link: Mananging Consultant

Cari Blog Ini

Minggu, 27 September 2009

Frekuensi dan Filing Slot Orbit Satelit

Industri satelit menyimpan bom waktu

oleh : Arif Pitoyo
Cetak Kirim ke Teman Komentar

Satelit merupakan industri yang tak bisa diatur hanya dengan regulasi suatu negara. Cakupan industri yang tahun lalu mencatat nilai bisnis Rp5 triliun tersebut dan melewati batas kedaulatan negara menjadikan pengaturannya sangat bergantung pada kesepakatan internasional.

Indonesia, yang sejak dulu tak pernah absen meluncurkan satelitnya pun tak luput dari regulasi yang hanya bisa disepakati dalam forum ITU-WRC (International Telecommunication Union-World Radiocommunication Conference) tersebut.

Satelit terakhir yang diluncurkan ke slot orbit milik Indonesia adalah Satelit Palapa D. Satelit tersebut merupakan pengganti Palapa C2 yang akan habis masa hidupnya pada pertengahan 2010. Satelit Palapa C2 sendiri diluncurkan pada Mei 1996 dengan masa hidup 14 tahun dan dibuat oleh Huge Spacecraft.

Pada awalnya, Palapa C2 direncanakan ditarik ke filing slot 150,5o BT (bujur timur) yang dulu memang masih dikelola Indosat. Namun, setelah kasus hilangnya tiga slot satelit milik Indonesia (termasuk slot 150,5o BT) yang akhirnya berhasil direbut lagi pada November 2007, pemerintah pun menyerahkan hak pengelolaan filing satelit di slot 150,5o BT kepada konsorsium yang dipimpin Telkom.

Selain filing satelit di slot 150,5o BT yang hilang, Indonesia juga pernah kehilangan filing di slot 113o BT, dan slot 107,7o BT yang dikelola oleh PT Media Citra Indostar (MCI).

Slot orbit adalah sumber daya terbatas yang dimiliki secara bersama oleh seluruh negara. Tidak ada satu individu atau negara pun yang dapat memiliki slot orbit. Yang dimiliki negara adalah filing satelit, di mana pada satu slot orbit dimungkinkan mendaftarkan beberapa filing satelit dari beberapa negara.

Filing satelit merupakan data teknis perencanaan satelit suatu negara yang diharapkan nantinya akan diwujudkan pada satu fisik satelit yang didaftarkan ke ITU agar tidak terjadi interferensi. Metode pemrosesan setiap filing di ITU adalah first come first served (siapa lebih dulu, dia yang dapat) dengan beberapa aturan, yang paling utama adalah soal batasan waktu yang dapat menyebabkan satu filing tidak bisa lagi diteruskan (supressed).

Selama pemrosesan, pemilik filing diwajibkan melakukan koordinasi dengan pemilik filing lain, baik dalam satu negara atau negara lain agar nantinya tidak terjadi interferensi yang kemudian hasil koordinasi tersebut dilaporkan kepada ITU.

Pada kasus 150,5o BT dan 113o BT, yang diketahui ITU adalah Indonesia terlambat memenuhi suatu batasan waktu administrasi (regulatory period) dalam pemrosesan filing satelit yang berada di slot orbit tersebut.

Indosat mengklaim dapat membuktikan bahwa operator tersebut tidak lalai atau terlambat memenuhi batasan waktu tersebut kepada Ditjen Postel.

Berkat perjuangan bersama Indosat dan pemerintah, pada sidang WRC-ITU 2007 filing yang telah supressed terbut berhasil di recall dan prosesnya dapat terus dilanjutkan.

Selain hilangnya filing satelit, Indonesia juga pernah kecolongan dengan masuknya layanan satelit asing ke Tanah Air, bahkan sampai ke direct to home (DTH) melalui satelit Measat Malaysia.

Belum lagi satelit asing yang memberikan bandwidth ilegal ke sejumlah penyelenggara jasa Internet Indonesia yang besarnya pada 2005 saja tercatat oleh Asosiasi Warnet Indonesia (Awari) mencapai 1.000 Mbps atau senilai US$3 juta.

