link: Mananging Consultant

Cari Blog Ini

Jumat, 20 Maret 2009

3G

3G
SEJARAH

Ada pun perkembangan teknologi nirkabel dapat dirangkum sebagai berikut:
1. Generasi pertama: analog, kecepatan rendah (low-speed), cukup untuk suara. Contoh: NMT (Nordic Mobile Telephone) dan AMPS (Analog Mobile Phone System)
2. Generasi kedua: digital, kecepatan rendah - menengah. Contoh: GSM dan CDMA2000 1xRTT
3. Generasi ketiga: digital, kecepatan tinggi (high-speed), untuk pita lebar (broadband). Contoh: W-CDMA (atau dikenal juga dengan UMTS) dan CDMA2000 1xEV-DO.
Antara generasi kedua dan generasi ke-3, sering disisipkan Generasi 2,5, yaitu digital, kecepatan menengah (hingga 150 Kbps). Teknologi yang masuk kategori 2,5G adalah layanan berbasis data seperti GPRS (General Packet Radio Service) & EDGE (Enhance Data rate for GSM Evolution) pada domain GSM dan PDN (Packet Data Network) pada domain CDMA.
DEFINISI
Secara umum, ITU-T, sebagaimana dikutip oleh FCC mendefinisikan 3G sebagai sebuah solusi nirkabel yang bisa memberikan kecepatan akses:
• Sebesar 144 Kbps untuk kondisi bergerak cepat (mobile).
• Sebesar 384 Kbps untuk kondisi berjalan (pedestrian).
• Sebesar 2 Mbps untuk kondisi statik di suatu tempat.
TEKNOLOGI 3G

Pada saat ini ada dua cabang dari pengembangan 3G, yaitu dari sisi GSM (Global System for Mobile Communication)yang dipelopori oleh 3G Partnership Project dan CDMA (Code Division Multiple Access) yang dipelopori oleh 3G Partnership Project 2 (3GPP2). Kedua teknologi tidak kompatibel dan sesungguhnya saling berkompetisi.
Salah satu alasan mengapa layanan 3G dapat memberikan throughput yang lebih besar adalah karena penggunaan teknologi spektrum tersebar yang memungkinkan data masukan yang hendak ditransimisikan disebar di seluruh spektrum frekuensi. Selain mendapatkan pita lebar yang lebih besar, layanan berbasis spektrum tersebar jauh lebih aman daripada timeslot dan/atau frequency slot.
Jaringan 3G tidak merupakan upgrade dari 2G; operator 2G yang berafiliasi dengan 3GPP perlu untuk mengganti banyak komponen untuk bisa memberikan layanan 3G. Sedangkan operator 2G yang berafiliasi dengan teknologi 3GPP2 lebih mudah dalam upgrade ke 3G karena berbagai network element nya sudah didesain untuk ke arah layanan nirkabel pita lebar (broadband wireless). Layanan 3G juga telah digembar-gemborkan namun pada kenyataannya, banyak ditemui kegagalan. Negara Jepang dan Korea Selatan adalah contoh dimana layanan 3G berhasil. Hal ini sangat mungkin disebabkan oleh faktor:
1. Dukungan pemerintah. Pemerintah Jepang tidak mengenakan biaya di muka (upfront fee) atas penggunaan lisensi spektrum 3G atas operator-operator di Jepang (ada tiga operator: NTT Docomo, KDDI dan Vodafone). Sedangkan pemerintah Korea Selatan, walau pun mengenakan biaya di muka, memberikan insentif dan bantuan dalam pengembangan nirkabel pita lebar (Korea Selatan adalah negara yang menggunakan Cisco Gigabit Switch Router terbanyak di dunia) sebagai bagian dalam strategi pengembangan infrastruktur.
2. Kultur masyarakatnya. Layanan video call, yang diramal menjadi killer application tidak terlalu banyak digunakan di kedua negara tersebut. Namun, layanan seperti download music dan akses Internet sangat digemari. Operator seperti NTT Docomo (Jepang) memberikan layanan Chaku Uta untuk download music. Sedangkan di Korea, layanan web presence seperti Cyworld yang diberikan oleh SK Tel, sangat digemari. Dengan layanan ini, pelanggan bisa mengambil foto dari handset dan langsung memuatnya ke web portal miliknya di Cyworld. Layanan ini kemudian ditiru oleh Flickr dengan handset N73.
3. Keragaman layanan konten. Docomo dan SKTel tidak menggunakan WAP standar sebagai layanan konten nya. Docomo mengembangkan aplikasi browser yang disebut iMode, sedangkan SKTel mempunyai June dan Nate.
EVOLUSI MENUJU 3G
Jaringan Telepon Telekomunikasi selular telah meningkat menuju penggunaan layanan 3G dari 1999 hingga 2010. Jepang adalah negara pertama yang memperkenalkan 3G secara nasional dan transisi menuju 3G di Jepang sudah dicapai pada tahun 2006. Setelah itu Korea menjadi pengadopsi jaringan 3G pertama dan transisi telah dicapai pada awal tahun 2004, memimpin dunia dalam bidang telekomunikasi.

Operator dan jaringan UMTS Pada tahun 2005, evolusi jaringan 3G sedang dijalankan untuk beberapa tahun dikarenakan kapasitas yang terbatas dari jaringan 2G yang ada. Jaringan 2G diciptakan dengan tujuan utama adalah data suara dan transmisi yang lambat. Dikarenakan cepatnya arus perubahan pada permintaan pengguna, kebutuhan akan nirkabel mereka tidak terpenuhi.
"2.5G" (Dan juga 2,75G) adalah teknologi seperti pelayanan data i-mode, telepon berkamera, pertukaran rangkaian data berkecepatan tinggi (atau disebut juga High-Speed Circuit-Switched Data atau disingkat HSCSD) dan Pelayanan paket radio umum (atau dikenal dengan General Packet Radio Service atau GPRS)diciptakan untuk menyediakan beberapa funsi utama seperti jaringan 3G, tapi tanpa transisi penuh ke jaringan 3G. Pelayanan-Pelayanan ini diciptakan untuk memperkenalkan kemungkinan dari penerapan teknologi nirkabel untuk pengguna dan penigkatan permintaan untuk pelayanan 3G.

Salah paham tentang 3G
Ada beberapa pemahaman yang salah tentang 3G di dalam masyarakat umum.
1. Layanan 3G tidak bisa tanpa ada cakupan layanan 3G dari operator. Hanya membeli sebuah handset 3G, tidak berarti bahwa layanan 3G dapat dinikmati. Handset dapat secara otomatis pindah ke jaringan 3G bila, pelanggan tidak menerima cakupan 3G. Sehingga bila seseorang sedang bergerak dan menggunakan layanan video call, kemudian terpaksa berpindah ke jaringan 2G, maka layanan video call akan putus.
2. Layanan 3G berada pada frekuensi 1.900 Mhz. ITU-T memang mendefinisikan layanan 3G untuk GSM pada frekuensi 1.900 Mhz dengan lebar pita sebesar 60 Mhz. Namun, pada umumnya, teknologi berbasis CDMA2000 menggunakan spektrum di frekuensi 800 Mhz, atau yang biasa dikenal sebagai spektrum PCS (Personal Communication System)

CDMA

Code division multiple access (CDMA) adalah sebuah bentuk pemultipleksan (bukan sebuah skema pemodulasian) dan sebuah metode akses secara bersama yang membagi kanal tidak berdasarkan waktu (seperti pada TDMA) atau frekuensi (seperti pada FDMA), namun dengan cara mengkodekan data dengan sebuah kode khusus yang diasosiasikan dengan tiap kanal yang ada dan mengunakan sifat-sifat interferensi konstruktif dari kode-kode khusus itu untuk melakukan pemultipleksan.
CDMA juga mengacu pada sistem telepon seluler digital yang menggunakan skema akses secara bersama ini,seperti yang diprakarsai oleh Qualcomm.
CDMA adalah sebuah teknologi militer yang digunakan pertama kali pada Perang Dunia II oleh sekutu Inggris untuk menggagalkan usaha Jerman mengganggu transmisi mereka. Sekutu memutuskan untuk mentransmisikan tidak hanya pada satu frekuensi, namun pada beberapa frekuensi, menyulitkan Jerman untuk menangkap sinyal yang lengkap.
Sejak itu CDMA digunakan dalam banyak sistem komunikasi, termasuk pada Global Positioning System (GPS) dan pada sistem satelit OmniTRACS untuk logistik transportasi. Sistem terakhir didesain dan dibangun oleh Qualcomm, dan menjadi cikal bakal yang membantu insinyur-insinyur Qualcomm untuk menemukan Soft Handoff dan kendali tenaga cepat, teknologi yang diperlukan untuk menjadikan CDMA praktis dan efisien untuk komunikasi seluler terrestrial.
Keuntungan CDMA
Teknologi CDMA sendiri memiliki berbagai keuntungan jika diaplikasikan dalam sistem seluler. Keuntungan-keuntungan tersebut antara lain :
• hanya membutuhkan satu radio yang dibutuhkan untuk beberapa sektor/cell
• tidak membutuhkan equalizer untuk mengatasi gangguan spektrum sinyal
• dapat bergabung dengan metode akses lainnya, tidak membutuhkan penghitung waktu (guard time) untuk melihat rentang waktu dan penjaga pita (guard band) untuk menjaga intervensi antarkanal
• tidak membutuhkan alokasi dan pengelolaan frekuensi
• memiliki kapasitas yang halus untuk membatasi para pengguna akses
• memiliki proteksi dari proses penyadapan
Fitur CDMA
• Sinyal pesan pita sempit ( narrowband ) akan digandakan dengan penyebaran sinyal pita lebar ( wideband ) atau pseudonoise code
• Setiap user mempunyai pseudonoise (PN) code sendiri sendiri.
• Soft capacity limit: performansi sistem akan berubah untuk semua pengguna begitu nomer pengguna meningkat.
• Near-far problem (masalah dekat-jauh)
• Interference terbatas:kontrol daya sangat diperlukan
• lebar bandwidth menimbulkan keaneka ragaman,sehingga meggunakan rake receiver
• Akan membutuhkan semua komputer yang pernah dibuat oleh manusia diatas bumi untuk memecahkan kode dari satu setengah percakapan dalam sistem CDMA!
Bacaan yang disarankan
• Andrew J. Viterbi. (1995) CDMA : Principles of Spread Spectrum Communication (1st edition) Prentice Hall PTR ISBN 0-201-63374-4
l • d • s
Layanan telekomunikasi seluler CDMA di Indonesia

Bakrie Telecom
Esia • Wifone • Wimode • EsiaTel

Indosat
StarOne

Mobile-8
Fren • Hepi

Sampoerna Telekom
Ceria

Smart Telecom
Smart

Telkom
TelkomFlexi

l • d • s
Layanan telekomunikasi seluler GSM di Indonesia

HCPT
3

Indosat
IM3 • Mentari • Matrix

NTS
AXIS

PSN
ByRU • PASTI

Telkomsel
simPATI • kartuAs • kartuHALO

XL
XL Prabayar • XL Pascabayar

source:
http://bonekmania-putranto.blogspot.com/2009/03/3g-sejarah-ada-pun-perkembangan.html

CAS

Exchange to Exchange Signaling
Terdiri atas :
- Common Associated Signaling (CAS), yaitu signaling dimana informasi speech dan informasi signaling mengalir melalui jalur yang sama.
- Common Channel Signaling (CCS), yaitu signaling dirnana informasi speech dan informasi signaling mengalir melalui jalur yang terpisah.

Signaling dibagi atas :
- Subcriber - Exchange signaling, signaling yang terjadi antara pesawat pelanggan dengan sentral ataupun sebaliknya. Signaling ini lebih dikenal sebagai subscriber signaling.
- Exchange - exchange signaling, yaitu signaling yang terjadi antar sentral telepon. Signaling antar sentral terdiri dari Channel Associated Signaling (CAS) dan_ Common Channel Signaling (CCS)

signalling
Signaling adalah semua pensinyalan yang dibutuhkan dalam melakukan panggilan di jaringan
telekomunikasi.

Arah Sinyal
Arah signaling terdiri dari arah forward dan arah reverse. Jika panggilan berasal dari A menuju B,
maka forward signal mengalir dari telepon A menuju sentral telepon B tempat B berada, sedangkan reverse signal adalah sebaliknya.

Pembawa Signaling
Pembawa signaling adalah, terdiri dari :
- Physical Circuit, yaitu suatu sirkit dimana tidak ada transformasi frekuensi percakapan (speech) pada sinyal yang melewatinya.
- Nonphysical Circuit, yaitu suatu sirkit dimana terdapat transformasi frekuensi speech ke frekuensi yang lebih tinggi (FDM) atau ke dalam bentuk digital (TDM).
- Signaling networks, yaitu jaringan khusus pembawa informasi signaling.

Tipe Sinyal
Tipe sinyal adalah, terdiri dari :
- Sinyal DC, yaitu sinyal direct current, contoh untuk on-off hook.
- Sinyal AC, sinyal at-us bolak balik, contohnya sinyal dering.
- Tone, sinyal berfrekuensi tertentu, baik di dalam frekuensi speech (inband signaling) maupun di luar frekuensi speech (outband signaling). Contohnya tone 16 khz untuk billing.
- MFC (Multi Frequency Coding), yaitu signaling dengan menggunakan kombinasi beberapa frekuensi,contohnya DTMF.
- Digital, yaitu signaling dengan menggunakan bit-bit digital.

Syarat Signaling
Persyaratan signaling antara lain :
- Andal, Transfer informasi yang andal (pelanggan yang ditujulah yang ringing).
- Cepat, proses call set up cepat.
- Tanpa noise.Klasifikasi Signaling

Subcriber Signaling
Terdiri atas signaling :
- Pelanggan ke sentral, yaitu signaling yang berasal dari pesawat pelanggan, terdiri dari on-off hook, nomor dial dan informasi jumlah uang (pay phone).
- Sentral ke pelanggan, yaitu signaling yang dikirimkan oleh sentral ke pesawat pelanggan, terdiri dari info status sentral sibuk atau tidak, info status pelanggan yang dipanggil sibuk atau tidak, info kongesti, info charging, serta dering.

http://kasih-yang-sempurna.blogspot.com/2008/08/signalling.html

CCS7

Signalling CCS7
By bensue


Pendahuluan
CCS7 atau common signaling system no.7 merupakan protocol yang paling banyak digunakan pada Telekomunikasi. Dikenal juga sebagai protocol yang menggunakan
out of band signaling yang menawarkan berbagai keunggulan dibanding dengan metodologi signaling lainnya.

Kemiripan dengan beberapa protocol lainnya adalah arsitekturnya yang bertingkat. CCS7 tersusun atas 4 tingkatan, 3 tingkat MTP (Message transfer part) dan 1 call control protocol.

Ada 2 komponen penting dalam suatu komunikasi lewat telepon. Yang pertama dan terpenting adalah isi komunikasi itu sendiri, yaitu suara, fax data, dan lain sebagainya. Yang kedua adalah informasi yang memerintahkan saluran telepon membangun komunikasi dan arah untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Informasi ini disebut sebagai Signalling. Karena digunakan secara luas, signaling telefoni ini distandarkan oleh ITU, standar-standar ini kemudian dikenal sebagai protocol. Salah satunya adalah CS7. Sebenarnya bukan hanya ITU yang membuat standarisasi untuk Signalling System No.7 ini, melainkan ada beberapa lembaga standarisasi lainnya, namun lembaga yang bertanggungjawab atas administrasinya adalah ITU.

Pada awalnya protocol ini dirancang untuk menyampaikan informasi berkenaan dengan pembangunan jalur hubungan komunikasi dan pemutusannya antar sentral telepon, kemudian diperluas cakupannya untuk berbagai tugas sehubungan dengan pengumpulan dan pelaporan informasi yang diperlukan bagi pengiriman dan pembangunan hubungan telepon. Standar SS7 sendiri saat ini telah meliputi spesifikasi yang luas dan beraneka ragam fungsi-fungsi pengaturan dalam hubungan telepon. Dan, CCS7 terbukti sangat sukses dan tangguh.

Saat ini dengan kecenderungan konvergensi antara jaringan berbasis circuit switching dan packet switching [jaringan IP], CCS7 menjadi perhatian penting bagi para perancang untuk menyatukan dua dunia ini. Pemahaman CCS7 merupakan komponen penting untuk memahami kinerja jaringan saat ini maupun di jaringan di masa depan.

Tujuan dari tinjauan umum ini adalah untuk memberikan penjelasan tentang peran CCS7 dalam jaringan telepon saat ini, untuk menyelusuri asalnya dan mempelajari arsitekturnya serta melihat perkembangannya di masa mendatang.

II. LATAR BELAKANG DAN SEJARAH

Untuk memahami CCS7, pertama kali kita harus memahami adanya kelemahan dasar dari metode signaling terdahulu yang dipakai pada jaringan telepon fixed [PSTN]. Pada kebanyakan jaringan PSTN hingga saat ini masih menggunakan metode signaling yang dikenal sebagai in band signaling.

Seluruh percakapan telepon yang menggunakan metode in band signaling ini membutuhkan trunk pembawa [bearer trunk] untuk membawa mereka dari asal ke tempat tujuannya. Pada masa-masa awal, hal ini diwujudkan dengan kabel tunggal yang diperuntukkan bagi setiap pelanggan. Switching diartikan sebagai menghubungkan pelanggan lewat sambungan kabel. Selain membawa percakapan atau ‘content’, trunk pembawa juga mengikut sertakan informasi signaling yang diperlukan untuk mengendalikan segala sesuatu yang berkenaan dengan komunikasi lewat telepon. Metode signaling seperti ini dikenal sebagai “Channel Associated Signalling” yang disingkat dengan CAS. Dapatlah dibayangkan, secara fundamental metode ini tidaklah efisien, mengapa demikian, karena kanal pembawa akan diduduki dari titik asal ke tempat tujuan walapun penerima di tempat tujuan tidak dapat menerima panggilan masuk. Padahal kanal ini haruslah digunakan se-efisien mungkin, dan hanya digunakan jika pihak penerima benar-benar dapat menerima panggilan masuk. Sehingga bila penerima panggilan sedang sibuk, kanal pembawa informasi ini tidak diduduki melainkan bisa digunakan oleh pelanggan lainnya yang benar-benar memerlukannya.

Oleh sebab itu diperkenalkanlah metode yang memisahkan informasinya dengan kanal pembawa, yang disebut dengan “Common Channel Signalling” atau CCS. Dengan CCS, diperlukan suatu kanal khusus hanya untuk membawa informasi signaling namun mampu dan bertanggung-jawab untuk mengendalikan sejumlah besar kanal-kanal pembawa informasi [voice channel]. Metode signaling ini dikenal juga sebagai out of band signaling.

http://bensue.wordpress.com/2008/08/25/signalling-ccs7/

GSM, DCS, PCS

GSM, DCS, PCS


Q. What is the difference between GSM, DCS and PCS?

A. Really nothing at all. All DCS and PCS are is a different technical implementations of the GSM standard - namely GSM 900, DCS 1800 and PCS1900. All of these systems use GSM technology, but they operate at different frequencies. GSM900 operates at 900MHz , DCS1800 operates at 1800 MHz and PCS 1900 operates at 1900 MHz.

Q. Can I use my GSM 900 Phone on DCS 1800 or PCS 1900 network?

A. No. You can use your SIM card in a DCS 1800 or PCS 1900 providing your operator has a roaming agreement. There are new phones being developed now. The first Dual Mode handsets will be available by the end of 1997.

http://www.mobileworld.org/gsm_faq_02.html

There is a also a Tri Mode handsets being developed that is tri-band (900, 1800 and 1900 MHz) and tri-codec (fullrate, halfrate and enhanced fullrate).

Telia Mobitel of Sweden are planning to intergrate DCS 1800 into their 900 network by the beginning of next year. Because they're both the same standard with the same specifications, the same GSM switches can be used for both. All that needs to be installed is the radio network, along with a software upgrade to the switches to handle the two frequency bands.

Q. What is fullrate, halfrate and enhanced fullrate?

A. Half Rate Codec is a way of increasing the capacity of the network. The handset MUST support this or it will use Full Rate and offer not benefits to the network operator. Quality as well is supposed to suffer.

Full Rate Codec is what is being used now by all networks.

Enhanced Full Rate Codec offers much better speech quality, rivaling that of the fixed network.

Q. What is Cell Broadcast?

A. Cell Broadcast allows you to view information on the screen of your phone updated automatically. For example it can tell you what area you're in. by selecting other channels, you can access other services like traffic reports, weather, sporting and many other services. For example the network could if there was an accident it one suburb alert all mobile users in that suburb of it. Or if there are roadworks, the uses are unlimited.

A message up to 93 characters can be sent. This message can be updated every two seconds.

Bisnis tidak harus selalu diawali dengan uang

Bisnis Modal Dengkul


Logikanya, bisnis pasti memerlukan modal uang, bukan modal dengkul. Jadi, mana mungkin memulai bisnis dengan modal dengkul? Mungkin saja. Ingin tahu rahasianya? Baca terus yang berikut.

MODAL DASAR

Ternyata memulai suatu bisnis tidak harus selalu diawali dengan uang. Uang memang penting, tetapi ternyata bukan yang terpenting. Ada tiga modal dasar yang harus kita miliki jika ingin memulai suatu usaha.
Keberanian. Jika ingin memulai usaha baru, modal pertama dan terutama bukanlah uang, tetapi keberanian: keberanian berubah, keberanian untuk bermimpi, keberanian untuk bertindak, keberanian untuk gagal, dan keberanian untuk sukses. Segunung ide dan segudang uang tak ada artinya tanpa keberanian. Henry Nestle, raja bisnis dalam industri makanan bayi dan makanan kering, memulai bisnisnya dari keberanian untuk berubah. Pada masa krisis ekonomi berkepanjangan, sulit bagi rakyat di negaranya untuk mencari makanan untuk bayi. Nestle yang pada saat itu adalah seorang ahli kimia, menggunakan keahliannya untuk menemukan solusi terbaik bagi makanan bayi yang mudah dibuat dan bergizi. Setelah berjuang untuk berusaha, akhirnya Henry berhasil menemukan ramuan yang paling tepat untuk makanan bayi. Temuannya ini kemudian dikembangkan menjadi bisnis yang berhasil dan mendunia.
Keyakinan. Selain keberanian, kita juga perlu memiliki keyakinan sukses. Keyakinan ini hanya bisa kita dapatkan jika kita memiliki mimpi sukses yang jelas. Semakin jelas gambaran kita mengenai mimpi kita, semakin tinggi derajat keyakinan kita untuk sukses. Dengan gambaran yang jelas, akan lebih mudah bagi kita untuk mempersiapkan semua yang diperlukan ataupun dipersyaratkan bagi terwujudnya mimpi tersebut. Kenichi Ohmae, ”Management Guru” dari Jepang, melihat perlunya semua orang, terutama pelaku bisnis untuk memiliki gambaran kesuksesan mereka di masa depan dengan jelas, karena gambaran yang jelas ini dapat menumbuhkan keyakinan untuk mewujudkannya secara proaktif. Keyakinan juga bisa ditumbuhkan dari persiapan yang cukup. Charles Schwab seorang investor yang merupakan pionir dalam mendirikan perusahaan pialang, dengan menuliskan semua yang ingin diraihnya secara rinci. Rincian mimpi sukses ini disusun kembali berdasarkan prioritas yang ingin dicapainya, dan rencana aksi untuk mencapainya. Strategi penyusunan prioritas dan rencana aksi ini, ternyata berhasil menumbuhkan keyakinan Schwab untuk sukses. Dengan strategi ini, Schwab berhasil membangun kerajaan bisnisnya di bidang investasi, sehingga menjadi perusahaan pialang terkemuka di dunia.
Ketekunan. Membangun sebuah bisnis memang tidak mudah. Upaya ini memerlukan perjuangan yang tekun sebelum sukses dapat diwujudkan. Orang yang sukses adalah orang yang tidak menyerah sebelum sukses itu dapat diraih. Mungkin saja ia harus mengalami banyak kegagalan, tetapi ia bangkit kembali dan memiliki keuletan untuk mencoba lagi. Thomas Alva Edison, penemu bola lampu, dan pendiri perusahaan barang-barang elektronik terkemuka di dunia, General Electrics, juga berhasil berkat ketekunannya yang luar biasa. Dalam upaya menemukan bola lampu tersebut, Edison harus mengalami banyak kegagalan. Jika orang lain berhenti berusaha ketika terantuk pada kegagalan yang pertama, kedua, ketiga ataupun keempat, tidak demikian dengan Edison. Ia puluhan kali harus mengalami kegagalan, sebelum akhirnya bola lampu berhasil ditemukannya. Ketekunannya ini membuahkan hasil yang tidak hanya bisa dinikmati oleh Thomas Alva Edison sendiri, melainkan juga oleh seluruh dunia. Ray ”McDonald” Kroc juga memiliki ketekunan yang luar biasa dalam membangun bisnis makanan cepat sajinya ini. Sebelum meraih keberhasilan, berbagai profesi pernah ditekuninya, dari supir truk sampai salesman, dari posisi terendah sampai tertinggi. Semua dijalaninya dengan tekun tanpa putus asa, walaupun berbagai penolakan, kegagalan harus dijalaninya. Hasilnya? Luar biasa. Ketekunan Ray Kroc telah mempersembahkan kerajaan bisnis makanan cepat saji yang telah menggurita di seluruh dunia.

MODAL DENGKUL
”Saya tidak punya uang untuk memulai usaha. Saya belum memiliki cukup modal untuk berbisnis.” Ini yang sering dijadikan alasan oleh banyak orang yang menunda memulai usaha sendiri. Ternyata kita tidak perlu menunggu sampai modal besar datang. Usaha bisa dimulai dengan modal ”dengkul”. Caranya?
Ide. Semua usaha berawal dari sebuah ide yang kemudian dijual. Jadi, asal kita sudah punya ide bisnis yang baik, walaupun belum punya modal, kita bisa menjual ide bisnis kita tersebut untuk kemudian dijadikan uang. Bill Gates, kaisar kerajaan Microsoft, juga memulai usahanya dengan modal ide. Setelah drop out dari Harvard, Bill Gates berani bermimpi untuk memiliki bisnis yang dapat menjadi saingan IBM. Mimpi ini ia pupuk terus sehingga membuahkan keberanian untuk bertindak. Dengan keberanian ini, Bill Gates menjual ide briliannya yang menawarkan solusi bisnis di bidang teknologi informasi ke berbagai investor, sampai akhirnya ia mampu menggalang dana yang cukup untuk memulai usahanya.
Kemitraan ala Restoran Padang. Jika kita punya keterampilan tapi tidak punya uang, mengapa kita tidak bermitra dengan orang yang punya uang, tetapi tidak mempunyai keberanian dan keterampilan yang kita miliki. Strategi bisnis dengan prinsip kerja sama win-win ini ternyata sudah lama diterapkan oleh para pelaku bisnis yang menekuni usaha restoran Padang. Tim manajemen dan pemilik modal bermitra untuk menjalankan bisnis ini. Tim manajemen tidak digaji melainkan diberikan bagian keuntungan (sesuai dengan prosentasi yang disepakati bersama) yang diperoleh dari menjalankan bisnis restoran tersebut. Strategi kemitraan seperti ini tentunya bisa juga diterapkan di industri yang berbeda.
Bayar di Muka. Dasar dari sebuah bisnis adalah kepercayaan. Jika orang lain telah menaruh kepercayaan kepada kita, tentunya akan lebih mudah bagi kita untuk melakukan bisnis dengan modal dengkul. Misalnya saja, jika kita mendapat pesanan untuk mengekspor barang ke luar negeri, tetapi kita tidak punya cukup uang untuk memproduksi barang yang akan diekspor tersebut, kita bisa mencoba untuk meminta pembeli untuk membayar di muka sebagian. Uang yang kita dapatkan ini bisa kita gunakan untuk memproduksi barang yang telah dipesan. Untuk mendapatkan uang muka tersebut, kita juga bisa mencoba mengajukan aplikasi kredit ekspor ke bagian Trade Services di Bank, dengan menunjukkan sales contract yang sudah ditandatangani untuk mengekspor sejumlah barang serta dokumen lain yang diperlukan. Dengan menunjukkan kepastian pembelian barang dari mitra di luar negeri, akan lebih mudah bagi kita untuk memperoleh fasilitas kredit dari bank. Cara ini banyak dilakukan oleh pelaku bisnis yang mengekspor barang ke luar negeri ataupun yang mengimpor barang dari luar negeri.
Perantara. Tidak ada modal bukan merupakan alasan bagi kita untuk tidak memulai usaha. Ada banyak cara yang bisa kita lakukan untuk memulai bisnis dengan modal dengkul. Salah satunya adalah dengan bertindak sebagai perantara. Di sini kita bertindak seperti perantara antara produsen (pemilik barang) dan konsumen (pembeli barang). Kita bisa membantu orang yang memiliki barang untuk menjualkan barangnya kepada konsumen. Lalu kita bisa menjualkan barang tersebut di tempat usaha kita (dengan cara konsinyasi). Setelah barang terjual, kita bisa mendapatkan komisi dari hasil yang terjual. Uang yang berhasil kita kumpulkan, bisa kita gunakan untuk mengembangkan bisnis kita lebih lanjut. Cara ini digunakan oleh Charles Scwab dengan bisnis pialangnya yang menjadi perantara dalam penjualan saham dan surat-surat berharga lainnya.
Jual Keahlian. Jika kita memiliki keahlian ataupun pengalaman berharga di suatu bidang yang jarang dimiliki orang lain, kita bisa mencoba menjual keahlian dan pengalaman kita tersebut untuk membantu orang lain dalam melakukan bisnis mereka. Jika kita memiliki pengalaman dan keahlian di bidang IT, kita bisa menawarkan pengalaman dan keahlian kita sebagai solusi bagi bisnis orang lain. Jika kita memiliki keahlian dalam bidang bahasa Inggris, kita bisa menawarkan jasa terjemahan dokumen, interpreting dalam seminar ataupun pertemuan bisnis, maupun pelatihan bahasa Inggris bagi pelaku bisnis. Jika kita memiliki keahlian dalam musik, kita bisa menawarkan keahlian kita untuk menghibur orang lain di berbagai acara, ataupun melatih orang lain untuk memainkan alat musik yang bisa kita mainkan. Para konsultan bisnis, konsultan pendidikan, artis, dan olahragawan profesional menggunakan strategi ini untuk meraih sukses.
Pada prinsipnya, jika kita sudah bertekad untuk memulai sebuah bisnis, uang bukanlah modal utama. Yang perlu dimiliki adalah keberanian, keyakinan, dan ketekunan. Setelah itu, untuk memulai usaha, kita tidak perlu menunggu sampai modal besar terkumpul. Kita bisa mendapatkan modal dari berbagai sumber, antara lain dengan menjual ide, menerapkan manajemen ala restoran padang, memenangkan kepercayaan mitra bisnis sehingga mereka bersedia bayar di muka untuk jasa yang kita tawarkan, menjadi perantara ataupun menjual keahlian kita sebagai solusi bagi orang lain. Jadi, siapa bilang kita tidak bisa memulai usaha dengan ”modal dengkul”?

http://www.sinarharapan.co.id/ekonomi/mandiri/2004/0803/man01.html

Kamis, 26 Februari 2009

IBM Tivoli Storage Manager

IBM Tivoli Storage Manager
IBM Tivoli Storage ManagerDeveloped by IBM
Latest release 5.5 / November 2007
OS cross-platform
Type backup
License Proprietary
Website www.ibm.com
"ADSM" redirects here. For the stock exchange, see Abu Dhabi Securities Market.

IBM Tivoli Storage Manager (TSM or ITSM) is a centralized, policy-based, enterprise class, data backup and recovery software. The software enables a user to insert objects not only via backup, but also space management and archive tools. It also allows to retrieve the same data via similar restore, recall, and retrieve methods.

This product is part of the IBM TotalStorage suite of products and is unrelated to Tivoli Framework.

The product was known as ADSTAR Distributed Storage Manager (ADSM) before 1999 re-branding.
Contents

* 1 Product details
o 1.1 Implementation
o 1.2 Data Sources
* 2 Subproducts
o 2.1 Special APIs
o 2.2 Interface products
o 2.3 Non-Tivoli API clients
* 3 History
o 3.1 Major releases
* 4 See also
o 4.1 External links

Product details

TSM maintains a relational database (limit 534GB through TSM v5.5) and recovery log (aka transaction log, limit 13 GB) for logging, configuration, statistical information, and object metadata. DB pages are always 4KB, and partitions every 4MB. Single row inserts only. On average, 20GB of space is consumed for every 25 million objects. Shallow directory structures utilize less TSM DB space than deeper paths. This database may generally be queried via an emulated SQL-98 compliant interface, or through undocumented SHOW, CREATE or DELETE commands.

Actual user data is managed via a cascading hierarchy of storage media (Primary Storage Pools) presented as raw devices (UNIX), filesystem containers (Windows and Linux), streaming tape or optical media. Additionally, emulated tape from a Virtual Tape Library or EMC Centera WORM archival device are also supported. Additionally, duplicate copies (Backupsets or Copy Storage Pools) of any subset of data may be created on sequential media for redundancy or offsite management.

The 5.5 release of the TSM Server is supported on AIX, HP-UX, Linux, Solaris, Windows Server, and z/OS. The current 5.5 release of the TSM Client is supported on NetWare, Mac OS, AIX, HP-UX, Linux, z/OS, Solaris, and Windows 32/64-bit.

Implementation

Typically, a TSM implementation receives small files from large numbers of clients to a random access disk pool. This prevents sequential access device contention. Once the data is received, or if the pool fills, then typically, the data will spool to a smaller number of high-speed tape devices. Many other configurations are possible, and overall, TSM is highly flexible.

Data Sources

The most common data source for ITSM is the ITSM Backup/Archive Client, which allows backup and restore of data "selectively", "incrementally". This is generally known as "Incremental Forever" as each unique client+filespace+path+file combination is separately tracked for retention.

Further, a separate method is provided by the B/A client which is known as archive (and retrieve). This method generates groupings of objects to be retained as a single unit. This still differs from traditional full/incremental style backup products in that the files are stored separately or in smaller aggregates rather than as a monolithic image. Additionally, there is no provision for an incremental archive.

Other data injectors include policy-based hierarchical storage management (HSM) components for AIX, Linux and Windows. These allow migration of data from production disk into one or more of the TSM storage hierarchies while maintaining transparent access to that data by the use of DMAPI or NTFS reparse points.

Finally, many applications provide or are provided with TSM API connections allowing the storage of databases, mail systems, system backups and even arbitrary user data within TSM's repository. Aside from ITSM's UNIX HSM product, only the "Backup" and "Archive" management facilities are accessed through the client API.

Subproducts

The naming convention is to prefix every product name with "IBM Tivoli Storage Manager":

* Client aka Backup/Archive Client for most major operating systems at supported versions
* Server for most major server operating systems
* for Advanced Copy Services - Hardware based snapshots for major database backups. Formerly ITSM for Hardware.
* for Copy Services - Windows snapshots for Exchange and MSSQL.
* for Databases - An API for Oracle RMAN and a GUI & CLI tool for MSSQL backups.
* for Data retention - A zOS client to manage long-term archiving of data.
* for Enterprise Resource Planning - - Allows online backup of SAP R/3 stored in Oracle or DB2. Formerly backint developed by IBM Germany in Entwicklung by the Enterprise Service Division (ESD) as a "Support Offering" to back up SAP R/3 directly into TSM. This product was acquired by Tivoli as Tivoli Data Protection for R/3.
* for Mail - These are external applications that tie into the API for Lotus Domino (aka Notes) and Microsoft Exchange for online backups.
* for SharePoint - This is a repackaged copy of DocAve, still marketed by OEM AvePoint
* for Space Management - (HSM) for Linux and AIX. The Linux/Unix product uses the "MIGDESTINATION" hierarchy within TSM and has objects managed as "SPACEMG" types.
* for HSM for Windows - (HSM) for Windows. The Windows product is OpenStore for File Servers produced by INTERCOPE GmbH.
* for Storage Area Networks (SAN) - aka "LAN Free Storage Agent" This is a modified version of the TSM Server itself, offering no local TSM Database. Configuration is purely for server-to-server library sharing. This allows the agent to write to tapes managed by the primary TSM server without having to pass data over the network.
* for System Backup and Recovery - This is a standalone product for AIX bare metal recovery. The original name was Sysback/6000, produced by Tony Johnson in the 1990s and sold by IBM as a service offering through IBM Global Services. Sysback can back up and restore files, filesystems, volume groups, and entire systems to local or remote disk, local or remote tape, NIM servers, and TSM. Current versions can also recover systems via the files backed up using the TSM B/A client. There is a major branch of this product. When Tony Johnson left IBM in 1998, he started a company and product named Storix. Storix is feature rich and supports AIX and Linux, has a GUI management interface, and is very similar in origins to Sysback. Storix actively competes with IBM's Sysback due differing price structures and features.

Special APIs

Administrative functions are accessed through the IBM command line tool, via IBM's Websphere Portal application known as the "Administration Center", or via ODBC. No third party admin API clients exist at this time March, 2008.

ITSM utilizes two special purpose agents. First is the LAN-Free Storage Agent. This is a limited function TSM server which is configured as a library client and uses server-to-server communication to coordinate the use of storage resources which are configured to TSM but which are also presented to the storage agent. Usually this LAN-free and server-free backup agent is installed on the specific client; however, it is network accessible and could be utilized to bypass network bottlenecks. One example would be to connect via infiniband between two Bladecenter chassis, where one has SAN attachment to tape, and the other does not. This could bypass a limited ethernet bandwidth without having to move the TSM server instance.

The second is the NDMP api. NDMP is used by NetApp and other network attached storage (NAS) to allow tape access to the appliance itself rather than having to back it up via an attached NAS client. TSM supports NDMP v3 and v4, with data transiting the LAN or allowing the appliance direct access to shared tape.

Interface products

* IBM TSM for Storage Archive Manager - This is a marketing name for TSM Enterprise Edition features which help maintain archive retention for regulatory purposes.

* IBM TSM for NDMP - this is a marketing name for TSM EE features allowing both LAN and LAN-free backups of network attached storage (NAS). Specifically, NetApp filers or EMC Centera are supported; however, any NDMP v3 or NDMP v4 client should be supported.

* IBM Tivoli Storage Manager Operational Reporting - This is a portion of the TSM MMC for Windows which can generate webpages and email out of SQL queries and simple processing of that data. Custom SQL can be added; however, the reporting tool provides no trending or graphing functionality. This is seen as one of the major faults of TSM.

* The Disaster Recovery Manager (DRM), is part of the "Enterprise Edition" of the product. This is a set of commands which aid in the management of offsite secondary copies of data, the TSM Database backups required to access those media, and the configuration data required to recover the TSM database in case of a loss.

Non-Tivoli API clients

SQL-Backtrack - A product by BMC to back up a variety of database products into TSM.

DB2 - Being major, internally developed product, DB2 contains its own direct connection into the TSM API.

adsmpipe - an unsupported tool provided by IBM through its RedBook site for piping data directly into TSM. Commonly used to back up MySQL

Data Protector for MySQL - a software to backup MySQL to TSM provided by repostor MySQL

Data Protector for PostgreSQL - a software to backup PostgreSQL to TSM provided by repostor postgreSQL

Data Protector for Firebird/Interbase - a software to backup Firebird/Interbase databases to TSM provided by repostor FirebirdInterbase

Data Protector for Sybase - a software to backup sybase databases to TSM provided by repostor sybase

Data Protector for SQLanywhere - a software to backup SQLanywhere databases to TSM provided by repostor SQLanywhere

Data PRotector for Progress -a software to backup Progress databases to TSM provided by repostor Progress

ADINT - developed by IBM Germany in Entwicklung by the Enterprise Service Division (ESD) as a "Support Offering" to back up SAP MaxDB directly into TSM.

