link: Mananging Consultant

Cari Blog Ini

Memuat...

Rabu, 24 Oktober 2012

Setelah terkenal dan sukses


Rejeki mudah apabila Anda dalam mendapatkannya dahulu diawalnya dimulai dari susah, saat masih belajar / masih belum terkenal. Namun setelah terkenal dan sukses maka Anda hanya perlu usaha minimal sekali sudah mendapatkan rejeki besar. 

salam,
Dwika

=========================
Tanpa alasan yang jelas ada yang memberiku Rp 100 juta
 **lingkarloa.com
  
Apakah uang seratus juta cukup besar bagi Anda?
Jawabannya “Tergantung…”
Untuk menunjukkan bahwa nilai suatu uang adalah relatif, atau tergantung, mari kita lihat ilustrasi ini. Semisal Anda di beri uang satu juta rupiah, rasanya uang sejuta itu besar apa kecil?
Kebanyakan mengatakan kecil. Namun jika Anda kehilangan uang satu juta rupiah…, rasanya besar apa kecil? Hmmm, biasanya mengatakan besar…Nah, sekarang bagaimana rasanya, tiba-tiba ada orang tanpa alasan yang jelas memberikan uang Rp 100 juta kepada Anda.

Bagaimana….., rasanya besar apa kecil? Uang ini gratis kita dapatkan, halal lagi…
Hmm, pasti rasanya besar khan? Atau rasanya seperti biasa-biasa saja saja tuh?
Stop, sekarang…, yang terlebih penting, bagaimana perasaan Anda saat menanggapi kalimat ini ? : “Tiba-tiba, tanpa alasan yang jelas, seseorang memberikan begitu saja uang halal kepadaku sebesar Rp 100 juta.”
Apakah Anda merasa itu mungkin terjadi atau tidak mungkin?
Jika mungkin terjadi, rasanya mudah atau sulit?
Kemungkinannya…., kapan itu bisa terjadi?

Hmmmm… Bisakah Anda meyakini sepenuh perasaan Anda, bahwa hal itu mungkin terjadi dalam kehidupan Anda…?
Ada suatu istilah dalam Quantum NLP, jika suatu kejadian di dunia itu bersifat “mungkin terjadi” kepada kita, maka diri kitalah yang seringkali membuatnya menjadi tidak mungkin dengan cara membutakan mata, menulikan telinga, menumpulkan rasa dan menafikkan dalam pikiran kita bahwa hal itu bisa terjadi.

Akibatnya? Peluang itu menjadi raib bak ‘gajah di pelupuk mata tak nampak…’
Memang, tulisan ini sifatnya bukan artikel, namun saya ingin lebih interaktif. Saya ingin meminta Anda semua para pengunjung untuk menulis pikiran Anda dalam tulisan ini. Saya ingin mengajak berandai-andai, berimajinasi, dan sekaligus berlatih melakukan “allowing“, dengan cara menuliskan pikiran Anda dalam komentar di bawah ini.

Allowing adalah salah satu teknik dalam Law Of Attraction (LOA), secara sederhana dapatlah diartikan sebagai proses memberikan ijin, memperkenankan, merelakan terjadinya sesuatu.
Siapa tahu lho, benar-benar kejadian… Mari kita membuka diri (allowing), terhadap segala kemungkinan baik yang terjadi pada diri kita. Tidak ada salahnya kok, membuka kemungkinan pintu keyakinan di bawah sadar Anda bahwa apapun mungkin terjadi… 

NAH BAGAIMANA CARA ALLOWING?
Berikut ini adalah salah satu cara untuk melatih kita melakukan allowing. Ada banyak sekali cara-cara yang dapat digunakan. Silahkan Anda baca di buku Miachael Losier:  LOA.

Silahkan lanjutkan kalimat ini, dalam bahasa Anda, mohon sopan dan menghindari SARA. Thanks ya…
“Tiba-tiba, tanpa alasan yang jelas, seseorang memberikan begitu saja uang halal kepadaku sebesar Rp 100 juta, maka 5 hal yang akan kulakukan adalah …. ”
Nah, saat menulis komentar Anda …, pastikan :
  1. Menuliskan hal-hal yang betuuuul-betuuuul Anda inginkan, bukan menuliskan hal-hal yang Anda ingin orang lain terkesan pada Anda.
  2. Bayangkan hal itu sudah terjadi.
  3. Rasakan hal itu sudah terjadi.
  4. Penuh syukur, senyum, dan bahagia
ALLOWING SEBAGAI MEMBUKA BERBAGAI PINTU  REJEKI 
Jika kita diajak main tebak-tebakan, dari mana saja datangnya pintu rejeki? Rasanya cukup jelas, bahwa tidak semua dari kita akan menjawab secara sama.
Jawaban masing-masing akan dipengaruhi minimal oleh 2 hal: pertama dari pemahaman / pengertian kita akan arti kata rejeki, dan kedua dari keyakinan kita akan sumber / pintu rejeki. 

