas yang lebih besar dari GSM, CDMA ini mulai diimplementasikan di berbagai negara-termasuk Indonesia-dan mendapat tanggapan yang baik dari masyarakat.
Alternatif terakhir teknologi WLL berupa PCS/PCN, yang merupakan protokol yang menggabungkan elemen seluler digital dan standar cordless. Tujuannya untuk memberikan layanan wireless dengan mobilitas rendah yang menggunakan antena berdaya kecil dan handset yang ringan. Salah satu model PCS/PCN adalah personal handyphone system (PHS).
WLL yang dibangun oleh Mitra KSO sebagian besar menggunakan teknologi PHS yang mulai berkembang di Eropa dan Jepang sekitar tahun 1995. Di negeri Matahari Terbit perkembangan PHS sangat pesat, hanya dalam waktu dua tahun pelanggannya telah mencapai tujuh juta.
Prestasi yang mengesankan ini membuat para Mitra KSO Telkom di Indonesia saat itu tertarik menggunakannya. Hampir semua wilayah operasi KSO kemudian membangun jaringan telepon tetap dengan teknologi WLL karena nilai investasinya memang lebih rendah daripada jaringan kabel tembaga dan pembangunannya relatif cepat.
Mitra KSO semula berharap solusi WLL akan mendatangkan keuntungan yang signifikan sekaligus segera menyelesaikan target pembangunan ratusan ribu satuan sambungan telepon (SST) seperti disyaratkan dalam perjanjian KSO. Namun kenyataan di lapangan jauh dari harapan semula, perencanaan yang kurang matang dan proses alih teknologi yang setengah hati menyebabkan kualitas dan layanan WLL tak sebagus di negeri asalnya.
Sebenarnya WLL yang berbasis PHS merupakan teknologi tepat guna untuk daerah pinggiran perkotaan dan pedesaan (sub-urban), serta daerah terpencil (rural) yang mempunyai tingkat kepadatan penduduk rendah. Kemampuan PHS cukup bagus karena tiap cell station (CS) mampu melayani sampai dengan 11 pembicaraan dalam waktu yang bersamaan.
WLL/PHS berada pada rentang frekuensi 1900,25 MHz sampai dengan 1915,55 MHz. Dengan alokasi frekuensi selebar 15 MHz ini sebenarnya sangat cukup memenuhi kebutuhan telekomunikasi masyarakat. Stigma buruk yang melekat pada WLL/PHS membuat Telkom berupaya mengembangkan teknologi nirkabel lain yang lebih canggih, CDMA 2000-1x dengan brand TelkomFlexi.
TelkomFlexi
CDMA 2000-1x yang menjadi platform Flexi merupakan sistem teknologi telekomunikasi tanpa kabel terbaru dengan berbagai kemampuan menjawab kebutuhan komunikasi masa depan. Jika dilihat dari kurva teknologi, CDMA2000-1x merupakan generasi ketiga (3G) setelah telepon seluler analog dan CDMA generasi awal. Teknologi ini menggunakan teknik penyebaran spektrum (spread spectrum) dengan kode-kode unik secara acak.
Awalnya digunakan oleh kalangan militer karena kebal terhadap gangguan (antijamming) dan bebas penyadapan (anti-intercept). Kemudian Qualcomm, sebuah vendor telekomunikasi dari Amerika Serikat, mengembangkan lebih lanjut untuk kepentingan sipil hingga tercapai standar CDMA 2000-1X pada bulan Maret 2000.
Selain kebal gangguan dan anti penyadapan, kualitas suara CDMA2000-1x juga lebih jernih serta aman bagi kesehatan karena radiasi gelombang radio yang dipancarkan relatif lebih rendah dibanding teknologi nirkabel lainnya. CDMA2000-1x juga pas untuk melakukan komunikasi data karena mampu melewatkan data berkecepatan tinggi. Selain itu mempunyai fitur-fitur layaknya dimiliki teknologi seluler GSM, misalnya SMS, CLIP, voice mail, call forwarding, call waiting, dan lain-lain.
Kekhawatiran masyarakat bahwa kualitas layanan dan teknologi yang digunakan Flexi sama dengan WLL semasa KSO (PHS) tidak perlu lagi terjadi karena Flexi lebih bagus. Dibutuhkan waktu untuk pembelajaran teknologi CDMA2000-1x agar dapat diterima masyarakat, tetapi yakin Flexi akan semakin dirasakan sebagai solusi telekomunikasi yang paling tepat.