Archive Backup Client for OpenVMS - A product by STORServer Inc. to back up OpenVMS systems into TSM. With ABC you can back up, archive, restore, query and manage OpenVMS files stored on TSM servers as a logical extension to the on-line OpenVMS ODS-2 or ODS-5 file systems.

STORServer Data Protection for Oracle Rdb on OpenVMS - A product by STORServer Inc. to backup Oracle on OpenVMS into TSM.

CBMR - A product by Cristie sold as a BMR tool for Linux, Solaris and Windows using TSM as a datastore.

History

TSM is descended from the Workstation DataSave Facility (WDSF) project done at IBM's Almaden Research Center around 1990. WDSF's original purpose was to back up PC/DOS, OS/2, and AIX workstation data onto an MVS (and later VM/CMS) server.

The TSM database through to release 5.5 is a bespoke B+ tree database with an architectural limit of approximately 530GB, and 13GB of log space. Although the TSM database uses many of the same underlying technologies as IBM's DB2, has an SQL engine (though for read-access only), and supports access through ODBC, until release 6.1 it was a custom embedded database sharing no DB2 code. IBM has announced that TSM will use a DB2 database, commencing with release 6.1.

Major releases

* IBM Tivoli Storage Manager 6.1 (anticipated), March 2009[1]
* IBM Tivoli Storage Manager 5.5 November, 2007
* IBM Tivoli Storage Manager 5.4 January, 2007
* IBM Tivoli Storage Manager 5.3 2005
* IBM Tivoli Storage Manager 5.2 2003
* IBM Tivoli Storage Manager 5.1.5
* IBM Tivoli Storage Manager 5.1.0
* Tivoli Storage Manager 4.2.1 August, 2001
* Tivoli Storage Manager 4.2.0 May 7, 2001
* Tivoli Storage Manager 4.1 2000
* Tivoli Storage Manager 3.7 1999
* ADSTAR Distributed Storage Manager 3.1.2 September 3, 1998 (with DRM)
* ADSTAR Distributed Storage Manager 3.1.1
* ADSTAR Distributed Storage Manager 3.1 1997
* ADSTAR Distributed Storage Manager 2.1 1995
* ADSTAR Distributed Storage Manager 1.2.1 1995 for AS/400 (EZADSM for OS/2 released)
* ADSTAR Distributed Storage Manager 1.2 1994 for OS/2 and AIX
* ADSTAR Distributed Storage Manager 1.1 July 29, 1993
* Workstation DataSave Facility (WDSF40 for VM) September 9, 1990

Versions and Releases typically aimed for mid-November, but often run late.

IBM follows the "Version, Release, Maintenance, Patch" numbering for this product. Versions generally come out architectural changes. Releases are roll-up bundles of new features. Maintenance levels are regression tested fix bundles. Patches are small fixes that are not fully regression tested, but correct common issues.

Each number is a branch in the development tree, such for example, defects corrected in 5.3.5.0 might still exist in 5.4.1.2.

See also

* List of backup software
* Adstar
* Tape Management System

External links

* IBM Tivoli Storage Manager homepage
* ADSM.ORG web community - Known for ADSM-L electronic mailing list and Internet forum
* ADSM.QuickFacts, authored by Richard Sims, is the definitive resource for TSM.
* TSMWIKI - The TSM wiki is a Wiki branch of ADSM.QuickFacts.
* TSM FAQ/Wiki
* TSMExpert.org
* repostor
* IBM TotalStorage Products
* TSM hints and tips
* ADSM-L Mail List RSS Feed
* ADSM-L Mail List ATOM Feed
* TSMBlog.org
* TSM Manager Software

Dave Cannon docs at Oxford TSM symposium
Categories: IBM software | Backup software | Storage software

IBM Integreted Computer

IBM Integreted Computer



Archives Information System
Powered by Content Manager

Content Manager is a solution for Object Management System,. Content Manager is Interface for user to access the system content manager on PC. Content Manager can organized and manage file data like audio, video, text, and image format.
Find Out


Lotus® Notes, Domino, Domino Designer

Lotus Notes, Domino Server Family and Domino Designer is the latest release of the world's leading products for information management, messaging, collaboration and Web application development. The R5 product line, conceived with the qualities and capabilities of the Internet, delivers on the promise of enabling users to find, act upon and share information, further improving communication among groups, organizations and people everywhere. Find Out



IBM Tivoli Storage Manager

IBM Tivoli Storage Manager is the core product of the IBM Tivoli Storage Management product set. It provides a solution for distributed data and storage management in an enterprise network environment. IBM Tivoli Storage Manager supports a wide variety of platforms for mobile, small and large systems, and delivers together with complementary products, many data management functions, such as data protection for file and application data, record retention, space management, and disaster recovery. Find Out




WebSphere

IBM WebSphere Application Server is a high-performance and extremely scalable transaction engine for dynamic e-business applications. The Open Services Infrastructure allows companies to deploy a core operating environment that works as a reliable foundation capable of handling high volume secure transactions and Web services

1G to 4G

Evolusi Teknologi Telekomunikasi Bergerak: 1G to 4G

Teknologi telekomunikasi merupakan salah satu teknologi yang berkembang dengan sangat cepat. Mulai dengan berkembangnya pemanfaatan teknologi VoIP (Voice over Internet Protocol), teknologi satelit yang memugkin melakukan komuikasi dimana saja, kapan saja dan oleh siapa saja. Teknologi telekomunikasi bergerak (mobile technology) juga mengalami perkembangan yang sangat cepat dimulai dengan layanan yang kita kenal 1G sampai dengan 4G.

Pendahuluan

Masih ingatkah Anda ketika menggunakan peger sekitar 12 tahun yang lalu?. Saya masih ingat ketika teman saya berbicara kepada salah satu operator peger untuk menyampaikan pesan kepada teman satu kelasnya yang bunyinya “Hai Lala, besok kita ketemu jam 2 di BIP (Bandung Indah Plaza) setelah pulang sekolah, dari Adam”.

Itulah alat komunikasi bergerak pertama yang sempat populer di kota – kota besar di Indonesia. Teknologi peger dikategorikan dalam kategori simplex transmission dimana komunikasi hanya bisa dilakukan satu arah dari operator ke user dan tidak bisa sebaliknya.

Generasi Pertama Telekomunikasi Bergerak (1G)

Tidak sampai setahun teknologi komunikasi baru mulai dioperasikan di Indonesia yang kita kenal dengan teknologi AMPS (Advanced Mobile Phone System) salah satu operatornya adalah PT. Komselindo.

AMPS digolongkan dalam generasi pertama teknologi telekomunikasi bergerak yang menggunakan teknologi analog dimana AMPS bekerja pada band frekuensi 800 Mhz dan menggunakan metode akses FDMA (Frequency Division Multiple Access).

Dalam FDMA, user dibedakan berdasarkan frekuensi yang digunakan dimana setiap user menggunakan kanal sebesar 30 KHz. Ini berarti tidak boleh ada dua user yang menggunakan kanal yang sama baik dalam satu sel maupun sel tetangganya.

Oleh karena itu AMPS akan membutuhkan alokasi frekuensi yang besar. Saat itu kita sudah memakai handphone tetapi masih dalam ukuran yang relatif besar dan baterai yang besar karena membutuhkan daya yang besar.

Generasi Kedua Telekomunikasi Bergerak (2G)

GSM (Global System for Mobile Communications) mulai menggeser AMPS diawal tahun 1995 dan Indosat merupakan salahsatu operator pelopor teknologi GSM di Indonesia.

GSM menggunakan teknologi digital. Ada beberapa keunggulan menggunakan teknologi digital dibandingkan dengan analog seperti kapasitas yang besar, sistem security yang lebih baik dan layanan yang lebih beragam.

GSM menggunakan teknologi akses gabungan antara FDMA (Frequency Division Multiple Access) dan TDMA (Time Division Multiple Access) yang awalnya bekerja pada frekuensi 900Mhz dan ini merupakan standard yang di pelopori oleh ETSI (The European Telecommunication Standard Institute), dimana frekuensi yang digunakan dengan lebar pita 25 KHz Pada band frekuensi 900 Mhz.

Pita frekuensi 25 KHz ini kemudian dibagi menjadi 124 carrier frekuensi yang terdiri dari 200 KHz setiap carrier. Carrier frekuensi 200 KHz ini kemudian dibagi menjadi 8 time slot dimana setiap user akan melakukan dan menerima panggilan dalam satu time slot berdasarkan pengaturan waktu.

Teknologi GSM sampai saat ini paling banyak digunakan di Dunia dan juga di Indonesia karena salah satu keunggulan dari GSM adalah kemampuan roaming yang luas sehingga dapat dipakai diberbagai Negara. Akibatnya mengalami pertumbuhan yang sangat pesat.

Keceptan akses data pada jaringan GSM sangat kecil yaitu sekitar 9.6 kbps karena pada awalnya hanya dirancang untuk penggunaan suara. Saat ini pelanggan GSM di Indonesia adalah sekitar 35 juta pelanggan.

CDMA One (Code Division Multiple Access) merupakan standard yang dikeluarkan oleh Telecommunication Industry Association (TIA) yang menggunakan teknologi Direct SequenceSpread Spectrum(DSSS) dimana frekuensi radio 25 MHz pada band frekuensi 1800MHz dan dibagi dalam 42 kanal yang masing-masing kanal terdiri dari 30KHz. Kecepatan akes data yang bisa didapat dengan teknologi ini adalah sekitar 153.6 kbps.

Dalam CDMA, seluruh user menggunakan frekuensi yang sama dalam waktu yang sama. Oleh karena itu, CDMA lebih efisien dibandingkan dengan metoda akses FDMA maupun TDMA. CDMA menggunakan kode tertentu untuk membedakan user yang satu dengan yang lain.

Pada tahun 2002 teknologi CDMA mulai banyak digunakan di Indonesia. Teknologi CDMA 2000 1x adalah teknologi yang mangamai perkembangan yang baikdi Indonesia. Berarti baru diperkenalkan sekitar 7 tahun terlambat dibandingkan dengan GSM.

GSM dan CDMA merupakan teknologi digital. Meskipun secara teknologi CDMA 20001x lebih baik dibandingkan dengan GSM akan tetapi kehadiran CDMA ternyata tidak membuat pelanggang GSM berpaling ke CDMA.

Ada beberapa keunggulan teknologi CDMA dibandingkan dengan GSM seperti suara yang lebih jernih, kapasitas yang lebih besar, dan kemampaun akses data yang lebih tinggi.

Berbeda dengan metode akses TDMA dan FDMA, maka CDMA menggunakan kode-kode tertentu untuk membedakan setiap uses pada frekuensi yang sama.

Karena menggunakan frekuensi yang sama maka daya yang dipancarkan ke BTS dan juga daya yang diterima harus diatur sedemikian rupa sehingga tidak mengganggu user yang lain baik dalam sel yang sama atau sel yang lain dan ini dapat diwujudkan dengan menggunakan mekanisme power control.

Ada beberapa operator di Indonesia yang telah mengimplementasikan teknologi CDMA 20001x ini, salahsatunya Indosat dengan nama StarOne.

Operator CDMA di Indonesia dikategorikan kedalam kategori FWA (Fixed Wireless Access) sehingga mobilitasnya sangat terbatas padahal CDMA juga bisa seperti GSM dengan kemampuan mobilitas penuh.

Generasi kedua-setengah Telekomunikasi Bergerak (2.5G)

Pada awalanya akses data yang dipakai dalam GSM sangat kecil hanya sekitar 9.6 kbps karena memang tidak dimaksudkan untuk akses data kecepatan tinggi.

Teknologi yang digunakan GSM dalam akses data pada awalnya adalah WAP (Wireless Application protocol) tetapi tidak mendapat sambutan yang baik dari pasar.

Kemudian diperkenalkan teknologi GPRS (General Packet Data Radio Services) pertama sekali oleh PT. Indosat Multi Media (IM3) pada tahun 2001 di Indonesia.

Secara teoritis kecepatan akses data yang dicapai dengan menggunakan GPRS adalah sebesar 115 Kbps dengan throughput yang didapat hanya 20 – 30 kbps. GPRS juga memungkinkan untuk dapat berkirim MMS (Mobile Multimedia Message) dan jugamenikmati berita langusng dari Hand Phone secara real time.

Pemakaian GPRS lebih ditujukan untuk akses internet yang lebih flexibel dimana saja, kapan saja, kita dapat melakukannya asalkan masih ada sinyal GPRS.

Generasi ketiga Telekomunikasi Bergerak (3G)

Video call melalui saluran 3G Sekarang lagi ramai dibicarakan tentang generasi ketiga teknologi bergerak atau yang sering disebut 3G. Teknologi 3G didapatkan dari dua buah jalur teknologi telekomunikasi bergerak.

Pertama adalah kelanjutan dari teknologi GSM/GPRS/EDGE dan yang kedua kelanjutan dari teknologi CDMA (IS-95 atau CDMAOne).

UMTS (Universal Mobile Telecommunication Service) merupakan lanjutan teknologi dari GSM/GPRS/EDGE yang merupakan standard telekomunikasi generasi ketiga dimana salah satu tujuan utamanya adalah untuk memberikan kecepatan akses data yang lebih tinggi dibandingkan dengan GRPS dan EDGE.

Kecepatan akese data yang bisa didapat dari UMTS adalah sebesar 384 kbps pada frekuensi 5KHz sedangkan kecepatan akses yang didapat dengan CDMA1x ED-DO Rel0 sebesar 2.4 Mbps pada frekuensi 1.25MHz dan CDMAx ED-DO relA sebesar 3.1Mbps pada frekuensi 1.25MHz yang merupakan kelanjutan dari teknologi CDMAOne.

Berbeda dengan GPRS dan EDGE yang merupakan overlay terhadap GSM, maka 3G sedikit berbeda dengan GSM dan cenderung sama dengan CDMA.

3G yang oleh ETSI disebut dengan UMTS (Universal Mobile Telecommunication Services) memilih teknik modulasi WCDMA(wideband CDMA). Pada WCDMA digunakan frekuensi Radio sebesar 5 Mhz pada band 1.900 Mhz (CdmaOne dan CDMA 2000 menggunakan spectrum frekuensi sebesar 1.25 MHz) dan menggunakan chip rate tiga kali lebih tinggi dari CDMA 2000 yaitu 3.84 Mcps (Mega Chip Per Second).

Secara teknik dalam jaringan UMTS terjadi pemisahan antara circuit switch (cs) dan packet switch (ps) pada link yang menghubungkan mobile equipment (handphone) dengan BTS (RNC) sedangkan pada GPRS dan CDMA 2000 1x tidak terjadi pemisahan melainkan masih menggunakan resource yang sama di air interface (link antara Mobile Equipment dengan BaseStation). HSPDA (Higth Speed Packet Downlink Access) merupakan kelanjutan dari UMTS dimana ini menggunakan frekuensi radio sebesar 5MHz dengan kecepatan mencapai 2Mbps.

Ada 5 operator telekomunikasi di Indonesia yang telah memiliki lisensi 3G(IMT 2000). Tiga diantara operator tersebut adalah operator yang telah memberikan layanan telekomunikasi generasi kedua (GSM) dan kedua setengah (GPRS).

Jika operator tersebut akan mengimplementasikan teknologi UMTS maka ada penambahan perangkat seperti base station (Node B) dan RNC(Radio Network Controller) dan upgrade software. Adapun yang harus di upgrade adalah pada radio akses karena GSM menggunakan metode akses TDMA dan FDMA dan menggunakan frekuensi radio 900KHz dan 1800 MHz sedangkan UMTS menggunakan metode akses WCDMA(Wideband Code Division Multiple Access) dengan frekuensi radio 5 MHz. oleh karena itu perlu penambahan radio access network control (RNC) dan juga perlu penambahan base station WCDMA (Node B) dan tentunya juga terminal harus diganti dan juga upgrade software pada MSC,SGSN dan GGSN.

Oleh karena itu untuk mengimplementasikan UMTS sebagai teknologi generasi ketiga membutuhkan biaya yang besar. Biaya tersebut diperuntukkan untuk membayar lisensi 3G kepada pemerintah, membayar lisensi 3G kepada vendor 3G, biaya penambahan Base Station/Node B, RNC(Radio Network Controller) dan biaya upgrade software pada MSC (Mobile Switching Centre), SGSN(Serving GPRS Support Node), GGSN(Gateway GPRS Support Node) dan jaringan lain.

Salah satu contoh layanan yang paling terkenal dalam 3G adalah video call dimana gambar dari teman kita bicara dapat dilihat dari handphone 3G kita. Layanan lain adalah , video conference, video streaming, baik untuk Live TV maupun video portal, Video Mail, PC to Mobile, serta Internet Browsing.

Tantangan yang muncul adalah, Apakah pelanggan membutuhkan layanan tersebut? Jawabannya kita bisa perdebatkan. Adalah sangat bijaksana jika kita melihat layanan sebelumnya yang sudah pernah ada.

Kita mulai dengan layanan WAP (Wireless Application Protocol) pada jaringan GSM dimana kita bisa mengakses berita melalui handphone berarti kita bisa melakukannya dimana saja dan kapan saja. Apakah layanan ini digolongkan sukses? Sangat sedikit orang yang menggunakannya waktu itu sehingga saya menyebutnya layanan yang tidak sukses.

Kenapa tidak sukses? Selain dari faktor utama kebayakan pengguna belum membutuhkan, akses data yang lambat dibandingkan dengan akses lain seperti dial-up dan WLAN merupakan alasan lain dan juga pelanggan kurang puas dengan tampilan yang kecil di layar handphone.

Sekarang kita bandingkan dengan layanan SMS (Short Message Services) yang awalnya tidak diperkirakan akan menjadi success story karena hanya teks singkat. Lalu kenapa sms menjadi killer application? Alasan pertama adalah, SMS tidak membutuhkan banyak perangkat tambahan dalam jaringan GSM sehingga tidak membutuhkan investasi yang besar dan yang kedua teknologi SMS mudah dimengerti, mengirim dan menerima sms itu mudah maka orang mudah mengerti fungsinya sehingga mereka menilainya layanan yang realistis.

Banyak orang mempelajari fenomena sms ini tetapi tidak dapat dibuat suatu rumusan yang baku untuk membuat layanan baru supaya bisa sukses seperti sms. Akan tetapi ada beberapa yang UMTS merupakan kelanjutan dari teknologi GSM/GPRS dimana perbedaan utamanya adalah kemampuan akses data yang lebih cepat. Kecepatan akses data dalam UMTS bisa mencapai 2Mbps (indoor dan low range outdoor).

Tetapi jika kita bandingkan dengan GPRS maka kecepatan datanya juga bisa mencapai 115 kpbs dimana untuk penggunaan akes internet sudah memadai.Dalam analisa saya, GPRS kurang sukses di pakai di Indonesia karena belum banyak pelanggan yang membutuhkan akes internet dalam keadaan bergerak, tarif yang mahal dibandingkan dengan layanan yang diberikan oleh WLAN, kecepatan akses data yang belum stabil merupakan beberapa alas an kurang suksesnya implementasi teknologi GPRS.

Generasi keempat Teknologi Telekomunikasi Bergerak (3.5G dan 4G)

Untuk meningkatkan kecepatan akses data yang tinggi dan full mobile maka standar IMT-2000 di tingkatkan lagi menjadi 10Mbps,30Mbps dan 100Mbps yang semula hanya 2Mbps pada layanan 3G.

Kecepatan akses tersebut didapat dengan mengguanakan teknologi OFDM(Orthogonal Frequency Division Multiplexing) dan Multi Carrier. Di Jepang layanan generasi keempat ini sudah di implementasikan.

Penutup

Teknologi telekomunikasi akan terus berkembang terus dan penelitian ke generasi kelima juga sudah dimulai. Kita bangsa Indonesia adalah pemakai teknologi tersebut sehingga kita harus bisa memilih teknologi yang benar-benar dibutuhkan masyarakat Indonesai yang jumlahnya sekitar 230 juta.

Layanan telekomunikasi dasar seperti telepon dan sms dengan biaya yang terjangkau yang sangat dibutuhkan masyarakat khususnya yang tinggal di luar kota-kota besar.

Dibeberapa daerah yang kami survey ternyata masih banyak ibukota kecamatan yang belum memiliki fasilitas telepon kabel sekalipun padahal daerah tersebut adalah daerah yang potensial sedangkan di Jakarta untuk mendapatkan layanan pasang baru (PSB) diberikan diskon besar-besaran dan bahkan gratis. (*)

Sumber: IlmuKomputer.Com, http://parlinpasaribu.com

Kamis, 04 Desember 2008

FTTH

FTTx
source: http://ejlp.blogspot.com/

FTTx merupakan teknologi akses jaringan tetap yang sekarang sedang 'hot'. hal ini ditunjukan dengan besarnya pangsa pasar, bersaingnya vendor-vendor telekomunikasi besar untuk menjual produk-produk dan layanan deployment FTTx serta banyak dibicarakannya FTTx pada media. Jadi saya coba menulis tentang FTTx ini.

Dengan berkembangnya internet (layanan berbasis IP) dan konektivitas broadband maka kebutuhan akan bandwith yang besar dengan kecepatan tinggi menjadi meningkat. Hal ini juga didorong oleh operator yang berusaha memberikan layanan baru untuk meninggkatkan keuntungannya. Operator maupun vendor telekomunikasi saat ini sedang giat-giatnya jualan produk maupun service seperti IPTV atau Cable TV/CATV, Video on Demand yang membutuhkan bandwith yang besar.

Saat ini jaringan ke rumah-rumah didominasi oleh jaringan kabel tetap (fixed wireline) yang menggunakan tembaga (cooper) yang memiliki kekurangan karena dianggap tidak dapat memberikan bandwith yang tinggi dibandingkan dengan kabel fiber optik. Karena hal itu orang mulai beralih ke teknologi kabel optik untuk mendapatkan bandwith yang lebih tinggi menggunakan teknologi FTTx (Fiber to the x) yaitu istilah generik yang digunakan untuk beberapa arsitektur jaringan fiber optik untuk telekomunikasi yang menggantikan jaringan kabel tembaga.

Catatan: Dalam berita ini, kabel tembaga dengan teknologi Dynamic Spectrum Management (DSM) kecepatannya dapat menyaingi fiber optik.

Beberapa arsitektur jaringan fiber optik tersebut adalah:

FTTH (Fiber to the Home)
FTTH adalah arsitektur jaringan kabel fiber optik dibuat hingga sampai ke rumah-rumah atau ruangan dimana teminal berada.


FTTB (Fiber to the Building)
Jaringan kabel optik (fiber) sampai pada gedung komersial atau tempat tinggal dan kemudian didistrubusikan ke masing-masing ruangan dengan jaringan kabel tembaga (kabel telepon atau kabel CAT 5e/6)


FTTP (Fiber to the Premises)
FTTP merupakan nama generik yang digunakan untuk istilah FTTB dan FTTH karena secara arsitektur FTTB dan FTTB sama.

FTTC (Fiber to the Curb)
Jaringan fiber dibuat sampai pada suatu titik pendistribusian (curb) yang berada sekitar 100 feet dari tempat pengguna berada. Dari curb ke rumah-rumah digunakan koneksi kabel tembaga. Curb biasanya melayani 8 sampai 24 pelanggan.

FTTN (Fiber to the Node/Neighborhood)
jaringan fibre dibuat sampai pada suatu node yang berupa kabinet berlokasi di pinggir jalan sehingga disebut juga FTTCab. Jarak antara titik pendistribusian dengan pelanggak pada FTTN lebih jauh dariapada FTTC. Jumlah pelanggan yang bisa dilayani juga lebih banyak biasanya sampe ratusan pelanggan. FTTN juga menggunakan kabel tembaga untuk koneksi dari kabinet ke rumah-rumah.


Jadi dapat disimpulkan bahwa inti perbedaan antara teknologi FTTx diatas adalah bagaimana kabel fiber optik disambungkan sedekat mungkin dengan terminal yang dimiliki pelanggan seperti diilustrasikan pada gambar berikut:


Gambar copyright dari telcordia.com

Catatan istilah:


OLT - Optical Line Terminal, yaitu alat (device) yang berada pada kantor pusat operator jaringan telekomunikasi.
ONU - Optical Network Unit, yaitu device yang berfungsi mengubah sinyal optik menjadi sinyal eleketrik untuk kemudian sinyal tersebut di-demultiplex agar dapat didistribusikan menggunakan kabel tembaga ke tempat pelanggan (premises).
ONT - Optical Network Terminal, yaitu device yang berfungsi untuk mengubah sinyal optik menjadi sinyal elektrik yang berada pada tempat pelanggan agar pelanggan. Device ini digunakan pada jaringan FTTH.

Softswitch

Sekilas Softswitch
source: http://ariefin.wordpress.com/

Munculnya konsep softswitch diharapkan dapat menjadi jawaban bagi strategi evolusi PSTN konvensional menuju ke jaringan masa depan berbasis paket. Hal ini dikarenakan softswitch dapat beroperasi secara penuh bersama PSTN. Langkah tersebut akan merupakan langkah awal yang merupakan pemanfaatan PSTN eksisting hingga umur perangkat PSTN tersebut habis, yang selanjutnya akan digantikan oleh node-node akses yang lebih sederhana yang sekaligus dapat melayani voice dan data secara bersamaan.

Softswitch adalah sistem sentral yang mampu memberikan layanan teleponi dengan seluruh layanan nilai tambahnya (VAS-Value Added Services), yang dimasa depan akan mampu memadukan berbagai kemampuan layanan voice, data dan multimedia dalam satu jaringan terpadu secara lebih efisien.

Keuntungan dan peluang yang bisa diperoleh dengan implementasi Softswitch, antara lain :

§ Konstruksi : jaringan dapat dibangun dengan biaya minimal

§ Operasi dan Pemeliharaan : biaya operasi dan pemeliharaan jaringan terpadu akan lebih ekonomis dan mudah dibanding dengan jaringan yang terpisah

§ Layanan : jaringan bisa memberikan layanan nilai tambah yang dapat meningkatkan daya saing perusahaan

§ Kastamer : jaringan bisa memberikan layanan yang lebih personal yang mendukung upaya pemeliharaan dan penambahan pelanggan

Definisi softswitch menurut ISC adalah suatu perangkat yang memiliki kemampuan paling tidak sebagai berikut:

o Mengontrol layanan koneksi bagi suatu media gateway, dan/atau native IP endpoints.

o Memilih proses yang dapat diterapkan pada suatu panggilan

o Routing untuk panggilan dalam jaringan

o Mentransfer kontrol panggilan ke elemen jaringan lain

o Antarmuka untuk mendukung fungsi manajemen seperti penyediaan layanan, fault, billing, dan lain-lain.

Arsitektur jaringan berbasis Softswitch terdiri atas 4 (empat) bidang fungsional jaringan sebagai berikut; Manajemen Plane, Transport Plane, Call Control & Signaling Plane, dan Application Plane.