Saat itu, satelit-satelit dari Hong Kong dan negara Asia lainnya yang belum tercatat di Depkominfo diketahui banyak melayani PJI dan perusahaan-perusahaan di Indonesia agar dapat mengakses Internet secara murah dengan harga sekitar US$3.000 setiap 1 Mbps-nya.
Distribusi satelit di Indonesia
Nama satelit Tanggal peluncuran Pengelola
Palapa A-1 9 Juli 1976 Telkom
Palapa A-2 10 Maret 1977 Telkom
Palapa B-1 Juni 1983 Telkom
Palapa B-2 2 Februari 1984 Telkom
Palapa B2P 21 Maret 1987 Telkom
Palapa B2R 14 April 1990 Telkom
Palapa B4 14 Mei 1992 Telkom
Palapa C-1 31 Januari 1996 Indosat
Palapa C-2 Mei 1996 Indosat
Indostar I 12 November 1997 MCI
Telkom-1 13 Agustus 2005 Telkom
Telkom-2 Februari 2006 Telkom
Indostar II/Protostar II 16 Mei 2009 MCI
Palapa-D 31 Agustus 2009 Indosat
Telkom-3 2009 *) Telkom

Sumber: Diolah dari berbagai sumber
Ket: *) baru akan diluncurkan


Kerja sama satelit

Bom waktu lainnya dari industri satelit adalah adanya berbagai pola kerja sama pengelolaan satelit di slot orbit milik Indonesia yang melibatkan dua perusahaan dari negara yang berbeda.

Salah satu contoh adanya kerja sama satelit atau sering disebut dengan condosat antara PT Pasifik Satelit Nusantara dengan Mabuhay Philippines Satellite Corporation (MPSC) dan antara PT MCI dengan Protostar. Yang terakhir, persoalan menjadi lebih rumit setelah pihak Protostar mengaku akan menjual satelitnya.

Satelit Palapa Pac 146/Mabuhay tersebut menempati slot orbit 146o BT. Filipina menganggap satelit Agila II atau Mabuhay dimiliki oleh Mabuhay Philippines Satellite Corporation (MPSC) bersama induknya, Philippine Long Distance telephone Company (PLDT). Di Indonesia, MPSC bekerja sama dengan PSN.

Nama yang dipakai untuk pengoperasian di Indonesia adalah Palapa Pacific 146, sementara untuk wilayah pengoperasian di Filipina dan negara lainnya adalah Agila II atau Mabuhay.

Potensi hilangnya filing juga terjadi di slot orbit 107,7o BT yang saat ini ditempati oleh satelit Indostar II/Protostar II. Pasalnya, satelit yang selama ini diklaim milik MCI atau Indovision akan dijual oleh pemilik yang sebenarnya, yaitu Protostar yang bermarkas di AS.

Kesepakatan kerja sama yang tidak transparan antara Indovision dan Protostar memicu kekhawatiran slot orbit akan berpindah apabila pemilik baru satelit Protostar mengubah kesepakatan kerja samanya dengan Indovision.

Yang patut jadi perhatian lainnya adalah satelit asing seperti Mabuhay dan Protostar tersebut terbebas dari beban pembayaran BHP (biaya hak penggunaan) satelit, karena ternyata hanya dari pihak Indonesia saja yang menanggungnya, yaitu pihak MCI dan PSN.

Bom waktu terus mengintip industri satelit di Indonesia, dan pemerintah sewajarnya memberikan perhatian yang lebih tinggi karena menyangkut dua sumber daya yang terbatas, yaitu frekuensi dan filing slot orbit. (Fita Indah Maulani) (arif.pitoyo@bisnis.co.id)

1 komentar:

taipan mengatakan...

BANDAR BETTING ONLINE TERPERCAYA SEASIA

BOLATAIPAN SITUS JUDI BOLA
KLUBTAIPAN SITUS PREDIKASI DAN JADWAL BOLA

Tidak Ada Minimal Deposit
Minimal Withdraw Rp50.000

BOLATAIPAN Link Pintasan BOLATAIPAN

Mainkan Sekarang Juga, DI Situs Judi Online Terpercaya Indonesia.!!
Cukup dengan 1 User ID sudah bisa bermain Banya games loh!! :)

Promo Yang berlaku Di
HOT PROMO :

- Bonus Deposit New Member 15%
- Bonus Deposit Setiap Hari 10%
- Bonus Cashback Mingguan Sportbook Hingga 15%
- Bonus Refrensi Seumur Hidup 2,5%
- Bonus Rollingan Casino 0.8%
- Bonus Rollingan Poker 0.2%
- Bonus Cashback Togel AGOGO4d 3%

Discount 4D : 66.00% , 3D : 59.5% , 2D : 29.5%
Kombinasi = 5%
Shio = 12%
Colok Angka (1A) = 5%
Colok Macau (2A) = 15%
Colok Naga (3A) = 15%
Colok Jitu = 8%

Silahkan Di Add langsung sosmed Bolataipan ya bosku ^^


LINE : bolataipan
Twitter : @BolaTaipan
Fanspage : @BolaTaipan
Instagram : @bolataipan99
Telegram Channel : bit.ly/parlaybolajalan
WA : +62822-8720-0776