Anton Timur (antontimur@yahoo.com), Praktisi Telekomunikasi

ENUM

Mobile Number Portability

Kompas-Rabu, 29 September 2004
Oleh: Anton Timur

BOOMING telepon seluler sedang melanda Indonesia. Salah satu pemicunya adalah tren kartu prabayar murah. Hanya dalam hitungan bulan pertumbuhan pelanggan seluler tiap operator melonjak pesat.
FENOMENA ini memberikan harapan yang cerah bagi industri telekomunikasi seluler, walau di sisi lain sebenarnya menimbulkan persoalan baru bagi konsumennya. Kebebasan konsumen seluler untuk memilih atau berpindah operator harus dilakukan dengan cara pembelian nomor ponsel baru. Akibatnya, konsumen seluler seolah menjadi kolektor nomor telepon dari beberapa operator.
Padahal seharusnya, semua operator telepon yang bergerak di Indonesia telah menerapkan konsep mobile number portability (MNP) atau dikenal juga dengan wireless number portability (WNP). Konsep ini memberikan keleluasaan kepada konsumen untuk memilih operator seluler mana pun dengan tetap menggunakan nomor ponsel yang sudah dimilikinya. Konsumen tak perlu harus berganti-apalagi menambah-nomor ponsel baru. (baca: "Number Portability di Indonesia", Kompas (16/9).
Dalam Telecommunication Regulation Handbook yang dikeluarkan oleh infoDev (www.infodev.org) bekerja sama dengan Bank Dunia dan International Telecommunication Union (ITU) disebutkan bahwa salah satu permasalahan interkoneksi global adalah belum diimplementasikannya number portability, termasuk MNP, di sebagian besar negara-negara anggota ITU. Kondisi ini mengakibatkan belum sepenuhnya terjadi kompetisi telekomunikasi yang fair dan lemahnya posisi konsumen telekomunikasi di negara-negara tersebut. (tabel).
Singapura merupakan pioner penerapan MNP di dunia. Sejak 1 April 1997 Infocomm Development Authority of Singapore (IDA)-badan regulasi informasi dan komunikasi Singapura- telah memutuskan untuk menerapkan MNP bagi semua operator seluler di negeri bersimbol kepala singa tersebut. Pelaksanaan MNP didahului dengan uji coba (field trial) pada pertengahan Februari 1997. Tujuannya untuk mencoba beberapa alternatif teknologi MNP yang bisa diadopsi oleh semua operator.
Solusi awal yang dipilih adalah penggunaan fasilitas call-forwarding. Bagi pelanggan yang ingin berpindah operator tetapi memilih untuk tetap mempertahankan nomor seluler eksisting, panggilan dari nomor telepon selulernya akan otomatis dialihkan dari sistem milik operator sebelumnya ke sistem operator baru. Tapi solusi ini dirasa kurang praktis, maka kemudian dipakai solusi lain yang lebih baik untuk jangka panjang melalui platform intelligent network (IN).
Awalnya untuk mengefektifkan MNP operator seluler Singapura mengenakan biaya administrasi bulanan kepada pelanggan sebesar 8-10 dollar Singapura (Rp 42.400-Rp 53.000) yang sejak 1 Agustus 2003 dihapuskan oleh IDA. Operator masih diberi hak untuk mengenakan biaya administrasi MNP tapi hanya satu kali (one time charge).
IDA juga mensyaratkan operator seluler untuk menyediakan layanan short message service (SMS) bagi konsumen seluler yang berlangganan MNP yang sebelumnya dicabut operator. Untuk itu operator harus meng-upgrade sistem MNP mereka agar mampu melayani SMS portability dan harus siap sebelum tanggal 1 Oktober 2003.
AMERIKA Serikat juga bisa kita jadikan tempat benchmarking konsep MNP. Federal Communications Commission (FCC) atau regulator telekomunikasi di Amerika Serikat menetapkan mulai 24 November 2003 semua operator seluler di AS harus menerapkan MNP. Sebelumnya semua operator telepon tetap di Negeri Paman Sam itu sudah lebih dulu mengimplementasikan number portability sehingga memberi kebebasan bagi seluruh pelanggan operator tetap di 100 kota besar di AS untuk berpindah ke operator lain yang diinginkannya.
Implementasi MNP di AS tidaklah semulus yang direncanakan. Pada awalnya hampir semua operator seluler di AS-termasuk Verizon, operator seluler terbesar dengan sekitar 33 juta pelanggan-mengajukan keberatan atas konsep MNP.
Cellular Telecommunications and Industry Association (CTIA) atau asosiasi industri dan telekomunikasi seluler AS memperhitungkan bahwa akan terjadi perpindahan pelanggan (churn) besar-besaran. Namun FCC berpendapat jika operator memiliki jaringan telekomunikasi yang andal dan pelayanan yang bagus, maka tidak perlu takut kehilangan pelanggan.
Sebelum pelaksanaan MNP, rata-rata churn yang terjadi relatif konstan antara 1,5 dan 3 persen tiap bulan per operator. Akhirnya setelah mengalami tiga kali penundaan-untuk memperbaiki beberapa perangkat pendukung MNP-semua operator seluler AS sepakat menerapkan MNP sebagai realisasi pelaksanaan Telecommunication Acts tahun 1996. Belakangan number portability diperluas lagi tidak hanya bagi sesama operator telepon tetap atau seluler, tetapi juga antara operator telepon tetap dengan operator seluler.
Indonesia termasuk salah satu negara anggota ITU yang belum mengadopsi konsep MNP. Padahal, Indonesia kini memiliki beberapa operator seluler besar seperti Telkomsel, Indosat Group (IM3 dan Satelindo), dan Excelcom yang berbasis GSM (global system for mobile communication).
Operator telepon bergerak yang menggunakan teknologi CDMA 2000-1X (code division multiple access) juga ada, misalnya Mobile-8 dan Mandara Seluler Indonesia (MSI). Masih ditambah lagi beberapa operator seluler lain dan operator 3G yang akan segera beroperasi (Cyber Access Communication dan Natrindo Telepon Seluler/ Lippo Telecom).
Jumlah pelanggan seluler di Indonesia hingga Juni 2004 mencapai sekitar 24 juta nomor, dan hingga akhir tahun diperkirakan melonjak menjadi 28 juta sambungan. Dari jumlah tersebut, Telkomsel mempunyai basis pelanggan sekitar 12,5 juta nomor, Indosat Grup 7,4 juta nomor, XL sekitar 3,7 juta pelanggan, sisanya operator lain sebanyak 0,4 juta. Pada tahun 2007 pelanggan seluler di Indonesia diperkirakan mencapai 65 juta pelanggan didorong kecepatan pertumbuhan seluler dan terus berlangsungnya pembangunan infrastruktur telekomunikasi.
Banyaknya operator seluler tersebut memacu terjadinya iklim kompetisi. Operator seluler kemudian mencoba menyikapi kebutuhan jasa telekomunikasi dengan mengeluarkan berbagai produk dan layanan yang terbaik kepada konsumen seluler.
Tetapi karena operator-operator seluler Indonesia belum menerapkan konsep MNP, pelanggan seluler sebuah operator tidak bisa melakukan porting (berpindah ke operator lain) agar bisa mendapatkan layanan yang ditawarkan. Misalnya seorang pelanggan Telkomsel porting menjadi pelanggan Excelcom agar dapat menikmati telepon malam gratis yang ditawarkan Excelcom. Atau seorang pelanggan IM3 (Indosat) porting sementara menjadi pelanggan Telkomsel karena selama sebulan ia berada di daerah dengan sinyal Telkomsel yang lebih kuat.
Bisa dibayangkan konsumen seluler pasti akan tambah dimanjakan. Kedaulatan konsumen semakin ditegakkan, sementara industri seluler Indonesia juga tampil kompetitif karena MNP mampu mengeliminasi salah satu faktor penghambat interkoneksi antaroperator.
Tentu saja aturan dan perangkat pendukung MNP ini harus terpenuhi terlebih dulu, misalnya kesepakatan cara penanganan kewajiban pembayaran pelanggan dari operator lama ke operator baru agar tidak terjadi fraud. Alangkah bijak apabila regulator telekomunikasi segera berpihak kepada konsumen dengan membuat roadmap penerapan MNP di Indonesia.
Anton Timur Praktisi Telekomunikasi, Tinggal di Bandung

Konfigurasi PCM 30

source : http://madesuardiputera.blogspot.com/

1.1 PCM

PCM atau Pulse Code Modulation adalah sebuah A/D converter yang dapat merubah snyal analog menjadi sinyal digital, proses perubahan sinyal analog menjadi sinyal digital dapat digambarkan sebagai berikut :

1.2 PCM 30
PULSE CODE MODULATION-30
( PLESIOCHRONOUS DIGITAL HIERARCHY ORDER-1)

1.2.1 Fungsi PCM 30 :
1. Coder (Konverter A/D) :
Mengubah sinyal analog (dengan frekwensi suara 300 - 3400 Hz) menjadi sinyal digital 64
Kbit/s..
2. Multiplexing :
Menggabungkan 30 kanal sinyal digital 64 kbps paralel menjadi satu deretan sinyal unipolar
2048 Kbit/s NRZ.
3. Line Coding :
Mengubah sinyal unipolar 2048 Kbps NRZ menjadi sinyal bipolar 2048 Kbps HDB-3..

1.2.2 APPLIKASI PCM - 30

1. Menghubungkan Sentral Analog dengan Multiplex Digital Order Tinggi

2. Menghubungkan Sentral Analog dengan Sentral Analog

3. Menghubungkan Sentral dengan RK

4. Menghubungkan Sentral Digital dengan Perangkat Transmisi Analog

5. Menghubungkan Terminal Data dengan Perangkat Multiplex digital Order Tinggi

1.2.3 Konfigurasi PCM 30

1.2.4 PCM 30 Arah Kirim

1.2.4.1 Block Diagram PCM-30 (Arah Kirim)

1.2.4.2 Cara Kerja PCM – 30 (Arah Kirim)

1.2.4.1. Band Pass Filter :

1.2.4.2. Sampling

1.2.4.3. Kuantisasi.


a. Proses Pemberian harga terhadap sinyal PAM; yang besarnya sesuai dengan harga
tegangan pembanding terdekat.
b. Setiap pulsa akan diletakan kedalam polaritas positif atau polaritas negatif.
c. Setiap polaritas dibagi menjadi beberapa segment/sub segment(interval).
d. Kuantisasi ada 2 macam :
- Uniform (Linear)
- Non-uniform (Non-linear)

1.2.4.4 Coding

Mengubah sinyal PAM menjadi sinyal digital
(A – D Converter).
Pada PCM-30 berlaku Hukum Companding-A :

a. Setiap pulsa PAM ditempatkan pada polaritas positif atau negatif; dan ditandai dengan huruf
“S”:
- Untuk Polaritas Positif S = 1
- Untuk Polaritas Negatif S = 0

b.. Setiap polaritas dibagi menjadi 8 segment; segment ke -0 s/d 7, dan ditandai dengan huruf
“ABC”.
c. Setiap segment dibagi menjadi 16 sub- segment (interval); interval ke-0 s/d 15, dan ditandai
dengan huruf “WXYZ”.
Sehingga setiap pulsa PAM akan diubah menjadi sinyal digital dengan susunan bit-bitnya sbb. :

Dalam kaitan dengan proses kuantisasi dan coding ini, dikenal adanya
hukum companding; dan didalam PCM-30 berlaku Hukum Companding
“A”, yang mempunyai aturan sbb. :

1. Meletakan sinyal kedalam 2 polaritas; yaitu polaritas positive, yang ditandai dengan satu digit “1”; atau polaritas negative yang ditandai dengan satu digit “0”.

2. Setiap Polaritas dibagi menjadi 8 segment; yang ditandai dengan tiga digit “0” dan/atau “1”,
dengan no. mulai dari “0” s/d “7”.

3. Setiap segment dibagi lagi menjadi 16 subsegment, atau interval; dan ditandai dengan empat
digit “0” dan/atau “1”, dengan no. mulai dari “0” s/d “15”.

Lihat Gambar berikut.

1.2.4.4 Multiplexing

a. Prinsip : Time Division Multiplexing
b. Metode : “Word-by-Word Interleaving” atau “Byte-by-byte Interleaving”; atau “Cyclic Word
Interleaving” atau “Cyclic Byte Interleaving
c. Menggabungkan :
- 30 kanal telepon 64 kbps,
- 1 kanal signalling 64 kbps
- 1 kanal FAS 64 kbps.
Menjadi satu deretan sinyal serial 2048 Kbps.
d. Setiap kanal menempati satu “Time Slot” (TS) :
- TS-0 untuk FAS/Alarm
- TS-1 s/d TS-15 untuk kanal telepon 1 s/d 15
- TS-16 untuk Signalling
- TS-17 s/d TS-31 untuk kanal telepon 16 s/d 30 .

1.2.4.5 Frame PCM – 30

1.2.4.6 Struktur Frame PCM-30.

- Satu Multi Frame, dengan panjang waktu 1 Multi Frame 2 m
- Enam belas Frame, dengan panjang waktu 1 Frame 125 μS
- 32 TS/Frame, dengan panjang waktu 1 TS 3,9 μ S
- 8 Bit/TS, dengan panjang waktu 1 bit 488 nS
- Jumlah bit/Frame 256 bit
- Jumlah bit/Multi Frame 4096 bit
- Bit FAS sebanyak 7 bit ( 0011011); bit-2 s/d 8 TS-0, Frame-frame genap (frame- 0, 2, 4,
dstnya.)
- Bit MFAS sebanyak 4 bit, dengan susunan 0000; terletak pada bit-1 s/d 4 TS- 16, Frame-0.
- Bit Signalling (4 bit/kanal); pada bit-1 s/d 4, dan bit-5 s/d 8 TS-16, Frame-1 s/d Frame-15.
- Bit Alarm (A1) sinyal 2 Mbit/s terletak pada bit-3 TS-0, Frame-frame ganjil (1, 3,5 dstnya).
- Bit Alarm (A2) sinyal 64 Kbit/s (Signalling) terletak pada bit-6 TS - 16, Frame-0.

1.2.4.7 Gambar Struktur Frame PCM 30

1.2.4.9 Line Coding
Konversi sinyal unipolar NRZ 2048 Kbps menjadi sinyal HDB-3 :
a. Digit “1” dikodekan menjadi tegangan positif atau negatif bergantian, yang polaritasnya selalu
berlawan dengan digit “1” sebelumnya.
b. Digit-0 dikodekan menjadi tegangan 0 volt.
c. Deretan digit “0” berturutan maksimum 3 buah.
d. Jika digit “0” berturutan > 3; maka digit “0” ke-4 atau kelipatannya harus diubah menjadi bit
“VIOLASI”, yang polaritasnya sama dengan polaritas bit “1” sebelumnya.
e. Jika sebelum bit-V ada bit-1 genap, atau tidak ada bit-1 nya; maka bit-0 pertama dari setiap
4 bit-0 harus diubah menjadi bit-1 tambahan, yang polaritasnya berlawanan dengan bit “1”
sebelumnya.

1.2.4.10 Generator Timing Clock.

Generator Timing Clock berfungsi untuk membangkitkan timing clock yang dibutuhkan untuk seluruh proses pada PCM-30 arah kirim.
Untuk arah kirim sumber dari generator clock tersebut bisa x-tall oscillator internal, atau bisa juga frekwensi yang berasal dari luar.

1.2.5 PCM - 30 Arah Terima

1) Fungsi Line Coding :
Konversi sinyal 2048 Kbit/s HDB-3 menjadi sinyal 2048 Kbit/s NRZ.

2) Fungsi Demultiplexing :
Memisah sinyal serial 2048 Kbit/s NRZ menjadi 30 kanal sinyal digital 64 kbps paralel.

3) Fungsi Decoder (Konverter D/A) :
Konversi sinyal digital 64 Kbit/s menjadi sinyal analog (frekwensi suara 300 - 3400 Hz).

1.2.5.2 Cara Kerja PCM – 30 Arah Terima

1.2.5.2.1 Line Coding.

Mengubah sinyal 2048 Kbit/s HDB-3 menjadi sinyal 2048 Kbit/s unipolar NRZ :
a. Setiap deretan bit 1+0 0 1+ atau 1-0 0 1- akan dikonversi menjadi deretan bit 0 0 0 0.
b. Setiap deretan bit 1+0 0 0 1+ atau 1-0 0 0 1- akan dikonversi menjadi deretan bit 1 0 0 0 0.

1.2.5.2.2 Demultiplexing.
Memisah satu sinyal serial 2048 Kbit/s NRZ menjadi 32 kanal sinyal digital 64 kbps paralel :
a. 30 kanal telepon 64 kbps,
b. 1 kanal signalling 64 kbps
c. 1 kanal FAS 64 kbps.

1.2.5.2.3. Decoder (Konverter D/A) :

Konversi sinyal digital 64 Kbit/s menjadi sinyal analog dalam bentuk PAM.
4. Filtering.
Low Pass Filter (LPF) akan membangun kembali dari bentuk sinyal PAM menjadi bentuk


sinyal sinusoidal murni.
LPF ini hanya melewatkan komponen frekwensi 3400 Hz kebawah.
1.2.5.2.3.5. Generator Timing Clock.

Generator Timing Clock berfungsi untuk membangkitkan timing clock yang dibutuhkan untuk seluruh proses pada PCM-30 pada arah terima.
Sumber dari generator timing clock adalah dari stasiun lawan, yang diterima bersamaan dengan sinyal informasi 2048 Kbps, sehingga clock timing antara penerima dan pengirimnya selalu sinkron