1. Pengertian Rejeki
Secara pribadi, saya menganggap semua karunia Sang Pencipta sebagai “rejeki”. Semisal, mendapatkan kesehatan saya lihat sebagai karunia atau rejeki dari Sang Pencipta. Keselamatan juga saya lihat sebagai rejeki, oksigen yang melimpah dan gratis di bumi, air bersih yang tersedia di mana-mana, buah yang tumbuh di sekitar halaman, sayur yang tinggal dipetik, memiliki keturunan anak, . Bagi saya, itu semua adalah rejeki.  

Hmm, mungkin saja cara saya memahami rejeki agak berbeda dengan orang lain, namun saya senang meyakini dengan cara demikian. Sebab melalui cara itu, ini semakin memupuk keyakinan saya bahwa Alloh SWT melimpahkan begitu banyaknya rejeki pada kita setiap hari, setiap waktu, setiap tempat. 

Meyakini bahwa rejeki ada dimana-mana, rejeki muncul dalam berbagai bentuk akan membuat saya merasa berkelimpahan, membuat saya merasa lebih mudah bersyukur, merasakan bahwa Alloh SWT begitu murah hati dan  memberikan begitu buanyak rejeki. Serta membuat kita jauh dari rasa ingkar / mendustakan suatu kenikmatan dariNya.  

2. Pintu Rejeki 
Rejeki juga muncul dalam berbagai bentuk / dari berbagai pintu / arah : misalkan saya selalu menganggap peristiwa semacam ini adalah rejeki yang pantas disyukuri :
  • ditolong teman
  • ditraktir makan
  • dioleh-olehin
  • dikirimin kue dari tetangga
  • diberikan tempat parkir yang baik oleh satpam
  • diberi jalur ketika hendak memotong jalan
  • digratisin produk sisipan saat belanja
  • dapat tester di supermarket
  • dikirim majalah gratis
  • dapat diskon saat membayar belanjaan
  • diberi buku / CD / kaset
  • dapat hadiah Ultah
  • ditolong orang di jalan
  • dan lain-lain. 
Nah,  dari dua hal di atas, mudah kita simpulkan bahwa rejeki itu buanyak sekali macamnya, dan begitu sering datangnya. Secara sederhana, saya lantas melihat rejeki seperti memiliki suatu spektrum (range).
Dari berbagai jenis rejeki, cara memperolehnya bermacam-macam, yakni :

   Tak terduga | Usaha Mudah | Usaha Sedang | Usaha Keras | Bersusah Payah        

Secara gampang jika kita anggap saja sesuai spektrum diatas, maka ada  5 jenis rejeki dari caranya rejeki itu datang. (BTW, kita boleh saja membagi menjadi 3 jenis, 4 jenis, 5 jenis, dst. Ini hanya cara mengorganisir pikiran saja). 
Di sini, saya hanya akan mengulas dua macam rejeki saja : rejeki tidak terduga, dan rejeki mudah.  

Rejeki tidak terduga : 
Rejeki ini sering sekali tidak dirasakan sebagai rejeki, rejeki ini datang (hampir-hampir) tanpa usaha. Semua dari kita pernah ditraktir teman, diberi makanan, diberi uang, dikasih minum tanpa minta, dapat diskon belanja, mendapat undian berhadiah, door prize, sayembara, lucky draw, mampir di rumah teman / saudara dan disuguhi makan minum…, bonus kantor tak terduga, diajak keluar negeri, nemu uang di jalan, dan berbagai bentuk lain seperti yang ada di nomer 2 di atas. 

Saya punya teman yang suka nabung dalam dollar. Nah, pas krismon 10 tahun yang lalu, ia jadi milyarder. Karena dollar yang dia beli dengan harga  3000-an tiba-tiba berubah nilai menjadi 5 kali lipat! Di mata saya ini namanya rejeki nomplok…, karena saat ia mebeli dollar, tidak ada sebersit pikiran akan terjadi demiian, ia nabung dollar karena ingin suatu hari dapat ke luar negeri… 

Anak pertama saya yang namanya Cynthia, kadang suka minta dibelikan Green Tea botolan merek tertentu. Dia sudah 3 kali mendapat hadiah 1 botol gratis. Saya sendiri juga sudah 2 kali memperolehnya.  Sekalipun cuma kejadian 2 atau 3 kali, dan nilainya cuma sekitar Rp 4000,- perbotol, namun kami meyakini sebagai rejeki tak terduga yang perlu disyukuri, dan kami mengakui /meyakini/menerima/allowing itu sebagai rejeki, bukan kebetulan saja. Kisah lain mengenai keberuntungan tak terduga, juga dapat Anda baca di artikel ini.  
Pernahkah Anda mendapatkan juga salah satu atau lebih dari hal-hal di atas?  