Gambar–gambar berikut ini adalah contoh-contoh implementasi softswitch.

Gambar 1. Konsep softswitch untuk wireline



Gambar 2. Konsep softswitch untuk tandem switching

Gambar 3. Konsep Access Network over IP

Sigtran sebagai protokol transport

Dari ketiga gambar contoh diatas, kita melihat adanya gateway yang melakukan pemetaan protokol dari protokol TDM ke protokol di jaringan IP. Dari protokol CCS7 (ISUP) dapat dilakukan pemetaan di layer MTP2 dengan menggunakan mekanisme M2PA dan M2UA, di layer MTP3 dilakukan pemetaan dengan menggunakan mekanisme M3UA dan di layer SCCP dilakukan pemetaan dengan menggunakan mekanisme SUA. Untuk signalling di sisi akses seperti V5.1 dan V5.2 dilakukan pemetaan dengan menggunakan mekanisme V K 5UA sedangkan untuk ISDN dengan IUA.

Kesemua fungsi pemetaan tersebut diatur oleh suatu standar dunia yang dikeluarkan oleh Internet Engineering Task Force (IETF) yang disebut dengan Signalling Transport (Sigtran). SIGTRAN dipergunakan sebagai protokol Interworking antara jaringan PSTN dengan jaringan IP. Protokol Sigtran menyediakan seluruh fungsi yang dibutuhkan untuk mendukung signalling TDM over IP, termasuk diantaranya :

- Flow control

- In-sequence delivery of signalling message

- Identifikasi originating dan terminating signalling point

- Identifikasi sirkit voice

- Error detection, retransmission, dan prosedur error correction lain

- Kontrol untukmenghindari kongesti pada internet

- Deteksi status entity

- Mendukung mekanisme keamanan dari informasi signalling

Gambar berikut ini adalah protokol stack Sigtran, dimana IP, SCTP dan adaptation protocol adalah model dari Sigtran Acrhitecture.

Gambar 4. Sigtran Protocol Stage

Berikut adalah contoh-contoh mekanisme pemetaan yang digunakan dalam protokol Sigtran.



Gambar 5. SS7 access for Media Gateway Controller



Gambar 6. SS7 peer to peer access for Signalling Gateway



Gambar 7. SS7 access for Signalling Gateway via STP




Gambar 8. SS7 access to IP/SCP



Gambar 9. Q.931 access to MGC



Gambar 10. V5.2 Interworking for Connection Control

V5 User Adaptation Layer (V5UA) merupakan suatu metoda untuk memetakan pensinyalan V5.2 ke dalam format IP. V5UA diperlukan agar pesan pensinyalan pada jaringan sircuit switch (SCN) dapat dikirim dari Access Gateway menuju ke Media Gateway Controller (MGC). Fungsi pemetaan ini akan dilakukan oleh suatu perangkat yang disebut dengan Access Gateway dengan memanfaatkan keunggulan teknologi SCTP (Stream Control Transmission Protocol).

Stream Control Transmission Protocol

SCTP adalah perkembangan teknologi dari TCP (Transmission Control Protocol) atau dapat disebut juga sebagai ‘super TCP’. SCTP dirancang untuk memenuhi kebutuhan penggunaan yang lebih luas dibandingkan dengan yang dapat diberikan oleh TCP.

SCTP merupakan suatu layer yang terletak antara layer user adaptation dan layer IP di dalam protokol Sigtran. Layer ini dirancang untuk menyediakan aplikasi protokol transmisi. Berikut ini adalah selengkapnya layer SCTP.



Gambar 11. SCTP Layer

Secara sekilas proses aliran data dalam protokol SCTP dapat digambarkan seperti dibawah ini.



Gambar 12. Proses aliran data dalam SCTP

Di dalam SCTP segala pesan akan dipotong-potong kedalam paket –paket yang lebih kecil oleh SCTP Data Chunk. Data Chunk ini akan dikirimkan ke SCTP Packet untuk digabungkan dengan Control Chunk menjadi sebuah paket SCTP tunggal. Paket tersebut akan dikirimkan ke MGC melalui jaringan IP.

Di penerima (MGC) paket-paket data tersebut akan dipisahkan kembali menjadi kumpulan data dan control. Kumpulan data tersebut akan disusun kemali sesuai pesan/informasi aslinya.

Kesimpulan

- Protokol Sigtran memungkinkan protokol-protokol yang bekerja di jaringan PSTN dapat dilewatkan ke dalam jaringan IP.

- Dengan adanya protokol Sigtran pada transport layer dalam arsitektur softswitch dimungkinkan pengontrolan panggilan yang efektif dan efisien karena protokol Sigtran dengan dukungan SCTP memiliki kemampuan untuk melakukan hal tersebut.

- SCTP pada protokol Sigtran dibentuk dari common header dan kumpulan chunk. SCTP merupakan suatu layer yang terletak antara layer user adaptation dan layer IP. Layer ini dirancang untuk menyediakan aplikasi protokol transmisi.

- Data-data dari protokol adaptasi akan dipotong-potong menjadi Data Chunk – Data Chunk yang akan digabungkan dengan Control Chunk sebelum dikirimkan ke MGC sebagai sebuah paket SCTP.

10.GPS : Satelit Penentu Posisi di Belahan Bumi
Deteksi Posisi bukan lagi untuk kebutuhan militer ataupun explorasi, di saat dunia demam wireless ataupun komunikasi selular, penggunaan deteksi posisi menjadi sebuah kebutuhan di dunia telekomunikasi. GPS menawarkan solusi terakurat dari metode-metode yang ada.

Solusi Next Generation Signalling Transport

Sumber:
http://www.ristinet.com/

SS7 merupakan standard pensinyalan yang mendefinisikan protokol dan pertukaran informasi antar perangkat jaringan terutama jaringan inti (core network) seperti switching . Hubungan antar node yang menggunakan SS7 ini akan membentuk suatu jaringan tersendiri. Peran jaringan SS7 demikian vital, merupakan urat syaraf yang mengontrol seluruh fungsi dan layanan jaringan, sehingga secara infrastruktur memerlukan kehandalan dalam hal network managebility, scalability dan reliable traffic delivery. Secara traditional, jaringan SS7 terdiri dari link-link dedicated out of band yang berupa kanal 64-kbps bidirectional. Selain fungsi dasar call control, jaringan SS7 bertanggung jawab terhadap autentikasi pelanggan, pengiriman trafik message dan fungsi inteligen jaringan seperti number portability dan layanan enhanced calling. Setiap service baru yang ditawarkan ke pelanggan memerlukan persyaratan dan beban tambahan pada jaringan SS7.

Contoh layanan yang diberikan ke pelanggan sebagai fitur “overlay” pada jaringan SS7 adalah layanan SMS. Saat ini dibeberapa operator telekomunikasi, prosentase pertumbuhan trafik layanan data terlihat sangat signifikan yang pada akhirnya pertumbuhan dari sektor ini juga ikut meningkat. Namun demikian pertumbuhan layanan data yang fantastis ini bagi operator mendatangkan keuntungan dan kerugian. Meskipun pendapatan yang dihasilkan memberikan pengaruh positif terhadap ARPU (average-revenue-per-user), namun trafik layanan yang timbul membuat jaringan SS7 traditional menjadi overload. Protocol pada jaringan SS7 tidak didesain untuk mengakomodasi permintaaan yang kritis antara trafik ISDN User Part (ISUP) dan trafik SMS. Pertumbuhan pelanggan mobile maupun fixed wireless access yang begitu cepat ikut mempengaruhi volume trafik SMS secara dramatis. Tanpa ekspansi kapasitas jaringan SS7, peningkatan trafik data akan mempengaruhi operasi dari jaringan tradisonal.

Salah satu solusi yang ditawarkan untuk menjawab permasalahan diatas adalah melalui teknologi IP Transfer Point (ITP). ITP merupakan sebuah perangkat (hardware dan software) yang mampu menyalurkan trafik Signaling System 7 (SS7) di atas jaringan IP (SS7 over IP). ITP memiliki realibilitas yang tinggi, dengan biaya yang relative terjangkau dapat menjadi sarana untuk memigrasikan Signaling System 7 (SS7) pada teknologi jaringan signaling telekomunikasi menuju sistem jaringan pada lingkungan berplatform IP.

Secara umum kapabilitas yang dapat diberikan ITP yaitu :

§ Seluruh fungsi Signaling Transfer Point (STP) traditional dengan TDM atau Internet Engineering Task Force (IETF) Standar SS7 over IP (SS7oIP) (STP atau MTP2-User-Peer-to-Peer Adaptation Layer [M2PA] ).

§ Gerbang layanan IP-to-intelligent network (MTP3-User Adaptation [M3UA] atau SCCP User Adaptation [SUA] signaling gateway).

§ Remote Access Dial-In User Service (RADIUS)-to- Mobile Application Part (MAP) gateway untuk autentikasi subscriber identity module (SIM) pada wireless LAN (WLAN) atau penggelaran Universal Mobile Telecommunications System (UMTS) (MAP gateway + SIM authentication feature set).

§ Inteligen MAP atau Transaction Capabilities Application Part (TCAP) level routing untuk efisiensi layanan (MAP gateway + multilayer routing feature set)

Full Traditional Fungsi STP atau IETF Standard SS7oIP

Ketika diperlukan penambahan kapasitas jaringan SS7, maka ITP menyediakan sebuah solusi yang reliable dan cost effective. Operator sudah menyadari bahwa mereka tidak akan melanjutkan pembelian perangkat STP tradisional karena tidak menyediakan keperluan fungsionalitas IP pada arsitektur 3G mobile network dan next generation wireline network. Next generation STP tidak didefinisikan sebagai STP tradisional dengan Ethernet interface card. Next generation STP adalah integrasi antara perangkat penyaluran SS7 dan IP dengan dukungan terhadap protokol IP routing, media IP WAN seperti ATM dan optikal, virtual private network (VPN) sekuriti seperti IP security (IPSec), firewall, dan dukungan IP QoS seperti Multi Protocol Label Switching (MPLS) dan IP Differentiated Services. Pada next generation signaling network, link A TDM diterminated pada jaringan dan IP digunakan sebagai core transport. Fitur IP menjadi begitu penting, dengan kemampuan untuk menampilkan ruting SS7 seperti Global Title Transaction (GTT).

Manfaat yang diperoleh dari penggelaran infrastruktur next generation signaling transport adalah sebagai berikut :

· Tidak ada perubahan arsitektur; ITP mendukung sepenuhnya mode TDM. Ketika menggunakan SS7oIP, translasi routing SS7 akan sama untuk linkset TDM atau IP.

· Fleksibilitas; Terdapat fleksibilitas ketika melakukan penambahan kapasitas.

· Biaya; next generation signaling transport memerlukan biaya yang lebih rendah untuk belanja modal maupun operasional.

· Performansi; Next generation signaling transport meningkatkan nilai rasio performansi per rack dengan mengurangi footprint dan mengurangi konsumsi power.

· Efisiensi jaringan; Next generation signaling transport memberi keuntungan investasi pada infrastruktur jaringan TDM dan IP.

· Intelligent network gateway; Next generation signaling transport dapat berfungsi sebagai gateway untuk integrasi antara jaringan TDM dan IP.

· Aplication layer routing; TCAP, MAP dan MAP-User routing memungkinkan penggelaran yang efisien untuk layanan-layanan baru.

· Managebility – Network monitoring dan provisioning berbasis IP akan meningkatkan efisiensi operasi.

Jadi sudah jelas, tidak ada titik awal dan titik akhir yang tunggal pada proses migrasi. Pada umumnya ITP difungsikan sebagai TDM STP murni, STP dengan beberapa SS7oIP link-set untuk reduksi cost.

Keperluan Kapasitas Core SS7 Transport

Pertumbuhan subscriber atau pengenalan layanan akan memerlukan peningkatan kapasitas jaringan, maka ITP dapat menyediakan solusi yang mampu meminimalkan capital expenditure (CapEx). Gambar 1 menunjukan ITP yang digelar sebagai STP tradisional. ITP mendukung seluruh fungsi STP tradisional.

Gambar 1. ITP pada mode STP

Menawarkan Type TDM Link yang Fleksibel

Untuk penggunaan A-link melalui F-link, ITP mendukung low speed 56 atau 64 kbps DS0 link (low speed signaling link [LSL] ) atau high speed 1.544 atau 2.0 Mbps unchannelized T1/E1 (high speed signaling link [HSL] ). Protokol SS7 memungkinkan lebih dari 16 link pada sebuah linkset antara dua node bertetangga. Untuk link ke central resource seperti Home Location Register (HLR) dan SMS center (SMSC), didefinisikan pembatasan SS7 linkset yang dihasilkan pada low speed link bandwidth botlleneck ke perangkat. Untuk mengatasi pembatasan bandwidth, maka bisa digunakan unchannelized 1.5-Mbps (American National Standards Institute [ANSI]) atau 2.0-Mbps (International Telecommunication Union [ITU]) SS7 HSL. Sebuah linkset bisa berisi lebih dari 16 high speed link. Upgrade dari low speed link ke high speed link tidak akan menyebabkan perubahan arsitektur jaringan SS7. Message Transfer Part Layer 2 (MTP 2) menyediakan Message Signal Unit (MSU) yang reliable dan teratur yang dikirim untuk low speed link. Semua routing dan high availability intelligence ditempatkan pada layer MTP3. Migrasi dari low speed link ke high speed link merupakan substitusi Layer 1 dan 2 yang sederhana. HSL menyediakan cara yang efektif untuk meningkatkan bandwidth ke sebuah node tepi (edge node) atau untuk mengumpulkan beberapa low speed link dari remote atau regional site ke signaling core. Gambar 2 memperlihatkan perubahan stack SS7 yang diperlukan untuk mengimplementasi high speed link.

Gambar 2. Stack Protokol SS7 untuk TDM Low atau High Speed Link

Jalur Migrasi menuju Konvergensi TDM dan IP

Saat ini operator telco sedang mengidentifikasi beberapa penggerak untuk penggelaran link IP di signaling core. Pada situasi yang ideal, operator lebih cenderung merealisasikan efisiensi operasional dengan mengoperasikan jaringan tunggal untuk semua layanan pelanggan. Pengembangan messaging service dan standard 3G berbasis SS7 telah ikut menumbuhkan panggilan untuk SS7oIP, sehingga kedepan seluruh service pelanggan akan berjalan diatas IP core network. Efisiensi operasional yang signifikan dapat dicapai melalui migrasi. Namun demikian untuk hasil yang optimal, perencanaan migrasi yang matang sangatlah diperlukan.

Penggerak lain yang signifikan adalah bahwa IP core transport lebih efisien dibandingkan link TDM. Bandwidth IP dapat dibagi ke seluruh trafik, sebaliknya hanya dua node berdekatan yang dapat menggunakan fasilitas TDM point to point. Pada saat trafik rendah antara 2 node, bandwidth TDM akan boros. Link IP dapat digunakan untuk membawa beberapa jenis trafik signaling melalui IP core. Dengan fitur IP QoS, waktu pengiriman trafik kritikal dapat dijamin. Beberapa operator telah menghemat biaya hingga 50% dengan menyalurkan ke IP link dibandingkan lewat TDM tradisional.

Gambar 3 menunjukan penggelaran ITP pada remote switch (end node). Operator dapat memaksimalkan penggunaan IP network dengan memperluas penggunaan IP transport berdampingan dengan network sebelumnya. Pada kasus ini, link-link TDM (MTP2) determinate pada node akhir dan hanya aliran MSU MTP3 pada wide-area network. Tentunya, ITP dapat digelar pada central site dengan menyederhanakan penggunaan IP untuk link B dan D.

Gambar 3. Migrasi menuju IP network

Sebuah Link IP hanyalah Link Kecepatan sangat Tinggi – Tidak mempengaruhi Translasi

Pada tahun 1999, IETF Signaling Transport (SIGTRAN) Working Group dibentuk. Tugasnya adalah mengembangkan dan menstandardisasikan message dan protokol yang diperlukan untuk membawa siganaling PSTN dan PLMN diatas jaringan IP. Untuk transport peer-to-peer antara dua node SS7, IETF telah mendefinisikan Stream Control Transmision Protocol (SCTP, RFC 2960) dan M2PA.

M2PA dan SCTP bekerja bersama untuk menyediakan MTP3 dengan layanan transport layer yang reliable ekivalen terhadap MTP2. M2PA dengan SCTP dan IP merupakan penyederhanaan substitusi SS7 Layer 1 dan 2. Link IP akan berjalan diatas fasilitas tradisional T1 atau E1, sebaik Ethernet, ATM, optikal atau IP LAN lain atau tipe-tipe media wide-area. Gambar 4 menunjukan hubungan antara protokol M2PA dan layer MTP.

Gambar 4. M2PA, SCTP dan Substitusi Layer IP untuk MTP2 dan MTP1

Seperti pada kasus pengenalan high-speed link, layer MTP3 tidak mengetahui apakah sebuah link merupakan low-speed, high-speed atau IP. Semua fitur MTP3 availibilitas tinggi berjalan sama diatas semua tipe link. Kongesi, deteksi failure layer 2, change-over, change-back, load balancing, screening dan fitur MTP3 lain dipelihara, dengan cara demikian terjadi pemeliharaan karakteristik availabilitas tinggi dari protokol SS7 tradisional diatas berbagai tipe link. Hal ini termasuk full GTT dan manajemen Signaling Connection Control Part (SCCP) juga disediakan, independen dari tipe link. Lebih jauh, provisioning dan manajemen link, route dan GTT akan diidentifikasi ke STP TDM tradisional dan juga akan independen terhadap tipe link. Hal ini akan meminimalisasi kompleksitas operational, administrasi dan pemeliharaan dari petugas operasional jaringan.

ITP QoS

Jaringan ITP SS7oIP memungkinkan fitur traffic engineering dan QoS ketika digunakan untuk mendukung penambahan bandwidth TDM tradisional. Sistem intelligent pada trafik memungkinkan operator mengidentifikasi, mengklasifikasi dan memisahkan trafik SS7 dan IP tergantung kebutuhan aliran trafik individual. Gambar 5 menunjukan fitur penting ini.

Gambar 5. QoS pada ITP

Salah satu kekuatan kunci dari ITP adalah kemampuan untuk membuat klasifikasi QoS secara inteligent berdasarkan parameter SS7 dengan menguji dan men-decode konten paket SS7. Informasi ini memungkinkan ITP mengidentifikasi aliran individual data dan memprioritaskan untuk titik kongesi pada trafik kritikal. Misalnya, ketika menggunakan QoS pada jaringan SS7oIP, adalah penting untuk membedakan antara ISUP kritikal versus trafik SMS dan menyediakan perbedaan bandwitdh dan jaminan untuk setiap kategori tersebut.

Pada end-to-end QoS melibatkan tiga step penting. Pertama, MSU incoming harus diklasifikasikan dengan memiliki kelas khusus atau traffic flow (misalnya : ISUP, SMS atau location update). Kedua, jika terdapat kongesi pada jaringan IP, ITP harus menggunakan kelas pada tiap MSU untuk menetapkan MSU yang mana yang akan ditransmisikan berikutnya.Kelas didefinisikan sehingga ITP menjamin bandwitdh dan urutan pengiriman sesuai kelasnya. Bit Type-of-Service (ToS) didalam IP header akan ditandai pada kelas prioritas. Terakhir, node IP core network transit harus menguji bit ToS pada IP packet header dan menjaga QoS aliran MSU.

Klasifikasi merupakan proses mengidentifikasi kelas QoS yang mana dari sebuah MSU. Berikut kriteria yang tersedia untuk menempatkan trafik kedalam kelas QoS :

· Input klasifikasi linkset (semua MSU berasal dari linkset tertentu)

· Klasifikasi Destination Point Code (DPC)

· Klasifikasi paket SCCP (per Global Title Address [GTA] atau tabel GTT)

· Klasifikasi service indicator field

· Klasifikasi access list (kombinasi dari beberapa hal diatas)

IP-Enabled End Nodes (ITPSG Feature Set)

Dengan penambahan penggelaran layanan via jaringan SS7, bandwidth yang diperlukan menuju Signaling End Point (SEP) dapat menjadi beban signifikan ketika menggelar layanan. Pembatasan 16 link per linkset (pada jaringan STP tradisional) bisa sebagai faktor pembatas. Tipe IP-enabled service node dan asosiasinya sebagai pendorong bisnis adalah sebagai berikut :

· SCP billing; Salah satu pendorong adalah layanan konvergensi billing yang memungkinkan layanan prepaid dan postpaid yang fleksibel.

· SCP application; Misalnya ring tone atau Intelligent Network Application Part (INAP) atau Customized Application for Mobile networks Enhanced Logic (CAMEL) berbasis layanan intelligent network.

· SMSC – untuk menambah pertumbuhan trafik SMS eksisting, layanan interaktif (misal : SMS voting via radio atau televisi)

· HLR – karena HLR terlibat pada hampir semua layanan subscriber, pertumbuhan layanan dan subscriber akan menambah bandwidth dari HLR yang diperlukan.

IETF SIGTRAN Working Group telah mendefinisikan M3UA (RFC 3332) dan SUA untuk STP (ITP) untuk memberikan layanan transport SS7oIP. M3UA dan SUA berjalan diatas SCTP sebagai protokol transportnya. Fitur load balancing dan availability telah didefinisikan di M3UA dan SUA untuk clustering end-node. Third Generation Partnership Project (3GPP) telah mengadopsi SIGTRAN sebagai signalling transport untuk 3G wireless network.

Beberapa contoh produk ITP seperti ITP Cisco telah berinteroperasi SIGTRAN-IP yang berkemampuan HLR, SCP dan SMSC. Gambar 6 menunjukan SIGTRAN-enabled SEP yang terkoneksi ke ITP via M3UA atau SUA over IP. Gambar 7 menunjukan stack protokol dari SIGTRAN.

Gambar 6. IP-Enabled Service End-Nodes
Gambar 7. Stack Protokol SIGTRAN

Kapabilitas ITP Gateway Screening

Gateway screening merupakan fungsi STP tradisional yang memungkinkan operator memfilter trafik signalling. ITP menyediakan semua fungsi gateway screening yang diimplementasikan menggunakan access list. Access list merupakan sekumpulan aturan yang digunakan untuk mengijinkan atau menolak trafik berdasarkan seri parameter MSU. Access list diaplikasikan untuk trafik inbound atau outbound pada sebuah linkset. Ketika sebuah MSU datang pada input link, maka akan dibandingkan dengan setiap saluran dari access list mulai dengan aturan pertama yang didefinisikan.

Setiap aturan akan semakin kompleks dengan menambahkan parameter pada saluran. Berikut adalah beberapa daftar parameter yang didukung :

MTP3 Screening

· Destination Point Code (DPC)

· Origination Point Code (OPC)

· Service indicator

SCCP Screening

· Called party

· Global title indicator (GTI)

· Translation type

· Numbering plan

· Nature of address indicator (NAI)

· Encoding scheme

· Point code

· Subsystem number (SSN)

Calling party

· Point code

· Subsystem number (SSN)

· SCCP management screening

· Affected point code

· Affected subsystem number

General Screening

· Byte pattern and offset


ITP SMS Multilayer Routing

Aplikasi SMS baru yang sedang ngetrend seperti layanan interaktif (misal: tele voting) menempatkan penambahan demand pada kapasitas infrastruktur jaringan SS7 tradisional. Kebutuhan yang ditimbulkan untuk rute intelligent message SMS berbasis aplikasi atau layanan telah dipersiapkan. Hal ini memungkinkan aplikasi SMS baru yang disisipkan didalam jaringan operator tanpa upgrade yang signifikan yang diperlukan pada SMSC eksisting. Pada kasus tertentu, IP-capable SMSC yang baru disisipkan pada jaringan untuk meng-handle semua trafik voting SMS. SMSC baru dapat berkomunikasi dengan ITP signalling gateway menggunakan Sigtran atau tradisional link. Menggunakan Sigtran SUA, M3UA, atau M2PA akan mengurangi cost hardware TDM pada SMSC dan menyediakan virtual unlimited A-link bandwidth pada SMSC untuk rate transaksi maksimum.

Berdasarkan penerimaan pesan SMS mobile originated, ITP menanyakan SCCP, TCAP, MAP dan MAP-user payload agar membuat keputusan routing berbasis pada message A address, B address, address SMSC tujuan, protocol identifier, kode operasi, alamat called party, alamat calling party atau beberapa kombinasi dari parameter tersebut. Tabel multilayer routing kemudian mengindikasikan bagaimana message seharusnya dirutekan menuju SMSC, dengan modifikasi DPC atau called party address (CDPA) GTT. Hasilnya mungkin termasuk destinasi yang ditemukan melalui semua tipe link (LSL, HSL, M2PA, M3UA, dan SUA). Sebuah algoritma distribusi Weighted Round Robin (WRR) yang diimplementasikan agar terjadi balancing load SMS yang tepat ke server dari kapasitas yang bervariasi. Fitur Multi-Layer routing (MLR) akan memenuhi requirement dasar untuk routing message SMS mobile originated. Berdasarkan enhancement akan memuaskan kebutuhan customer.

Gambar 8. ITP SMS Multilayer Routing untuk TeleVoting

Mobile handset akan diprogram dengan sebuah single Mobile Station ISDN Number (MSISDN) mewakili semua SMSC milik operator dan server voting. Hal ini kadang-kadang mengacu pada semacam alamat virtual SMSC. Jaringan SS7 merutekan pesan SMS mobile originated (SMS-MO) menuju ITP via intermediate atau final GTT. ITP kemudian melihat parameter MSU high layer yang tepat dan membuat keputusan routing dan server load-balancing.

Sebagai contoh, sebuah iklan televoting akan menginstruksikan subscriber untuk mengirim sebuah pesan SMS ke kode singkat 1234 untuk memilih acara TV favorit. ITP memeriksa SMS payload dari MSU untuk mengidentifikasi tujuan short messaging entity (SME) (alamat B). Jika alamatnya adalah 1234, pesan akan diklasifikasikan sebagai sebuah pesan voting dan dilakukan load balancing voting server berdasarkan pendefinisian kapasitas pada tiap-tiap server. Jika alamat B bukan 1234, pesan akan diload balance diantara SMSC.

Jumat, 22 Agustus 2008

International Roaming call back service by USSD

International Roaming call back service by USSD

Provides much cheaper outbound calls while roaming for your subscribers through call back. Service available for your pre-paid roaming subscribers with free USSD setup of call. Real-time charging of these USSD activated call backs by your IN system.
A software extension (including the USSD): the Call back service can run on your existing Ultracomp VMS/SMSC.
Real time charging adapts to your existing pre-paid mode
Service Node equipped network for pre-paid call charging: outgoing calls are routed through the Service NodeCamel provided, with IN machines: both legs of the calls go through the IN system.
Cost savings are enormous
For all outgoing calls when roaming, your subscribers can call at a much cheaper rate than standard roaming fees. When combined with SORTA (optimal routing to VMS), the savings are even greater for subscribers and a lot more for operators, who can save tremendously on international traffic.
Capacities and scalability
By adding SS7 links or processors (up to a maximum of 16 SS7 signalling links) as well as Voice Cards for call back (up to 480 circuits / system).

SS7 Signaling Convergence

SS7 Signaling Convergence White Paper

Convergent SS7 Signaling for Seamless Service Deployment

Introduction
This paper discusses convergent Signaling System 7 (SS7) signaling for a seamless service deployment. Topics to be covered include transport, platforms, Application Programming Interfaces (APIs), and Gateways (GW) and how they affect seamless service deployment. This evolutionary area of transport and GWs will be examined as the key to providing practical, seamless services in the near term. Service infrastructure of SS7 and SS7 over Internet Protocol (IP) and the emergent Session Initiation Protocol (SIP) infrastructure will be covered, as will the convergence of SIP and SS7 leading to some possible outcomes.

I. SS7 "Classic"

The term SS7 classic differentiates between SS7 over IP and narrowband 64-kilobit SS7. SS7 classic is signaling for call delivery that follows a separate physical path from the bearer channel to set up calls. A Service Switching Point (SSP) communicates to another SSP, with media traffic fl owing through on a separate channel from the signaling. Service Control Points (SCP) provide services that can be delivered via signaling alone (e.g., 800 service). Service Nodes (SN) and Intelligent Peripherals can be used for delivering services that require both signaling interaction and interaction with the bearer. Voice mail, follow-me services, and prepaid service are typical SN applications. Figure 1 represents the classical Intelligent Network (IN) environment, with the ability to deploy service on SCPs and SNs/ Intelligent Peripherals.

Figure 1: SS7 “Classic”


II. Evolution to SS7 over IP

The Internet Engineering Task Force (IETF) is driving much of the activity to develop protocols for the evolution of SS7 to SS7 over IP. The Signaling Transport (SIGTRAN) working group is focusing on how the existing SS7 protocol will run over IP.

One approach is to attempt to enable the SS7 service levels to run over IP. The fi rst step is creating components - such as Simple Control Transport Protocol (SCTP) - to run directly over IP, thus replacing Transmission Control Protocol (TCP) and User Datagram Protocol (UDP) to provide a reliable transport for signaling in the telephony networks.

In addition, adaptation layers adapt the generic SCTP transport capability to meet the needs of various SS7 protocols. In the case of Message Transport Protocol 2 (MTP2) peer-to-peer adaptation (M2PA), the adaptation layer adapts the SCTP generic transport to enable Message Transfer Part 3 (MTP3) to run over it. As a result, an existing SS7 link can run directly over IP with all the existing services remaining the same.

Message Transfer Protocol 3-User Adaptation layer (M3UA) is an adaptation layer that adapts the SCTP to the MTP3 boundary. Consequently, Integrated Services Digital Network User Part (ISUP) and Signaling Connection Control Part (SCCP) can run directly over IP without having to adopt an SS7 link-based topology. While M2PA requires the maintenance of the topology of SS7 and SS7 links, M3UA requires only SS7 endpoints, thus participating at only the services level rather than needing the SS7 topology.

Another evolving adaptation layer is SCCP User Adaptation Layer (SUA). Although not as mature as some of the other adaptation layers, SUA is a protocol evolving to allow Transactional Capabilities Application Part (TCAP) to run on top of SCTP. TCAP can run on top of M3UA as well, but SUA is slightly lighter weight than M3UA and SCCP as an endpoint (see Figure 2).


Figure 2: Evolution to SS7 over IP

The Role of M2PA

M2PA allows the classical SS7 link to be replaced by SS7 over IP while maintaining the SS7 link topology. Link-based architecture between the endpoints — various SSPs, Signaling Points (SP), or STPs — can be maintained using links but replaced with IP by using M2PA. Only the transport is changed. Existing service can thus be leveraged for seamless service interoperation simply by replacing the transport and leveraging IP infrastructure in the existing backbone. This, obviously, offers bandwidth savings as well (see Figure 3).


Figure 3: Role of M2PA

The Role of M3UA

M3UA allows the Network Elements (NE), interconnected via the M3UA, to participate at the service level in the SS7 network. The classical network evolves to transiting through a Signaling GW (SGW) that provides, on one side, the interface at the classical SS7 signaling level and provides a transition to M3UA signaling over IP. As a result, SCPs and SSPs can interconnect and be full participants in the network, exactly like all the other elements in the network, except that they are interconnected over IP and adherence to the SS7 link topology is not necessary. The SGW bridges the SS7 service level between the SS7 classic and SS7 over M3UA domains. An IP-centric SCP or an IP-centric SSP, otherwise known as a softswitch, can plug in and be a full participant in the network. The resultant full participation in the network at the service level allows the exercise of all the ISUP protocols and TCAP protocols (see Figure 4).

Figure 4: Role of M3UA

The Impact of SS7 over IP

SS7 over IP primarily addresses the transport aspect of SS7. Call-control services and other types of services, therefore, can continue to be offered and deployed without concern for the method of interconnection. The method of service implementation, however, remains dependent on the particular NE chosen to support the service rather than the transport chosen. To deploy a service on a SN, SCP, an Intelligent Peripheral, or an SSP, the key decision on how to build that service is based on the NE and is not dependent on the transport that happens to be chosen. (see Figure 5).


Figure 5: Impact of SS7 over IP

The Role of SS7 over IP Gateways

SS7 over IP GWs is the key to providing seamless services and call delivery between SS7 over IP and SS7 domains. The ISUP call delivery-call setup, Initial Address Message (lAM), Address Complete Message (ACM), Answer Message (ANM), and so on-transits from the SSP through STPs to SGWs and then to an SSP on the IP domain side that resembles any other SSP, except that it is interconnected via the IP. ISUP call delivery flows between the SS7 and SS7 over IP SSPs without translation, ensuring complete interoperation.

By supporting M2PA and SS7 links simultaneously and translating to the M3UA domain, SS7 over IP also enables migration to IP-based SS7 signaling links. SS7 over IP GWs permit the use of M2PA to connect and slowly migrate out existing SS7 links. Thus, an existing SS7 topology can use the GW as a transitional element to migrate away from the classic SS7 network to an IP-based network using SS7 protocols (see Figure 6).


Figure 6: SS7 over IP GWs

III. Common Service APIs

Playing a critical role in providing service capabilities, common service APIs enable applications written for the classic SS7 domain to run seamlessly over SS7 in the IP domain. This, in turn, permits significant feature and function compatibility between domains to meet user expectations. Running over IP will not alter expectations of the levels of function and capability. Users with phones connected via an IP network will demand the same service as before and will want it to work the same way with the same reliability. Thus, it is key to provide the same functional capability and to provide compatibility between what exists now and what will exist in the future.

Providing the same kind of APIs from one platform to another also ensures full retention of application development investment. Applications written to run the classic SS7 domain, for instance, can run directly in SS7 over IP without being rewritten. This is a key point for getting services deployed rapidly and for being able to provide function and feature compatibility between different converged networks (see Figure 7).


Figure 7: Common Service APIs

IV. Emergent Signaling

A Consideration for SIP
SIP has the potential to be very important in the future and to replace many of SS7’s current uses. Several years will be required, however, before even the standards become solidified. Of course, there will be some deployments of SIP by early entrants, but full feature and function compatibility such as exists now on SS7 is a distant possibility.

SIP is growing in popularity because of the inherent flexibility and extensibility that can address Next Generation Network (NGN) needs. Some people view it as the answer to all problems related to call delivery, services, and device control, but it must be recognized that there are technical hurdles to overcome before it can be deployed seamlessly.

Because of SIP extensibility, some proprietary encodings emerged for early services. TCAP, for instance, provides an envelope for sending back and forth messages and dialogues. Unless what goes in some of those messages is defined, what proprietary encoding is used remains open. To some degree, SIP application interfaces are similar. Currently there is exploitation of SIP to build proprietary messages based on the application need. IETF standards work, however, will eventually promote standardization (see Figure 8).



Figure 8: Emergent Signaling
SIP for Softswitch Services
The International Softswitch Consortium (ISC) has proposed deployment of services in application servers interconnected to the softswitch using SIP. Currently, efforts are being made to encode these proprietary messages and to provide standardization (see Figure 9).

Figure 9: SIP for Softswitch Services

SIP Proxies
The proxy server approach for deployment of services in SIP is widely used. The SIP proxy provides a critical place in the network for routing and other service decisions related to a message. Because SIP messages for the supported entities transit the proxy, opportunities exist to perform services on behalf of each endpoint entity (see Figure 10).


Figure 10: SIP Proxies

Service Programming
IETF Call Processing Language (CPL) may be used to program services. CPL is tied to the SIP interaction and is interesting not only from the standpoint of end users being able to deploy their own services, but also from inside the network. Abstractions have been proposed to enable more generic and seamless service programming. A Capability Set 1 (CS-1) call model running on
top of SIP has been proposed to allow, for instance, the existing IN-based SCPs to provide services in a SIP environment.

A Parlay call model also has been proposed to provide an abstracted API. The Parlay call model wraps around a SIP proxy server to provide services. These proposals suggest the interest in, and the thinking about, how to deploy services seamlessly across these different environments (see Figure 11).

Figure 11: Service Programming

SIP and Interworking
The majority of people still are connected to the existing Switched Circuit Network (SCN). This will not change overnight. ”Forklifting out” existing networks and replacing them with SIP-based networks is not realistic. Calls must be delivered into and from the SCN. Service will need to interwork across domains. Individual “islands” — with services and features existing only within one particular domain— cannot survive (see Figure 12).


Figure 12: SIP and Interworking across Domains

SIP to SS7 GWs
SS7-to-SIP GWs will be required for seamless call and service delivery. If a SIP-to-SS7 GW exists, it is in actuality sitting at the edge of the SIP network. The GW translates SIP to ISUP signaling based on IETF recommendations. Calls originating in the SCN, transiting the NGN, and terminating in the SCN will encapsulate the ISUP according to SIP for Telephony (SIP- T). The interworking of this SIP to SS7 is done at the GW, so the call can be passed through the network and the ISUP message then carried along for regeneration when it is dropped off in the SCN at the opposite end of the network (see Figure 13).


Figure 13: SIP to SS7 GWs

The ability also exists for proxy servers that may run a call model and have seamless service interworking with SIP to CS-1- type mapping. Thus, SCPs could work with the SIP proxy servers. Interworking of services may be accomplished through the evolution of work started in the IETF Service in the PSTN/IN Requesting Internet Service (SPIRITS) working group. While in the early stages, this work is exciting and has tremendous potential for the future.

V. Common Service Platforms

Cross-domain service platforms with a common API and multiple “domain interfaces” (e.g., SIP or SS7) could aid in providing seamless services. For example, a Java APIs for Integrated Networks (JAIN) platform could have SS7 interfaces and a SIP interface; applications could be provided that run on top of this platform and seamlessly across domains.

The emergence of an open API for the generation of services also could seed seamless services. Parlay API, for instance, could allow this to happen. Common APIs, however, often trade flexibility for compatibility, rendering the API less than useful. An abstracted API - an attempt to make it fit everything - is not as useful as one made specifically for an environment.

VI. Cross-Domain Service Deployment

There is some speculation that SIP, and SIP-based, service deployment will become dominant, with SCN viewed as a peripheral interfaced through GWs. In this scenario all services would be built in the SIP environment, and the SCN would be treated as a peripheral to interwork services (see Figure 14).


Figure 14: Cross-Domain Service Deployment with Peripheral SCN

Service platforms may emerge that present a common API and aggregate multiple domains as resources. A common application server could offer interfaces to different domains through something similar to a Parlay API. For instance, a service could be designed that interworks an SCP service together with a proxy server as one seamless service, with transparency to the user application (see Figure 15).


Figure 15: Cross-Domain Service Deployment with Common A

VII. Potential Outcomes

Services will continue to be deployed in different platforms in various ways. A singular solution is unlikely to emerge. The telco environment provided an early indication of this with IN services. Decisions on switch-based, SCP-based, or SN-based services are driven by time to market and revenue.

At opposite ends of the spectrum, point solutions will emerge and ambitious open platform initiatives will be deployed, with classes of applications gravitating toward each. In the telephony environment, for example, there are core network services, such as 800 services or emergency 911 (E911) service that cannot be put into the enterprise. These services gravitate to the core of the network. A follow-me service, however, arguably could belong in an enterprise. Service will tend to gravitate to the solution that makes sense in terms of time to market, where the data has to go, and revenue generation. One solution will not cover all needs and cases.

Device Management by OTA

Device Management by OTA

Device management used to launch new services quickly
Automatic Provisioning (“Over the Air = OTA”) of your subscribers' cellphones is mandatory to launch your GPRS data services (Portal access, MMS, etc.).
OTA integrated with HALYS SMSC and USSD will download the longest profiles in 12 sec to 25 sec, i.e. faster than any other system. If you have the customer online, he can test the service immediately.
A rich library of pre-defined profiles allows customer care staff to provision any make and model with a simple click and get the result on line.
Self-provisioning by customers with a USSD application: customer chooses his make and model interactively and gets the right profile.
Handset Management
Simplified “click OTA” for customer care staff (browser settings)
Flexible creation of new profiles by technical staff with XML models
SIM Card Management
SIM card provisioning with security algorithms (Address Books in SIM, etc.)
JAVA Applets provisioning