Rejeki mudah :
Rejeki yang Anda  hanya mengeluarkan usaha yang amat minimal. Rejeki mudah ini juga termasuk apabila seseorang dalam mendapatkannya dahulu diawalnya dimulai dari susah, saat masih belajar / masih belum terkenal. Namun setelah terkenal dan sukses maka hanya pelu usaha minimal sekali sudah mendapatkan rejeki besar. 
Saya mengenal seorang pelawak yang 45 menit melawak dan mendapatkan rejeki 35 juta rupiah. Ada juga seorang trainer, penyanyi, artis yang memiliki fee yang sama seperti itu dalam bilangan waktu sejam.    

Saya juga mengenal ada perusahaan konsultan pelatihan yang sebagian besar (hampir semua) proyeknya datang sendiri, karena rekomendasi dari customer yang puas. Saya mengenal para trainernya paling hobby membagi ilmunya gratis ke mana-mana, dan kemudian rejekinya datang dari mana-mana. Perusahaan ini nyaris tidak pernah mengirimkan proposal ke perusahaan. Ada saja rejeki yang nyamperin… 
Masya Alloh,
Mungkin ini yang disebut-sebut sebagai : Jika engkau memberi dengan ikhlas, maka balasan akan datang dari sumber tidak terduga…   

Nah,
Saya begitu banyak mengenal orang-orang yang meyakini bahwa kedua rejeki di atas adalah mustahil atau sulitnya bukan main, atau hanya terjadi pada orang-orang yang beruntung saja. Mereka ini lebih percaya bahwa rejeki ya datangnya “hanya dan harus” dari suatu usaha keras, bahkan terutama dari usaha yang harus amat keras…  Anehnya, saya melihat, memang mereka ini sepertinya hanya mendapatkan rejeki  jika mereka sudah bekerja amat keras. 
Di sisi lain, saya mengenal orang-orang yang dermawan, orang-orang yang selalu berderma dengan senang hati, membagi-bagi segala sesuatu dengan senang hati, kok dalam hidupnya bertebaran rejeki yang datang dengan cara tak terduga dan rejeki yang bentuknya mudah. Ada apa yang membedakan di sini ya? 

Rupanya mereka percaya bahwa jauh lebih baik “membuka diri dari segaa jenis arah / pintu datangnya rejeki”. Rejeki itu  dapat datang dengan cara apapun , mudah ataupun sulit.
Namun jika kita hanya percaya bahwa rejeki itu datangnya dari pintu kerja keras, maka rejeki “tak terduga dan rejeki mudah” seolah akan tertutup dari kita.  

Nah, bagaimana cara  melatih agar kita senantiasa membuka pintu rejeki kita, terutama pintu rejeki yang datangnya dari tempat tak terduga dan rejeki mudah? 
  1. Mensyukuri semua kebaikan, keberuntungan yang berbentuk apapun sebagai suatu “rejeki” dari Sang Pencipta. Bersyukurlah sebagai bentuk rasa, bukan bentuk pikiran. Merasa bersyukur tidak sama dengan berpikir bersyukur. Michael Losier mengajarkan menulis jurnal syukur untuk melatih kita merayakan rasa asyukur….
  2. Jika mendapat rejeki tak terduga / rejeki mudah, bayarlah zakat atau shodaqohnya lebih besar dari rejeki biasa yang 2.5%. Saya mendapatkan wejangan ini dari Seorang Ustad di Kauman Yogyakarta. Rejeki tak terduga dan mudah dapat dikategorikan sifatnya mirip seperti harta karun. Perbanyaklah dalam membayarkan zakat dan shodaqohnya.
  3. Berlatih allowing, dengan berbagai cara. Tujuannya memberikan pikiran dan perasaan kita suatu keyakinan bahwa : rejeki besar dan tak terduga dan halal, dapat saja datang kepada kita secara tak terduga-duga. Inilah yang kita latih dengan cara melakukan seperti yang saya tuliskan di atas…
Well…
Mempraktekkan latihan allowing ini bukanlah janji bahwa itu akan terbukti, ini adalah latihan bagi diri kita untuk membiasakan diri untuk percaya bahwa rejeki dapat saja datang pada siapapun termasuk kita dengan cara yang paling mudah dan bahkan tanpa usaha. 
Latihan ini tidak dimaksudkan bagi kita untuk lantas melupakan proses usaha, bekerja, berkarya, dan seterusnya.  Namun, di samping kita sudah berusaha, bekerja, berkarya, tetaplah “dibuka pintu” kemungkinan akan datangnya rejeki besar yang datangnya tidak terduga. Selamat berlatih, dan menuliskan di  kolom tangapan di bawah ini..  

Note :
Alangkah baiknya jika tidak memperlakukan artikel LOA ini  secara sepotong-sepotong saja. Silahkan dinikmati pula artikel lain di blog ini yang berbicara menganai do’a, syukur, kelimpahan, bahagia, dll. Hal-hal semacam itu tersebar di berbagai artikel di sini. 
Dan saya ingin meuntup dengan kata-kata : Terima kasih untuk Mas Wisnawa 
Like ·  ·  · Share · Delete

Tidak ada komentar: